LOGINDi kehidupan lalu, suamiku tiba-tiba mengalami pendarahan otak dan meninggal. Dia juga meninggalkan sejumlah besar utang. Demi putraku yang masih SMA, aku menjual rumah yang diwariskan orang tuaku dan bekerja 3 pekerjaan untuk membayar utang. Setelah terlalu banyak bekerja, aku jatuh sakit dan akhirnya masuk rumah sakit. Di samping ranjang pasien, putraku yang sudah diterima di universitas bergengsi malah menelepon dengan gembira. “Halo? Ayah, ini aku. Wanita ini sudah mau mati. Aku ada belikan asuransi untuknya. Kita setidaknya bisa dapat kompensasi 10 miliar. Kamu dan Bibi Susi cepat kembali dari luar negeri.” Bibi Susi yang dimaksudnya adalah teman semasa kecil dan juga tetangga suamiku. Ternyata, yang disebut utang itu adalah hasil pencucian uang dalam jumlah besar yang dilakukan suamiku dan kekasih gelapnya. Demi menutupinya, mereka membuat pembukuan palsu, bahkan berpura-pura mati untuk menghindari tanggung jawab hukum. Sementara itu, demi menjadi anak orang kaya, putraku membiarkanku mati karena kelelahan. Saat membuka kembali mataku, aku sudah kembali ke hari di mana suamiku berpura-pura mati.
View More"Hmm ... Babe." Desahan lolos dari mulut perempuan yang sudah tidak tahan lagi dengan terjangan dari segala puncak klimaksnya malam ini. Seluruh tubuhnya menegang lalu bergetar hebat saat hujaman semakin cepat. "Darwin ...."
"Ran ...." Sang lelaki pun tak lama menyusul dan mencapai puncak klimaksnya dengan rasa puas bukan main. "Kamu selalu hebat, Ran," pujinya seraya mengecup singkat bibir wanitanya yang masih terengah-engah."Kamu juga. Gak ada tandingannya pokoknya." Perempuan bernama Rania itu balas memuji sang kekasih yang merupakan adik iparnya sendiri. Dia mengusap dada bidang di hadapan dengan tatapan memuja.Darwin adalah pria yang sangat sempurna. Dari segi fisik, rupa, hingga materi. Karenanya, Rania rela membuka lebar-lebar pahanya untuk suami adik tirinya sendiri. Dia pun tak perlu susah payah merayu pria satu ini sebab Darwin memang terkenal sebagai petualang yang handal."Masa?" Darwin bangkit, setelah melepas penyatuannya dengan Rania, kemudian terlentang di samping kakak tiri dari istrinya.Rania mengganti posisi jadi menyamping lalu meletakkan kepalanya di atas dada Darwin. Telunjuknya bermain-main di sana sambil berkata, "Kamu gak percaya kalo kamu memang gak ada tandingannya?""Percaya," sahut Darwin lalu merengkuh tubuh Rania dengan lengannya. "Kalo gak percaya, mana mungkin aku lebih milih kamu daripada pulang cepet." Kecupan dia berikan di kening Rania.Tangan Rania melingkar di perut Darwin yang keras dan padat. "Kamu memang gila! Harusnya kamu, tuh, sama Selena lagi dinner romantis di restoran mahal. Eh, ini malah asyik di sini sama aku." Rania terkekeh puas karena Darwin lebih mementingkan dirinya ketimbang istrinya. Jelas-jelas malam ini adalah hari jadi pernikahan lelaki itu.Darwin mendengkus, ketika Rania menyindir soal Selena. "Enakan di sini sama kamu," cicitnya santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Padahal, sebelum berangkat kerja pagi tadi, istrinya yang lugu dan polos itu sudah berkali-kali mewanti-wanti agar dia pulang cepat malam ini.Namun, Rania memintanya untuk datang ke tempat ini. Darwin tentu tidak bisa menolak ajakan kakak iparnya yang sangat menggoda dan menggairahkan setiap kali mereka bercinta. Mengacuhkan permintaan Selena demi mereguk kepuasan bersama perempuan lain."Pasti dia lagi nungguin kamu." Rania tak berhenti menyinggung soal Selena."Biarin. Aku lagi males sama dia." Tatapan Darwin menerawang pada langit-langit kamar. "Gara-gara dia aku jadi harus nikah cepet," keluhnya, saat mengingat bagaimana