LOGINNamun ibu Edgar belum selesai.Saat Edgar hendak melangkah keluar dari ruangan itu, suara ibunya kembali terdengar dari belakang."Kau pikir setelah semua ini Ibu akan diam saja?"Langkah Edgar terhenti.Ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berbalik.Wajah ibunya sudah berubah. Tidak ada lagi ketenangan yang sejak tadi dipaksakan. Yang tersisa hanya kemarahan dan kekecewaan yang telah menumpuk terlalu lama.Wanita itu berdiri dari kursinya."Aku sudah mencari tahu semuanya."Tatapan Edgar langsung mengeras."Ibu tidak tahu apa pun.""Oh, Ibu tahu lebih banyak daripada yang kau kira."Suara wanita itu terdengar tajam."Ibu tahu tentang Max."Nama itu membuat ruangan mendadak terasa lebih dingin."Aku juga tahu kalau Mariana pernah tinggal serumah dengan laki-laki itu,kumpul kebo bertahun tahun.""Ibu.""Dan ibu juga tahu tentang Edward."Napas Edgar mulai terasa berat."Kau pikir semua orang buta?""Kau pikir tidak ada yang melihat bagaimana mereka begitu dekat?""Ibu sedang m
Beberapa hari setelah kunjungan itu, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Setidaknya bagi Mariana. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di tempat lain, seseorang sedang memikirkan hal yang sama berulang kali. Lucy. Wajah Lucy. Setiap kali ibu Edgar mengingat anak itu, pikirannya selalu kembali pada satu kesimpulan yang membuatnya gelisah. Tidak mirip. Sama sekali tidak mirip Edgar. Bukan hanya matanya. Bukan hanya bentuk hidungnya. Bahkan senyum kecil yang sering muncul di wajah Lucy terasa asing di matanya. Awalnya ia berusaha mengabaikan pikiran itu. Anak-anak memang sering berubah seiring bertambah usia. Banyak bayi yang baru terlihat mirip orang tuanya setelah besar. Tapi semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin besar rasa curiga yang tumbuh di dalam hati. Sampai akhirnya rasa curiga itu berubah menjadi obsesi. Diam-diam ia mulai memperhatikan setiap foto Lucy yang diunggah Mariana. Membandingkannya dengan foto masa kecil Edgar. Mencari-cari kemiripan yang tak p
Beberapa bulan kemudian setelah semuanya kembali tampak tenang, Mariana ikut Edgar berkunjung ke rumah orang tuanya. Kali ini mereka tidak datang berdua. Lucy, putri Mariana yang baru berusia satu tahun lebih, ikut bersama mereka. Karena perjalanan cukup jauh dan Mariana tahu ia akan sulit mengurus Lucy sendirian, ia juga mengajak Nadia, babysitter yang sudah membantu merawat putrinya dari lucy lahir Sepanjang perjalanan, Lucy duduk di kursi mobil khusus anak sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Sesekali gadis kecil itu tertawa sendiri, mengoceh dengan bahasa bayi yang belum jelas, membuat Nadia tersenyum geli. Mariana beberapa kali menoleh ke belakang. Melihat putrinya selalu berhasil membuat hatinya lebih tenang. Edgar menyetir seperti biasa. Tenang. Diam. Sesekali menjawab pertanyaan Mariana seperlunya. Ketika mobil akhirnya memasuki halaman rumah orang tua Edgar, Mariana mengembuskan napas panjang. Rumah itu masih sama seperti yang selalu ia kenal. Pagar putih. T
Malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Di dalam kamar, tawa kecil terdengar—ringan, lepas, seperti sesuatu yang sempat hilang kini kembali. Mariana mendorong bahu Edgar pelan. “Kamu ini…” Edgar mendekat sedikit, menatapnya dengan senyum tipis. “kali ini aku pengen kamu yang ada diatas..!” Mariana memutar mata, tapi tidak menjauh. Jarak di antara mereka menyempit tanpa perlu banyak kata. Sentuhan kecil berubah menjadi lebih lama. Lebih dalam. Tawa perlahan mereda, digantikan suara napas dan desahan yang mulai tak beraturan. Suasana kamar menghangat, dipenuhi kedekatan yang lama tertunda. Di luar kamar— Langkah Nadia terhenti. Ia baru saja memastikan Lucy sudah tidur. Namun saat melewati pintu itu, suara samar dari dalam membuatnya diam. Sunyi. Lalu terdengar lagi. Nadia menatap pintu tertutup itu tanpa berkedip. Tangannya mengepal pelan. Ia tidak perlu mendekat untuk mengerti. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan. Beberapa detik berlalu sebelu
