Share

Bab 5 Jarak

Author: Novita024
last update publish date: 2026-07-15 00:03:32

Hampir empat puluh menit Olivia menunggu sendirian di restoran sendirian, barulah Julian dengan menenteng kantung plastik di tangannya.

"Ambilah," Julian menyerahkan kantong plastik tersebut pada Olivia.

Olivia menerima plastik yang di berikan Julian, matanya membulat sempurna, tak percaya Julian membeli pembalut dengan jumlah banyak, ada sekitar dua puluh pembalut yang terdiri dari berbagai merek dan ukuran.

"Kenapa membeli sebanyak ini?" tanya Olivia heran.

"Aku tidak tahu mana produk yang nyaman kau pakai. Jadi ku beli semuanya," jawab Julian jujur.

Olivia kemudian langsung pergi ke toilet, untuk memakai pembalut. Setelah selesai, Olivia sedikit terkejut mendapati Julian berdiri tak jauh dari toilet wanita.

"Kita pulang sekarang," ajak Julian. Keduanya berjalan menuju parkiran.

Di dalam mobil, Julian memberikan satu kantung plastik lagi, di dalamnya berisi beberapa coklat, permen dan cemilan manis untuk istrinya. Tak lupa, di perjalanan pulang, Julian sempat berhenti untuk membeli obat anti nyeri untuk Olivia.

"Jika nyerinya terlalu hebat, kau bisa minum obat ini. Aku sudah mengkonsultasikannya dengan dokter." beritahu Julian.

Julian kembali melajukan mobilnya dalam diam. Sementara Olivia tak menduga, pria di sampingnya benar-benar sigap melakukan segalanya. Olivia curiga, Julian pasti punya banyak mantan pacar yang membuatnya begitu terlatih.

* * *

Sesampainya di rumah, Anna sudah menyambut keduanya di depan pintu, wajahnya tampak senang melihat cucu dan menantunya terlihat lebih dekat.

"Nak, ada apa dengan wajahmu?" Tanya Anna melihat dari dekat, wajah Olivia terlihat sedikit pucat.

Olivia tersenyum singkat, "Tidak apa Nek, Olivia hanya sedang haid."

Mendengar jawaban cucunya, membuat Anna menghembuskan napas lega, ia menuntun Olivia masuk, di ikuti Julian dari belakang.

Malam ini, untuk pertama kali, keduanya harus tidur sekamar agar sang nenek tidak merasa curiga.

"Apa perutmu masih sakit?" tanya Julian ketika Olivia keluar dari kamar mandi.

Olivia duduk di kasur sambil menggeleng pelan, setiap kali haid datang, ia memang merasa nyeri di bagian perut, apalagi mereka baru pulang dari jauh, tentu saja Olivia merasa lelah dan lemas.

"Kau tidurlah di kasur, biar aku yang tidur di bawah," ujar Julian tanpa di minta.

Meski berada dalam satu kamar. Hubungan keduanya tidak menunjukan kemajuan, terasa dingin dan canggung.

* * *

Sementara di dimensi lain, Mia kini duduk di sebuah restoran bintang lima dengan seorang pria yang mengenakan setelan jas lengkap.

"Kau tau kan alasan kita bertemu?" tanya pria itu terdengar sombong.

Mia mengangguk pelan, pertemuan mereka tercipta karena perjodohan yang di lakukan keluarga dengan dalil mempererat hubungan kedua belah pihak. Namun, menurut Mia, semua itu hanya alasan klasik, lebih tepatnya, ia hanya di jadikan sebagai pengganti kakaknya.

Ayah dan ibunya, tak ingin kakaknya menikah dengan orang yang terkenal kejam, dingin dan pemarah. Jadi wajar, orang tua mana, yang mau menikahkan anaknya dengan seorang pria yang memiliki reputasi seburuk itu. Namun, karena perjanjian perjodohan di masa lalu, membuat mereka tak bisa menghindar. Pada akhirnya, Mialah yang menjadi pilihan untuk dikorbankan.

Pria yang menatapnya dengan angkuh menyerahkan sebuah map yang berisi perjanjian pra nikah. Mia menerima dan membacanya dengan seksama.

1.Dalam pernikahan, pihak pertama dan pihak kedua tidak boleh saling jatuh cinta

2. Kedua belah pihak tidak boleh ikut campur kehidupan pihak lain

3. Di depan keluarga harus terlihat seperti pasangan normal yang romantis.

4. Pihak pertama bersedia membiayai semua kebutuhan pihak kedua.

5.Setelah tiga tahun, kedua belah pihak setuju bercerai.

Mia yang membaca setiap kata yang tertera di sana, ia mengerjab matanya beberapa kali tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Adengan yang biasa terjadi di drama kini benar-benar terealisasikan di kehidupan nyata.

Mia yang sebelumnya berusaha menyusun alasan untuk menolak pernikahan tersebut malah tertarik menjalaninya. Ia yang awalnya tak ingin menikah dan terikat oleh siapapun. Akhirnya takdir memberikan sebuah solusi.

Yap, pernikahan tanpa saling ikut campur adalah impiannya. "Kau serius?" tanya Mia tenang. Padahal di hatinya, ia sangat ingin berteriak kegirangan.

Pria itu kemudian memberikan Mia sebuah kartu ATM.. "Setiap bulan aku akan memberimu uang 30 juta dengan syarat, kau setuju mengikuti semua hal yang ada di perjanjian pra nikah."

"Setuju," ujar Mia langsung menandatangani perjanjian tersebut dengan cepat, seolah takut pria di depannya berubah pikiran.

Pria itu tersenyum senang. Sembari mengajak berjabat tangan."Senang bekerja sama denganmu nona Emilia grace."

"Senang juga bisa bekerja sama dengan anda, tuan Liam Theodore," sahut mia membalas dengan senyum ramah.

* * *

Mia pulang ke kamar kosnya dengan perasaan lelah, setelah hari yang panjang dan pertemuannya dengan pria bernama Liam Theodore, membuat energinya tersedot habis, baru saja ingin merebahkan tubuh. Sebuah panggilan masuk memaksanya kembali bersuara.

"Bagaimana? Apa pria itu setuju?" tanya suara seberang. Mia hanya bisa menelan kenyataan pahit, Bahkan di penghujung hari yang melelahkan wanita yang di sebut sebagai ibu tak pernah bertanya tentang perasaanya.

"Setuju," jawabnya singkat, ia bisa mendengar suara sebarang yang menghembuskan napas lega."kalau begitu ku tutup teleponya."

Mia langsung mengakhiri panggilan tersebut secara sepihak, ia sudah sangat lelah. Bahkan untuk marah saja ia sudah tak punya tenaga.

Sejak dulu, kedua orang tuanya hanya sayang kepada kakaknya yang bernama Eva. Memiliki wajah cantik, kulit putih dan juga otak yang cemerlang tentu saja menjadi kesayangan semua orang. Sementara Mia, punya warna kulit yang sedikit gelap, wajah pas-pasan dan tidak pintar. Kedua orang tua, terutama sang ibu terus membandingkan ia dan kakaknya. meskipun dirinya berusaha membuktikan diri, belajar dengan giat, menuruti semua kemauan orang tau. Namun tetap saja, semua hal itu tak berguna. posisi Mia di mata orang tuanya tetap sama.

Mia tahu kalau dia jelek, ia juga tahu kalau dirinya bodoh. Tapi, tak bisakah orang tuanya mencintai dan menerima Mia apa adanya.

Di saat Mia mulai larut dalam pikiran negatifnya, air matanya seolah turun tanpa permisi. Ia cuma bisa menangis memecah kesunyian malam.

"Melelahkan," lirihnya di sela-sela tangis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Sempurna Untuk Olivia   Bab 62 Perasaan Aneh

    Olivia terbangun dari tidurnya, ia sedikit bingung mendapati dirinya berada di atas kasur. Ia menoleh ke samping dan menemukan Julian tertidur di sofa, yang berarti pria itu semalaman tidur di sofa dan malah dirinya yang tidur nyaman di kasur pasien.Dahi Olivia menyergit bingung, ia sendiri tidak mengerti kenapa Julian melakukan hal tersebut, Olivia merasa ada gejolak aneh di dalam dirinya, entah itu rasa benci ataupun iba. Ia sendiri tidak bisa memastikannya.Olivia kemudian bangkit dari tidurnya, lalu berpindah ke kursi roda, hanya saja tangannya tak sengaja menyenggol ember yang terletak di atas nakas hingga terjatuh. Julian yang mendengar suara bising tersebut terbangun dari tidurnya dan langsung mendekati istrinya panik."Kau baik-baik saja?" tanya Julian cepat. Olivia yang berhasil berpindah ke kursi roda kini menatap lawan bicaranya datar, wajah pria itu masih tampak pucat seperti semalam. Bukankah kondisinya lebih mengkhawatirkan dibanding dirinya.Olivia mengangguk sebagai

  • Suami Sempurna Untuk Olivia   Bab 61 Keheningan

    Setelah perjanjian tersebut, Julian tetap merawat Olivia seperti biasanya. Tak ada hal yang berubah dari dirinya. Olivia yang melihat sikap tenang Julian sebenarnya merasa ragu. Apakah ucapannya semalam tidak berpengaruh apapun pada pria tersebut. "Makanlah dulu," Julian melepas celemek dari tubuh lalu duduk berhadapan dengan istrinya. Keduanya menyantap makanan dalam diam. Tak ada pembicaraan ataupun kedekatan, semua menjadi lebih asing dari sebelumnya. Keduanya menjalani rutinitas seperti biasa. * * * "Tuan, kau baik-baik saja?" tanya Ratna khawatir, wajah Julian terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Julian mengangguk singkat, tak lupa memasang senyum tipis. " Ya, Aku baik-baik saja." Sebuah kebohongan yang keluar dari mulut Julian, setelah kejadian malam itu, Julian tidak lagi merasa tenang. Malam itu, Julian kembali terbangun, ia menoleh ke arah istrinya, ucapan Olivia masih tergiang di kepalanya. Ingatan saat ibunya meninggalkan dirinya berputar jelas, seolah baru te

  • Suami Sempurna Untuk Olivia   Bab 60 Meminta Cerai

    Di rumah, Julian sudah menunggu Olivia pulang. Begitu mendengar suara deru mobil memasuki perkarangan rumah. Julian segera keluar untuk menjemput istrinya. "Lihat, suamimu datang, kami pamit dulu ya," ujar Mia pergi, tak lupa melambaikan tangan ke arah Julian. Setelah mereka pergi Julian langsung mendekat membantu membawakan barang belanjaan istrinya, sementara Olivia mengarahkan kursi rodanya masuk ke dalam rumah. Sampai di depan pintu, Julian membantu Olivia mengganti sepatu dengan sendal rumah. "Bagaimana perjalananmu hari ini?" tanya Julian memecah keheningan. "Baik,"jawab Olivia singkat, dari pada meladeni pertanyaan Julian ia lebih memilih menyapa Mochi."Mochi," panggil Olivia kegirangan. Hewan lucu tersebut langsung berlari ke pangkuannya. "Kau menungguku ya."Julian tersenyum getir, padahal ia juga menunggu istrinya pulang. Namun, tetap saja Olivia tidak pernah tersenyum ke arahnya, seperti yang Olivia lakukan ke Mochi."Kau sudah makan malam?" tanya Julian lagi.Olivia

  • Suami Sempurna Untuk Olivia   Bab 59 Mulai Tertarik

    Esok harinya, Mia lebih dulu terbangun bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya. Ia sedikit bingung mendapati dirinya sudah berada di kamar dengan lightstick yang masih tergenggam ditangannya. Mia menoleh ke samping, ia tersenyum tipis melihat Liam yang masih tertidur. Mia menduga, pasti suaminya yang menggendongnya semalam. Mia memperhatikan wajah Liam lama. Awalnya ia juga sempat takut dengan pria di depannya. Mia pikir Liam akan memperlakukannya dengan buruk dan merendahkan dirinya. Namun, semuanya terbantahkan, rumor buruk yang melekat pada suaminya hanya omongan tak berdasar. Harus Mia akui, Liam memang tampan. Alisnya yang tebal terlihat semakin tegas ketika pria itu tertidur. Entah kenapa, pagi itu Mia justru memperhatikan wajah tersebut lebih lama dari biasanya. Tanganya terulur menyentuh alis suaminya. Beberapa detik kemudian Mia langsung menarik kembali tangannya. "Aneh sekali, kenapa aku malah tiba-tiba ingin menyentuhnya." Mia kemudian bangkit dari kasur

  • Suami Sempurna Untuk Olivia   Bab 58 Konser

    Sepulangnya dari sidang, Julian dan Olivia mampir ke sebuah restoran untuk makan. Seperti biasa, Julian lebih dulu memperhatikan makanan istrinya, ia kini sibuk memisahkan daging ikan dari tulang sebelum diberikan ke Olivia. Semua kaum hawa yang ada di restoran menatap iri ke Olivia. Namun, Olivia tak perduli sama sekali. Keduanya menyantap makanan dalam diam, tak ada yang memulai pembicaraan Tak berapa lama hujan mulai turun, membuat Olivia merasa terjebak. "Kau tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil payung di dalam mobil," beritahu Julian sebelum bangkit dari duduknya. "Tidak perlu, kita tunggu sampai hujannya berhenti," cegah Olivia. Melihat kondisinya sekarang, ia yakin Julian pasti menggendongnya dari pintu restoran hingga kerparkiran nanti dan hal tersebut pasti menarik perhatian banyak orang, ia tidak mau kembali menjadi tontonan. Julian menggangguk singkat, ia melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong. Setiap kali hujan turun, ia tetap merasa tidak tenang.

  • Suami Sempurna Untuk Olivia   Bab 57 Perhatian Kecil

    Disaat semua orang melihat ke arah video dengan tatapan marah karena emosi atas perbuatan Sinta. Berbeda dengan Julian, video tersebut malah membuat tubuhnya menegang, suara makian dan pukulan terdengar familiar di telingannya. Julian mengambil satu langkah mundur. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk tetap melihat ke layar. Bayangan masa lalu saat ayahnya memukuli dirinya kini berputar dengan jelas di kepalanya. Julian yang sadar dengan tubuhnya yang mulai menunjukan reaksi ketakutan, langsung menyembunyikan kedua tangannya kebelakang, agar tidak ada yang sadar dengan hal yang sedang terjadi pada tubuhnya, ia harus tetap tenang dan terlihat profesional di ruang sidang. Sementara dari jauh, Olivia melihat segalanya, ia menyadari ekspresi tegang pria itu, Olivia bahkan sempat memperhatikan tangan Julian yang tampak gemeteran, sebelum pria itu berhasil menyembunyikannya, ada tanda tanya besar di dalam hati Olivia. Reaksi yang Julian berikan tampak aneh menurutnya. Setelah vide

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status