Daddy-nya tiba-tiba memaksanya untuk menikahi seorang gadis."Kenapa gak kamu tolak aja waktu itu?"Darwin mengerjap seraya menghela napas panjang. "Daddy ngancem bakal ngusir aku dari perusahaan kalo aku nolak nikah sama Selena.""Aku juga bingung. Kenapa papaku malah jodohin dia sama kamu. Padahal aku yang paling tua. Bukannya seharusnya aku, ya, yang nikah duluan?" Bibir Rania mencebik kesal, hingga sekarang dia masih belum terima karena almarhum papanya malah menikahkan Selena lebih dulu.Gerutuan Rania membuat Darwin seketika mengalihkan pandangannya. Dia sebenarnya juga berpikir sama. Kenapa dia dinikahkan dengan Selena bukannya dengan Rania yang jauh lebih seksi dan menggoda."Walaupun aku nikah sama adik kamu, tapi aku tetep milih kamu, Ran. Natasya itu jauh kalo dibandingin sama kamu. Dia itu terlalu monoton dan kaku. Gak kayak kamu. Liar dan ngangenin." Darwin berbisik serak di telinga Rania lalu menggigitnya kecil. Dia lantas memiringkan tubuhnya, sampai bisa menatap wajah Rania yang cantik sepuasnya."Gombal banget, sih!" Rania mencubit perut Darwin dan lelaki itu seketika mengaduh. "Pulang sana. Nanti kalo daddy-mu tau, bisa kacau semuanya." Rania mendorong dada Darwin yang hendak menempel di dadanya yang polos."Daddy gak akan tau. Dia 'kan lagi di Singapur. Pulangnya juga baru besok." Darwin menahan punggung Rania supaya tidak bergerak. "Gimana kalo satu ronde lagi? Aku masih kangen sama kamu." Bibir Darwin langsung memagut bibir Rania tanpa aba-aba, melumatnya rakus dan terburu-buru.Dan pada akhirnya, Rania pun pasrah saat Darwin menawarkan kenikmatan itu lagi. Dia sendiri telah terlanjur jatuh hati pada sosok tampan ini. Tak peduli bila yang dilakukannya adalah hal yang sangat menyakitkan bagi sang adik.Di satu sisi seseorang yang menunggu dengan setia justru sampai ketiduran di meja makan. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi sosok suami yang dia tunggu-tunggu kepulangannya tak kunjung datang.Selena terperanjat saat ponselnya berdering. "Astaga, aku ketiduran." Terhenyak sesaat, lalu melirik jam dinding. "Jam sepuluh?" Fokusnya kembali pada ponsel yang terus berdering. "Mami?"Tahu yang menelepon adalah ibu mertua, Selena lekas menjawabnya. "Halo, Mom?""Darwin ada di rumah, gak? Kok, hapenya mami telepon gak aktif." Suara mami terdengar cemas dari seberang sana."Mas Darwin belum pulang, Mom." Tak khayal Selena pun ikut merasa cemas karena ternyata ponsel sang suami tidak aktif."Ya udah. Mungkin hapenya lowbat. Teleponnya udah dulu. Daa ....""Daa, Mom." Selena menghela kecewa, dia pikir ibu mertuanya menelepon untuk mengucapkan selamat, ternyata hanya menanyakan keberadaan anak laki-lakinya.Meletakkan ponsel di meja, lalu menatap nanar menu makan malam yang sengaja dia masak sendiri. Masakan lezat itu pasti sudah dingin, pikirnya. Jangan lupa, ada kue tart sederhana pula yang bertengger manis di sana, dengan lilin angka satu yang menancap di atasnya. Berharap, dia bisa meniupnya bersama dengan Darwin."Kuenya ..." Sepasang manik Selena seketika memanas, karena butuh perjuangan untuk membuat kue tersebut.Sudah seringkali Darwin mengecewakannya seperti ini. Tak lebih dari satu kali pula, suaminya itu bahkan jarang pulang ke rumah. Kehadirannya di rumah ini seakan-akan tidak diinginkan. Selena mengira jika lambat laun dia bisa memiliki hati suaminya.Namun nyatanya, Darwin tak pernah menganggapnya sebagai istri. "Aku padahal tadi udah bilang sama dia buat minta pulang cepet. Tapi mana? Dia belum pulang sampe sekarang." Air mata kembali luruh di pipi mulus Selena. "Pernikahan macam apa ini? Aku seolah tidak dihargai sebagai istri."Menikah muda juga