LOGINPutriku kabur demi menikah dengan pria yang tidak kurestui sebagai suaminya. Namun, setengah tahun kemudian, aku mendapatinya memohon maaf padaku dalam kondisi bersimbah darah karena ulah suaminya. Sebagai ibu, aku tidak terima. Akan aku tunjukkan kekuatan seorang ibu yang sebenarnya.
View More“Mas Malik itu sayang sama aku, Bu. Dia melakukan semuanya juga demi anak Ibu. Kenapa Ibu jadi perhitungan begini? Memangnya Ibu nggak mau aku bahagia?”
Aku terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut anakku sendiri gara-gara laki-laki yang baru dikenalnya selama beberapa bulan. Putriku yang kubesarkan seorang diri selama belasan tahun itu kini tengah menatapku dengan wajah masam.
Saat ini, aku sedang mengonfrontasi putriku, Alya, lantaran aku mendapatkan laporan dia mengambil sejumlah uang dari rekening dana kuliahnya, sesuatu yang sudah aku siapkan sejak lama.
Ia tidak menyangkal, bahkan mengaku bahwa ia menggunakan uang itu untuk membantu usaha pacarnya.
“Ini bukan soal perhitungan atau tidak, Al. Bukan juga karena Ibu tidak mau kamu bahagia,” ucapku. Suaraku bergetar. “Selama ini Ibu selalu kasih apa yang kamu mau, Nak. Ibu pasti mengusahakan apapun untuk kamu. Tapi Ibu tidak bisa mengizinkan kamu pakai uang tabungan buat–”
“Nanti pasti Mas Malik kembalikan, Bu. Dia sudah janji.”
“Merintis usaha tidak cukup dengan satu malam saja. Kamu perlu uang itu buat kuliah.” tukasku. “Kamu sudah menunda satu tahun, masa mau menunda lagi? Ingat pesan Bapak–”
“Bu, hidup ini aku sendiri yang jalani. Ibu nggak usah atur-atur begitu. Kapan lagi aku bertemu cowok dewasa, pengertian, dan sayang sama aku seperti Mas Malik?” balas putriku. “Sudahlah!”
Tiba-tiba putriku itu masuk ke dalam kamarnya dan mengemasi barang-barangnya, membuatku panik.
“Alya, kamu mau apa!?”
Gadis berusia 19 tahun itu tidak menjawab. Ia hanya terus mengemasi barangnya, tidak peduli aku yang berusaha menghentikan usahanya.
"Jangan khawatir, Bu. Kalau soal uang, aku cuma pinjam. Setelah kami menikah dan warisan Mas Malik cair, aku akan kembalikan.
“Menikah!?” Kepalaku tiba-tiba pusing. “Al, jangan main-main. Ibu tidak akan merestui kalian!"
Alya makin cemberut. “Restu atau nggak, aku tetap akan menikah dengan Mas Malik, Bu. Dia cinta dan harapanku,” kata putriku itu kemudian. “Akan aku buktikan ke Ibu kalau aku bisa hidup dengan baik.”
“Al, dia bukan orang baik! Dia–”
Namun, putriku itu menolak mendengar lebih jauh dan bergegas pergi. Aku berlari mencegahnya, tetapi lantai yang kupijak dan dinding berputar. Mataku mengerjap mengusir pandangan yang berubah menggelap.
“Alya … Alya….”
Aku memanggil putriku dengan lemah, tapi tidak ada sahutan. Kemungkinan gadis itu sudah jauh.
Saat aku membuka mataku kemudian, aku sudah di rumah sakit dan lukaku sudah dijahit. Delapan jahitan di dahi untuk menghentikan pendarahan. Meskipun masih terasa sakit, tetapi tidak sebanding dengan sakitnya hati ini.
Alya tidak bisa ditemukan di mana-mana, meskipun aku sudah mengerahkan banyak orang untuk mencarinya. Bertanya pada teman-temannya pun tidak mendapatkan hasil apa-apa.
Sekarang, sudah lebih dari enam bulan sejak putriku itu meninggalkan rumah. Terakhir, aku mendapatkan undangan pernikahan Alya dan Malik beberapa bulan yang lalu, tepat beberapa minggu setelah kepergian Alya.
Namun, saat aku datang ke aula pernikahan, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memandang dia yang tersenyum lebar di samping lelaki itu.
Sejak saat itu, aku melepaskan tanggung jawabku kepada Alya. Putriku satu-satunya.
“Seorang ibu memang yang melahirkan anak. Tetapi dia tidak memiliki anak itu. Baik buruknya kehidupan si anak yang sudah dewasa, sepenuhnya ada di tangan mereka.” Ungkapan itu yang menguatkan aku untuk melanjutkan keseharianku tanpa tahu kabar Alya lagi.
Beberapa bulan setelahnya, aku menyibukkan diri dengan membuat pesanan kue di toko yang sudah berhasil menghidupku dan putriku selama belasan tahun ini.
“Biar saya yang mengantar cake ini,” ucapku saat toko ramai pengunjung bertepatan dengan pengiriman cake ke café langganan. Toh, sudah malam dan aku bisa langsung pulang.
Aku mendapatkan pelanggan ini karena pemilik café menyukai cake buatanku. Katanya selain enak, dekorasinya juga artistik. Di sini jugalah aku mendapatkan informasi kalau Malik bukan laki-laki baik. Karenanya aku tidak merestui hubungan dia dengan Alya, tapi putriku justru….
Ah, sudahlah.
“Terima kasih, Bu Sari. Maaf harus kirim malam begini,” ucap Chef sambil menerima pesanannya. Katanya, karenaku pekerjaannya diringankan.
Sambil menunggu taxi online datang untuk mengantarku pulang, aku duduk di teras café. Hari merayap malam dan angin laut semilir memaksaku mengetatkan jaket rajut.
