Chapter: Bab 109"Hei, Babe. Kamu harus bangun," bisik Leonard. "Biarkan aku tidur dulu." Karin menarik selimut sampai batas kepala, ia tidak mau diganggu. "Sudah waktunya makan malam." Leonard menarik selimut itu. "Ayo, Sayang. Jangan biarkan kedua tuan muda berengsek itu mengeluh karena aku tidak bisa mengurusmu. Semua sudah siap, kamu harus ikut denganku.""Ikut ke mana?" Mata Karin terbuka lebar. "Dinner gala.""Apa itu?" Karin sungguh tidak mengerti, tetapi rasanya kata-kata itu pernah ia dengar. "Makan malam bersama orang-orang penting. Temani aku, kita ke pesta.""Pesta?" Mulut Karin berucap pelan. Ia menggeleng cepat. "Aku tidak mau. I-Itu sangat memalukan. Aku belum pernah pergi ke pesta manapun. Perayaan orang kaya pasti berbeda." Jangankan perayaan yang diselenggarakan orang kaya, orang biasa saja belum tentu Karin bisa ikut serta di dalamnya. "Kamu bilang ingin menjadi wanita berkelas. Justru itu kamu harus pergi ke tempat-tempat berkelas. Temani aku ya, Sayang," ucap Leonard. "Ta-Ta
Last Updated: 2026-08-15
Chapter: Bab 108Karin kira Leonard akan marah karena black card-nya dipakai, tetapi siapa sangka belanjaan ini malah dianggap kurang. Karin hitung total semua belanjaannya bernilai seratus juta, dan ia merasa takut karena mengeluarkan uang segitu banyaknya. Karin tidak ingin terlalu nyaman dengan uang orang lain. "Nanti aku akan belanja lagi. Duduklah dulu, aku ingin bicara tentang sesuatu," ucap Karin. "Katakan saja, Sayang. Kamu mau belanja sebanyak apa pun aku mampu membayarnya. Tenang saja, uangku banyak." Leonard mengedipkan sebelah matanya. "Bukan itu." Karin gugup mengatakannya, tetapi ia butuh seseorang yang bisa membantunya berubah. "Pendidikanku tidak tinggi, dan aku berniat untuk belajar kembali.""Kamu mau sekolah lagi?Karin menggeleng cepat. "Bukan yang seperti itu. Maksudku seperti belajar dengan bebas.""Belajar dengan bebas?" Leonard berpikir. "Oh, maksudmu seperti belajar secara pribadi?" "Ya, aku ingin menjadi seorang wanita berkelas. Maksudku ... aku ingin belajar apa saja." K
Last Updated: 2026-08-15
Chapter: Bab 107"Wa-Wanita ini punya black card." Pelayan yang menghina Karin ini tiba-tiba merasa bersalah karena sempat menghina. "Hai, namaku Mia." Wanita muda ini mengulurkan tangan. "Karin.""Kamu mau beli tas juga?"Karin mengangguk. "Ya, tapi pelayan ini menolakku. Kurasa aku harus merelakan tas yang kuincar.""No-Nona, maafkan saya. Nona mau tas yang mana, biar saya ambilkan.""Aku mau ... .""Tunggu!" Mia memotong ucapan lawan bicaranya, lalu menarik Karin ke sisinya. "Kamu sungguh mau beli tas itu?""Ya, ada masalah?""Tadi dia menghinamu. Jangan beri dia muka, kamu harus membalasnya.""Hah?" Karin terperangah mendengarnya. "Jika kamu mau tas, aku bisa tunjukkan barang bagus. Tenang saja, aku punya kartu member di toko yang menjual barang mewah. Kita hanya perlu memberi pelayan itu pelajaran agar tidak semena-mena pada pelanggan.""Ta-Tapi ... .""Ikuti saja caraku." Mia menggandeng lengan Karin. "Perlihatkan kami koleksi terbaru dari toko ini, termasuk tas tangan yang tadi teman baruku
Last Updated: 2026-08-14
Chapter: Bab 106"Bisa-bisanya pria jelek itu mencampakkan Karin kita," ucap Leonard. "Aku kira dia sangat tampan sampai Karin tergila-gila dan menolak kita. Rupanya hanya segitu saja. Aku yakin bisa merebut perhatian Karin," tukas Damian. "Dia lumayan manis. Jika Teguh terlahir dari sendok emas, dia juga terlihat tampan." Dewa menimpali. "Oh, apa kamu baru saja membelanya?" tanya Damian. "Dulu aku heran kenapa Karin tidak mau menjadi simpananku, padahal kami sudah berbagi segalanya. Aku bisa memberikan dia kehidupan yang sangat layak, tetapi dia tetap menolak dan memilih Teguh. Saat itu, aku memohon agar dia tinggal, tetapi cintanya tetap bersama pria itu." Dewa menunduk, merasa tidak percaya diri. Damian tertawa, Leonard berdeham, ia tidak mau ikut-ikutan menertawakan penderitaan Dewa yang ditolak Karin. Seorang pemimpin perusahaan yang sudah mendunia kalah dari seorang pengawas bangunan. Bila dilihat memang sangat mustahil, tetapi itulah cinta. Tidak bisa dipaksakan, dan kadang cinta itu buta.