bukan keinginan Selena. Apalagi hidup selamanya bersama pria yang baru dikenalnya. Dia bahkan sampai rela menghentikan pendidikannya demi mewujudkan baktinya pada sang ayah yang telah tiada. Sejak menikah, Selena juga sudah berusaha untuk menerima kenyataan tersebut. Dia terus belajar menjadi istri yang baik dan berusaha menyenangkan hati Darwin."Apa mungkin aku masih kurang menarik di matanya? Astaga …." Kedua telapak tangan Selena mengusap wajah yang basah karena air mata. Rasa-rasanya semenjak menikah dia malah jadi sering menangis. Kebebasannya seolah terenggut paksa.Suara pintu terbuka membuat Selena sontak terperanjat. "Itu kayaknya Mas Darwin."Selena lekas meraih tisu untuk menghapus jejak basah di wajah, kemudian meneliti riasan yang tidak terlalu berantakan di layar ponsel. "Gak keliatan kalo abis nangis 'kan?" Dia memiringkan wajahnya ke kanan dan kiri. Takut apabila riasannya luntur dan Darwin pasti akan marah.Suara langkah sepatu semakin terdengar mendekat. Selena pun bergegas beranjak dari duduknya, kemudian merapikan rambut serta dress dengan bahu terbuka dan berbelahan dada sangat rendah—menonjolkan isinya yang putih mulus dan berisi. Warna maroon begitu kontras dengan warna kulit Natasya.Belum sempat Selena selesai merapikan diri, sosok yang baru saja masuk, yang dia pikir suaminya sudah berdiri di hadapannya dan kini tengah termangu menatapnya. Pria tinggi tegap masih mengenakan stelan rapi yang dia panggil dengan sebutan 'Daddy'.Manik safirnya tak berkedip, memandang perempuan muda yang selama setahun ini menjadi menantu dadakannya. Dev Atalarich nama pria itu.Kepala Selena yang menunduk membuatnya tidak tahu, bahkan tidak sadar bila saat ini dia tengah diperhatikan. Merasa sudah cukup memastikan penampilan, Selena lantas mengangkat pandangan.Detik itu juga bola matanya membeliak ketika melihat sosok yang ternyata bukan suaminya."Daddy?"Dev terhenyak mendengar suara lembut menantunya. Dia sontak berdeham sambil mengalihkan pandangannya. Bibirnya tersenyum kikuk._bersambung ☘️“Apa maksudmu? Kamu mau putus hubungan sama aku? Aku ini putra kandungmu, kamu nggak mungkin menelantarkanku.”Awalnya, Yohan hanya melontarkan pertanyaan dengan terkejut. Saat tidak mendapatkan respons dariku, dia baru berkata dengan agak takut, “Nggak bisa! Meski kamu mau pergi, kamu juga harus berikan aku sejumlah uang. Di mana akta rumah kita?”Aku tertawa, lalu menjawab, “Sudah digadai ayahmu. Kamu sudah lupa?”Ekspresi Yohan langsung menjadi kaku. Dia bergumam, “Nggak mungkin. Di rekening Ayah di luar negeri, masih ada banyak uang kok. Bibi Susi bilang, aku akan jadi anak orang kaya.”Aku menatapnya dengan ekspresi kasihan dan berujar, “Yang dilakukan ayahmu dan Susi melanggar hukum. Setelah dia ditangkap polisi, semua rekeningnya itu juga sudah disegel. Kuingatkan kamu dulu, masa sewa rumah ini sudah mau habis. Sebaiknya kamu cepat cari sebuah pabrik dan kerja di sana. Aku nggak akan kasih kamu uang lagi.”Setelah itu, aku tidak lagi peduli pada Yohan dan langsung pergi dengan m
Setelah aku menyerahkan semua data yang bersangkutan, Marco dan Susi pun dipanggil ke kantor polisi. Kemudian, polisi mulai menyelidiki masalah ini. Namun, buktinya masih belum cukup. Setelah diinterogasi, hanya Marco sendiri yang ditahan di kantor polisi, sedangkan Susi dilepaskan.Yohan masih berhubungan dengan Susi. Dia pun segera mengetahui bahwa Marco ditahan di kantor polisi. Entah apa yang dikatakan Susi pada Yohan, Yohan sangat yakin bahwa polisi bisa menyelidiki Marco karena aku tidak bersedia menjual rumah untuk membayar utang.Setelah pulang ke rumah dan bertemu denganku, Yohan langsung berseru marah, “Ini semua gara-gara kamu! Kamu mau celakai Ayah sampai gimana? Bukannya itu cuma sebuah rumah? Memangnya kenapa kalau dijual? Kamu benar-benar egois!”Aku menatap Yohan yang tidak berhenti mengomel. Dia jelas-jelas sudah berusia 18 tahun, tetapi gerak-gerik dan caranya berbicara malah mirip anak-anak. Ini anak yang berusaha aku besarkan meskipun harus mempertaruhkan nyawaku di
