Share

14. Layani Aku!

Author: Dita SY
last update Last Updated: 2026-01-11 20:00:03

Pagi hari setelah melewati malam panjang yang menyedihkan. Nila bangun lebih pagi dari ayam tetangga.

Selesai menyiapkan sarapan ala kadarnya untuk Yanto, ia bersiap berangkat kerja.

Tempat kerjanya memang hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumah. Namun, sejak subuh tadi ia sudah menyiapkan semuanya. Terutama mental baja agar bisa menghadapi kemanjaan Bima.

Kalau dipikir-pikir, lebih baik memiliki suami manja tapi bertanggung jawab daripada galak dan tukang judi seperti Yanto.

Duh!

Memikirkan itu membuat otak Nila travelling. Takut perasaannya pada Bima berubah menjadi cinta, buru-buru ia tepis semua pikiran aneh itu.

Selesai bersiap-siap, memakai bedak seadanya, karena memang ia tidak pernah membeli alat make-up. Jangankan untuk beli alat make-up, skincare seperti wanita lain, untuk makan saja masih sering berhutang.

Namun, harus diakui wajah Nila itu cantik. Ia memiliki senyuman manis dengan gigi gingsul menon
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Dita SY
Up dua bab Kak...
goodnovel comment avatar
Jelita Minho
up lagi donk thor, kok cuma 1 udh lama up nya tp sekali up cuma 1 bab aja, gmna sih thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   15. Siksaan

    "Masukan!" Yanto melotot saat melihat Nila hanya diam setelah tadi menjilat ujung senjatanya sedikit. Yang lebih membuat Yanto emosi, terlihat jelas Nila seperti ingin muntah. Wajah wanita itu memerah seperti udang rebus dengan pipi mengembang. "Masukan cepat!" hardik Yanto semakin emosi melihat istrinya seperti itu. "Kamu tuli, hah?" Nila menggeleng, buru-buru mengambil tissue di samping tempat tidur yang memang selalu disiapkan untuk membersihkan cairan kental Yanto. "Maaf Mas." "Brengsek! Kamu kenapa, hah!" Yanto mengubah posisi menjadi duduk. Matanya menatap nyalang ke arah Nila yang malah menjauh darinya. "Maaf Mas, aku ... aku nggak bisa Mas. Bau banget." Mendengar ucapan Nila, hidung Yanto kembang kempis dengan tatapan semakin tajam. "Mas cuci dulu gih. Aku nggak bisa Mas, bau, dan rasanya pahit." "Alasan saja! Kamu menghina milikku, hah! Mau

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   14. Layani Aku!

    Pagi hari setelah melewati malam panjang yang menyedihkan. Nila bangun lebih pagi dari ayam tetangga.Selesai menyiapkan sarapan ala kadarnya untuk Yanto, ia bersiap berangkat kerja. Tempat kerjanya memang hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumah. Namun, sejak subuh tadi ia sudah menyiapkan semuanya. Terutama mental baja agar bisa menghadapi kemanjaan Bima.Kalau dipikir-pikir, lebih baik memiliki suami manja tapi bertanggung jawab daripada galak dan tukang judi seperti Yanto.Duh! Memikirkan itu membuat otak Nila travelling. Takut perasaannya pada Bima berubah menjadi cinta, buru-buru ia tepis semua pikiran aneh itu.Selesai bersiap-siap, memakai bedak seadanya, karena memang ia tidak pernah membeli alat make-up. Jangankan untuk beli alat make-up, skincare seperti wanita lain, untuk makan saja masih sering berhutang.Namun, harus diakui wajah Nila itu cantik. Ia memiliki senyuman manis dengan gigi gingsul menon