Last Updated: 2026-08-14
Chapter: Bab 105Pada akhirnya, Karin menyetujui permintaan Teguh yang ingin bertemu dengannya. Awalnya Teguh menginginkan istrinya pulang ke rumah sewa, tetapi Karin menolak. Menurutnya ia sudah melepas pria yang berstatus suami itu, dan sedapat mungkin menjaga jarak. Jadi, diputuskan pertemuan ini diadakan di restoran saja. Suka atau tidak, Karin sudah memilih tempatnya. Karin memilih meja yang tidak jauh dari jendela agar ia bisa melihat pemandangan luar sembari menunggu Teguh yang katanya akan segera datang. Luka akibat cipratan air keras itu sudah tidak sakit lagi, tetapi tetap butuh perawatan. Pagi setelah Damian pulang, Karin kembali mengoleskan salep untuk meredakan luka agar segera tertutup. Karin juga tidak memberitahu pria itu tentang tempat pertemuan ini, dan bagusnya Damian tidak bertanya hal-hal lain mengenai Teguh. "Dari mana kamu tahu Karin berada di restoran ini?" bisik Leonard. "Shuttt ... pelankan suaramu. Aku sengaja melihat ponselnya ketika dia sedang mandi. Aku sengaja pulang
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: Bab 104"Saudara Teguh, silakan duduk." Adam menunjukan senyum bersahabat agar Teguh juga merasa nyaman bicara dengannya. Mengurus perceraian tentu melibatkan emosi. Adam ingin pembicaraan ini berjalan dengan lancar. "Saya pengacara Nona Karin, dan seperti yang sudah Anda ketahui tentunya, beliau memutuskan ingin bercerai karena tidak ada kecocokkan di antara satu sama lain. Beliau berharap masalah ini tidak berlarut-larut dan secepatnya selesai. Anda diharapkan bekerja sama dengan baik." Adam menjeda perkataannya dulu sembari mengamati Teguh. Lalu melanjutkan lagi kalimatnya. "Tidak ada yang diinginkan oleh Nona Karin karena tidak ada harta selama pernikahan. Beliau juga merelakan rumah yang Anda beli dengan uangnya. Hanya satu saja yang Nona Karin minta, yaitu jangan libatkan dia lagi dalam soal hutang piutang."Ucapan pengacara ini sangat jelas, dan Teguh tahu apa maksudnya. Sayang sekali ia tidak berniat untuk berpisah dari istri tercintanya itu. Karin tetap istrinya sampai kapan pun itu
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: Mencoba LariSeperti biasa, Rangga akan pergi setelah menidurinya. Pria itu kembali pada pekerjaan dan hanya datang bila ingin memuaskan hasratnya saja. Beberapa hari ini, ia sudah menurut pada Rangga. Harusnya ada reward atas kerja kerasnya itu. Tasya ingin bertanya mengenai Juna dan balas dendamnya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan mantan suaminya itu. Sekarang waktunya tidak tepat. Tasya akan bicara pada Rangga besok. Saat menemani pria itu sarapan. Bahkan untuk menghubungi Tirta saja Tasya ragu. Ia takut melibatkan orang yang tidak bersalah. Besok paginya, Tasya menemani Rangga sarapan. Ia ragu untuk bicara, tetapi ini kesempatan meminta pada pria yang tergila-gila padanya. "Tuan Rangga, aku ingin keluar rumah. Aku merasa bosan di sini." Padahal Tasya ingin bicara mengenai Juna. Ia malah meminta keluar rumah. Rangga menoleh padanya. "Bukankah kita sudah sepakat untuk memanggil nama saja?" "Maaf, Rangga. Aku merasa canggung." "Kau boleh keluar." Rangga menjentikkan jarinya. Kemudian se
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: KetagihanTasya pernah mendengar gosip dari media sosial, bahkan menonton film tentang pria yang sering selingkuh. Termasuk Juna yang juga mengkhianatinya. Rata-rata pria akan cepat bosan dengan wanita yang patuh dan tidak menarik. Sekarang inilah Tasya ingin menjadi wanita seperti itu. Ia akan menuruti semua keinginan Rangga agar pria itu lekas membuangnya. Selama beberapa hari ini, Tasya selalu menuruti keinginan pria itu yang menidurinya setiap malam. Termasuk gaya liar yang pria itu inginkan. Sering kali Tasya merasa aneh pada perlakuan Rangga. Sentuhannya lembut, tetapi juga menyakitkan. Sialnya Tasya merasa ia seperti ketagihan diperlakukan sedikit kasar. Malam ini, Rangga telah memberi pesan untuk memakai pakaian dalaman saja, dan menunggunya di depan rumah. Entah apa lagi yang ingin dilakukannya. Pria itu menginjak-injak harga diri ini, tetapi Tasya hanya bisa menerima tanpa melawan. Ia bahkan tidak merengek meminta keluar rumah."Nona Tasya, sebentar lagi Tuan Rangga akan pulang. No
