FAZER LOGINSera Adeline menerima perjodohan dengan Damian Wijaya tanpa tahu bahwa pernikahan mereka menyimpan rahasia kelam yang menghubungkan keluarganya dengan tragedi keluarga Wijaya di masa lalu. Damian yang awalnya membenci Sera karena percaya keluarganya adalah penyebab kehancuran keluarganya, perlahan justru jatuh cinta kepada istrinya yang tidak pernah menuntut kasih sayangnya. Namun ketika surat mendiang Ratna, foto lama, dan buku harian mulai mengungkap hubungan tersembunyi antara keluarga Adeline dan Wijaya, Sera menyadari bahwa selama ini hidupnya dibangun di atas kebohongan. Di tengah cinta yang semakin dalam, pengkhianatan keluarga, dan ancaman Atmaja serta Baskoro, Damian harus memilih antara mempertahankan kebencian yang diwariskan kepadanya atau melindungi perempuan yang akhirnya menjadi satu-satunya orang yang benar-benar ingin ia pertahankan.
Ver maisSera Adeline berdiri di depan altar dengan kedua tangan saling menggenggam erat.
Gaun putih yang dikenakannya terasa sedikit lebih berat daripada beberapa menit lalu. Bukan karena kainnya, bukan pula karena panjang ekornya yang menyapu lantai marmer. Berat itu datang dari kesadaran bahwa setelah hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Di sampingnya berdiri Damian Wijaya.
Suaminya.
Atau setidaknya, pria yang beberapa detik lagi akan menjadi suaminya secara sah.
Sera meliriknya sekilas.
Damian berdiri tegak dengan setelan hitam yang sempurna. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya lurus ke depan, seolah perempuan yang berdiri di sampingnya tidak lebih dari bagian kecil dari sebuah acara yang harus segera diselesaikan.
Ia bahkan belum sekali pun menatap Sera sejak mereka berjalan menuju altar.
Sera menarik napas perlahan.
Tidak apa-apa.
Bukankah sejak awal ia sudah tahu? Pernikahan ini bukan kisah cinta.
Tidak ada pria yang datang menjemputnya dengan senyum bahagia. Tidak ada bisikan lembut tentang masa depan. Tidak ada janji bahwa mereka akan saling mencintai sampai tua.
Yang ada hanyalah kesepakatan dua keluarga.
Sebuah perjodohan.
Sebuah kewajiban.
Dan sekarang, sebuah pernikahan.
“Saudara Damian Wijaya, apakah Anda bersedia menerima Sera Adeline sebagai istri Anda?”
Suara pendeta terdengar jelas di tengah ruangan.
Sera menahan napas.
Untuk pertama kalinya, Damian menundukkan kepalanya sedikit.
Namun, bukan kepada Sera.
Ia melihat dokumen pernikahan yang berada di hadapannya.
“Bersedia.”
Satu kata.
Datar.
Tanpa getaran.
Tanpa kebahagiaan.
Sera menelan ludah.
Lalu, pertanyaan yang sama diarahkan kepadanya.
“Saudari Sera Adeline?”
Sera menatap lurus ke depan.
Di barisan keluarga, ia melihat ibunya, Miriam, duduk dengan wajah yang sulit dibaca. Perempuan itu tampak tenang, tetapi Sera mengenal ibunya cukup baik untuk tahu bahwa ketenangan tersebut menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang tidak pernah mau dibicarakan.
Sera kemudian melihat ke arah keluarga Wijaya.
Baskoro Wijaya duduk dengan wajah penuh wibawa. Sebagai kepala keluarga, pria itu tampak puas melihat pernikahan tersebut terlaksana. Di sampingnya, Sukma Wijaya hanya diam dengan tatapan yang sesekali berpindah antara dirinya dan Damian.
Ada sesuatu dalam tatapan nenek Damian yang membuat Sera merasa tidak nyaman.
Seolah perempuan tua itu sedang mengingat sesuatu.
Sera kembali menatap ke depan.
“Saya bersedia.”
Suara Sera terdengar lembut, tetapi cukup jelas.
Beberapa tamu tersenyum.
Kilatan kamera mulai bermunculan.
Seseorang bahkan berbisik bahwa pernikahan itu adalah penyatuan dua keluarga yang telah lama memiliki hubungan baik.
Sera hampir tersenyum mendengarnya.
Hubungan baik?
