Share

Bab 149

Author: Sri Pulungan
last update Last Updated: 2025-08-27 15:47:40

Setelah makan malam usai, Nafeeza duduk di ruang tengah bersama Ny. Yuliana. Lampu gantung kristal menyinari ruangan dengan cahaya lembut. Suasana hening hanya diisi denting sendok dan gelas yang baru saja dibereskan para pembantu.

Ny. Yuliana menatap Nafeeza lekat-lekat. Senyum tipis terukir di bibirnya, tapi sorot matanya menyimpan rencana.

NY. YULIANA (pelan, penuh nada keibuan): “Feeza, sayang… sebenarnya ada alasan kenapa semua orang terlihat takut setiap kali kamu bertanya. Bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena mereka ingin melindungimu.”

Nafeeza menoleh, alisnya berkerut.

NAFEEZA (bingung): “Melindungi? Dari apa, Ma?”

Ny. Yuliana menarik napas panjang, lalu menunduk seolah menimbang kata-kata yang sangat berat untuk diucapkan. Ia menutup wajah dengan tangan, pura-pura bergetar, sebelum akhirnya menatap Nafeeza dengan mata berkaca.

NY. YULIANA (lirih, tersendat-sendat): “Dulu… dulu kamu pernah tersesat, Feeza. Kamu begitu rapuh. Dan ada seseorang yang memanfaatkan kelema
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 155

    KORIDOR RUMAH SAKITLampu-lampu redup memantul di lantai putih. Rafa berdiri terpaku di luar ruang rawat Nafeeza. Dadanya sesak, wajahnya murung. Tangannya mengepal, sementara pikirannya berputar.RAFA (monolog, lirih, getir): “Andai aku tidak melibatkan Arfan sejak awal… pasti semua tidak akan jadi begini. Aku yang bodoh… aku sendiri yang menyerahkan istriku ke dalam pelukan kebohongan mereka.”Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini disertai tatapan penuh tekad.RAFA (monolog, tegas): “Cukup. Nasi memang sudah jadi bubur… tapi aku tidak akan diam. Aku harus lakukan sesuatu. Nafeeza harus sadar… bahwa Arfan hanya masa lalu, bayangan yang seharusnya terkubur.”Rafa mengusap wajahnya, lalu melangkah cepat. Kakinya membawanya ke arah ruangan bertuliskan:“DOKTER SPESIALIS SARAF”Ia mengetuk pelan, kemudian masuk.Seorang dokter paruh baya tengah duduk membaca berkas rekam medis Nafeeza. Rafa melangkah masuk dengan wajah penuh beban.RAFA (tegas, tapi bergetar): “Dokter… saya butuh bica

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 154

    Mobil ambulans meraung meninggalkan halaman, membawa Nafeeza yang terkulai pucat. Arfan duduk di dalam, mendekapnya erat. Danis ikut menangis, dipeluk Ny. Yuliana yang duduk di sampingnya.Rafa menatap kepergian mereka dengan dada yang terasa terbakar. Ia tidak berpikir panjang, segera berlari ke mobilnya dan membuntuti ke rumah sakit.***RUMAH SAKIT – IGDDokter dan perawat berlarian begitu ambulans tiba. Nafeeza segera ditangani, tubuhnya terhubung dengan oksigen, infus dipasang, monitor jantung berbunyi cepat. Arfan dan Ny. Yuliana ikut masuk, sementara Danis menempel pada pintu, wajahnya penuh air mata.Tak lama kemudian, Rafa muncul dengan napas terengah, langkahnya tergesa masuk.RAFA (keras, cemas): “Mana Feeza?! Bagaimana keadaan istriku?!”Sekejap ruangan hening. Arfan berdiri, langsung menghadang.NY. Yuliana (dingin, menahan emosi): “Kau tidak boleh di sini! Kau bukan siapa-siapa lagi untuknya!”Rafa menatap Ny. Yuliana dengan tatapan tajam, matanya merah penuh luka.RAFA

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 153

    Rafa berdiri terpaku. Nafeeza masih mendekap Arfan dengan wajah penuh darah.Air mata Nafeeza menetes deras, dan dengan suara yang bergetar penuh kebencian, ia menoleh ke arah Rafa.NAFEEZA (menangis, terisak, tapi tegas): “Dengar baik-baik, Rafa… jangan harap aku akan jatuh cinta padamu. Walaupun hanya kau pria terakhir di dunia ini… aku tidak akan pernah menyukaimu!”Suara Nafeeza pecah, menusuk jantung Rafa.NAFEEZA (melanjutkan, penuh luka): “Cintaku hanya untuk Arfan… hanya dia satu-satunya pria yang kuinginkan. Kau tidak akan pernah bisa menggantikannya!”Kata-kata itu menggema di ruang tamu. Sunyi sesaat, hanya terdengar isak Nafeeza.Rafa terdiam. Tubuhnya serasa kehilangan tenaga. Matanya berkaca-kaca, rahangnya mengeras menahan tangis yang hampir pecah.RAFA (lirih, suaranya patah): “Feeza… kau benar-benar tidak ingat aku…”Ia menunduk, genggamannya di udara gemetar. Pandangan matanya hampa, seakan dunia runtuh seketika. Luka di dadanya jauh lebih dalam daripada luka di waja

