LOGIN“Kamu baru saja membuat heboh dunia,” ucap Willy, ketika Lucien telah tiba di kantor. “Memangnya apa yang kulakukan?” “Pura-pura bodoh lagi. Dia itu masih berstatus istri orang, Lucien. Dia juga adik iparmu. Astaga!” Willy mencengkeram rambutnya sendiri saking tidak mengertinya ia dengan selera Lucien. Di dunia ini banyak wanita cantik melebih Nerisa, dan masih lajang. Ya, Willy memang akui Nerisa luar biasa cantik dan seksi. Hanya saja dia sudah menikah, dan lebih hebatnya lagi ternyata nama belakangnya adalah Valtheris. Nama yang sama dengan Lucien, meski temannya ini senang mengenakan nama belakang Valmont. “Justru itu bagus, kan?” Lucien terkekeh. “Maksudmu apa?” “Rencana kita berjalan sempurna.” “Hah?” “Aku akan mengambil semua yang keluarga itu punya, termasuk Nerisa. Dia kesayangan Alexander, maka aku akan mengambilnya juga.” “Ka-Kamu sengaja melakukan ini?” Lucien tersenyum sinis. “Segera kita lakukan rencana awal. Buat perusahaan itu terguncang.” Willy merinding men
“Nyonya sungguh mau pindah sekarang?” tanya seorang pelayan. “Iya, aku pindah sekarang. Jika perlu sesuatu, jangan menghubungiku. Aku dan rumah ini sudah tidak ada apa-apanya lagi. Kalian hubungi saja Amelia atau Alexander.” Nerisa berbalik, lalu melangkah pergi. “Ayo, Sayang.” “Rumah baru kita lebih bagus dari ini,” ucap Lucien. “Bukannya apartemen?” tanya Nerisa. “Oh, itu. Kupikir lebih baik rumah baru.” “Ya, sudahlah.” Asal itu milik Lucien, bukan masalah. Lagi pula ini hanya sementara saja. Nerisa akan meluangkan waktu mencari rumah untuk dirinya sendiri kelak. Mobil jasa pengangkut sudah jalan lebih dulu. Disusul kendaraan Lucien serta Nerisa. Sebelum benar-benar pergi, Nerisa memandang kediaman yang sudah lama ia tinggali. Rumah pernikahan yang ia sendiri menatanya. Semua atas kehendaknya. Namun kini Nerisa melepasnya untuk wanita lain. “Sayang.” Lucien menepuk punggung tangan kekasihnya. “Aku baik-baik saja, sungguh.” Nerisa menjatuhkan kepala di bahu Lucien. “Terima k
Grup obrolan alumni heboh karena mereka tahu Alexander adalah suami dari Nerisa. Lalu sekarang Alexander malah membuat seorang wanita hamil. Beberapa orang telah berspekulasi sendiri jika keduanya telah berpisah, tapi belum mengumumkannya.Obrolan angkatan universitas keduanya juga bertanya-tanya, tetapi tidak ada tanggapan. Nerisa hanya membaca, lalu Alexander juga tak menjawab. Mereka mengubah obrolan menjadi ucapan selamat kepada Alexander. Saat itulah pemeran utama muncul. Alexander sangat berterima kasih kepada semua teman yang mendoakannya.Saat pertanyaan diajukan lagi soal hubungan Alexander dan Nerisa, pria itu malah bungkam. Semua bertanya-tanya dengan rasa penasaran yang tinggi. Nerisa sendiri hanya melihat, bahkan di sini pun Alexander bingung dengan hubungan ini. Rasanya sangat lucu, tidak bisa bercerai, tetapi keduanya sama-sama telah memiliki pasangan.Saat Nerisa telah kembali ke rumahnya sendiri, ia merasa ini bukan lagi tempat tinggalnya. Jarak antara ia dan Alexande
Akhirnya Nerisa kembali ke kantor. Lebih baik bekerja daripada berada di kediaman lama, dan terus-terusan dimusuhi oleh keluarga suami. Pekerjaan mengalihkan pikiran sejenak. Bohong kalau ia tidak terpengaruh oleh kehamilan Amelia. Waktu itu, Nerisa sangat berharap dengan kehadiran buah hati. Ia hampir mendapatkannya, tetapi karena satu malam itu, impiannya berakhir. Ia tidak ingin menyalahkan siapa pun, dirinya lah yang tidak kuat. Selalu saja memaksakan kehendak padahal sudah tahu pilihan Alexander. Ketika sudah tidak berharap lagi, pria itu kembali mengusik. Membuatnya merasa bersalah karena berkhianat. Kata-kata Alexander tadi sangat menyakitkan. Ya, Nerisa memang munafik. Ia juga murahan karena melakukan itu bersama Lucien. Namun, ia sadar jika berpura-pura kuat hanya menyakiti diri. Ia menjaga diri untuk seorang pria, tetapi laki-laki itu juga tak bisa menjaga diri. Lalu buat apa bertahan? Nerisa telah membuang semua itu, ia mau mencoba suatu hal yang belum pernah ia lakukan
“Kembalikan milikku, kamu bebas bersama Amelia.” Alexander meneguk minumannya sampai habis. Ia terdiam sejenak, lalu kembali bicara, “Masalah kita tidak pantas didengar oleh orang lain. Lagi pula Mama hanya bercanda. Amelia sudah hamil. Aku tidak mau kamu membuatnya stress.” “Aku membuatnya stress? Dari mananya?” “Nerisa, aku perlu bicara denganmu.” Alexander beranjak dari duduknya, ia berjalan pergi. Sedangkan Amelia tersenyum sinis, ia mengusap perutnya, sengaja membuat Nerisa tidak berguna sebagai seorang istri. Nerisa ingin bangkit dari duduknya, tetapi Lucien tiba-tiba memegang tangannya itu. Nerisa lekas menarik diri. Ini di depan Dusela dan lainnya. Lucien benar-benar membuat jantungnya berdebar kencang. Melalui tatapan matanya, Nerisa berharap kekasih gelapnya ini mengerti. Ia harus menemui Alexander di kamar. Dengan ketidakrelaan, Lucien melepas wanitanya. Ia yakin ini berkaitan dengan tingkahnya tadi malam. Alexander sudah melihat apa yang terjadi, dan Lucien belum mem
Kedua tangan Nerisa mencengkeram erat ujung bantal ketika Lucien asik memberinya kenikmatan di bawah sana. Pinggulnya naik, tetapi ditahan untuk tetap berada dalam posisinya. Lucien ini, dia benar-benar memakannya.“Lu-Lucien … .” Nerisa mendongak, ia terengah-engah, tetapi masih saja belum berhenti. “Aku tidak melakukan apa-apa dengannya.” Kakinya semakin lebar, malah sekarang Lucien membalik tubuh ini. “Kamu mau apa lagi?”Lucien hanya diam saja. Ia melanjutkan hal yang belum selesai. Semua disapu bersih oleh pria ini. Selama bersama suami sendiri, Nerisa belum pernah dinikmati bagian belakang ini. Alexander pernah melakukan di bagian depan, tetapi di belakang ini. Astaga! Ternyata lebih nikmat. Apalagi di antara bagian depan serta belakang. Itulah dia titik yang paling sensitif.“Dari mana kamu belajar teknik ini? Apa kamu sering melakukannya dengan perempuan lain?” tanya Nerisa.Tidak ada jawaban, tetapi hanya seringai saja. Lucien tetap menjalankan niatnya itu. Ia tersenyum puas







