MasukAwalnya, Olivia menikah dengan Julian karena perjodohan yang diatur neneknya. ia tahu pria itu menikah karena uang yang diberikan sang nenek. jadi wajar jika Olivia tak menyukai suaminya. Namun, hubungan mereka semakin memburuk saat Olivia mengalami kecelakaan yang membuat kedua kakinya cacat. Olivia semakin membenci Julian. Berpikir bahwa pria tersebut adalah penyebab kecelakaan yang terjadi padanya. Olivia terus memberontak dan membuat pria itu marah. Anehnya Julian tetap memperlakukannya dengan baik, pria itu tak pernah sekalipun mengeluh dengan sikapnya. Sampai akhirnya perasaan Olivia mulai goyah, perlahan ia mulai membuka ruang untuk Julian. Saat di rasa pernikahan mereka mulai membaik, pria yang dulu di cintainya kembali. Hingga sebuah rahasia membuat Pernikahan Julian dan Olivia berada di ambang kehancuran. "Mungkin sejak awal aku memang tidak pernah punya tempat dihatimu," Lucas Julian.
Lihat lebih banyak"Aku tidak akan pernah mencintaimu." Kalimat tersebut diucapkan lantang Olivia, di malam pertama pernikahan mereka.
Lucas Julian kini telah resmi menjadi suami sah dari Olivia Elaine. Namun, ikatan tersebut hanya sebuah pernikahan di atas kertas. Olivia menerima pernikahan tersebut karena desakan sang nenek, ia tahu pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya menerima pernikahan ini hanya karena uang. Jadi, wajar saja jika Olivia tidak suka pada Julian. Apalagi ia punya orang yang disukai. Sejak awal hatinya sudah tertuju untuk satu orang, yaitu Raka. Cinta pertamanya saat duduk di bangku kuliah. Olivia memperhatikan lawan bicaranya, pria itu tidak menunjukan ekspresi apapun. Julian tampak tenang menanganggapi ucapanya, seolah peringatan tersebut bukanlah hal besar. "Aku tahu," balas Julian singkat. "Baguslah kalau begitu, kedepannya kita akan hidup masing-masing," ujar Olivia merasa lega, setidaknya pria di depanya masih bisa diajak kerja sama. Olivia menarik koper keluar dari kamar tersebut. Namun, Julian mencegahnya. "Meski kau tidak menganggap pernikahan ini, aku tetap ingin mejalankan peranku sebagai suami." Olivia menarik tanganya agar terlepas dari Julian, "Tapi sudah ku peringatkan sebelumnya. Kalau aku tidak berniat mempertahankan hubungan ini." "Aku sudah berjanji pada nenekmu dan hal tersebut akan ku tepati," ucap Julian tegas. Tatapan serius Julian membuat Olivia merasa sedikit terintimdasi. Ia sadar jika pria di depanya punya aura yang membuat lawan bicaranya merasa takut, tapi hal tersebut tak akan berlaku baginya, tak ada seorangpun yang bisa membuatnya menurut selain neneknya. "Baiklah, lakukan sesukamu, yang jelas aku tidak ingin tidur satu kamar denganmu." Tanpa menunggu jawaban suaminya, ia segera keluar dari sana. Olivia masuk ke kamar lain, ia langsung melemparkan tubuh ke kasur. Matanya kini menatap lurus ke langit-langit, sementara pikirannya sibuk berkelana. Olivia masih terus menyesali kejadian hari ini, beharap semua hal tersebut hanya mimpi. Berharap pernikahan tersebut tak pernah terjadi. * * * Pagi harinya, Olivia sudah siap dengan setelan kerjanya. Ia terburu-buru turun dari tangga menuju ruang makan, bau masakan menyeruak menyelimuti indra penciumannya. Begitu sampai di ruang makan, ia terkejut mendapati Julian yang sedang sibuk menyusun makanan di atas meja. "Kau sudah siap, mari kita makan bersama." Julian tersenyum singkat kearahnya, tak lupa pria itu membuka celemek yang sengaja dipakai agar tidak mengotori kemejanya. "Tidak perlu, aku sedang terburu-buru." Setelah mengatakan hal tersebut, Olivia langsung menyambar kunci mobil. Lalu, pergi begitu saja. ia bahkan tak menoleh sedikitpun. Hatinya masih belum bisa menerima, sejak semalam, ia tak bisa tidur dengan tenang. Namun, pria itu malah menyapanya