Marco diseret sekelompok orang keluar dari kamar tidur utama. Sementara itu, Yohan bersembunyi di sampingku dan bertanya dengan pura-pura bodoh, “Ibu, siapa mereka?”Aku tidak menanggapinya dan hanya berdiri diam untuk menunggu pertunjukan. Di kehidupan sebelumnya, yang datang menagih utang juga adalah sekelompok orang ini. Berhubung tidak mau Yohan menemukan hal ini, aku pun berdiskusi dengan sekelompok preman ini sendirian. Pada saat itu, aku merasa sangat ketakutan.“Marco, kamu utang 20 miliar pada bos kami. Tapi, Bos kami baik hati dan cuma minta bunga 4 miliar. Jadi, totalnya 24 miliar. Kapan kamu mau bayar? Sebutkan tanggal pastinya.”Sekelompok orang ini benar-benar adalah penagih utang. Marko juga kelihatannya lumayan takut. Dia menelan air ludah, lalu menjawab, “Kakak-kakak sekalian, kita ngomong baik-baik ya. Apa bisa kasih aku kelonggaran beberapa hari? Aku pasti bayar!”Pemimpin preman itu tertawa sinis, lalu melambaikan tangannya. Beberapa orang di belakangnya pun langsun
“Ayah, gimana ini? Kamu sudah pinjam 20 miliar untuk bisnis itu. Penagih utang akan segera datang, tapi semua uang kita disimpan di rekening luar negeri. Kita sama sekali nggak bisa pakai uang itu!”Marco mengisap rokok, lalu menjawab setelah terdiam sejenak, “Sebelum orang tua ibumu meninggal, mereka meninggalkan sebuah rumah di ibu kota untuk ibumu. Itu termasuk asetnya sebelum nikah. Selama beberapa tahun terakhir, aku pernah suruh dia jual rumah itu, tapi dia nggak setuju.”Susi tersenyum tipis dan menyahut, “Gampang kok! Suruh saja penagih utang itu cari dia! Yohan itu putra kandungnya dan juga akan segera ujian masuk universitas. Dia nggak akan biarkan putranya terpengaruh sama hal ini.”Begitu mendengar hal ini, Yohan menjawab dengan ragu, “Tapi, meski nggak dijual, ibuku pasti akan wariskan rumah itu untukku ....”“Anak bodoh!” Susi berkata, “Kamu bukannya nggak tahu sifat ibumu. Dia itu orang yang lurus. Contohnya, kalau kita kasih tahu dia soal ini, dia pasti langsung lapor p
Marco tiba-tiba bangkit dan membuka kain putih yang menutupinya. Hal ini mengagetkan semua staf di sekitar. Mungkin karena rencananya gagal, raut wajah Marco terlihat sangat suram.Susi bereaksi sangat cepat. Dia menarik Yohan dan buru-buru berlari ke hadapan Marco.“Ada apa ini? Dokter, apa alat pem
Yohan terlihat sangat panik. Dia mengadang di depan ranjang pasien Marco dan berseru, “Nggak bisa! Aku nggak setuju!”Aku berpura-pura menyalahkannya, “Ini urusan orang dewasa. Kamu nggak usah ikut campur.”Yohan mulai berkeringat dingin, sedangkan aku hanya memandangnya dengan dingin.“Ibu, bukanny
Melihat putraku yang sedang bersandiwara seperti kehidupan sebelumnya, hatiku pun perlahan-lahan menjadi dingin.Melihat aku yang tidak bereaksi, Yohan berhenti menangis dan menatapku sambil memanggil, “Ibu?”Aku tersenyum, lalu berjalan ke samping ranjang pasien Marco dan membuka kain putih yang me
“Apa ini istrinya Marco? Suamimu alami pendarahan otak, tapi gagal diselamatkan. Dia sudah meninggal 1 jam lalu.”Setengah jam sebelumnya, aku menerima telepon dari sebuah rumah sakit swasta yang terletak di dekat rumah. Aku buru-buru datang, tetapi malah menerima kabar kematian suamiku pada saat ba






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews