Share

Flash Back

last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-11 17:58:21

lagipula Gerald sudah membuat kesalahan fatal.

ingatan sukma kembali ditempat itu.

Sukma awalnya tidak punya firasat apa-apa ketika Gerald mengajaknya bertemu malam itu. Lelaki itu berkata singkat lewat pesan, “Aku sudah booking kamar, kita bisa ngobrol lebih tenang di sana.” Sukma mengira Gerald ingin bicara serius tentang hubungan mereka. Ada rasa bersalah yang selalu menghantui dirinya—karena meski ia sudah bersuami, hatinya masih saja condong pada Gerald.

Mereka tiba di hotel dengan suasana
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suami Perkasa   VCS

    --- Dinas luar kota ternyata jauh lebih melelahkan dari yang Mariana bayangkan. Seharian penuh meeting, presentasi, makan siang yang terasa seperti rapat tambahan, lalu lanjut lagi sampai malam. Begitu sampai hotel, yang ada bukan santai—malah badan rasanya rontok semua. Tapi yang paling terasa… sepi. Biasanya ada suara Lucy. Ada langkah kaki Edgar. Atau sekadar kehadiran mereka di rumah. Sekarang cuma kamar hotel yang terlalu rapi, terlalu sunyi. Mariana menjatuhkan diri ke kasur, masih dengan pakaian kerja. Menatap langit-langit sebentar… lalu tanpa sadar meraih ponselnya. Nama Edgar langsung muncul paling atas. Ia menekan video call. Tidak sampai tiga detik—diangkat. Layar menampilkan wajah Edgar yang sedikit lelah, tapi begitu melihat Mariana, ekspresinya langsung berubah. “Capek Sayang?” tanyanya. Mariana cuma mengangguk, bibirnya sedikit manyun. “Kamu juga keliatan capek.” “Iya, tapi masih mending daripada kamu. Mukanya udah kayak mau tumbang.” Mariana mendeng

  • Suami Perkasa   Over

    Mariana tidak pernah menyangka bahwa titik retaknya justru datang dari dirinya sendiri.Hari-hari setelah kejadian itu terasa seperti berjalan di lorong panjang tanpa ujung. Rumah yang biasanya ramai oleh tangisan Lucy kini terasa… hati-hati. Semua orang seperti menahan napas.Edgar sudah pulang dari rumah sakit dua hari kemudian. Lukanya tidak parah—hanya jahitan kecil di kepala dan pusing yang sesekali datang. Tapi suasana di antara mereka… jauh lebih rumit dari sekadar luka fisik.Mariana jadi lebih diam.Bukan karena marah lagi—justru sebaliknya.Ia terlalu banyak berpikir.---Suatu malam, saat Lucy akhirnya tertidur, Mariana duduk di tepi tempat tidur. Edgar ada di sebelahnya, sedang membaca sesuatu di ponselnya.Sudah hampir sepuluh menit mereka tidak bicara.Akhirnya—“Gar…”Edgar menoleh. “Hm?”Mariana menarik napas panjang. “Maaf.”Sederhana. Tapi berat.Edgar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Mariana beberapa detik, lalu menghela napas kecil.“Harusnya aku yang nany

  • Suami Perkasa   Aku Salah Apa

    Tapi kemarahan Mariana tak hanya sampai disitu, Tangannya langsung meraih vas bunga di meja samping dan melemparkannya. BRAK. Vas itu menghantam kepala Edgar. Pria itu tersentak, tubuhnya oleng sambil memegang pelipisnya. Tangisan Lucy masih memenuhi ruangan saat semuanya mulai terasa kacau. Edgar yang tadi masih berdiri, tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhnya goyah, tangannya sempat mencari pegangan—tapi tidak menemukan apa-apa. “Gar—” suara Mariana nyaris keluar, refleks. Terlambat. Tubuh Edgar jatuh ke lantai dengan bunyi berat yang membuat Nadia kembali menjerit. “Ya Allah, Pak Edgar—!” Kepalanya terbentur sisi karpet, matanya tertutup, napasnya ada… tapi tidak sadar. Dunia Mariana yang tadi panas tiba-tiba seperti disiram dingin. Sunyi sekejap. Hanya tersisa tangisan Lucy yang makin histeris. “Bangun…” suaranya berubah. “Edgar… bangun.” Tidak ada respon. Tangannya gemetar saat berlutut di samping tubuh itu. —amarahnya retak. “Gar… jangan be

