LOGIN"Cinta bukanlah tentang status atau kesempurnaan, tapi tentang keberanian untuk saling menjahit luka—satu jahitan pada satu waktu." Dalam hujan malam yang menggigil, Lestari dan putrinya diusir tanpa belas kasihan. Saat mereka hampir menyerah, sebuah perkebunan kopi megah menjadi tempat pelarian terakhir—namun juga awal badai baru. Di sana, Lestari menarik perhatian Tora, pria kaya yang menyimpan masa lalu yang kelam. Ketika cinta mulai tumbuh, ancaman datang dari dua arah: suami yang ingin merebut kembali apa yang telah ia buang, dan keluarga yang menolak perempuan “tak berstatus”. Demi melindungi anak-anak, Lestari dan Tora harus mempertaruhkan segalanya—bahkan nyawa.
View MoreSetelah Lampu PadamBab 53Sore itu, di teras belakang yang menghadap langsung ke hamparan hijau kebun kopi, keluarga kecil itu duduk bersama. Tora baru saja selesai memeriksa beberapa laporan, Lestari meletakkan cangkir teh hangat di meja, sementara Lintang dan Dian sedang asyik menggambar di buku sketsa mereka.“Lihat, Bu,” kata Lintang tiba-tiba, jarinya menunjuk ke arah undakan batu di tepi teras. “Bunganya mekar lagi.”Semua mata mengikuti arah telunjuknya. Di sana, di antara celah sempit dua bongkah batu yang keras, setangkai bunga liar berwarna ungu cerah tumbuh dengan angkuh. Daunnya hijau menyejuk-kan, kelopaknya terbuka menyambut hangatnya sinar matahari.“bagus ya...!” seru Dian. “Tapi kok bisa? Di situ, kan, tidak ada tanahnya. Batunya keras begitu.”Lestari tersenyum, senyum yang kini selalu menghiasi wajahnya. Ia menarik kedua putrinya untuk duduk lebih dekat. “Justru karena ada retakannya, sayang,” jawabnya lembut. “Karena batunya pernah pecah, pernah terluka, makanya
Mekar Sempurnabos besar pasti senang sekali kalau tahu berliannya jalan-jalan sendiri keluar dari sangkar emasnya.”Udara di gang pengap itu seolah membeku. Setiap partikel debu yang melayang di bawah cahaya lampu neon yang berkedip seakan berhenti, menjadi saksi bisu dari teror yang merayap naik ke tenggorokan Lestari. Pria di hadapannya bukan sekadar preman iseng. Seringainya, tatapan matanya yang menilai, dan pilihan katanya—‘berlian’, ‘sangkar emas’—adalah gema dari mimpi buruk yang ia kira sudah terkubur selamanya.“Aku tidak tahu apa maksudmu,” jawab Lestari, suaranya ia paksa tetap stabil meski tangannya di dalam tas sudah gemetar hebat, gagal menemukan ponselnya. “Aku di sini mencari anak temanku.”Pria itu tertawa lagi, tawa serak yang seperti gesekan amplas di telinga. “Oh, jangan pura-pura, Nyonya Wijaya. Kami tahu semua. Kami tahu suamimu yang kaya raya itu sudah membayar lunas utang si pecundang Dirga. Tapi bos kami orang yang teliti. Dia suka memastikan semua lubang
Penjahit Hati“P.S. Aku tidak memberitahu pengacaraku soal ini, tapi alasan aku melakukan semua ini karena dokter di penjara bilang…”…sisa hidupku tidak akan lama lagi. Kanker hati stadium akhir.”Keheningan yang menyusul setelah kalimat itu dibacakan jauh lebih menusuk daripada keheningan mana pun yang pernah mengisi ruang kerja itu. Tora, yang berdiri di belakang Lestari, menarik napas tajam. Tangannya yang semula siap di pundak istrinya kini terkepal di sisi tubuhnya.“Dia… bohong,” desis Tora, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. “Ini trik. Selalu ada trik.”Lestari menggeleng pelan, matanya masih terpaku pada coretan kecil di bawah surat itu. “Tidak, Mas. Ini bukan trik.” Ia menoleh ke belakang, menatap Tora dengan mata yang berkaca-kaca. “Ini adalah jawaban.”“Jawaban untuk apa?”“Untuk semuanya,” bisik Lestari. “Kenapa dia tiba-tiba menyerah. Kenapa dia mau menandatangani surat adopsi. Kenapa dia menulis surat ini. Orang yang akan mati tidak punya apa-apa lagi untuk diperju
Surat dari penjaraTangannya yang memegang amplop itu tidak gemetar karena takut, melainkan karena getaran aneh yang menjalar dari masa lalu. Di hadapannya, Tora, Ratih, dan Arini membeku, seolah nama yang tertulis di sudut amplop itu adalah mantra yang menghentikan waktu di ruang keluarga yang megah ini.“Jangan dibaca,” kata Tora cepat, suaranya rendah dan tajam. Ia melangkah maju, tangannya terulur untuk mengambil surat itu. “Bakar saja. Apapun isinya, itu racun.”Lestari tidak melepaskan genggamannya. Ia menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari tulisan tangan yang jelek itu. “Tidak, Mas. Aku harus baca.”“Untuk apa, Tari?” desak Tora, nadanya sarat akan frustrasi dan kekhawatiran. “Tidak ada hal baik yang bisa datang darinya.”“Justru karena itu,” jawab Lestari, akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Tora. Sorot matanya bukan lagi sorot wanita yang ketakutan. Ada ketenangan yang dingin di sana, ketenangan yang lahir dari badai yang telah ia lewati.“Aku harus tahu. Aku harus h
Anak RemajaTora tidak menjawab. Tenggorokannya tercekat, seolah udara di dalam gudang yang beraroma kopi dan harapan itu mendadak berubah menjadi racun. Ia hanya bisa mengangkat isi kotak itu dengan tangan gemetar, memastikan Lestari tidak melihatnya.“Mas? Isinya apa?” panggil Lestari, berjalan
Bulan Madu IISiang itu, Lestari menjahit. Ia memperbaiki keliman rok seorang ibu, mengganti ritsleting celana seorang mahasiswa, dan mendengarkan keluh kesah para pelanggannya. Di sini, ia bukan istri seorang pengusaha kaya. Ia adalah Lestari, si penjahit dengan tangan terampil dan telinga yang s
Bab 24 Dian HilangPertanyaan itu mengendap di udara pengap kios jahit, lebih berat daripada tumpukan kain katun, lebih tajam daripada jarum mesin yang baru saja berhenti. Lestari tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu, terpaku oleh es kekalahan.Apa yang bisa ia katakan? Bahwa ia pergi demi ke
Keheningan“Mengerti, Pak.” Suara Lestari nyaris tidak terdengar, sebuah bisikan yang ditelan oleh kemegahan lobi yang dingin.Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu, takut jika tatapannya dianggap sebagai pembangkangan.Tora tidak merespons. Ia hanya berbalik dan melangkah leb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews