LOGINSubuh. Dua Hari Kemudian. Tok! Tok! Tok! “Mbak Alingga … Mas Zoe …! Sudah subuh!” Suara Mak Tini terdengar pelan dari balik pintu. Alingga mengerjap. Kepalanya masih bersandar nyaman di dada Zoe yang hangat. Lelaki itu pun masih memeluk pinggangnya erat, seolah belum rela melepaskan. “Bangun, Pak Zoe …,” bisik Alingga sambil menepuk pelan dada suaminya. Zoe mendesah, membuka mata dengan enggan. Rambutnya acak-acakan. “Baru juga tidur nyenyak.” “Kita sendiri yang minta dibangunin, kan. Ingat?” sahut Alingga. “Hm.” Zoe akhirnya duduk. Jubah tidurnya sedikit tersingkap, memperlihatkan dada bidangnya. Sama seperti Alingga yang tadi tidur hanya berbalut jubah tipis. “Kamu mandi duluan, Ling,” ucap Zoe sambil beringsut ke tepi ranjang dan berdiri. Selagi Alingga ke kamar mandi, Zoe membereskan kamar. Baju yang berserakan dipungut satu per satu. Selimut dirapikan. Ia bahkan memungut kerudung Alingga yang tersangkut di kaki ranjang, lalu tersenyum kecil. Tak lama, mereka
Alingga merasa kesal sekaligus ingin tertawa. Sudah berapa kali dirinya gagal berbusana. Lebih tepatnya digagalkan. Meski dengan memejam, tetapi tangan lelaki itu seperti kerasukan dan terus memenjara tubuhnya. “Pak Zoe, katakan segalanya mengenai pernikahanmu dengan Mbak Sandra.” Alingga mengungkitnya. Kesalnya kembali berserabut. “Ck, itu nanti dulu. Penuhi dulu tugasmu, senangkan aku dulu, Alingga.” Zoe mempererat dekapannya. “Ish, sengaja ngulur-ngulur. Sudah ah, main-mainnya, Pak zoe! Segan, nanti kedengaran Mak Tini!” seru Alingga dengan suara lirih. Namun, Zoe justru menghentak tubuhnya dan memeluk erat. “Mak Tini nggak akan ada di rumah ini. Sudah kusuruh pergi dan jangan kembali sementara.” Zoe berkata santai dengan suaranya yang menggema. “Pergi sementara, dia ke mana?!” tanya Alingga histeris. Zoe segera melonggarkan pelukan, khawatir istrinya jadi sesak napas sebab kaget. “Dia check in,” sahut Zoe dengan tersenyum. Sudah diduganya, Alingga pasti keheranan
“Tunggu, Pak Zoe!” sentak Alingga sedikit keras dengan ekspresi serius. Tatapannya lebar dan tidak berkedip pada lelaki yang membuatnya sedikit mendongak. “Ada apa, Ling?” Zoe terkejut dan memandang saksama. Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar. Tangan yang akan mendorong handle pintu ditarik lagi dan tidak jadi membukanya. “Memangnya, Ini kamar siapa …?” Alingga berusaha terus serius tetapi tidak mampu menahan senyumnya. Merasa puas dengan ekspresi Zoe yang benar-benar tampak bingung. “Kamu ingin mengerjaiku, Ling? Jelas jika kata asisten rumahmu, ini kamarmu!” Namun, Zoe menyadari ulah Alingga dengan cepat. Tanpa menunggu lagi, pintu kamar sudah dibukanya. Alingga kembali ditariknya untuk masuk. Tidak peduli Alingga keberatan dan berusaha menolak. “Pak Zoe, kenapa kamu tiba-tiba datang?” Alingga bertanya saat Zoe menutup pintu kamar. Coba bertahan dengan diam di depan pintu. Lelaki yang ditanya tidak menjawab dengan kata-kata tetapi langsung dengan pelukan era
Jantung Alingga seperti meledak. Apa yang dilihat terasa kejutan luar biasa dan mendadak. Sosok yang membujur di sofa dan terlihat kakinya bersarung itu ternyata Pak Zoerendra! “Siapa, Ling?” tanya Danu juga ikut mendekati sofa untuk melihatnya. Setelah diamati, dia adalah pria dewasa. Kulitnya terlihat bersih dengan hidung yang mancung. Rambut tampak berkilat dan lebat. Fix, dia pria berkharisma dan tampan. “Dia … adik ipar ibuku,” jawab Alingga lirih. Simalakama rasanya. Antara menduga Zoe sedang kelelahan, juga khawatir akan berburuk sangka jika lelaki itu melihatnya dengan Danu berdua dalam rumah. “Apa dia orang baik?” tanya Danu terus terang. Merasa khawatir dengan keamanan Alingga di rumahnya. Tidak ingin kejadian buruk dulu terulang kembali. “Aman, jangan khawatir, Mas. Dia baik banget.” Alingga tidak tahu lagi harus bilang apa. Namun, segera menyadari bahwa kesalahannya adalah membawa lelaki ke dalam rumah. Bagaimana cara bilang pada Danu untuk segera pulang s
Sajadah dan mukena telah dilipat begitu cepat dengan sedikit tidak rapi. Namun, sempat diletak semula di atas kursi di pojok kamar. “Ada apa dia, tumben. Nggak salah kirim, kan …?” gumam Alingga. Menyambar ponsel dan duduk di atas sisi pembaringan. Tidak sabar membaca isi pesan yang dikirim Zoe setelah memilih mengabaikannya. Bagaimana lagi, subuhnya hampir lewat. Ternyata bukan hanya pesan. Tetapi beberapa panggilan masuk dari lelaki itu saat dirinya mandi. Hati pun berubah lebih keras berdebar. Ini sangat mengejutkan. Kenapa mendadak lelaki itu seperti jadi rempong?! “Dia … dia ingin datang? Kapan? Apa dengan Mbak Sandra?” gumam Alingga. Terkejut luar biasa dengan isi pesan dari Zoerendra yang mengatakan akan datang. Menanyakan di mana Alingga berada. Tapi pesan itu malam tadi. Pagi ini, lelaki itu meminta dikirim share lokasi. Lantas, di mana Pak Zoe saat ini? Sempat bingung, Alingga memutuskan mengirim lokasi dirinya. Barangkali Zoe memang sudah di Kota Malang dari semalam. M
Dua minggu berlalu. Alingga tidak lagi sesibuk belakangan. Urusan Dinda telah sukses dibereskan. Danu begitu baik, bertanggung jawab, dan sangat ringan tangan. Meskipun tidak sampai pelaminan, tetapi kasus mereka telah dikawalnya hingga penghulu di KUA. Meski Dinda sudah tidak lagi ada, tetapi masih peduli pada Alingga yang ternyata tanpa keluarga di rumahnya. Meski ada Mak Tini yang tetap menemani sebagai asisten rumah tangga. Perhatian anak Pak RT tidak lantas selesai."Yah, ini kan hujan, Mas? Dari mana?" sapa Alingga setelah menemui Danu di teras pukul delapan malam. "Aku kepikiran nganter durian buat kamu!" tegas Danu. Tampak sedikit basah, dia sedang mengelap mukanya dengan telapak tangan. “Mas Danu repot-repot banget! Bawa durian lagi!” ucap Alingga meresponnya. “Banyak orang jual di pinggir jalan. Sekalian, kalo beli beberapa kan diskon.” Danu tersenyum. Rambutnya pun basah. Lelaki itu dari mobil di trotoar berlari ke teras tanpa payung. “Satu saja sih cukup, Mas. C
Hotel kecil berlantai tiga di kawasan pelabuhan Telaga Punggur adalah destinasi sang driver. Mereka sudah di trotoar lobi dan driver pun bersiaga di luar pintu. Membawa dua payung lagi demi memayungi tuannya. “Lebih baik kutunggu di sini. Istirahatlah di kamar hotel sendiri.” Alingga merasa serb
Zoe merasa ada sesuatu yang jatuh, tetapi tidak tahu jika itu buku nikah. Dengan santai meletak baik-baik jasnya di gantungan yang disangkutkan dalam mobil. Baru menyadari saat Alingga membungkuk dan memegang buku tersebut. “Pak Zoe … ini apa? Jangan bilang kamu tidak menggunakannya untuk mengak
Hasil tes darah yang singkat itu menyatakan bahwa dirinya negatif, alias bersih dari unsur penggunaan narkoba di tubuhnya. Alingga bergeser ke ruangan lain dengan sangat bingung. Jujur ini adalah situasi yang sangat sulit. Pengalaman pertama dalam hidupnya kena razia sebagai suspek. Seumur-umur jug
Faldian menyudahi pembicaraan di telepon. Wajahnya terlihat tegang dan beberapa kali mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Dia berhenti di tepi jalan demi mencari ponsel yang sedang berdering tetapi tenggelam di dasar ransel. Alingga mendengar bahwa penelepon itu ada hubungannya dengan Jihan.







