Share

57. Chat Dari Bima

Penulis: Dita SY
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 23:14:35

Ting!

Suara notifikasi dari ponsel milik Nila terdengar. Dengan tergesa-gesa Nila menyelesaikan kegiatannya yang tengah memasak nasi.

Setelah panci di naikan ke atas tungku api, buru-buru Nila mengambil ponsel yang ia letakan di bawah lemari kayu.

Bola matanya berotasi, mengamati sekitar dapur. Ia juga menajamkan indera pendengaran, takut tiba-tiba Yanto pulang ke rumah.

Setelah memastikan rumah itu aman, Nila membuka ponsel dan melihat ada tiga pesan masuk dari Bima.

Bukannya membaca pesan it
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Dahlia Uli
kok akhir ceritanya gantung gak jelas ya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   84. Konspirasi

    Di tempat yang berbeda, Yuni, Lola dan Arya sedang bertengkar hebat di dalam sebuah kamar yang terkunci. "Pintunya dikunci. Nggak ada jalan keluar lain selain pintu ini. Suami lo bener-bener psikopat." Lola menggerutu sambil memutar gagang pintu bundar berkali-kali.Sejak terbangun dari pingsannya, ia sudah berkali-kali memutari kamar hingga memasuki kamar mandi untuk mencari jalan keluar. Pintu utama kamar itu dikunci, dan tidak ada jalan keluar lain. Ventilasi udara pun sudah ditutup rapat dengan tralis besi baja. Ruang kamar itu seperti sudah disiapkan menjadi Penjara untuk mengurung mereka bertiga di dalam keputusasaan. Yuni hanya diam, menyandarkan tubuh ke belakang dengan tatapan kosong ke depan. "Gila! Bima bener-bener gila. Dia melakukan semua ini cuma untuk membalas kita? Apa yang ada di otaknya?" Lola mengutuk perbuatan gila Bima. "Kayak yang tadi kamu bilang, Bima itu psikopat. Mungkin dia lagi nyiapin alat-alat untuk melancarkan aksinya. Kita bakal disiksa satu per s

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   83. Pergi

    ​Sudah tiga jam berlalu sejak Nabila marah setelah mendengar Bima memanggil Nila dengan sebutan Mama. Gadis kecil itu tak keluar dari kamar, bahkan tak ada sahutan sama sekali saat namanya dipanggil.​Biasanya, Nabila hanya akan merajuk selama sepuluh menit sebelum akhirnya luluh oleh suara bujukan Nila.Namun kali ini, tidak ada suara gerutu, tidak ada bunyi mainan yang dilempar, bahkan tidak ada isak tangis. Hanya ada kesunyian yang dingin, yang seolah merayap keluar dari celah bawah pintu.​"Nabila. Sayang, buka pintunya. Sebentar lagi Papa pulang Nak." Suara Nila parau, menahan tangis khawatir. "Sayang, buka pintu Nak."​Nila menempelkan telinganya ke kayu pintu, mencoba menangkap suara napas, atau gesekan kain seprai, atau apa saja yang menandakan kehidupan di dalam sana.Namun, yang dia dengar hanyalah detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang seperti genderang perang.Firasat buruk mulai menjalar dari ujung kakinya, membuat bulu kuduknya berdiri tegak.​"Pak Salman. Pak Te

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   82. Panik

    Setelah telepon diakhiri oleh Nila, kegelisahan tampak jelas di wajah Bima. Beberapa kali ia menghubungi nomor kekasihnya itu, tetapi telepon selalu ditolak.Hingga di telepon terakhirnya, ia mendapat kiriman pesan dari Nila. Nila [Lebih baik kamu jemput Nabila sekarang Mas. Jangan ditunda lagi. Aku takut dia menangis dan ngamuk lagi]Bima yang gelisah setelah mendengar kemarahan Nila tadi, langsung menghubungi, tetapi telepon darinya tetap tidak diangkat. Kiriman pesan pun kembali masuk dari Nila yang memberi alasan kenapa dia tidak menerima telepon itu.Nila [Nggak usah nelepon aku dulu Mas. Mending kamu jemput Nabila sekarang. Oh iya, kayaknya aku nggak bisa ikut kalian. Aku tunggu di rumah aja]Membaca chat balasan itu, kening Bima berkerut. Jelas ia tidak bisa jika tidak melibatkan Nila ke dalam pertemuan Nabila dan Yuni. Bima langsung mengirim chat balasan dengan kata-kata panjang kali lebar. Bima [Kamu harus ikut. Kamu sudah menjadi bagian dari hidupku dan Yuni harus tahu i

