Chapter: Bab 13"Ahh, pelan-pelan, Tuan." Karin tersentak karena sedotan Dewa terlalu kuat. Jelas berbeda mulut laki-laki dewasa dan mulut bayi. Rasanya ada yang tersedot dalam tubuh Karin. Ia membelai rambut Dewa dengan lembut karena inilah keinginan pria ini. Memperlakukannya seperti anak kecil. Dewa mengangkat Karin, membawanya duduk ke pangkuan agar lebih leluasa meneguk cairan putih yang penuh nutrisi itu. Karin tidak tahu apa yang dirasakan oleh penderita Sindrom Lacto Comfort bila tidak meminum asi karena ia belum menanyakannya kepada Dewa mengenai kelainan itu. Hisapan Dewa berpindah ke sisi sebelahnya. Kemudian tangannya memainkan buah ranum yang menganggur. Memutar buah cherrynya yang berwarna kecoklatan. Karin setuju soal menyusui secara langsung, tetapi keadaan seperti ini bukankah sangat intim? Ia bahkan merasakan di bawah sana tengah mengeluarkan cairan. "Karin." Dewa memandang Karin. Tangannya meraih ke tengkuk leher, mendekatkan wajah, lalu mengecup bibir nan lembut itu. "
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: Bab 12"Itu dia!" Karin menunjuk Mia. Sekarang ia ingin lihat bagaimana teman sekolahnya berkilah. "Siapa dia?" tanya Dewa. "Tu-Tuan Dewa, saya karyawan magang di sini." Mia menunduk. Karin menyungingkan sebelah sudut bibirnya. Sekarang Mia bakal tahu akibatnya. Di sini siapa yang diperlukan, dan dia akan tahu di mana posisi yang sebenarnya. "Seorang karyawan magang berani menghalangi tamuku?" "Maafkan saya, Tuan." "Apa kamu tahu apa akibatnya jika Karin tidak segera menemuiku?""Saya tidak tahu kalau Anda saling kenal dengan Karin." "Jika aku tidak kenal dengan Tuan Dewa, apa berarti kamu bisa seenaknya denganku? Mendorong, lalu menampar hanya karena kita pernah saling mengenal?" ucap Karin. "Dia memukulmu?" Dewa mendekat, ia membelai pipi Karin, dan perhatian itu membuat yang lain terkejut. Apa hubungan antara Dewa dan Karin? "Berani sekali kamu memukulnya!" "Maafkan saya, Tuan!" Mia bahkan berlutut agar dimaafkan. "Aku tidak mau dia berada di perusahaan ini. Seret dia keluar!" u
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: Bab 11Mia malah tertawa mendengar pertanyaan balik tersebut. "Mana mungkin perempuan tidak berpendidikan sepertimu mampu bekerja di sini. Kudengar kamu juga sudah menikah. Oh, aku tahu. Kamu bekerja di sini sebagai tukang bersih-bersih kan?" Mia lagi-lagi tertawa. "Mau aku kerja jadi tukang bersih-bersih atau apa pun, itu bukan urusanmu!" Karin memalingkan wajah ke arah lain. Sejak dulu Mia memang memusuhinya. Hanya karena nasib yang berbeda bukan berarti wanita itu bisa menindasnya. "Minggir!" Mia mendorong Karin hingga jatuh. Wanita ini tertawa setelah berhasil mengerjai teman sekolahnya. "Tempatmu hanya di situ saja. Tidak layak untuk di sini." Karin mencoba bangkit berdiri, tetapi Mia malah mendorongnya lagi. Wanita ini tidak ingin membiarkan Karin bisa bangkit. "Jangan-jangan kamu ke sini karena mau minta sumbangan." "Jauhkan kakimu." Karin menarik kaki Mia, membuat wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh. "Berani sekali kamu membuatku jatuh." Mia berteriak dan lan
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 10Tiba di rumah, Karin masih memikirkan tatapan Sinta yang tajam seolah mata itu ingin mencabik-cabiknya. Ia yakin sekali mata itu diwarnai dengan kemarahan yang tertahan. "Sayang?" Teguh melambaikan tangan ke wajah Karin dan itu membuat istrinya kaget. "Kamu melamun?" "Aku cuma takut sama Nyonya Sinta. Sepertinya dia sedang mengawasiku.""Wanita cemburu itu sudah wajar. Suaminya sedang bersamamu. Tentu saja dia marah." "Kalau dia marah, kenapa harus mengizinkan suaminya minum susu wanita lain?" "Jangan dipikirkan. Yang penting kita dapat uang. Soal urusan Nyonya Sinta marah atau tidak, itu bukan urusan kita." Teguh mendekat, tangannya mulai menyentuh tubuh Karin. "Kamu mau apa?" "Sayang, masa Tuan Dewa saja kamu kasih asi, aku tidak. Lagian sudah lama kita tidak main." "A-Aku mandi dulu." Karin lekas beranjak dari duduknya. Ia perlu membersihkan diri dari sentuhan Dewa. Pekerjaan ini memang melawan norma, tetapi uang bisa membuat perut ini kenyang. Selepas membersihkan diri, b
