Share

Suamiku, Pria Bayaran
Suamiku, Pria Bayaran
Penulis: Dewanu

Barbara

"Ternyata karma sudah sangat nyata diperlihatkan," celetuk seorang gadis yang dilalui Barbara dengan tatapan sinis kepadanya. "Lihat saja, dulu dia berjalan begitu sombongnya. Seakan akan dia paling cantik di dunia ini."

"Hmm, betul. Dulu aku pernah menyapa, tapi caranya bicara seolah kita ini ga ada harga diri, dianggap kotoran burung," sahut temannya.

"Aku dengar, Leo malah pacaran sama Selen loh...tau kan, sahabatnya itu makin lengket sama Leo," bisik-bisik yang cukup jelas berdengung di telinganya.

"Tau rasa, makanya jangan sombong kalau jadi orang. Toh kalau sudah cacat begitu, ga bakalan Leo melirik dia."

Telinga Barbara memerah. Beberapa anak duduk bergerombol di tepian jalan yang dilewatinya itu, menatap Barbara dengan tatapan sinis dan mencibir.

Ucapan itu sangat menyakiti perasaannya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, ucapan mereka tak sepenuhnya salah. Ia dulu merasa terlalu sibuk jika untuk bersikap akrab dengan teman-teman kampusnya. Ia lebih memilih bersikap cuek, acuh tak acuh, dan tidak banyak bergaul.

Ia terbiasa bersikap seperti itu di mana pun, di kampus, bahkan di rumahnya. Hal itu ia baru saja menyadarinya sebagai sikap yang ternyata dianggap kesombongan.

Adapun Leo, adalah yang terburuk. Kekasihnya yang selama ini dipercaya sepenuh hati malah menjalin hubungan di belakangnya, dengan sahabat karibnya sendiri. Saar dia membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya tegar, Leo justru menambah luka semakin jadi.

Barbara yang tadinya menunggu supir pribadinya di atas kursi roda miliknya, akhirnya memutuskan untuk memberhentikan taksi. Supir pribadinya tak juga ada jawaban padahal cuaca panas dan terik di halaman parkir ini. 

Kalau saja bukan karena ia bertekad harus menyelesaikan dengan segera pasca sarjana ini, ia memilih untuk duduk di rumah dan cuti dua atau tiga tahun lamanya hingga kakinya pulih. Akan tetapi, ia tak ingin membuang waktu dan harus segera menyelesaikan kuliahnya demi pergi ke Belanda, ia sudah sangat merindukan mamanya.

*****

Selama menunggu taksi, Barbara teringat kejadian yang menimpanya saat itu. Ya, dia memang bodoh. Begitu percaya pada sahabat dan pacarnya. Ah, tunggu! Mantan sahabat dan mantan pacarnya.

Tepat sehari setelah hari ulang tahun Barbara yang ke-20, Barbara menerima panggilan dari Selen untuk perayaan spesial di sebuah kafe. Katanya, itu adalah hadiah spesial dari Selen untuknya. Barbara juga menyetir sendiri karena keduanya berjanji akan ke pantai setelah bertemu di kafe. Baru saja keluar dari komplek di persimpangan perumahan, tiba-tiba sebuah truk menghantam dari sisi kanan mobilnya. Untungnya, hanya kakinya yang terjepit dasboard, sehingga bagian tubuhnya yang lain baik-baik saja, meski hanya luka ringan.

Kejadian itu masih menyisakan trauma sehingga Barbara belum punya mental untuk menyetir sendiri saat ini. Satu tahun lamanya pemulihan yang sangat menyakitkan, Leo bahkan mulai sangat jarang menghubungi dirinya meskipun sekedar menghiburnya.

"Leo, apakah kau sibuk hari ini? Maafkan aku karena sekarang aku menjadi seperti ini, Leo. Aku terlalu merepotkan bukan? Akan tetapi dokter mengatakan bahwa kakiku akan baik baik saja."

"Barbara, aku sedang mengerjakan tugas sekarang ini. Kau tahu kan, aku cukup payah menyelesaikan tugas akutansi."

"Hmm, siapa yang membantumu sekarang ini?" tanya Barbara hati-hati. 

"Selen. Aku mau minta tolong Selen saja. Setelah itu aku akan menemuimu, gimana?"

Barbara tak pernah merasa curiga meskipun kejadian semisal itu sering kali berulang. Mereka bahkan datang bersama saat menemuinya. Barbara sama sekali tak merasa curiga hingga sebuah kejadian menyadarkan dirinya.

Saat itu, Leo seakan bergantung pada Selen, hingga Barbara tidak punya ruang sama sekali di antara mereka berdua. Namun, Barbara membiarkannya karena tahu kehadiran Selen membantu Leo. Hingga suatu saat, Barbara melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana Leo dan Selen bermesraan di rumah Selen. Dengan ciuman panas tak melihat situasi, Barbara terkejut setengah mati.

"Selen...Leo... apakah ini yang kalian lakukan di belakangku?" ujarnya sangat lirih, namun cukup mengejutkan kedua insan itu. Mereka sepertinya tak menyadari kehadiran Barbara yang melihat perbuatan mereka.

"Barbara...aku...." Leo bangkit dari duduknya menghampiri Barbara. Bisa ia rasakan kekecewaan Barbara yang sangat mendalam.


"Leo, aku sungguh terkejut. Dan kau, Selen, aku membawakan kue kesukaanmu," kata Barbara sembari meletakkan dua kotak kue lalu membalikkan tubuhnya menghindari Leo yang mendekatinya. Ia tak mau Leo semakin memangkas jarak kecanggungan yang tercipta.


"Barbara..."


Barbara hanya bisa menangis menyesali apa yang telah dilihatnya malam itu. Air mata tak berhenti mengalir meskipun ia berusaha tegar. Hatinya sungguh terluka. Kenapa harus Selen? Kenapa ia selalu mengira semua ini tak mungkin terjadi? Luka itu sangat mendalam, sehingga Barbara hampir mati rasa.

"Hi, kau mau naik taksi? Ayo, aku bantu." Sebuah suara mengejutkan Barbara dan mengembalikan dirinya pada kenyataan bahwa tak ada satu pun taksi berhenti untuknya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status