LOGINSejak Damian membawa kotak peninggalan Ratna pergi, Sera tidak bisa menghilangkan satu hal dari pikirannya.
Namanya.
Tertulis di sebuah amplop yang disimpan bersama surat-surat milik perempuan yang bahkan hampir tidak pernah ia kenal.
Sera Adeline.
Dua kata itu terus berputar di kepalanya.
Lebih mengganggu daripada ucapan Damian bahwa ada hal-hal yang sebaiknya tetap terkubur.
Malam itu, Sera menunggu Damian di ruang keluarga.
“Damian, kenapa alarm asap berbunyi?”Sera berlari memasuki dapur dengan rambut masih sedikit berantakan. Ia berhenti di ambang pintu ketika melihat suaminya berdiri di depan kompor, memegang spatula dengan wajah setegang saat menghadapi rapat direksi.Asap tipis mengepul dari wajan.Di atas meja, dua potong roti tampak terlalu gosong untuk disebut sarapan.Damian menoleh. “Semuanya terkendali.”Sera menatap roti itu, lalu menatap wajah suaminya.“Benarkah?”“Telurnya hanya sedikit terlalu matang.”Sera melirik wajan.“Damian, telurnya hitam.”“Bagian pinggirnya saja.”Sera menggigit bibir, berusaha menahan tawa. Bahunya mulai bergetar.Damian menyipitkan mata. “Kamu menertawakanku?”“Tidak.”“Kamu jelas sedang menertawakanku.”“Aku hanya…” Sera menutup m
“Damian, kalau kamu terus mengirimkan bunga ke kantorku, orang-orang akan mengira yayasan ini dibiayai oleh toko bunga.”Damian mengangkat wajah dari tabletnya. “Bukankah memang begitu? Aku membeli hampir seluruh persediaan mereka minggu ini.”Sera menatap suaminya tidak percaya.“Damian!”Pria itu tersenyum santai, sama sekali tidak terlihat menyesal.Sera menggeleng sambil menahan tawa. Sudah tiga bulan sejak ia mengambil alih pengembangan yayasan yang didirikannya dari sebagian warisan Armand. Kini, yayasan itu mulai menjalankan program beasiswa dan bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.Pekerjaannya semakin banyak. Jadwal pertemuan, laporan anggaran, dan kunjungan lapangan memenuhi hari-harinya.Sementara itu, Damian mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Sera.Ia pulang lebih awal.Bahkan terkadang sebelum matahari terbenam.Awalnya, Se
“Kenapa kita ke sini?”Sera menatap restoran kecil di hadapannya. Bangunan itu masih sama seperti yang ia ingat, termasuk taman mungil dengan bunga putih di sepanjang jalan masuk.Tempat itu adalah lokasi pertama mereka bertemu.Damian menggenggam tangannya.“Ada sesuatu yang ingin kulakukan dengan benar kali ini.”“Apa?”“Meminta maaf kepadamu. Di tempat semuanya dimulai.”Sera menatap suaminya, mencoba membaca kesungguhan di wajahnya.Damian membuka pintu dan mempersilakannya masuk.“Setelah kamu.”Sera tersenyum tipis. “Kamu sekarang selalu mengatakan itu.”“Karena dulu aku terlalu sering membuatmu merasa tidak punya pilihan.”Senyum Sera perlahan menghilang.Mereka duduk di meja dekat jendela. Meja yang sama dengan tempat Sera pernah berusaha memulai percakapan, sementara Damian menjawab dingin tanpa benar-
“Damian, berdirilah lebih dekat dengan istrimu!”Suara Sukma Wijaya terdengar tegas dari depan kamera.“Kau dengar? Nenek menganggap jarak sepuluh sentimeter di antara kita sebagai masalah besar.”Sera menahan tawa. “Mungkin karena kau berdiri seperti sedang menghadiri rapat direksi.”“Aku sudah tersenyum.”“Itu bukan senyum. Itu ekspresi saat kau melihat laporan keuangan.”Damian menatapnya datar.Sera akhirnya tertawa, dan tanpa ragu Damian merangkul pinggangnya.“Begini lebih baik?” bisiknya.Jantung Sera berdegup sedikit lebih cepat.“Jangan menggodaku di depan semua orang.”“Bukankah kau yang memulainya?”Sebelum Sera sempat membalas, fotografer meminta seluruh keluarga bersiap. Baskoro berdiri di satu sisi, Clara di sisi lainnya bersama suaminya. Beberapa anggota keluarga besar berkumpul di belakang
“Sebagian besar warisan Ayah akan kugunakan untuk membangun program beasiswa.”Damian mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya.Sera duduk di seberang meja kerja, menggenggam map berisi rancangan program pendidikan yang telah ia susun selama beberapa minggu.“Aku ingin membantu anak-anak yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Terutama mereka yang kehilangan orang tua atau harus bekerja sejak kecil.”Damian menutup dokumennya.“Berapa besar dana yang ingin kau alokasikan?”“Sekitar tujuh puluh persen dari warisan Armand. Sisanya akan kusimpan untuk kebutuhan pribadi dan pengelolaan program.”Ia berhenti sejenak.“Menurutmu, itu terlalu besar?”“Tidak.”Jawaban Damian datang begitu cepat hingga Sera berkedip.“Kau bahkan belum membaca rencanaku sampai selesai.”“Aku sedang mendengarkanmu.”D
“Aku akan menikah!”Clara Wijaya mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin berlian di jari manisnya.Sera yang sedang meminum teh langsung terbatuk.“Clara, kau serius?”“Sangat serius!” Clara duduk di sebelahnya dengan wajah berbinar. “Kemarin dia melamarku secara resmi.”Sera segera menggenggam tangannya, lalu memeluknya erat.“Selamat! Aku ikut bahagia untukmu.”Dari seberang meja, Damian mengangkat alis.“Bagus. Berarti mulai sekarang kalian punya kesibukan baru.”Clara melirik kakaknya. “Jangan bilang kau keberatan.”“Aku hanya kasihan kepada calon suamimu. Dia akan mendengar pembicaraan tentang bunga selama berjam-jam.”Sera menatap Damian tajam.“Kalau begitu, kau tidak perlu ikut membantu persiapan.”Damian terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.“Silakan. Aku a