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 9"Ahhh ... ." Karin refleks menutup bibir karena suara berat yang baru saja ia keluarkan di saat bibir Dewa telah mencucup buah cherrynya. "Bersuara saja kalau kamu mau," ucap Dewa sesempatnya ia bicara, kemudian menyusu kembali. "Milikku sedang terluka, tolong perlahan saja," pinta Karin. "Aku akan melakukannya dengan lembut," bisik Dewa, yang berhasil membuat Karin terkejut karena laki-laki ini mengecup cuping telinganya. "Tu-Tuan, ini tidak benar." "Sttt ... ." Dewa memandang Karin dengan penuh minat. "Aku sedang minum. Jangan mengangguku, Mama." Karin mengangguk, ia seorang pekerja dan Dewa adalah bos yang membayar gajinya. Karin telah memakai kemeja termasuk mengenakan pembungkus bagian sensitif yang memiliki kancing di depan. Namun, Dewa seperti tidak mau ada satu pakaian yang melindungi aset berharga itu. Ia melepas semua, menyisakan pakaian bawah saja, dan berpuas diri memeluk Karin sambil menikmati asi. Ini bukan sekadar kewajiban bekerja, tetapi sentuhan yang mem
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: Bab 8Memiliki uang banyak memang menjadikan seseorang itu bahagia. Karin belum pernah belanja sebanyak ini. Ia membeli pakaian bahkan sepatu baru. Makan makanan enak yang belum pernah dicicipi sama sekali. Namun, ketika Karin telah berada di rumah, ia menyadari jika semua barang yang dimiliki merupakan hasil dari menyusui pria dewasa. Hati terdalamnya masih menolak. Di satu sisi pekerjaan ini sebenarnya tidak baik, dan satu sisi lain adalah ini kelebihan yang Karin miliki. Ia harus memanfaatkan kesempatan ini. Karin merasa heran karena asinya masih terus mengalir. Ia memang belum paham soal menjadi ibu. Baru tujuh hari ia merasakan kebahagian, tetapi takdir telah merenggutnya kembali. Ia kira asi ini bakal mengering karena bayinya sudah tidak bisa meminumnya lagi. Siapa sangka malah semakin banyak, bahkan menyakiti Karin. Jika asi ini tidak dikeluarkan, maka aset padatnya ini membengkak, membuatnya merasakan radang yang berakhir demam. Karin pun mendengar omelan Teguh yang mengeluh kar
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Mencoba LariSeperti biasa, Rangga akan pergi setelah menidurinya. Pria itu kembali pada pekerjaan dan hanya datang bila ingin memuaskan hasratnya saja. Beberapa hari ini, ia sudah menurut pada Rangga. Harusnya ada reward atas kerja kerasnya itu. Tasya ingin bertanya mengenai Juna dan balas dendamnya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan mantan suaminya itu. Sekarang waktunya tidak tepat. Tasya akan bicara pada Rangga besok. Saat menemani pria itu sarapan. Bahkan untuk menghubungi Tirta saja Tasya ragu. Ia takut melibatkan orang yang tidak bersalah. Besok paginya, Tasya menemani Rangga sarapan. Ia ragu untuk bicara, tetapi ini kesempatan meminta pada pria yang tergila-gila padanya. "Tuan Rangga, aku ingin keluar rumah. Aku merasa bosan di sini." Padahal Tasya ingin bicara mengenai Juna. Ia malah meminta keluar rumah. Rangga menoleh padanya. "Bukankah kita sudah sepakat untuk memanggil nama saja?" "Maaf, Rangga. Aku merasa canggung." "Kau boleh keluar." Rangga menjentikkan jarinya. Kemudian se