Pengunjung mulai berdatangan.
Ini bukan café biasa yang hanya menjual teh dan kopi. Namun, ini café and bar yang menghidangkan minuman beralkohol, juga menampilkan pertunjukan DJ dan live music. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, mencoba menikmati suasana sampai kemudian aku menangkap sosok yang kukenal.
Dahiku berkerut tatkala melihat wanita yang menuruni tangga sambil memegang perut.
Bajunya yang terbuka terkesan seronok dan rambut dicat merah. Sangat berbeda dengan penampilannya beberapa bulan lalu. Tapi, jelas, aku pasti tidak salah mengenalinya.
“Alya…?!”
Kesabaranku tidak berbanding lurus dengan proses hukum. Meskipun sudah dijelaskan kebebasan Malik dalam pengawasan, aku tetap tidak terima. Enak saja anakku masih belum sadar di rumah sakit, tapi dia sudah menghirup udara bebas.“Sabar, Sari. Ikuti prosesnya dan belajarlah bersabar,” bisik hatinya di sudut sana.Aku meletakkan kembali ponsel. Nyaris saja aku menghubungi Gombloh untuk menyelesaikan Malik dengan cara lama. Lebih baik aku berusaha sabar dan memulai hari.Ingatanku bergulir pada ucapan suamiku dulu. Katanya, semakin kamu reaktif, maka kamu semakin dikendalikan karena tidak dengan jelas melihat jalan yang tepat.“Bu Sari akan berangkat kerja?”Senyum Bima menyambut saat aku menoleh ke pagar besi yang memisahkan rumah kami. Dia sedang membersihkan motor. Di sampingnya ada Bu Nunung, ibunya.“Iya. Ini akan pesan ojek online.”“Kenapa tidak ngojek ke Bima saja? Anak saya terima bulanan juga. Lebih murah dan diprioritaskan. Bisa pakai motor, bisa juga pakai mobil. Ya, kan Bim?
Aku menggenggam tangan Alya yang masih di posisi semua. Belum ada kemajuan, tetapi tidak ada penurunan kondisi. Sama.“Tuhan, aku memang bukan orang sempurna, tetapi aku selalu berusaha tidak merugikan orang lain. Yang aku minta satu, berilah kesempatan aku bersama dengan anakku dalam kesehatan dan kebahagiaan. Terima kasih atas cintai dan kesempatan yang Kau berikan. “Tangan dingin Alya terasa di ujung hidungku. Kerinduan pada kehangatannya semakin pekat, tapi ini tidak kunjung terjawab. Matanya masih terpejam dengan masker oksigen yang menghalangi wajahnya yang cantik.“Alya, Sayang. Maafkan ibu sudah membuatmu sakit. Namun ketahuilah itu ibu lakukan untuk kebaikanmu. Ibu janji setelah kamu sadar akan lebih banyak mendengarkan kamu. Cepat pulih, ya, Sayang.”Pintu terbuka. Aku beranjak memberikan ruang untuk perawat yang melakukan pemeriksaan rutin. Setelah selesai, aku diminta ke ruangan dokter. “Laporan visum sudah selesai. Sebelumnya saya bertanya apa yang sebenarnya terjadi p
“Haruskah aku kembali ke masa lalu?” Aku menggeleng sambil menghela napas, kemudian mengambil cangkir meneruskan niatku menyeduh kopi.”Ini keputusan sulit setelah aku menemukan kedamaian seperti orang normal.” Aku terhenyak dari lamunan. Air di atas kompor sudah mendidih. Tuangan pertama ke dalam gelas menguarkan aroma kopi pekat yang membebaskan kepalaku dari pikiran penat.Sambil menyesap kopi, aku mengingat masa saat ayahnya Alya masih ada. Kehidupanku berbanding terbalik dengan sekarang. Apapun yang aku inginkan tinggal tunjuk. Dunia seakan dalam genggaman karena suamiku lah yang menjadi penguasa dunia malam di kota ini.Aku tidak ingin Alya tercemar dengan dunia yang menganut hukum rimba. Itulah yang menyebabkan aku melepas semua dan berpindah kota dan memilih menjadi orang biasa.Sambil membawa berkas laporan polisi, aku menuju kamar Alya. Tepatnya bekas kamar anakku yang masih tetap dengan tatanan seperti dulu. Buku-buku tertata rapi, begitu juga sprei kesukaannya yang berwarn
“Tolong titip anak saya!” Aku segera beranjak mengejar kelebat lelaki itu.Malik melangkah tergesa sambil menangkup kepalanya. Bajunya pun juga ada noda darah. Sepertinya, pukulanku tepat di sasaran. Namun, ini tidak sebanding dengan perlakuannya kepada Alya ku.“Malik! Berhenti kau!”Laki-laki itu menoleh sesaat. Matanya menunjukkan keterkejutan, kemudian dia mempecepat langkah."Hei! Jangan lari kau!"Aku berlari, tetapi lelaki itu masuk ke dalam taxi yang kebetulan lewat. Tanganku terkepal dan menghentakkan kaki. Rasanya ingin terbang dan menangkapnya. Kemudian kucabik-cabik sampai tak tersisa."Huuf! Percuma kalau aku mengejarnya. Lebih baik fokus kepada Alya terlebih dahulu." Aku kembali. Mobil ambulan sudah tiba, dan Alya baru saja dimasukkan dengan tandu.“Bu Sari ikut di ambulan atau__”“Saya ikut,” jawabku langsung masuk dan duduk mendampingi Alya.Anakku menatapku dengan wajah pucat dan bibir pecah berdarah. Mulutnya berdesis merintih.Keheningan malam pun pecah. Sirine ambu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.