Kalau memang kedua keluarga begitu dekat, mengapa selama bertahun-tahun ibunya selalu menghindari pembicaraan mengenai keluarga Wijaya?
Mengapa setiap kali Sera bertanya tentang Damian, Miriam hanya menjawab singkat?
Itu urusan orang dewasa.
Tidak perlu kau pikirkan.
Jalani saja.
Sera tidak pernah mengerti.
Namun hari ini, ia memilih untuk tidak bertanya.
Tidak lagi.
Akad selesai.
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Damian akhirnya menoleh kepadanya.
Hanya sebentar.
Tatapan mereka bertemu.
Mata pria itu gelap, dingin, dan sulit dibaca.
Sera memberikan senyum kecil.
Bukan senyum seorang perempuan yang sedang jatuh cinta.
Hanya senyum seseorang yang berusaha menunjukkan bahwa ia tidak akan menjadi beban.
Anehnya, Damian tidak membalas.
Tatapannya justru bertahan sedikit lebih lama.
Kemudian, ia memalingkan wajah.
Sera tidak tahu bahwa ketenangannya membuat Damian semakin tidak nyaman.
Sejak awal, Damian sudah mempersiapkan diri menghadapi perempuan yang menangis, memohon, atau setidaknya menunjukkan kegugupan karena menikah dengannya.
Namun, Sera tidak melakukan semua itu.
Tidak sekali pun.
Ia tidak bertanya apakah Damian akan mencintainya.
Tidak meminta kamar bersama.
Tidak menuntut perhatian.
Bahkan ketika Damian tidak menatapnya di altar, perempuan itu hanya berdiri tenang.
Seolah penolakan Damian tidak berarti apa-apa.
Itu yang membuat Damian terus memperhatikannya.
Pesta pernikahan berlangsung meriah.
Lampu kristal memantulkan cahaya ke seluruh ballroom hotel.
Para tamu dari kalangan keluarga Wijaya dan Adeline bercampur dalam percakapan yang penuh basa-basi.
Sera berdiri di samping Damian, menerima ucapan selamat satu demi satu.
“Selamat, Nona Sera.”
“Semoga pernikahan kalian langgeng.”
“Kalian pasangan yang serasi.”
Sera selalu menjawab dengan senyum.
“Terima kasih.”
Setiap kali seseorang mengatakan mereka pasangan yang serasi, Sera merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dadanya.
Serasi?
Mereka bahkan hampir tidak saling mengenal.
Ketika seorang kerabat Damian memuji betapa beruntungnya Damian mendapatkan perempuan sesabar Sera, Damian hanya mengangkat gelasnya tanpa berkata apa-apa.
Sera meliriknya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Pria itu benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini.
Dan mungkin, Sera harus menerima kenyataan tersebut sejak awal.
Ketika malam semakin larut, tamu mulai meninggalkan ballroom.
Sera berdiri di dekat jendela besar sambil memandangi lampu kota.
Ia akhirnya memiliki waktu untuk bernapas.
“Capek?”
Suara Damian membuatnya menoleh.
“Sedikit.”
Damian berdiri beberapa langkah darinya.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam.
Sera tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kalau begitu, kita pulang.”
Sera mengangguk.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar.
Tidak ada yang menyadari bahwa dari kejauhan, Baskoro memperhatikan mereka dengan tatapan penuh perhitungan.
Sukma juga melihat ke arah pasangan itu.
Namun, ekspresi perempuan tua tersebut berbeda.
Ada kecemasan.
Ada penyesalan.
Dan mungkin sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang telah disimpan selama dua puluh lima tahun.
Sera tidak mengetahuinya.
Damian juga tidak.
Malam itu, mereka mengira hanya sebuah pernikahan yang baru saja dimulai.
Padahal, tanpa mereka sadari, pernikahan itu telah membuka kembali sebuah pintu yang selama seperempat abad sengaja dikunci rapat.
Di balik pintu itu tersimpan nama Daniel Adeline.
Nama Ratna Wijaya.
Sebuah tragedi lama.
Dan alasan mengapa seorang perempuan bernama Sera Adeline sejak kecil harus dijauhkan dari keluarga Wijaya.
Rahasia itu belum terungkap.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun, ia mulai bergerak.