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: KetagihanTasya pernah mendengar gosip dari media sosial, bahkan menonton film tentang pria yang sering selingkuh. Termasuk Juna yang juga mengkhianatinya. Rata-rata pria akan cepat bosan dengan wanita yang patuh dan tidak menarik. Sekarang inilah Tasya ingin menjadi wanita seperti itu. Ia akan menuruti semua keinginan Rangga agar pria itu lekas membuangnya. Selama beberapa hari ini, Tasya selalu menuruti keinginan pria itu yang menidurinya setiap malam. Termasuk gaya liar yang pria itu inginkan. Sering kali Tasya merasa aneh pada perlakuan Rangga. Sentuhannya lembut, tetapi juga menyakitkan. Sialnya Tasya merasa ia seperti ketagihan diperlakukan sedikit kasar. Malam ini, Rangga telah memberi pesan untuk memakai pakaian dalaman saja, dan menunggunya di depan rumah. Entah apa lagi yang ingin dilakukannya. Pria itu menginjak-injak harga diri ini, tetapi Tasya hanya bisa menerima tanpa melawan. Ia bahkan tidak merengek meminta keluar rumah."Nona Tasya, sebentar lagi Tuan Rangga akan pulang. No
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Menjadi PenurutBella berteriak kesal karena kelakuan Rangga yang menganggapnya sebagai tunangan pajangan, sedangkan pria itu asik memanjakan simpanannya. Bella sendiri tidak habis pikir dengan keadaan ini. Tirta memberitahu jika Rangga menyembunyikan seorang wanita. Ternyata perempuan itu adalah kekasih Tirta sendiri. Ini harus diluruskan. Bella lekas mengirim pesan kepada dokter itu. Memintanya untuk segera bertemu. Balasan diterima dengan cepat. Tirta menyetujui undangan tersebut, dan Bella lekas menuju tempat yang dijadikan sebagai tujuan pertemuan. Dalam waktu kurang lebih 45 menit, Bella tiba di sebuah kafe dan langsung menuju ruangan privat. Di sana Tirta sudah menunggunya, dan tanpa basa-basi lagi Bella bertanya mengenai hubungan Tasya dan Rangga. Karena sudah begini, Tirta pun mau tidak mau mengakui segalanya. "Aku menemukan wanita itu di pinggir jalan dalam keadaan pingsan. Karena dia cantik dan wajahnya mirip dengan Ivana Aswinda, aku menjadikannya sebagai tunangan kontrak.""Ivana Aswi
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Wanita Simpanan Ini MelunakBegitu mata ini terbuka, wajah yang dilihat Tasya adalah Rangga. Sangat malas rasanya bertatapan muka dengan pria buruk ini. Dia iblis berwujud pria tampan. Tasya juga masih merasakan perih, dan pipinya terasa bengkak. Ia mencoba merabanya, ini memang bengkak. Tasya ingat betul kakinya di rantai, lalu wanita itu datang memukulnya. Sungguh sial!"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Rangga mendekat, tetapi Tasya beringsut mundur. Eh, ia merasa kakinya telah bebas. Tasya membuka selimut, dan ya kakinya tidak lagi di rantai. Rangga bisa melihat kekagetan itu. "Aku memang tidak lagi merantaimu, asal kau patuh dan tidak mencoba lari lagi.""Aku tidak ingin tinggal di sini lagi. Kau sudah punya tunangan, tetapi kenapa kau masih ingin menawanku?" "Kita sudah punya perjanjian, Tasya. Kau jadi wanita simpananku selama waktu yang telah kutentukan. Tugasmu hanya mengikuti kata-kataku dan melayaniku di atas ranjang ini.""Enam bulan kan? Kau sungguh akan membebaskanku setelah itu? Kau juga janji akan
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Jangan Sentuh Wanitaku"Tasya!" Rangga bergegas menghampiri wanita simpanannya itu. Menyingkirkan pisau pemotong daging sejauh-jauhnya, lalu melepas dasi yang ia kenakan. Rangga membalut luka itu agar pendarahannya terhenti. "Cepat panggil Dokter Anton!" "Baik, Tuan." Pengawal yang ada di kamar bergegas melaksanakan perintah Rangga. "Apa-apaan kau, Rangga? Kau selingkuh dariku, dan selingkuhan itu adalah kekasih sepupumu sendiri. Kau sudah gila!" pekik Bella. Tangan Rangga mengepal erat. Ia bangkit berdiri, lalu memandang Bella tajam. Mendapati tatapan Rangga yang tidak seperti biasanya, Bella mundur selangkah. Ia masih berpikir tidak salah karena di sini Rangga lah yang telah berkhianat."Kau menyiksanya?" Rangga memandang Tasya yang tidak sadarkan diri dengan kedua pipinya yang memerah akibat pukulan lima jari. "Kau marah? Harusnya aku yang marah di sini. Kau! Di sini kau yang telah selingkuh dariku!" Plak ... ! Rangga menampar Bella dan ini untuk yang pertama kali. Semua ini hanya karena seorang w