  • Suami Perkasa   Ciuman diruang Tamu

    Sore itu Mariana pulang lebih cepat dari biasanya. Tidak ada alasan jelas—hanya perasaan tidak enak yang sejak siang terus mengganggu. Ia mematikan mesin mobil dengan gerakan cepat, lalu turun tanpa benar-benar berpikir. Rumah itu tampak seperti biasa. Tenang. Rapi. Lampu teras menyala. Tapi begitu pintu dibuka, ada yang terasa tidak beres. Terlalu sunyi. Tidak ada suara Lucy. Tidak ada langkah kaki Nadia. Tidak ada televisi. “Edgar?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Mariana melangkah masuk perlahan. Tas masih di bahunya, sepatu belum dilepas. Ia berhenti sejenak saat mendengar suara dari arah ruang tengah. Tawa. Pelan. Cekikikan ringan, seperti dua orang yang sedang berbagi sesuatu yang hanya mereka pahami. Jantung Mariana berdetak lebih cepat. Ia berjalan mendekat. Begitu berbelok, pemandangan di depannya langsung menahan napasnya. Lucy ada di stroller. Terbangun. Tangannya bergerak kecil, matanya berkedip pelan, seperti mencari seseorang yang seharusnya ada di dekatnya.

  • Suami Perkasa   Yakin Nggak Dipikirin

    Keesokan harinya, Mariana akhirnya mengambil jeda. Bukan karena pekerjaannya selesai—justru sebaliknya. Tapi ada sesuatu di kepalanya yang terasa penuh, seperti perlu diberi ruang sebelum benar-benar meluap. Ia mengirim pesan singkat ke kantor, menunda beberapa meeting, lalu menerima ajakan Rani yang sejak pagi sudah cerewet di chat. Mall tidak terlalu ramai siang itu. Rani sudah duduk di kafe, es kopi di depannya hampir habis setengah. Begitu melihat Mariana datang, wajahnya langsung berubah hidup. “NAH INI DIA CEO SOK SIBUK,” serunya lebay, tangan diangkat tinggi. Mariana hanya menggeleng, menarik kursi di depannya. “Gue lagi butuh break.” katanya singkat. “Wah cocok banget sama gue,” Rani nyengir. “Gue ini paket lengkap. Lucu, cantik,gokil.” Mariana mendengus. “Yang terakhir itu yang paling dominan.” Pelayan datang, Mariana memesan minuman cepat, lalu bersandar. Untuk beberapa detik, ia hanya menikmati suasana. Tidak ada bunyi notifikasi, tidak ada suara orang memanggil n

  • Suami Perkasa   Cemburu

    Pagi di kantor Mariana tidak pernah benar-benar pelan.Telepon berdering. Email masuk tanpa jeda. Orang keluar-masuk ruangannya dengan wajah tegang seolah semua hal di dunia harus selesai hari itu juga.“Mariana, meeting jam dua dimajuin jadi setengah satu ya.”“Mariana—”“Iya, iya, kirim aja ke aku,” potongnya cepat, matanya bahkan tidak benar-benar terangkat dari layar laptop.Rina masuk, duduk tanpa diundang, seperti biasa.Tangannya mengambil salah satu kertas di meja, tapi matanya justru menatap Mariana dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang akan ia katakan.“Gue tuh kepikiran sesuatu dari kemarin pas habis nenggok Lucy.”Mariana masih mengetik.“Biasanya kalau lu kepikiran, itu bukan hal penting.”“Enggak, ini penting.”Nada Rina tetap ringan.“Apa lu nggak… cemburu?”Jemari Mariana berhenti.Hanya satu detik.Lalu lanjut lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.“Cemburu sama siapa?”“Ya itu,” Rina mengangkat bahu. “Suami lu di rumah terus sama babysitter.”Mariana me

  • Suami Perkasa   Siapa Yang Berkuasa

    Sukma terbangun. Napasnya berat, pelipisnya basah keringat. Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 03:12 dini hari. Ia menatap langit-langit kamar pentahouse. Tak ada lubang. Tak ada tanah. Tak ada Luna yang menangis, tak ada Dimitri yang berteriak. Hanya keheningan. "Ya Tuhan,

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Suami Perkasa   Aku Istri Sah

    Toko bunga itu tampak tenang di tengah udara lembab sore hari. Aroma tanah basah masih mengambang, meninggalkan jejak kenangan hujan yang baru saja reda. Di balik kaca yang mulai berembun, Luna sedang menyusun rangkaian mawar putih, jemarinya cekatan merangkai satu per satu kelopak dalam harmoni

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Suami Perkasa   Pilih Dokter Atau Atlit

    Restoran itu cukup tenang sore itu. Alunan musik jazz mengisi ruang makan dengan suasana hangat dan elegan. Carlos duduk agak tegang, meskipun dasinya longgar dan senyumnya dibuat sealamiah mungkin. Di depannya, duduk Sonia, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang dikenalkan oleh Teman—yang k

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Suami Perkasa    Pencarian Istri Ketiga

    Carlos duduk di ruang kerjanya, menatap dua istrinya dengan ekspresi kosong. Keira sedang menyusun blueprint proyek arsitektur di laptopnya, sementara Ruby mengetik laporan di ponselnya. Dua-duanya tampak sibuk, tidak ada yang menoleh ke arahnya."Aku masih nggak percaya, kalian beneran nyuruh aku

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status