Masuk"Nil, aku ingin bicara sebentar." Yuni mengajak Nila menjauh dari pintu rumah.
Keduanya berdiri di samping dinding, lalu berbicara dengan suara berbisik. Sesekali Yuni melirik sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka.Sementara Nabila mulai gelisah, berdiri diam menunggu ibunya di dekat pintu pagar. Matanya melirik sinis, melihat sang Ibu yang belum juga mengantar ke sekolah."Ck! Mama ayo!" seru Nabila, kesal.Yuni mengabaikan. Malah sibuk berbicara dengan tetangga sebelah. Padahal jelas-jelas tadi ia dilarang berpamitan pada sang Ayah dengan alasan tidak ada waktu.Nabila mendengus sebal, melipat kedua tangan di atas dada dan kembali berteriak, "Ma, ayo cepat! Aku udah telat!"Yuni melirik, "Sebentar Nak. Tunggu di luar dulu, nanti Mama nyusul."Gadis kecil itu menghentakkan kaki, menyandarkan punggung dengan kasar di pinggir pagar.Terpaksa ia harus bersabar menunggu ibunya selesai berb"Mata kamu kenapa?" Nila tak dapat menutupi luka lebam di lingkaran matanya saat Bima melajukan kursi roda lalu mendekati wanita cantik itu. Bima menggenggam pergelangan tangan Nila. "Tatap aku ... Nila!" Suara Bima terdengar lirih. Perlahan Nila menoleh, menatap pria tampan itu sambil menundukkan kepala. "Yanto yang melakukannya?" tanya Bima dengan nada tinggi. Nila kembali memalingkan wajah, menelan ludah keras, tetap diam membisu. Bima tersenyum kecut, "Sampai kapan kamu menutupi perbuatan gila suamimu itu? Hah!" Nila masih diam membisu dengan kepala menunduk. "Sampai nyawamu hilang di tangannya?" tanya Bima dengan tatapan tajam. Kali ini Nila menatap Bima, kemudian mengatakan, "Saya nggak apa-apa Mas. Nggak usah mengkhawatirkan saya. Lagipula, kalaupun saya adukan perbuatan Mas Yanto pada orang-orang, apalagi Polisi, apa mereka bisa membantu saya? Mas tahu 'kan hukum di negara ini tumpul ke bawah. Saya hanya seorang anak yatim piatu yang nggak punya sanak saudara sama s
"Nil, aku ingin bicara sebentar." Yuni mengajak Nila menjauh dari pintu rumah.Keduanya berdiri di samping dinding, lalu berbicara dengan suara berbisik. Sesekali Yuni melirik sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka.Sementara Nabila mulai gelisah, berdiri diam menunggu ibunya di dekat pintu pagar. Matanya melirik sinis, melihat sang Ibu yang belum juga mengantar ke sekolah."Ck! Mama ayo!" seru Nabila, kesal. Yuni mengabaikan. Malah sibuk berbicara dengan tetangga sebelah. Padahal jelas-jelas tadi ia dilarang berpamitan pada sang Ayah dengan alasan tidak ada waktu.Nabila mendengus sebal, melipat kedua tangan di atas dada dan kembali berteriak, "Ma, ayo cepat! Aku udah telat!"Yuni melirik, "Sebentar Nak. Tunggu di luar dulu, nanti Mama nyusul."Gadis kecil itu menghentakkan kaki, menyandarkan punggung dengan kasar di pinggir pagar.Terpaksa ia harus bersabar menunggu ibunya selesai berb
"Masukan!" Yanto melotot saat melihat Nila hanya diam setelah tadi menjilat ujung senjatanya sedikit. Yang lebih membuat Yanto emosi, terlihat jelas Nila seperti ingin muntah. Wajah wanita itu memerah seperti udang rebus dengan pipi mengembang. "Masukan cepat!" hardik Yanto semakin emosi melihat istrinya seperti itu. "Kamu tuli, hah?" Nila menggeleng, buru-buru mengambil tissue di samping tempat tidur yang memang selalu disiapkan untuk membersihkan cairan kental Yanto. "Maaf Mas." "Brengsek! Kamu kenapa, hah!" Yanto mengubah posisi menjadi duduk. Matanya menatap nyalang ke arah Nila yang malah menjauh darinya. "Maaf Mas, aku ... aku nggak bisa Mas. Bau banget." Mendengar ucapan Nila, hidung Yanto kembang kempis dengan tatapan semakin tajam. "Mas cuci dulu gih. Aku nggak bisa Mas, bau, dan rasanya pahit." "Alasan saja! Kamu menghina milikku, hah! Mau