Beberapa bulan berlalu. Rumah itu kini benar-benar terasa berbeda. Dari luar, semuanya tampak utuh—bahkan lebih hangat dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang dulu sempat menggantung di setiap sudut ruangan. Mariana sudah tidak pernah lagi terlihat sibuk dengan ponselnya hingga larut malam. Tidak ada lagi alasan pergi tiba-tiba, tidak ada lagi nama asing yang terselip dalam kesehariannya. Nama Edward… seperti hilang begitu saja. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah ia kembali ke negaranya, atau memang Mariana yang memilih mengakhiri semuanya. Tidak pernah ada penjelasan. Tidak pernah ada pembicaraan terbuka tentang itu. Seolah-olah… pria itu memang tidak pernah pernah ada selama ini. Dan Mariana tidak pernah membahasnya. Kini, ia kembali menjadi sosok yang sepenuhnya hadir di rumah. Pagi hari diisi dengan rutinitas sederhana berangkat kerja..pulang menemani Lucy bermain, sesekali bercanda ringan dengan Edgar. Tidak berlebihan.Tapi cukup untuk membuat suas
Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya.Carlos datang tanpa pemberitahuan, langkahnya cepat dan wajahnya sudah menyimpan emosi yang tidak perlu ditebak lagi. Edgar yang sedang berdiri di dapur hanya sempat melirik sekilas sebelum kembali menunduk, seolah sudah tahu percakapan seperti apa yang akan terjadi.“Kamu lagi senggang?” tanya Carlos, suaranya datar tapi tegang.Edgar mengangguk pelan. “Iya. Ada apa?”Carlos tertawa singkat, tapi sama sekali tidak terdengar ringan.“Aku cuma mau tanya satu hal… kamu ngasih uang 500 juta ke Nadia?”Tangan Edgar berhenti sesaat di atas meja, lalu ia mengangkat wajahnya.“Iya.”---Jawaban itu langsung memicu ledakan.“Kamu serius ngasih uang sebanyak itu?” suara Carlos naik tanpa ditahan. “Kamu pikir itu wajar? ngasih uang ke babysitter, untuk apa?”Edgar tetap diam.Tidak membela.Tidak juga menjelaskan.Dan sikap itu justru membuat Carlos semakin emosi.“Pantas saja Mariana marah!” lanjutnya tajam. “Selama ini aku kira dia yang salah—dia selin
Pintu menutup perlahan. Suara langkah kaki Carlos menjauh, hingga akhirnya lenyap bersama deru angin sore.Keira berdiri mematung di ruang tamu, masih menggenggam amplop cokelat di tangannya. Hatinya kacau. Tubuhnya ada di sini, bersama Michel dan anak-anak, tapi pikirannya tertinggal di ambang pin
---Malam itu, kamar besar di lantai atas beraroma hangat. Lampu temaram kuning keemasan menyinari dinding marmer, sementara Elina bersandar di ranjang, rambut panjangnya tergerai menutupi bahu. Tubuhnya masih letih setelah seharian mengurus bayi, namun sorot matanya tetap lembut.Carlos masuk deng
Beberapa hari kemudian, Carlos membawa Pedro kembali. Ia ingin semua terungkap di depan Elina. Malam itu, di ruang kerja rumah besar mereka, Elina duduk gemetar di sofa. Mariana ada di sana, wajahnya masih penuh percaya diri. Carlos berdiri di depan keduanya, Pedro duduk gelisah di sudut ruangan.
---Carlos berdiri di depan rumah bercat krem itu. Suasana sore cukup tenang, suara burung gereja berkejaran di udara. Tangannya masih menggenggam amplop cokelat berisi uang bulanan untuk putranya, Desmond. Sudah beberapa tahun terakhir, meski tak lagi bersama, ia selalu berusaha hadir, meski hanya







