Share

Chapter 7

Sarah merasakan denyut nadi yang semakin kencang ketika mendengar suara yang menyapa dirinya dari belakang. Suara itu begitu familiar, namun juga begitu menyakitkan di telinga yang mendengar. Suara yang kini menghujat dan menghina dirinya tanpa ampun yang berasal dari Selena, saudara tirinya.

Sarah menarik napas dalam-dalam, lalu memutar tubuhnya perlahan-lahan menghadap ke arah suara itu. Matanya menatap tajam ke wajah Selena yang tersenyum sinis. Sarah merasakan amarah yang membara di dadanya, tetapi ia berusaha menahan diri mengontrol emosi yang siap meledak kapan saja.

“Selena,” ucap Sarah dengan suara lirih yang hampir tak terdengar. Ia berharap Selena hanya lewat dan tidak mengganggunya kali ini.

Namun harapan itu sia-sia. Selena malah mendekat ke arah Sarah, berjalan dengan langkah angkuh dan sombong. Rambut pirangnya tergerai indah di bahunya, menunjukkan betapa ia merasa cantik dan superior. Selena memang selalu merasa iri dengan Sarah, karena ibunya sendiri lebih perhatian dan sayang kepada Sarah daripada dirinya. Padahal Selena adalah anak kandung Lena, sedangkan Sarah adalah anak tiri.

“Kenapa kamu tergamang seperti itu? Kamu malu mendengar kenyataan? Tapi memang benar kan apa yang aku katakan. Oh ya, satu lagi … dengar-dengar ayah sudah memblokir ATM milikmu, aku kasihan bagaimana kehidupanmu setelah dibuang dari keluarga,” ucap Selena dengan nada mengejek, seakan merasa puas dengan apa yang menimpa Sarah. Ia melipat tangannya di dada, menatap Sarah dengan pandangan sinis.

“Kamu terlihat senang sekali melihat penderitaanku.”

Sarah tidak tahan mendengar perkataan Selena yang penuh dengan kata-kata menyakitkan hati. Ia yakin Selena adalah dalang dari semua masalah yang menimpanya. Selena pasti sengaja merencanakan rencana jahat yang membuat dirinya sangat terhina di mata keluarga, agar semua orang membenci dan mengusirnya dari rumah. Padahal Sarah sudah cukup baik menerima Selena sebagai saudara, meskipun Selena selalu bersikap buruk kepadanya.

“Tentu, aku sangat bahagia,” jawab Selena sambil tertawa dengan renyah, melihat apa yang dialami Sarah.

Sarah merasakan amarah yang membara di dadanya ketika mendengar tawa renyah Selena. Tawa itu begitu menyakitkan dan mengejek serta menghina dan menginjak harga diri seorang Sarah..

Sarah menarik napas dalam-dalam, lalu menatap balik ke wajah Selena yang tersenyum sinis. Matanya bersinar dengan api kemarahan dan kebencian. Sarah merasa terpojok dan tak berdaya saat ini.

“Oh, kamu bela-belakan menghampiri aku hanya untuk mengatakan itu? Jangan-jangan kamu biang dari semua ini. Aku nggak menyangka ternyata kamu tega melakukan hal sehinanya itu untuk membuatku tersingkirkan dari rumah. Padahal aku sudah cukup baik menerima kamu sebagai saudara di rumahku!” Sarah membalas perkataan Selena dengan bengis. Ia mengepalkan tangannya, siap untuk melawan Selena jika perlu.

“Bodo amat! Tak akan ada yang percaya lagi dengan kata-katamu, siapa suruh menjadi wanita murahan. Dan seleramu itu ternyata hanya tukang ojol, menyedihkan,” jawab Selena tanpa memikirkan perasaan Sarah. Yang terpenting Selena merasa puas dengan apa yang telah dialami oleh Sarah.

Selena memang selalu merasa iri dengan Sarah, karena semua orang lebih perhatian dan sayang kepada Sarah daripada dirinya. Bahkan ibu kandungnya sendiri. Padahal Selena adalah anak kandung ibunya sementara Sarah hanya anak tiri. Dahulu ia selalu merasa dunia tak pernah adil padanya, tetapi tidak untuk kali ini. Selena merasa seakan seisi bumi pun berpihak kepadanya.

Selena mengibaskan rambutnya, lalu berbalik untuk pergi. Ia berjalan dengan langkah angkuh dan sombong, seolah-olah ia adalah pemenang dalam pertarungan ini. Ia tidak peduli dengan perasaan Sarah yang sakit dan telah tersingkirkan dari rumah.

Sarah menatap nanar mendengar perkataan Selena yang tidak berdasar. Ia tidak pernah berhubungan dengan ojol itu, apalagi mengajaknya tidur bersama. Ia merasa difitnah dan dikhianati yang entah siapa. Sarah berusaha membela dirinya, tetapi percuma ia tidak memiliki bukti untuk membantah tuduhan Selena.