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   81. Belum Bisa Menerima

    "Tante, udah ada telepon belum dari Papa?" Nabila menatap jam yang terus berputar.Jarum panjangnya sekarang sudah ada di angka dua, tetapi belum ada tanda-tanda sang Ayah menghubungi, ataupun datang menjemput.Bukan hanya Nabila yang menunggu, Nila pun sudah sejak tadi terlihat gelisah.Ditambah pertanyaan dari Nabila, membuat Nila semakin cemas. Sampai detik ini Bima belum juga memberi kabar kelanjutan dari pembicaraan tadi pagi.Takut Nabila kembali menangis dan menjerit-jerit, Nila pun beranjak dari sofa, tempat ia duduk bersama gadis kecil itu. "Tante coba hubungi Papa kamu ya," ucap Nila dengan senyuman keibuannya. Meski belum memiliki anak, ia tampak sangat menyayangi Nabila, dan sudah menerima kehadiran Nabila sebagai anak sambungnya nanti. Cup! Nila memberi kecupan tanda sayangnya di kening, kemudian ia berdiri sambil mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Langkah kakinya mengarah ke dekat pembatas ruang keluarga dengan ruang tengah lain di rumah luas dan mewah i

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   80. Mau Mama!

    "Aku mau Mama! Aku mau Mama!"Suara teriakan Nabila terdengar sampai keluar kamar. Para pelayan menoleh ke arah yang sama, ruang tertutup di dekat tangga lantai dua. Mereka sudah berusaha menenangkan Nabila, tetapi gadis kecil itu tetap menangis histeris. Bahkan kehadiran mereka tidak diinginkan oleh Nabila yang meminta dipertemukan dengan ibunya.Dari arah ruang tamu, Nila melangkah terburu-buru mendekati kamar itu. Semua orang menghela napas lega.Mereka percaya Nila bisa mengatasi amukan Nabila.Perlahan Nila mendekati pintu kamar yang terbuka. Ia menatap gadis kecil itu dengan lirih."Aku mau Mama .... " Nabila melemahkan suara. Napasnya terengah dengan mata memerah seperti api.​Suara isak tangis itu bukan lagi sekedar rengekan minta mainan. Itu adalah lengkingan pilu yang menyayat dinding-dinding kamar bernuansa pink putih tersebut.Nabila, yang biasanya ceria, kini tampak seperti prajurit kecil yang terluka dan terkepung.​"Mama! Aku mau Mama!" ​Teriakan itu kembali pecah, ser

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   79. Rencana Bima

    Saat perjalanan menuju kantor, Bima mendengar suara deringan ponsel yang ia letakan di dalam dasbor mobil. Kendaraan roda empat itu ia berhentikan di pinggir trotoar jalan, kemudian ia mengambil ponsel dan melihat satu nama tertera di layar 'Nila.'Dengan wajah sumringah, Bima menerima telepon itu. Ingin secepatnya memberi kabar bahagia tentang perceraian yang akan selesai dalam waktu dekat. Namun, baru saja ingin berbicara, ia mendengar suara parau Nila. Wanita muda itu meminta Bima untuk secepatnya menghubungi Yuni. "Nabila nangis terus Mas. Tolong kamu bawa Nabila menemui ibunya, kalau dia terus begini, lama-lama dia drop. Kasihan dia Mas."Bima terdiam sambil menghela napas dalam. Sejak semalam ia sudah memikirkan permintaan anaknya itu, tetapi berat baginya menuruti. "Mas, kamu udah janji 'kan sama aku kalau kamu mau mempertemukan Nabila sama Mamanya? Tolong Mas, sekali ini saja, turuti keinginan Nabila. Semua demi kebaikan dia," mohon Nila. Bima tetap diam, hanya helaan nap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status