Hujan turun tipis di luar jendela ruang kerja Rafael ketika Damian meletakkan sebuah map di atas meja.Gerakannya tenang, tetapi terlalu keras untuk sekadar meletakkan berkas.Rafael yang sejak tadi membaca dokumen langsung mengangkat pandangan. Ia tidak bertanya tentang pekerjaan. Wajah Damian sudah cukup menjelaskan bahwa pertemuan ini bukan mengenai bisnis.“Adeline,” kata Damian singkat.Rafael menutup map di tangannya.“Lagi?”Damian tidak menjawab. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan sahabatnya. Rahangnya mengeras ketika pandangannya jatuh pada nama yang tercetak di salah satu dokumen.Daniel Adeline.Nama itu masih mampu mengubah suasana hatinya dalam sekejap.“Selama bertahun-tahun,” ujar Damian akhirnya, “aku pikir semuanya sudah jelas.”Rafael bersandar. “Kalau semuanya jelas, kau tidak akan datang kepadaku.”Damian men
Sejak percakapan aneh di ruang makan beberapa hari lalu, Sera mulai memperhatikan satu hal.Rumah keluarga Wijaya menyimpan terlalu banyak keheningan.Bukan hanya tentang ucapan Sukma yang masih mengganggu pikirannya, tetapi juga tentang cara orang-orang di rumah itu tiba-tiba diam setiap kali nama keluarganya disebut. Bahkan ketika Sera mencoba bertanya kepada pelayan tentang masa lalu keluarga Wijaya, mereka selalu menjawab seperlunya.Karena itu, Sera memilih tidak memaksa.Ia sudah belajar satu hal sejak menikah dengan Damian.Tidak semua pintu harus dibuka dengan cara didobrak.Beberapa pintu hanya akan terbuka ketika waktunya tiba.Dan untuk sementara, Sera memiliki kehidupannya sendiri.Pagi itu, setelah sarapan, ia turun ke lantai bawah dengan pakaian sederhana berupa blus krem dan celana panjang hitam. Ia membawa sebuah tas kain berisi beberapa dokumen.Damian yang baru keluar dari ruang kerjanya menghentikan langkah.“Kamu mau pergi?”Sera menoleh.“Iya.”“Ke mana?”Sera sem
Suasana di rumah utama keluarga Wijaya pagi itu terasa sedikit berbeda.Bukan karena rumah itu tiba-tiba menjadi lebih hangat. Justru sebaliknya. Dinding-dinding tinggi, jendela besar, dan lantai marmer yang mengilap masih memancarkan kesan dingin yang sama seperti beberapa hari terakhir.Namun pagi itu, Sera tidak ingin hanya duduk diam.Sejak menikah, ia merasa seperti tamu yang terlalu lama berada di rumah orang lain. Ia tahu Damian tidak menginginkan pernikahan ini. Ia juga tahu dirinya tidak mungkin memaksa pria itu untuk mengubah perasaannya hanya karena mereka telah menjadi suami istri.Maka setidaknya, ia ingin melakukan apa yang bisa dilakukannya.Membuat sarapan.“Tidak perlu, Nyonya,” ujar salah seorang pelayan ketika melihat Sera memasuki dapur.Sera tersenyum kecil. “Aku tidak keberatan.”“Tuan Damian biasanya sarapan di kantor.”“Kalau begitu, tidak masalah. Kalau dia tidak makan, yang lain bisa makan.”Pelayan itu akhirnya mengangguk.Sera mengikat rambutnya dan mulai m
Sudah empat hari Sera tinggal di rumah utama keluarga Wijaya.Empat hari, dan ia masih belum merasa benar-benar tinggal di sana.Rumah itu terlalu besar.Bukan hanya bangunannya yang luas, dengan langit-langit tinggi, tangga marmer, dan lorong-lorong panjang yang seolah tidak pernah berakhir. Ada sesuatu dalam rumah itu yang membuat Sera merasa harus mengecilkan suaranya setiap kali melangkah.Semua terlihat sempurna.Terlalu sempurna.Tidak ada barang yang diletakkan sembarangan. Tidak ada suara televisi dari ruang keluarga. Tidak ada tawa yang terdengar dari dapur. Bahkan para pelayan berjalan dengan langkah pelan, seakan rumah itu memiliki aturan tak tertulis bahwa kegaduhan adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan.Sera berdiri di balkon lantai dua sambil memandangi halaman belakang.Pagi itu matahari cukup cerah, tetapi udara di rumah terasa dingin.Rumah yang indah tidak selalu terasa seperti rumah.Pikiran itu muncul begitu saja.Mungkin karena pemiliknya.Damian.Sejak percakap












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.