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: Menghukum PelakorRuangan yang dibuka Bella adalah gudang. Ucapan pelayan ini benar. Namun, informasi yang ia terima dari pria itu juga jelas. Rangga menyembunyikan seorang wanita di rumahnya. Sebelum menemui wanita itu, Bella tidak akan pergi dari sini. "Saya sudah bilang kalau ruangan itu gudang," ucap pelayan. "Aku belum memeriksa ruangan yang lain." Bella berjalan ke arah kamar lain, lalu memeriksanya. Satu per satu, tetapi tidak ada wanita yang ia harapkan hadir di sana. Bella memandang ke lantai atas. Mungkin di sana wanita simpanan itu berada. Ia pun bergegas naik ke lantai atas dengan diikuti oleh pelayan. "Nona Bella, tidak ada apa pun di sini." Pelayan terus saja menghalangi, tetapi Bella tetap bersikeras memeriksa kamar satu per satu. Ia membuka pintu dengan kasar. Ketika tidak mendapatkan yang diinginkan, amarah Bella meluap. Sekarang tinggal satu kamar tidur lagi. Bella berjalan ke arah sana dengan cepat. Pelayan berlari mendahului wanita ini, dan mencegahnya untuk membuka ruangan t
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: Kebahagian"Pinggangku," rintihnya. Kenan meraih handycam yang tadi ia letakkan di kursi rotan di dalam kamar. Ia memutar isi dalam rekaman itu. Kenan bernapas lega karena Liora tidak sempat dilecehkan oleh keempat pria jahat itu. Kenan keluar dari dalam kamar kapal. Masih ada beberapa anak buah Aldo yang menunggu majikannya keluar. "Kalian siapkan mobil. Aku mau pulang," kata Kenan. "Siap, Tuan," ucap salah satu pria yang bertubuh kekar dan alisnya tebal. Pintu kamar diketuk oleh pengawal tadi. Kenan beranjak membuka pintu. "Sudah siap mobilnya?""Sudah, Tuan." "Tolong bawa istriku ke mobil," pinta Kenan dengan mempersilakan pria itu masuk ke dalam kamar. "Baik, Tuan." Pria itu masuk dan sedikit heran dengan kondisi Liora. Pria itu ingin tertawa namun ia menahannya. "Cepat bawa," kata Kenan kesal karena pengawal itu memperhatikan istrinya. "B-baik, Tuan." Mata tajam Kenan tidak lepas dari pengawal yang membawa istrinya. Takutnya pria itu mencuri kesempatan yang ada. Pintu mobil sudah
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Usaha Penyelamatan"Jangan mendekat," lirih Liora dengan memegang pecahan kaca di tangannya. Ia harus tetap sadar. Liora harus mempertahankan segala kehormatannya. "Cepat lakukan sebelum wanita ini ditemukan," perintah Angel. Dua pria lain sudah membuka celana yang mereka kenakan. Keduanya menunggu giliran. Liora bergeser untuk menjauh dari dua pria itu. Namun dua pria itu semakin mendekat. "Ayo, Sayang. Kita bermain-main," ucap keduanya. Pria yang mempunyai gambar bintang di lehernya mendekat. Ia hendak meraih rambut Liora namun dengan cepat Liora melayangkan pecahan kaca ke tangan pria itu. "Ish ... kurang ajar. Berani sekali wanita ini. Sudah terluka masih bisa melukai lengan tanganku," berangnya. Liora mengacungkan pecahan kaca yang ia pegang. "Jangan ada yang mendekat.""Hei ... kenapa kalian lamban sekali," kesal Angel. "Cepat lakukan." Dua pria itu menendang tangan Liora yang mengacungkan pecahan gelas kaca. Pecahan itu terlempar dan keduanya memegang lengan Liora. "Lepaskan." Liora mero
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Oh TernyataKenan dan Aldo telah sampai di perusahaan. Keduanya langsung saja masuk ke dalam lift menuju lantai paling teratas gedung perusahaan. Di atas sana Doni dan beberapa anak buah Aldo sudah menunggu. Pintu lift terbuka. Kenan dan Aldo keluar. Keduanya menuju pintu darurat. Kenan bersama Aldo menaiki anak tangga hingga tibalah mereka di atas atap gedung. Angin berhembus kencang meniup rambut para pria yang berada di atap. Itu disebabkan karena baling-baling helikopter tengah berputar. "Semuanya sudah siap?" tanya Aldo. "Sudah, Tuan," jawab Doni. "Kapan bantuan datang?""Bantuan sudah dalam perjalanan.""Kita berangkat sekarang. Aku takut istriku terluka."Kenan, Aldo, serta Doni serta satu anak buah mereka naik ke dalam helikopter yang bermuatan enam orang. Setelah semuanya naik dan bersiap. Helikopter pun lepas landas. *****Angel duduk di pangkuan Ardi. Ia memegang segelas minuman berwarna coklat. Tangannya menjelajahi tubuh bidang Ardi yang polos. "Malam ini aku tidak mau bermain
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Usaha Kenan"Mau kalian bawa ke mana aku?" tanya Liora. "Diam saja. Nanti kamu juga akan tahu," kata pria yang duduk di kursi depan mobil. Liora terdiam namun jantungnya berdegup kencang saat ini. Rasa takut tentu saja ada dalam benaknya. Liora paham maksud dari arti penuturan Kenan tadi. Suaminya itu menyiratkan kata-kata dalam sebuah adegan film action. Meski Kenan mengajak keempat pria tadi berkelahi. Tentu saja Kenan akan kalah dan pasti tubuhnya akan babak belur. Pada akhirnya pun Liora akan tertangkap juga. Kenan memberinya kode agar menyerahkan diri saja. Liora menuruti perintah suaminya dan percaya jika Kenan akan secepatnya menyelamatkan dirinya. Mobil sampai ke sebuah pelabuhan. Keempat pria itu turun begitu juga dengan Liora. Ia digiring menuju kapal. Sepertinya Ardi memang memiliki kapal itu. "Ayo naik," perintah pria yang sudah membuka topeng wajahnya. Liora dapat melihat jika pria itu memiliki lukisan tubuh bintang di lehernya. Liora naik ke kapal bersama keempat pria itu. Se
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Tertangkapnya LioraKenan membawa tubuh Liora yang kelelahan. Keduanya keluar dari kamar mandi. Telapak jari Liora berkerut karena kedinginan. Kenan seakan tidak ada hari esok untuk mengempur sang istri. Bibir Liora bergetar karena kedinginan. Kenan membungkus tubuh istrinya dengan selimut tebal. Rambut Liora yang basah juga ia bungkus dengan handuk."Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan," ucap Kenan. "Terserah!""Kamu masih marah?" tanya Kenan. Bagaimana Liora tidak marah. Kenan tidak membiarkannya istirahat. Pinggangnya saja terasa sakit. Belum lagi air dingin yang menguyur tubuhnya. Perutnya juga terasa sangat lapar. Namun Kenan malah menunda-nunda keinginannya untuk makan. Suaminya itu semakin mengila saja menghujam dirinya. Kenan memeluk Liora yang terbungkus oleh selimut tebal. "Maaf, Sayang. Namanya juga pengantin baru."Liora mendengus. "Biarkan aku istirahat dulu dan makan. Semua tubuhku sakit, perutku lapar dan aku mengantuk ingin tidur."Kenan terkekeh. "Iya, Sayang."*****Ardi mengge
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Minta NambahKenan menoel-noel lengan Liora. Istrinya tengah tertidur pulas. Liora sempat membersihkan dirinya sebelum tidur. Kenan juga meminta kepada pelayan hotel untuk menganti seprai mereka yang sudah kotor."Sayang ... ayo bangun. Kita main lagi," bisik Kenan di telinga sang istri.Liora tidak bergeming. Ia tertidur pulas dengan memeluk guling dalam dekapannya. Kenan kembali menoel-noel pipi Liora. Berharap istri tercintanya itu mau bangun dan melayani hasratnya."Sayang ... ayo," ajak Kenan dengan kata lirih.Kenan mendusel wajahnya di tengkuk belakang Liora. Ia memberi gigitan kecil supaya istrinya itu terbangun. Liora mengeliat karena merasa terganggu."Ayo tidur, Ken. Aku sudah lelah." Liora menarik selimut tebalnya dan meringkuk dengan memeluk bantal guling."Jangan tidur. Aku masih ingin bermain," rengek Kenan bagai anak kecil."Besok masih bisa. Malam ini tidur dulu. Kamu tidak capek apa?" tanya Liora dengan mata terpejam."Sayang ... ayo," rayu Kenan.Liora membalik tubuhnya menghada
Last Updated: 2024-06-19