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   13. Pertengkaran Hebat

    "Kalau mimpi jangan ketinggian Mas, pake ngomong sama Nabila segala. Nggak malu kamu kalau Nabila cerita sama teman-temannya nanti!" cecar Yuni sambil berkacak pinggang. Menatap tajam ke arah suaminya.Malas meladeni wanita itu. Apalagi menanggapi ocehan yang tak berujung. Dijelaskan pun percuma karena Yuni tidak akan percaya pada omongannya lagi. Bima memilih pergi dari ruang tamu. Melajukan kursi rodanya menuju kamar dan masuk. Sementara Yuni, kembali masuk ke kamar dan membanting pintu.Suara 'Bank' yang terdengar nyaring sama sekali tidak membuat Bima kaget. Ia justru terkejut saat mendengar suara teriakan dari arah rumah Nila. "Mas! Nyari apa sih kamu?"Suara itu mengundang rasa ingin tahu Bima. Dengan cepat ia keluar dari kamar dan melajukan kursi rodanya menuju dapur. Dari jendela ... tempat biasa ia duduk termenung, ia melihat bayangan Nila dan Yanto yang berada di dapur. Seperti biasa, Nila dan Yanto kembali bertengkar hebat. Entah karena apa.Bima membuka tirai jendela,

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   12. Janji Temu

    "Papa kok nggak ikut kita makan di restoran?" Nabila bersandar manja di atas pangkuan sang Ayah. Bima terdiam. Matanya langsung tertuju pada kamar Utama ... kamar yang dulu menjadi tempat paling nyaman untuk berduaan dengan Yuni. Namun sekarang berubah, kenangan manis itu sudah malas untuk diingat lagi. Kalau bisa semua kenangan itu ingin ia hapus dari kepalanya. "Kok Papa diam?" Nabila mengerutkan kening, menunggu jawaban sang Ayah. Sementara pria di depannya malah diam termenung. "Papa .... " Tangan mungil Nabila mengipas-ngipasi wajah ayahnya. Bima menghela napas panjang, mengalihkan pandangan pada gadis kecilnya. "Memang kamu sama Mama makan di restoran? Sama siapa?" tanyanya menyelidik. Siapa tahu dari kesaksian Nabila, ia mendapatkan sedikit titik terang tentang sikap Yuni yang kian lama kian memuakkan. "Aku cuma makan berdua sama Mama. Awalnya aku nggak mau, tapi aku jadi mau soalnya a

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   11. Salah Tingkah

    17:00 WIB. Setelah seharian berjibaku di rumah tetangganya, Nila memutuskan untuk pulang karena jam kerjanya sudah habis. Tugas terakhir pun sudah selesai. Semua piring sisa makan siang tadi sudah dicuci bersih dan disusun di dalam lemari.Nila tersenyum bangga pada hasil kerjanya. Semua terlihat rapih, dan bersih.Namun, seketika senyum itu memudar saat ia mengingat ia harus berpamitan pulang pada Bima. Sejak kejadian ciuman tadi, ia berusaha menghindari pria tampan itu, bahkan tak mau datang saat Bima memanggil. Namun sekarang, mau tidak mau ia harus berpamitan pulang.Nila menelan ludah keras, menghentikan langkah kaki di pembatas ruang tamu. Dari jarak beberapa meter ia melihat Bima sedang duduk di kursi roda sambil termenung, menatap jam dinding. Pakaian pria itu terlihat basah, entah oleh keringat atau tumpahan air, yang jelas pakaian Bima tampak lepek.Nila membuang napas panjang. Ragu untuk melangkah, bahkan u

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   10. Tangisan Nabila

    "Yuni, mau ke mana?" Pria berjas hitam itu berdiri di ambang pintu restoran, berteriak memanggil teman SMA-nya. Yuni memutar tubuh, "Kita tunda pertemuan. Besok pagi aku ke kantor kamu!" Dengan terburu-buru Yuni kembali berlari mengejar anaknya.Sementara pria bernama Aris itu berdecak, lalu masuk ke restoran. Langkah kakinya tertahan saat mendengar suara notifikasi dari ponsel. Ia melihat satu pesan dari Yuni yang langsung dibaca. [Maaf Ris, besok aku ke kantor kamu. Anakku ngambek, dia mau ngajak Papanya makan di restoran yang sama. Nggak mungkin 'kan aku ngajak Mas Bima di saat kita mau membahas soal perceraian]Aris membalas chat itu dengan malas. Agak kesal karena waktunya terbuang percuma. Kalau bukan karena Yuni teman baiknya saat SMA, ia tidak akan mau mengurus perceraian yang rumit seperti ini. Yuni keukeh menggugat Bima yang lumpuh, tetapi ingin terlihat baik. Wanita itu tak mau jika ada orang yang mengang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status