Share

3. Perjanjian

Sore harinya, aktivitas di pesantren Al-fatah berjalan seperti biasa. Para santri melanjutkan belajar kajian kitab di masing-masing kelas.

Tidak termasuk bagi Ashraf dan Balqis, mereka berdua dipanggil kembali menghadap Kyai Zulkifli.

"Maaf Kyai, ini benar-benar salah paham. Dan saya rasa bukan seperti itu jalan penyelesaiannya," Ashraf menolak permintaan Kyai Zulkifli yang menyarankan untuk menikahi Bilqis.

"Tapi Ustadz Ashraf, masalah ini sudah sampai ke semua santri dan juga wali santri. Pihak pengasuh sudah berunding akan hal ini, dan kesepakatan yang terbaik dari kami seperti itu," Kyai Zulkifli menatap Ashraf dengan serius.

"Maaf Kyai, bagaimana dengan Ayra?" Ashraf terlihat bingung, dia salah satu santri yang selalu menuruti permintaan Kyai Zulkifli. Untuk itulah dia dijadikan sebagai menantu.

"Ayra masih belum pantas untuk menjadi pasangan siapapun, ego dia masih besar. Saya harap ustadz Ashraf mau menuruti permintaan saya ini. Jadikan Balqis sebagai pasanganmu," ucap Kyai Zulkifli melihat Balqis yang sedari tadi menunduk.

"Kyai, saya tidak bisa. Saya tidak pantas untuk ustadz Ashraf, dan masalah ini saya lah penyebabnya. Saya akan menyelesaikan semua masalah ini dengan keluar dari pesantren ini," Balqis mengatakan itu dengan nada bergetar. Sedari tadi dia menahan tangis. Lalu sekarang dia diminta untuk menikah dengan ustadz Ashraf.

"Meskipun kamu keluar dari pesantren, masalah ini tidak akan selesai. Kecuali masalah yang sudah menjadi aib bagi pesantren ini diselesaikan dengan cara yang halal. Insya Allah. Semua akan baik-baik saja," papar Kyai Zulkifli.

Balqis semakin ragu, berusaha dengan sekuat tenaga agar tangisannya tak terdengar. Sementara Ashraf dilanda ketakutan, takut untuk mengambil keputusan dan juga takut untuk tidak menuruti permintaan sang gurunya.

"Beri kami waktu, Kyai. Dan saya akan melaksanakan sholat istikharah. Jika jalan ini terbaik, saya akan menuruti keinginan Kyai. Dan jika belum baik, maaf jika saya harus menolak permintaan Kyai," ucap Ashraf akhirnya, membulatkan tekad untuk tetap menerima takdir.

Balqis tercengang, tidak menyangka jika Ashraf akan melakukan hal itu. Balqis kira Ashraf akan menolak keinginan Kyai Zulkifli secara mentah-mentah karena mengingat Balqis adalah santri yang tidak bagus perangai nya.

"Baiklah, dua hari. Pikirkan baik-baik ustadz Ashraf," ucap Kyai Zulkifli akhirnya.

Asra mengangguk pasrah, dirinya sudah memantapkan untuk memikirkan permintaan Kyai Zulkifli.

***

Setelah dua hari berlalu, dan kini tibalah Asrhaf untuk memutuskan pilihannya. Ashraf menemui Kyai Zulkifli.

"Saya sudah menemukan jawabannya, Kyai. Saya sudah melaksanakan sholat istikharah dan juga bertanya kepada beberapa guru saya," Ashraf duduk di hadapan Kyai Zulkifli yang sedang berdzikir.

Mereka berdua berada di masjid putra Al-Fattah. Tempat dimana Ashraf akan mengambil keputusan.

"Apa jawaban ustadz Ashraf?" tanya Kyai Zulkifli.

"Saya menyetujui permintaan Kyai untuk menikah dengan Balqis." 

Kyai Zulkifli langsung mengucap syukur, "Alhamdulillah, pernikahan kalian berdua akan dilaksanakan secepatnya," tukas Kyai Zulkifli.

"Ketahuilah Ustadz Ashraf, orang seperti Balqis jika sudah berubah, dia akan melebihi alimnya dari seorang perempuan yang kau anggap alim," tutur Kyai Zulkifli kembali.

Ashraf bingung dengan maksud Kyai Zulkifli, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Serasa tidak mungkin," ucap Ashraf dalam hatinya.

Ashraf hanya mengangguk patuh, seolah menyetujui perkataan Kyai Zulkifli. 

"Apakah Balqis sudah mengetahuinya?" tanya kyai Zulkifli.

"Belum, Kyai," jawab Ashraf.

"Baiklah, biarlah pernikahan kalian pihak pesantren yang akan mempersiapkan semuanya. Kamu hanya perlu memberitahu Balqis saja," ucap Kyai Zulkifli beranjak meninggalkan Ashraf yang masih menunduk patuh.

***

"Kenapa Ustadz menyetujui permintaan Kyai Zulkifli?" tanya Balqis saat ditemui Ashraf di ruang kelas putri. Mereka tidak berdua. Ada beberapa santri lain juga.

"Saya tidak bisa menolak permintaan Kyai, karena bagi saya, permintaan Kyai Zulkifli adalah perintah," acuh Ashraf tanpa menatap Balqis.

"Tapi Ustadz, saya itu berbeda jauh dengan ustadz Ashraf. Saya menyadari kekurangan saya," ucap Balqis sudah lelah dengan julukan dirinya dari orang lain.

"Untuk itulah saya memberitahu kamu. Saya ingin kita membuat kesepakatan," jelas Ashraf lalu mengeluarkan selembar kertas. Ashraf memberi selembar kertas itu kepada Balqis.

Balqis langsung menerima dan membacanya. "Perjanjian pernikahan?" tanya Balqis.

Bahwa di kertas itu dijelaskan tentang perjanjian pernikahan mereka. Yang dimana ada beberapa syarat dan juga kesepakatan. 

Mulai dari tidak boleh tidur sekamar, tidak boleh ada rasa cinta diantara mereka berdua. Mengurus urusannya masing-masing serta diharuskan menjaga perjanjian itu sampai dengan waktu yang ditangguhkan.

"Kamu paham 'kan?" tanya Ashraf setelah Balqis selesai membaca semua penjelasan di kertas itu.

"Maksud ustadz apa? Bukankah pernikahan itu hal yang sakral. Tidak boleh ada rahasia perjanjian seperti ini. Sama saja kita membohongi semua orang," Balqis tak terima lalu menyerahkan kembali kertas itu.

"Gak usah sok paling tahu dan menggurui saya. Jelas ini masalah adalah kamu penyebabnya. Jadi saya gak mau kamu menolak perjanjian ini. Jika kamu mau masalah ini selesai," Ashraf meninggikan suaranya sampai beberapa santriwati yang lain menoleh ke arah mereka.

Balqis tak dapat berkata-kata, di dalam hatinya dia hanya mengutuk kebodohan dirinya sendiri. Tanpa disadari, air matanya keluar dengan derasnya.

"Maaf, baiklah jika ini mau ustadz saya setuju," lalu mengambil bolpoin dari tangan Ashraf dan segera menandatangani surat perjanjian pernikahan itu.

Perjanjian resmi lengkap dengan tanda tangan beserta materai. Disana tertulis jika Balqis menyetujui dengan syarat yang Ashraf tulis.

Tanpa sepatah kata apapun, Ashraf langsung pergi setelah Balqis menandatangani surat itu. Balqis meratapi nasibnya sekarang.

Selama ini Balqis jarang menangis karena seringnya dia berbuat onar. Tapi kali ini hatinya benar-benar sakit dan penyebabnya adalah ustadz dingin itu, Ashraf.

"Ciee, yang mau nikah sama ustadz ganteng. Bangga nggak, adanya malu-maluin."

"Sadar diri dong, antara langit dan bumi aja sok-sok an."

"Udah rebut tunangan orang kok masih nangis. Mending party aja."

"Tukang buat onar, sering dihukum, dan sekarang jadi pelakor. Dasar rendahan!"

Kata-kata pedas itu diucapkan oleh beberapa teman santri lain. Balqis tak bisa tinggal diam untuk satu ini. Sudah terlalu berlebihan teman-temannya sekarang.

Bugh!!

Satu santri yang merupakan ketua dari tiga orang itu langsung terdorong. Tanpa ampun, Balqis juga melakukan hal yang sama untuk kedua temannya.

"Kalian ini apa sudah sempurna? Berani membicarakan orang lain di depannya. Tidak ada yang sempurna, semua santri disini itu sama," gertak Balqis dengan nafas naik turun.

Ketiga santri itu tersungkur, tak berani melawan Balqis yang tenaganya sangat kuat. Mulut mereka bungkam dengan keberanian yang Balqis miliki.

***

Kyai Zulkifli mengumumkan pernikahan Ashraf dan Balqis yang akan dilaksanakan tiga hari lagi di hadapan semua pengurus.

"Ayra tidak menyetujui pernikahan mereka sampai kapanpun!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status