LOGINBastian terduduk lemas di kursinya. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap Wina dengan pandangan tak percaya. Nama masa lalu yang belakangan sedang ia cari, ternyata adalah keluarga yang menghancurkan putri Mahendra sendiri. "Kamu ... kamu ibunya Mahendra?" bisik Bastian dengan suara yang hampir habis. Wina menyeringai makin lebar, menyelimuti wajah keriputnya dengan tatapan penuh dendam yang sangat puas. "Akhirnya otak tumpulmu itu ingat juga, Bastian!" bentak Wina, suaranya parau menahan amarah yang meledak. "Anakku mati mengenaskan karena ulahmu! Dan malam ini, aku ada di sini untuk melihat keluargamu hancur berkeping-keping!" Fariska yang duduk di sebelah Bastian makin panik. Ia memegang lengan suaminya yang gemetaran hebat. "Pah... Mahendra itu siapa lagi, Pah? Sebenarnya ada berapa banyak masalah yang kamu sembunyikan dari Mamah?!" tangis Fariska pecah, tak sanggup lagi menahan rasa sakit di hatinya.Bastian menatap sendu istrinya. Saat ini kepalanya sedang berfikir bagaimana
Suasana meja makan mendadak hening. Rayan mempersilahkan para tamunya untuk makan. Mereka akhirnya menikmati hidangan dalam ketenangan kaku yang dipaksakan. Sesekali Zia mengulas senyum tipis ke arah Fariska demi menutupi kecemasannya, namun diam-diam, matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah Rayan. Lelaki di ujung meja itu benar-benar membuat Zia mabuk kepayang. Kharisma, ketegasan, dan aura dominan Rayan sukses membuat Zia terpesonaan sejak pertama kali mata mereka bertemu—kekaguman dan keinginan memiliki membuat Zia tersiksa apalagi kini Ayla terlihat bahagia bersama lelaki ini. Zia meremat tangannya tanpa dia sadari. Namun apa yang di lakukan Zia tertangkap mata Rendra. Tangan Rendra turun ke bawah meja, mengusap selangka Zia membuat wanita ini terbelalak kaget. klunting. Tanpa sengaja Zia menjatuhkan sendoknya karna kaget tangan Rendra hampir menyentuh area terlarangnya. "M-maaf," ucap Zia terbata. Dia hendak mengambil sendok tapi di tahan oleh Rayan. "Tak usah di ambil
Fariska melangkah cepat menghampiri putri tunggalnya. Namun, begitu jarak mereka kian dekat, naluri seorang ibu tak bisa dibohongi. Ada yang janggal. Senyuman yang terukir di bibir Zia terlihat begitu kaku—matanya redup dan kehilangan binar ceria yang biasanya selalu menyala."Sayang... kamu ke mana saja? Kenapa susah sekali dihubungi akhir-akhir ini?" tanya Fariska seraya merengkuh tubuh Zia ke dalam pelukan hangatnya.Zia memejamkan mata sejenak di pelukan sang Mama, menikmati rasa aman yang begitu ia rindukan. Rasanya ia ingin menumpahkan dan menceritakan semua siksaan batin yang ia alami. Namun, cengkeraman Rendra pada pinggangnya mendadak mengencang."Maafkan Zia, Ma," sahut Zia pelan saat melepaskan pelukan. Senyum palsunya kembali terpasang. "Zia cuma lagi sibuk urus rumah baru, lagipula Rendra juga sering ajak Zia jalan-jalan, jadi agak jarang pegang ponsel."Rendra mengulas senyum sangat ramah di hadapan ibu mertuanya. "Iya, Ma. Maafkan Rendra juga ya, Rendra yang ajak Zia ja
Harusnya tidak begini. Harusnya keluarga Aditama dan Ayla yang hancur saling melahap, bukan dirinya yang kini terpojok dan ditinggalkan sendirian! Namun kini, skenario megah yang disusunnya selama puluhan tahun berbalik meremukkan dirinya sendiri."Rayan..." bisik Wina lirih, tenggorokannya seketika terasa amat kering. Jemarinya yang gemetaran mencoba meraih ujung jas cucunya, namun Rayan bergeming—menatap sang Nenek dengan tatapan dingin tanpa goyah sedikit pun.Sulastri yang berada di sudut kamar tak sanggup lagi menahan napas, dadanya sesak melihat keretakan mendalam di antara nenek dan cucu itu. Sementara Arlan tetap berdiri siaga, tatapannya tenang, melindungi Rayan dari segala bentuk manipulasi psikologis sang Nenek."Mulai malam ini, tidak ada lagi rahasia dan tidak ada lagi kendali, Nek. Aku tau selama ini aku adalah alat balas dendam bagi Nenek," ucap Rayan pelan namun berbobot, memotong sisa kalimat Wina yang hendak keluar. "Siapa pun yang datang malam ini, mereka akan mengh
Mobil yang di tumpangi Keluarga kecil ini akhirnya sampai di depan mansion mewah ini. Sulastri menyambut mereka dengan wajah berseri-seri. Tanpa menunggu lama, wanita paruh baya itu langsung merengkuh sang bayi dari pangkuan Ayla ke dalam gendongannya, membisikkan doa-doa hangat dengan mata berbinar bahagia. "Masya Allah. Baru Empat hari sudah makin besar dan tampan." Sulastri langsung membawa bayi kecil ini masuk, melihat Wina duduk di kursi goyangnya Sulastri berniat memperlihatkan bayi itu. Namun baru beberapa langkah Sulastri mendekat, Wina sudah bersuara. "Bawa dia langsung ke kamarnya Lastri." Sulastri tak mengeluarkan suara sepatah katapun, dia langsung pergi menuju kamar Ayla dan Rayan. Atmosfer di sudut ruangan di mana Wina berada terasa kelam. Wanita itu sama sekali tak bergeming. Ia tetap diam di kursi goyangnya, terus berayun konstan tanpa niat sedikit pun untuk bangkit atau sekadar menyapa Ayla yang baru saja menjejakkan kaki dari rumah sakit. Rayan yang menyadari
Begitu selesai berbicara dengan keluarga pasien, dokter cantik itu melangkah pergi mengitari koridor. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Arlan justru terus mengekor pelan di belakang, mengikuti tiap langkah kaki Kalila seolah terhipnotis.Namun, beberapa meter di depan sana, langkah Kalila terhenti. Dokter cantik itu mendadak mengulas senyum yang jauh lebih merekah dan hangat—sebuah senyuman yang belum pernah Arlan lihat sebelumnya.Kalila menyambut kedatangan seorang pria yang berjalan mendekat seraya membawa setangkai bunga segar di tangannya. Pria itu menyodorkan bunga tersebut dengan tatapan lembut yang dibalas anggukan manis oleh Kalila.Krak!Seketika hati Arlan rasanya hancur berkeping-keping. Pemandangan di depannya bagai hantaman keras yang menyadarkan Arlan dari mimpi singkatnya.Arlan mematung di balik pilar koridor. Keyakinan penuh menyelimuti pikirannya bahwa pria tampan pembawa bunga itu tak lain dan tak bukan adalah kekasih sang Dokter cantik. Sensasi hangat di dadany