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 152

    Bibi Rara akhirnya tiba di rumah besar keluarga Mahendra. Wajahnya lelah, matanya sembab karena tangis yang tak tertahan sepanjang perjalanan. Begitu masuk ke ruang tamu, Ny. Prameswari yang sedang duduk membaca langsung berdiri kaget melihat kondisi pengasuh setia itu.NY. PRAMESWARI (cemas, menghampiri): “Rara? Astaga, kenapa wajahmu begini? Mana Danis? Kenapa kamu sendiri?”Bibi Rara tak kuasa menahan air mata, ia langsung bersimpuh di hadapan majikannya.BIBI RARA (lirih, terisak): “Maaf, Nyonya… saya… saya diusir dari rumah Tuan Arfan. Nyonya Yuliana yang memberhentikan saya. Katanya… saya tidak pantas lagi mengurus Danis.”Ny. Prameswari terbelalak, tangannya bergetar menutup mulutnya.NY. PRAMESWARI (geram, tak percaya): “Apa? Mengusir kamu? Padahal dari bayi, hanya kamu yang bisa menenangkan Danis… bagaimana bisa mereka begitu teganya!”Bibi Rara mengangguk lirih, tangisnya makin pecah.BIBI RARA (sesenggukan): “Saya khawatir dengan Danis, Nyonya. Dia tidak bisa tidur tanpa sa

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 151

    Keesokan harinya..Nafeeza yang baru saja turun dari kamar mendapati suara tangisan lirih di dapur. Ia mendekat, dan menemukan Bibi Rara, pengasuh Danis sejak kecil, sedang merapikan barang-barangnya ke dalam koper.NAFEEZA (terkejut, bingung): “Bibi Rara? Apa yang sedang Bibi lakukan? Mau pergi ke mana?”Bibi Rara terlonjak, buru-buru mengusap matanya. Ia menunduk, suaranya bergetar.BIBI RARA (lirih, gugup): “Maaf, Bu… saya… saya tidak bisa lagi bekerja di sini.”NAFEEZA (terbelalak): “Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba? Apa Arfan yang memecat Bibi?”Sebelum Bibi Rara bisa menjawab, Ny. Yuliana muncul dari arah pintu dapur dengan ekspresi tenang.NY. YULIANA (anggun, dingin tersamar): “Aku yang memberhentikannya, Feeza. Sudah waktunya Danis dirawat oleh tenaga profesional. Kita akan mempekerjakan pengasuh baru yang lebih… berkompeten.”Nafeeza menoleh cepat, matanya membesar.NAFEEZA (keras, penuh ketidakpercayaan): “Memecat Bibi Rara? Tapi… dia sudah bersama Danis sejak kecil! Danis t

  • Suamiku, Aku Tak Sudi Mengejarmu Lagi!   Bab 150

    Arfan menuntun Nafeeza kembali duduk di sofa, membisikkan kata-kata menenangkan. Setelah memastikan istrinya sedikit lebih tenang, ia menatap ibunya dengan tajam.ARFAN (tegas, menahan emosi): “Mama. Sekarang. Kita bicara di ruang baca!”Ny. Yuliana sempat terdiam, namun cepat menyunggingkan senyum tipis. Ia tahu Arfan sedang marah, tapi ia pun sudah terbiasa menghadapi sikap keras putranya.Mereka melangkah ke ruang baca, ruangan berlapis kayu mahoni dengan aroma buku tua yang khas. Arfan menutup pintu rapat-rapat. Keheningan menekan udara.ARFAN (dingin, langsung ke inti): “Mama, apa yang sudah Mama katakan ke Feeza?”Ny. Yuliana tersenyum samar, duduk dengan anggun di kursi kulit. Ia menautkan jemarinya di pangkuan, berpura-pura tenang.NY. YULIANA (pelan, seolah benar): “Hanya kebenaran, Fan. Dia berhak tahu sisi kelam dari masa lalunya. Lebih baik dia mendengar dari Mama, daripada dari mulut orang lain yang bisa lebih menyakitkan.”Arfan mengepalkan tangan, nadanya meninggi.ARFA

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status