santai. Olivia hanya bisa menghembuskan napas frustasi, meski disangkal beribu kalipun, pada akhirnya tetap tak bisa mengubah fakta, kalau ia sudah menikah dengan Julian. * * * Sesampai di butik, Olivia langsung berkutat pada pekerjaan. semangatnya dalam bekerja memang tidak diragukan lagi. bahkan saat dirinya merasa tertekan, ia bisa bekerja seharian penuh sampai lupa waktu. "Baru juga sampai kau langsung bekerja," ujar Mia yang kini duduk di depan sahabatnya itu. "Biar ku tebak, pasti belum sarapankan?" "Bagaimana kau bisa tau?" tanya Olivia, yang kini menyergit heran, entah bagaimana Mia memang selalu peka dengan perubahan ekspresinya. "Nebak aja," ucap Mia tersenyum cengegesan. Ia mengeluarkan dua bubur ayam yang sengaja dibeli saat perjalanan menuju kantor. "Makan dulu baru kerja, biar asam lambung gak naik." Olivia kemudian meletakkan pekerjaannya, keduanya kini makan bubur ayam yang di bawa Mia. Saat sedang fokus makan, tiba-tiba Mia berteriak histeris. "Ada apa?" tanya Olivia bingung dengan teriakan sahabatnya itu. "Ya, ternyata pria yang ku suka sudah menikah," sahut Mia lemas. "Ya sudah cari saja pria lain," usul Olivia yang menyedokkan bubur kedalam mulutnya. Ia tahu kebiasaan temanya itu, Mia tidak bener-benar menyukai pria tersebut, Mia hanya mengagumi ketampanannya. Apalagi dia adalah seorang fangirl garis keras. Tentu saja hal tersebut tak akan terlalu mempengaruhinya, masih banyak koleksi bias yang mengisi kekosongan hatinya. "Kau tidak tahu, dia adalah seorang pengacara tampan yang terkenal di firma hukum tersebut, banyak gadis yang mengincarnya, tapi tak ada yang berhasil. Semua ditolak mentah-mentah. Aku hanya penasaran siapa yang menjadi wanita beruntung yang sudah menaklukan pria dingin, minim ekspresi dan nyaris tak pernah tersenyum. " jelas Mia berapi-api. "Aku yakin akan ada banyak wanita yang patah hati setelah mendengarnya." Olivia hanya menanggapi ucapan Mia dengan berdehem pelan, menurutnya, penjelasan tersebut sama sekali tidak penting baginya. "Apa kau sama sekali tidak penasaran?" Mia hanya tak habis pikir, bagaimana Olivia tidak merasa terusik sama sekali. "Tidak, daripada mengurusi hidup orang lain, lebih baik kugunakan waktu itu untuk bekerja," sahut Olivia seadanya. Menurutnya semua hal tersebut hanya membuang waktu. "Dasar si gila kerja!" ujar Mia tak habis pikir. "Andai saja, aku yang menikah dengan Lucas Julian itu, pasti semua wanita langsung merasa iri." Olivia yang merasa tak asing dengan nama tersebut, meminta kembali Mia untuk mengulang kalimatnya. "Siapa tadi katamu?" "Lucas Julian, kau ini terlalu fokus bekerja. Padahal namanya sangat terkenal di kalangan wanita." Mia juga menunjukan foto pria tersebut pada sahabatnya. "Lihat, tampan kan?" Seketika Olivia langsung terdiam, ternyata pria yang dibicarakan sejak tadi oleh Mia adalah suaminya. "Kau yakin dia jarang tersenyum?" tanya Olivia sedikit penasaran. Mia mengangguk cepat. "Bahkan, beberapa rekan kerjanya yang dekat saja, tidak pernah melihatnya tersenyum sekalipun." "Berhenti membahas hal yang tidak penting dan cepat habiskan makananmu, sebentar lagi kita harus bertemu dengan klien," peringat Olivia mengalihkan topik. "Kau ini bener-benar tidak tau cara menikmati hidup," sindir Mia yang melanjutkan makannya. Sementara Olivia tak mau ambil pusing dengan perkataan sahabatnya, setelah selesai sarapan, ia kembali mengecek hasil karyanya, sebelum bertemu dengan klien nanti.Olivia terbangun dari tidurnya, ia sedikit bingung mendapati dirinya berada di atas kasur. Ia menoleh ke samping dan menemukan Julian tertidur di sofa, yang berarti pria itu semalaman tidur di sofa dan malah dirinya yang tidur nyaman di kasur pasien.Dahi Olivia menyergit bingung, ia sendiri tidak mengerti kenapa Julian melakukan hal tersebut, Olivia merasa ada gejolak aneh di dalam dirinya, entah itu rasa benci ataupun iba. Ia sendiri tidak bisa memastikannya.Olivia kemudian bangkit dari tidurnya, lalu berpindah ke kursi roda, hanya saja tangannya tak sengaja menyenggol ember yang terletak di atas nakas hingga terjatuh. Julian yang mendengar suara bising tersebut terbangun dari tidurnya dan langsung mendekati istrinya panik."Kau baik-baik saja?" tanya Julian cepat. Olivia yang berhasil berpindah ke kursi roda kini menatap lawan bicaranya datar, wajah pria itu masih tampak pucat seperti semalam. Bukankah kondisinya lebih mengkhawatirkan dibanding dirinya.Olivia mengangguk sebagai
Setelah perjanjian tersebut, Julian tetap merawat Olivia seperti biasanya. Tak ada hal yang berubah dari dirinya. Olivia yang melihat sikap tenang Julian sebenarnya merasa ragu. Apakah ucapannya semalam tidak berpengaruh apapun pada pria tersebut. "Makanlah dulu," Julian melepas celemek dari tubuh lalu duduk berhadapan dengan istrinya. Keduanya menyantap makanan dalam diam. Tak ada pembicaraan ataupun kedekatan, semua menjadi lebih asing dari sebelumnya. Keduanya menjalani rutinitas seperti biasa. * * * "Tuan, kau baik-baik saja?" tanya Ratna khawatir, wajah Julian terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Julian mengangguk singkat, tak lupa memasang senyum tipis. " Ya, Aku baik-baik saja." Sebuah kebohongan yang keluar dari mulut Julian, setelah kejadian malam itu, Julian tidak lagi merasa tenang. Malam itu, Julian kembali terbangun, ia menoleh ke arah istrinya, ucapan Olivia masih tergiang di kepalanya. Ingatan saat ibunya meninggalkan dirinya berputar jelas, seolah baru te
Di rumah, Julian sudah menunggu Olivia pulang. Begitu mendengar suara deru mobil memasuki perkarangan rumah. Julian segera keluar untuk menjemput istrinya. "Lihat, suamimu datang, kami pamit dulu ya," ujar Mia pergi, tak lupa melambaikan tangan ke arah Julian. Setelah mereka pergi Julian langsung mendekat membantu membawakan barang belanjaan istrinya, sementara Olivia mengarahkan kursi rodanya masuk ke dalam rumah. Sampai di depan pintu, Julian membantu Olivia mengganti sepatu dengan sendal rumah. "Bagaimana perjalananmu hari ini?" tanya Julian memecah keheningan. "Baik,"jawab Olivia singkat, dari pada meladeni pertanyaan Julian ia lebih memilih menyapa Mochi."Mochi," panggil Olivia kegirangan. Hewan lucu tersebut langsung berlari ke pangkuannya. "Kau menungguku ya."Julian tersenyum getir, padahal ia juga menunggu istrinya pulang. Namun, tetap saja Olivia tidak pernah tersenyum ke arahnya, seperti yang Olivia lakukan ke Mochi."Kau sudah makan malam?" tanya Julian lagi.Olivia
Esok harinya, Mia lebih dulu terbangun bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya. Ia sedikit bingung mendapati dirinya sudah berada di kamar dengan lightstick yang masih tergenggam ditangannya. Mia menoleh ke samping, ia tersenyum tipis melihat Liam yang masih tertidur. Mia menduga, pasti suaminya yang menggendongnya semalam. Mia memperhatikan wajah Liam lama. Awalnya ia juga sempat takut dengan pria di depannya. Mia pikir Liam akan memperlakukannya dengan buruk dan merendahkan dirinya. Namun, semuanya terbantahkan, rumor buruk yang melekat pada suaminya hanya omongan tak berdasar. Harus Mia akui, Liam memang tampan. Alisnya yang tebal terlihat semakin tegas ketika pria itu tertidur. Entah kenapa, pagi itu Mia justru memperhatikan wajah tersebut lebih lama dari biasanya. Tanganya terulur menyentuh alis suaminya. Beberapa detik kemudian Mia langsung menarik kembali tangannya. "Aneh sekali, kenapa aku malah tiba-tiba ingin menyentuhnya." Mia kemudian bangkit dari kasur






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan