Mag-log inSejak percakapan dengan Selena beberapa hari lalu, ada sesuatu yang berubah dalam diri Sera.
Bukan pada sikap Damian. Laki-laki itu tetap sama—dingin, tenang, dan sulit ditebak. Namun justru karena itulah Sera mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Tatapan Damian yang berhenti beberapa detik lebih lama ketika Sera terlambat pulang.
Cangkir kopi yang tiba-tiba selalu tersedia sesuai seleranya.
Atau caranya diam-diam memasti
“Kenapa kita ke sini?”Sera menatap restoran kecil di hadapannya. Bangunan itu masih sama seperti yang ia ingat, termasuk taman mungil dengan bunga putih di sepanjang jalan masuk.Tempat itu adalah lokasi pertama mereka bertemu.Damian menggenggam tangannya.“Ada sesuatu yang ingin kulakukan dengan benar kali ini.”“Apa?”“Meminta maaf kepadamu. Di tempat semuanya dimulai.”Sera menatap suaminya, mencoba membaca kesungguhan di wajahnya.Damian membuka pintu dan mempersilakannya masuk.“Setelah kamu.”Sera tersenyum tipis. “Kamu sekarang selalu mengatakan itu.”“Karena dulu aku terlalu sering membuatmu merasa tidak punya pilihan.”Senyum Sera perlahan menghilang.Mereka duduk di meja dekat jendela. Meja yang sama dengan tempat Sera pernah berusaha memulai percakapan, sementara Damian menjawab dingin tanpa benar-
“Damian, berdirilah lebih dekat dengan istrimu!”Suara Sukma Wijaya terdengar tegas dari depan kamera.“Kau dengar? Nenek menganggap jarak sepuluh sentimeter di antara kita sebagai masalah besar.”Sera menahan tawa. “Mungkin karena kau berdiri seperti sedang menghadiri rapat direksi.”“Aku sudah tersenyum.”“Itu bukan senyum. Itu ekspresi saat kau melihat laporan keuangan.”Damian menatapnya datar.Sera akhirnya tertawa, dan tanpa ragu Damian merangkul pinggangnya.“Begini lebih baik?” bisiknya.Jantung Sera berdegup sedikit lebih cepat.“Jangan menggodaku di depan semua orang.”“Bukankah kau yang memulainya?”Sebelum Sera sempat membalas, fotografer meminta seluruh keluarga bersiap. Baskoro berdiri di satu sisi, Clara di sisi lainnya bersama suaminya. Beberapa anggota keluarga besar berkumpul di belakang
“Sebagian besar warisan Ayah akan kugunakan untuk membangun program beasiswa.”Damian mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya.Sera duduk di seberang meja kerja, menggenggam map berisi rancangan program pendidikan yang telah ia susun selama beberapa minggu.“Aku ingin membantu anak-anak yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Terutama mereka yang kehilangan orang tua atau harus bekerja sejak kecil.”Damian menutup dokumennya.“Berapa besar dana yang ingin kau alokasikan?”“Sekitar tujuh puluh persen dari warisan Armand. Sisanya akan kusimpan untuk kebutuhan pribadi dan pengelolaan program.”Ia berhenti sejenak.“Menurutmu, itu terlalu besar?”“Tidak.”Jawaban Damian datang begitu cepat hingga Sera berkedip.“Kau bahkan belum membaca rencanaku sampai selesai.”“Aku sedang mendengarkanmu.”D
“Aku akan menikah!”Clara Wijaya mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin berlian di jari manisnya.Sera yang sedang meminum teh langsung terbatuk.“Clara, kau serius?”“Sangat serius!” Clara duduk di sebelahnya dengan wajah berbinar. “Kemarin dia melamarku secara resmi.”Sera segera menggenggam tangannya, lalu memeluknya erat.“Selamat! Aku ikut bahagia untukmu.”Dari seberang meja, Damian mengangkat alis.“Bagus. Berarti mulai sekarang kalian punya kesibukan baru.”Clara melirik kakaknya. “Jangan bilang kau keberatan.”“Aku hanya kasihan kepada calon suamimu. Dia akan mendengar pembicaraan tentang bunga selama berjam-jam.”Sera menatap Damian tajam.“Kalau begitu, kau tidak perlu ikut membantu persiapan.”Damian terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.“Silakan. Aku a
“Bu Sera, apakah benar Damian Wijaya menikahi Anda tanpa cinta?”Sera terhenti di depan gedung tempat acara Yayasan Daniel Adeline berlangsung.Puluhan kamera mengarah kepadanya. Para wartawan berdesakan, melontarkan pertanyaan tanpa memberinya waktu untuk menjawab.“Apakah pernikahan Anda hanya kesepakatan bisnis?”“Bukankah Pak Damian pernah bertunangan dengan Selena Hartono?”“Bagaimana Anda mengubah pria sedingin Damian?”Sera meremas tali tasnya. Ia terbiasa menghadapi masalah yayasan, bukan sorotan media yang mengorek kehidupan pribadinya.Lalu sebuah tangan menyentuh punggungnya.Damian berdiri di sisinya.“Cukup,” katanya tegas. “Jika kalian ingin bertanya tentang perusahaan atau yayasan, kami akan menjawab. Namun, jangan menjadikan kehidupan pribadi istri saya sebagai bahan spekulasi.”Seorang wartawan mengangkat mikrofon.&ldq
“Damian, kenapa aku harus memakai gaun ini?”Sera berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan bingung. Gaun satin berwarna putih gading membingkai tubuhnya dengan anggun. Rambutnya disanggul sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajah.Damian berdiri di ambang pintu.“Karena malam ini istimewa.”“Lebih istimewa daripada makan malam biasa?”“Jauh lebih istimewa.”Sera menyipitkan mata. “Kau sedang menyembunyikan sesuatu.”Damian mendekat, lalu membetulkan helai rambut yang menutupi pipinya.“Untuk sekali ini, biarkan aku memberimu kejutan.”Sebelum Sera sempat bertanya lagi, Damian mengulurkan tangan.“Percayalah kepadaku.”Sera menyambut tangannya.Ia tidak tahu bahwa laki-laki yang dulu bahkan enggan menatapnya saat mengucapkan janji pernikahan itu telah menghabiskan berminggu-mi