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Menjadi PenurutBella berteriak kesal karena kelakuan Rangga yang menganggapnya sebagai tunangan pajangan, sedangkan pria itu asik memanjakan simpanannya. Bella sendiri tidak habis pikir dengan keadaan ini. Tirta memberitahu jika Rangga menyembunyikan seorang wanita. Ternyata perempuan itu adalah kekasih Tirta sendiri. Ini harus diluruskan. Bella lekas mengirim pesan kepada dokter itu. Memintanya untuk segera bertemu. Balasan diterima dengan cepat. Tirta menyetujui undangan tersebut, dan Bella lekas menuju tempat yang dijadikan sebagai tujuan pertemuan. Dalam waktu kurang lebih 45 menit, Bella tiba di sebuah kafe dan langsung menuju ruangan privat. Di sana Tirta sudah menunggunya, dan tanpa basa-basi lagi Bella bertanya mengenai hubungan Tasya dan Rangga. Karena sudah begini, Tirta pun mau tidak mau mengakui segalanya. "Aku menemukan wanita itu di pinggir jalan dalam keadaan pingsan. Karena dia cantik dan wajahnya mirip dengan Ivana Aswinda, aku menjadikannya sebagai tunangan kontrak.""Ivana Aswi
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Wanita Simpanan Ini MelunakBegitu mata ini terbuka, wajah yang dilihat Tasya adalah Rangga. Sangat malas rasanya bertatapan muka dengan pria buruk ini. Dia iblis berwujud pria tampan. Tasya juga masih merasakan perih, dan pipinya terasa bengkak. Ia mencoba merabanya, ini memang bengkak. Tasya ingat betul kakinya di rantai, lalu wanita itu datang memukulnya. Sungguh sial!"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Rangga mendekat, tetapi Tasya beringsut mundur. Eh, ia merasa kakinya telah bebas. Tasya membuka selimut, dan ya kakinya tidak lagi di rantai. Rangga bisa melihat kekagetan itu. "Aku memang tidak lagi merantaimu, asal kau patuh dan tidak mencoba lari lagi.""Aku tidak ingin tinggal di sini lagi. Kau sudah punya tunangan, tetapi kenapa kau masih ingin menawanku?" "Kita sudah punya perjanjian, Tasya. Kau jadi wanita simpananku selama waktu yang telah kutentukan. Tugasmu hanya mengikuti kata-kataku dan melayaniku di atas ranjang ini.""Enam bulan kan? Kau sungguh akan membebaskanku setelah itu? Kau juga janji akan
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Jangan Sentuh Wanitaku"Tasya!" Rangga bergegas menghampiri wanita simpanannya itu. Menyingkirkan pisau pemotong daging sejauh-jauhnya, lalu melepas dasi yang ia kenakan. Rangga membalut luka itu agar pendarahannya terhenti. "Cepat panggil Dokter Anton!" "Baik, Tuan." Pengawal yang ada di kamar bergegas melaksanakan perintah Rangga. "Apa-apaan kau, Rangga? Kau selingkuh dariku, dan selingkuhan itu adalah kekasih sepupumu sendiri. Kau sudah gila!" pekik Bella. Tangan Rangga mengepal erat. Ia bangkit berdiri, lalu memandang Bella tajam. Mendapati tatapan Rangga yang tidak seperti biasanya, Bella mundur selangkah. Ia masih berpikir tidak salah karena di sini Rangga lah yang telah berkhianat."Kau menyiksanya?" Rangga memandang Tasya yang tidak sadarkan diri dengan kedua pipinya yang memerah akibat pukulan lima jari. "Kau marah? Harusnya aku yang marah di sini. Kau! Di sini kau yang telah selingkuh dariku!" Plak ... ! Rangga menampar Bella dan ini untuk yang pertama kali. Semua ini hanya karena seorang w
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: Menghukum PelakorRuangan yang dibuka Bella adalah gudang. Ucapan pelayan ini benar. Namun, informasi yang ia terima dari pria itu juga jelas. Rangga menyembunyikan seorang wanita di rumahnya. Sebelum menemui wanita itu, Bella tidak akan pergi dari sini. "Saya sudah bilang kalau ruangan itu gudang," ucap pelayan. "Aku belum memeriksa ruangan yang lain." Bella berjalan ke arah kamar lain, lalu memeriksanya. Satu per satu, tetapi tidak ada wanita yang ia harapkan hadir di sana. Bella memandang ke lantai atas. Mungkin di sana wanita simpanan itu berada. Ia pun bergegas naik ke lantai atas dengan diikuti oleh pelayan. "Nona Bella, tidak ada apa pun di sini." Pelayan terus saja menghalangi, tetapi Bella tetap bersikeras memeriksa kamar satu per satu. Ia membuka pintu dengan kasar. Ketika tidak mendapatkan yang diinginkan, amarah Bella meluap. Sekarang tinggal satu kamar tidur lagi. Bella berjalan ke arah sana dengan cepat. Pelayan berlari mendahului wanita ini, dan mencegahnya untuk membuka ruangan t
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: Kebahagian"Pinggangku," rintihnya. Kenan meraih handycam yang tadi ia letakkan di kursi rotan di dalam kamar. Ia memutar isi dalam rekaman itu. Kenan bernapas lega karena Liora tidak sempat dilecehkan oleh keempat pria jahat itu. Kenan keluar dari dalam kamar kapal. Masih ada beberapa anak buah Aldo yang menunggu majikannya keluar. "Kalian siapkan mobil. Aku mau pulang," kata Kenan. "Siap, Tuan," ucap salah satu pria yang bertubuh kekar dan alisnya tebal. Pintu kamar diketuk oleh pengawal tadi. Kenan beranjak membuka pintu. "Sudah siap mobilnya?""Sudah, Tuan." "Tolong bawa istriku ke mobil," pinta Kenan dengan mempersilakan pria itu masuk ke dalam kamar. "Baik, Tuan." Pria itu masuk dan sedikit heran dengan kondisi Liora. Pria itu ingin tertawa namun ia menahannya. "Cepat bawa," kata Kenan kesal karena pengawal itu memperhatikan istrinya. "B-baik, Tuan." Mata tajam Kenan tidak lepas dari pengawal yang membawa istrinya. Takutnya pria itu mencuri kesempatan yang ada. Pintu mobil sudah
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Usaha Penyelamatan"Jangan mendekat," lirih Liora dengan memegang pecahan kaca di tangannya. Ia harus tetap sadar. Liora harus mempertahankan segala kehormatannya. "Cepat lakukan sebelum wanita ini ditemukan," perintah Angel. Dua pria lain sudah membuka celana yang mereka kenakan. Keduanya menunggu giliran. Liora bergeser untuk menjauh dari dua pria itu. Namun dua pria itu semakin mendekat. "Ayo, Sayang. Kita bermain-main," ucap keduanya. Pria yang mempunyai gambar bintang di lehernya mendekat. Ia hendak meraih rambut Liora namun dengan cepat Liora melayangkan pecahan kaca ke tangan pria itu. "Ish ... kurang ajar. Berani sekali wanita ini. Sudah terluka masih bisa melukai lengan tanganku," berangnya. Liora mengacungkan pecahan kaca yang ia pegang. "Jangan ada yang mendekat.""Hei ... kenapa kalian lamban sekali," kesal Angel. "Cepat lakukan." Dua pria itu menendang tangan Liora yang mengacungkan pecahan gelas kaca. Pecahan itu terlempar dan keduanya memegang lengan Liora. "Lepaskan." Liora mero
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Oh TernyataKenan dan Aldo telah sampai di perusahaan. Keduanya langsung saja masuk ke dalam lift menuju lantai paling teratas gedung perusahaan. Di atas sana Doni dan beberapa anak buah Aldo sudah menunggu. Pintu lift terbuka. Kenan dan Aldo keluar. Keduanya menuju pintu darurat. Kenan bersama Aldo menaiki anak tangga hingga tibalah mereka di atas atap gedung. Angin berhembus kencang meniup rambut para pria yang berada di atap. Itu disebabkan karena baling-baling helikopter tengah berputar. "Semuanya sudah siap?" tanya Aldo. "Sudah, Tuan," jawab Doni. "Kapan bantuan datang?""Bantuan sudah dalam perjalanan.""Kita berangkat sekarang. Aku takut istriku terluka."Kenan, Aldo, serta Doni serta satu anak buah mereka naik ke dalam helikopter yang bermuatan enam orang. Setelah semuanya naik dan bersiap. Helikopter pun lepas landas. *****Angel duduk di pangkuan Ardi. Ia memegang segelas minuman berwarna coklat. Tangannya menjelajahi tubuh bidang Ardi yang polos. "Malam ini aku tidak mau bermain
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Usaha Kenan"Mau kalian bawa ke mana aku?" tanya Liora. "Diam saja. Nanti kamu juga akan tahu," kata pria yang duduk di kursi depan mobil. Liora terdiam namun jantungnya berdegup kencang saat ini. Rasa takut tentu saja ada dalam benaknya. Liora paham maksud dari arti penuturan Kenan tadi. Suaminya itu menyiratkan kata-kata dalam sebuah adegan film action. Meski Kenan mengajak keempat pria tadi berkelahi. Tentu saja Kenan akan kalah dan pasti tubuhnya akan babak belur. Pada akhirnya pun Liora akan tertangkap juga. Kenan memberinya kode agar menyerahkan diri saja. Liora menuruti perintah suaminya dan percaya jika Kenan akan secepatnya menyelamatkan dirinya. Mobil sampai ke sebuah pelabuhan. Keempat pria itu turun begitu juga dengan Liora. Ia digiring menuju kapal. Sepertinya Ardi memang memiliki kapal itu. "Ayo naik," perintah pria yang sudah membuka topeng wajahnya. Liora dapat melihat jika pria itu memiliki lukisan tubuh bintang di lehernya. Liora naik ke kapal bersama keempat pria itu. Se
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Tertangkapnya LioraKenan membawa tubuh Liora yang kelelahan. Keduanya keluar dari kamar mandi. Telapak jari Liora berkerut karena kedinginan. Kenan seakan tidak ada hari esok untuk mengempur sang istri. Bibir Liora bergetar karena kedinginan. Kenan membungkus tubuh istrinya dengan selimut tebal. Rambut Liora yang basah juga ia bungkus dengan handuk."Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan," ucap Kenan. "Terserah!""Kamu masih marah?" tanya Kenan. Bagaimana Liora tidak marah. Kenan tidak membiarkannya istirahat. Pinggangnya saja terasa sakit. Belum lagi air dingin yang menguyur tubuhnya. Perutnya juga terasa sangat lapar. Namun Kenan malah menunda-nunda keinginannya untuk makan. Suaminya itu semakin mengila saja menghujam dirinya. Kenan memeluk Liora yang terbungkus oleh selimut tebal. "Maaf, Sayang. Namanya juga pengantin baru."Liora mendengus. "Biarkan aku istirahat dulu dan makan. Semua tubuhku sakit, perutku lapar dan aku mengantuk ingin tidur."Kenan terkekeh. "Iya, Sayang."*****Ardi mengge
Last Updated: 2024-06-19
Chapter: Minta NambahKenan menoel-noel lengan Liora. Istrinya tengah tertidur pulas. Liora sempat membersihkan dirinya sebelum tidur. Kenan juga meminta kepada pelayan hotel untuk menganti seprai mereka yang sudah kotor."Sayang ... ayo bangun. Kita main lagi," bisik Kenan di telinga sang istri.Liora tidak bergeming. Ia tertidur pulas dengan memeluk guling dalam dekapannya. Kenan kembali menoel-noel pipi Liora. Berharap istri tercintanya itu mau bangun dan melayani hasratnya."Sayang ... ayo," ajak Kenan dengan kata lirih.Kenan mendusel wajahnya di tengkuk belakang Liora. Ia memberi gigitan kecil supaya istrinya itu terbangun. Liora mengeliat karena merasa terganggu."Ayo tidur, Ken. Aku sudah lelah." Liora menarik selimut tebalnya dan meringkuk dengan memeluk bantal guling."Jangan tidur. Aku masih ingin bermain," rengek Kenan bagai anak kecil."Besok masih bisa. Malam ini tidur dulu. Kamu tidak capek apa?" tanya Liora dengan mata terpejam."Sayang ... ayo," rayu Kenan.Liora membalik tubuhnya menghada
Last Updated: 2024-06-19