Pagi hari setelah melewati malam panjang yang menyedihkan. Nila bangun lebih pagi dari ayam tetangga.Selesai menyiapkan sarapan ala kadarnya untuk Yanto, ia bersiap berangkat kerja. Tempat kerjanya memang hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumah. Namun, sejak subuh tadi ia sudah menyiapkan semuanya. Terutama mental baja agar bisa menghadapi kemanjaan Bima.Kalau dipikir-pikir, lebih baik memiliki suami manja tapi bertanggung jawab daripada galak dan tukang judi seperti Yanto.Duh! Memikirkan itu membuat otak Nila travelling. Takut perasaannya pada Bima berubah menjadi cinta, buru-buru ia tepis semua pikiran aneh itu.Selesai bersiap-siap, memakai bedak seadanya, karena memang ia tidak pernah membeli alat make-up. Jangankan untuk beli alat make-up, skincare seperti wanita lain, untuk makan saja masih sering berhutang.Namun, harus diakui wajah Nila itu cantik. Ia memiliki senyuman manis dengan gigi gingsul menon
"Kalau mimpi jangan ketinggian Mas, pake ngomong sama Nabila segala. Nggak malu kamu kalau Nabila cerita sama teman-temannya nanti!" cecar Yuni sambil berkacak pinggang. Menatap tajam ke arah suaminya.Malas meladeni wanita itu. Apalagi menanggapi ocehan yang tak berujung. Dijelaskan pun percuma karena Yuni tidak akan percaya pada omongannya lagi. Bima memilih pergi dari ruang tamu. Melajukan kursi rodanya menuju kamar dan masuk. Sementara Yuni, kembali masuk ke kamar dan membanting pintu.Suara 'Bank' yang terdengar nyaring sama sekali tidak membuat Bima kaget. Ia justru terkejut saat mendengar suara teriakan dari arah rumah Nila. "Mas! Nyari apa sih kamu?"Suara itu mengundang rasa ingin tahu Bima. Dengan cepat ia keluar dari kamar dan melajukan kursi rodanya menuju dapur. Dari jendela ... tempat biasa ia duduk termenung, ia melihat bayangan Nila dan Yanto yang berada di dapur. Seperti biasa, Nila dan Yanto kembali bertengkar hebat. Entah karena apa.Bima membuka tirai jendela,
"Papa kok nggak ikut kita makan di restoran?" Nabila bersandar manja di atas pangkuan sang Ayah. Bima terdiam. Matanya langsung tertuju pada kamar Utama ... kamar yang dulu menjadi tempat paling nyaman untuk berduaan dengan Yuni. Namun sekarang berubah, kenangan manis itu sudah malas untuk diingat lagi. Kalau bisa semua kenangan itu ingin ia hapus dari kepalanya. "Kok Papa diam?" Nabila mengerutkan kening, menunggu jawaban sang Ayah. Sementara pria di depannya malah diam termenung. "Papa .... " Tangan mungil Nabila mengipas-ngipasi wajah ayahnya. Bima menghela napas panjang, mengalihkan pandangan pada gadis kecilnya. "Memang kamu sama Mama makan di restoran? Sama siapa?" tanyanya menyelidik. Siapa tahu dari kesaksian Nabila, ia mendapatkan sedikit titik terang tentang sikap Yuni yang kian lama kian memuakkan. "Aku cuma makan berdua sama Mama. Awalnya aku nggak mau, tapi aku jadi mau soalnya a