“Akan kubuktikan kalau aku tak bersalah!” ucap Sarah pada dirinya sendiri.

Sarah masih mematung di tempatnya berdiri, sambil menggenggam erat tasnya. Ia merasakan tatapan dingin dan curiga dari orang-orang di sekitarnya. Ia merasa sendirian dan tak berdaya. Menatap punggung Selena yang semakin menjauh. Ia merasakan amarah dan sakit hati yang mendalam.

“Cepat atau lambat, aku akan menemukan siapa dalang yang mencoba menghancurkan hidupku!” ucap Sarah dengan yakin. Ia bersumpah akan membongkar fitnah yang dituduhkan dan membersihkan namanya dari noda.

***

Sarah merasa lega ketika jam kuliah akhirnya berbunyi. Ia segera mengambil tasnya dan berlari keluar dari ruangan kuliahnya. Sarah punya rencana untuk pulang ke rumahnya sendiri, mencari rekaman CCTV yang mungkin bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah berharap bisa kembali kerumah.

Dengan langkah cepat Sarah berjalan sampai di parkiran. Ia berharap Zavar tidak ada di sana, tetapi harapan itu sia-sia. Ia melihat Zavar sudah berdiri di samping motornya, memakai helm dan jaket ojolnya. Wajahnya tampak tenang dan ramah, menunggu Sarah keluar dari kampus. Sesekali ia memperhatikan jam di pergelangan tangannya.

“Duh, ternyata Zavar sudah menungguku!” ucap sarah bersungut-sungut.

Melihat keberadaan Zavar, dengan cepat Sarah bersembunyi di balik tiang kokoh bangunan kampus, berpikir sejenak cara untuk menghindari pria berkulit kuning langsat tersebut. Sarah merasakan jantungnya berdebar-debar. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan Zavar agar ia bisa pulang ke rumah ayahnya tanpa ketahuan. Namun ia juga takut rencananya ketahuan oleh Zavar. Sebab, saat ini Sarah tidak bisa mempercayai siapa pun. Bisa saja, Zavar bekerja sama dengan Selena untuk menghancurkannya.

Sarah memutar otak memikirkan ide. Ia harus menemukan alasan yang masuk akal untuk menolak tawaran Zavar untuk mengantarnya pulang. Ia harus berbohong dengan meyakinkan, agar Zavar tidak curiga dengan niatnya.

Sarah merasa tegang dan gelisah ketika melihat Zavar yang masih berdiri di parkiran. Ia harus segera menemukan cara untuk mengelabui Zavar, agar ia bisa pulang ke rumahnya sendiri untuk mencari bukti yang bisa membersihkan namanya dari fitnah yang keji.

“Ayo Sarah, berpikir!” gumam Sarah sambil memainkan jemarinya, mencari inspirasi di dalam kepalanya. Ia harus membuat alasan yang masuk akal untuk menolak tawaran Zavar untuk mengantarnya pulang. Ia harus berbohong dengan meyakinkan, agar Zavar tidak curiga dengan niatnya.

Akhirnya, Sarah mendapatkan ide yang cerdik. Ia segera merogoh ponsel di dalam tas, lalu mengetik pesan singkat kepada Zavar. Ia berpura-pura bahwa ia harus menemui dosen pembimbingnya untuk membahas skripsinya. Ia meminta Zavar untuk pulang duluan, dan mengatakan bahwa ia akan naik ojol lain.

Sarah mengirim pesan itu kepada Zavar, lalu mengintip dari balik tiang kokoh bangunan kampus. Ia melihat Zavar membaca pesan itu di ponselnya. Wajahnya tampak bingung dan kecewa, namun ia tidak bisa protes. Ia mengetik sesuatu di ponselnya, mungkin untuk membalas pesan Sarah.

Sarah segera menerima balasan dari Zavar. Ia membaca pesan itu dengan cepat. Zavar mengatakan bahwa ia mengerti dan akan pergi. Sarah melihat Zavar memutar sepeda motornya kemudian meninggalkan area kampus. Ia merasa lega dan senang, karena rencananya berhasil. Ia berhasil menghindari Zavar dan bisa pulang ke rumahnya sendiri.

“Bagus, pulanglah sana!” Sarah berkata dengan lirih sambil tersenyum lebar. Ia merasa optimis bahwa ia akan menemukan rekaman CCTV yang bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Setelah memastikan situasi aman, Sarah pun memesan ojek online yang lain untuk mengantarnya. Namun, saat menunggu tak sengaja ia melihat pandangan yang tak biasa, membuat matanya membulat sempurna.

Mar Shahle

Selamat membaca...

| Like
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dyah Safitri
Sorry tp agak lebay.Gak masuk akal.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status