LOGIN“Aruna…” panggil Revan dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.Langkahnya terhenti beberapa meter dari teras. Matanya tak lepas dari perut Aruna yang kini membuncit besar. Ada getar halus di sorot matanya—sesuatu yang selama ini ia tekan paksa.Rasa bersalah itu akhirnya datang, menggerogoti hatinya tanpa ampun.Andai dulu ia tidak berselingkuh.Andai ia lebih menghargai istrinya sendiri.Mungkin saat ini ia yang berdiri di sana—mengusap perut itu, merasakan gerakan kecil di balik kulit Aruna, menunggu kelahiran anak mereka bersama.Aruna refleks mengusap perutnya, seolah melindungi. Ia tidak mundur, namun jelas tubuhnya menegang.Edward yang sejak tadi berdiri di samping Aruna akhirnya membuka suara. Nadanya tegas, matanya menatap Revan tanpa gentar.“Apa yang kamu lakukan di sini?”Revan mengalihkan pandangan ke Edward. Rahangnya mengeras, nada suaranya berubah dingin.
Kini usia kandungan Aruna memasuki sembilan bulan. Perutnya membesar sempurna, langkahnya melambat, namun sorot matanya tetap tenang. Ia memilih hidup menyendiri, agak jauh dari perkampungan, di sebuah rumah sederhana milik tantenya. Di sanalah ia menjalani hari-harinya—menyiram sayur, membersihkan halaman, dan menunggu waktu panen yang tinggal menghitung hari.Selama ini, Edward-lah yang kerap membantu Aruna. Seorang pria yang hatinya juga terluka—istrinya telah menjadi pelakor dalam rumah tangganya aruna. Mungkin karena sama-sama pernah dikhianati, empati Edward pada Aruna tumbuh begitu saja, tanpa dipaksa.Siang itu, Edward kembali berkunjung. Ia datang membawa beberapa bahan makanan dan air galon. Aruna yang sedang duduk di bangku kayu depan rumah segera bangkit perlahan, meski Edward cepat-cepat menghentikannya.“Sudah, duduk saja. Biar saya yang angkat,” ucap Edward sambil tersenyum.Aruna menurut. Tangannya mengusap perutnya yang besar, lalu matanya menatap kebun kecil di
Bau antiseptik masih menjadi hal pertama yang menyergap indera Revan setiap kali ia membuka mata. Bau itu menusuk, dingin, dan terlalu jujur—seolah mengingatkannya bahwa tubuhnya memang masih hidup, tapi sesuatu di dalam dirinya telah runtuh dan belum bangkit kembali.Ia terbaring diam, menatap langit-langit putih rumah sakit yang terasa lebih asing dibanding malam tergelap yang pernah ia lalui. Bunyi mesin monitor berdetak stabil, kontras dengan pikirannya yang terus berputar tanpa arah.Sudah tiga hari berlalu sejak ia sadar dari rumah sakit itu. Tiga hari, dan satu hal tidak berubah sama sekali.Aruna tidak datang.Tidak ada langkah kaki yang ia kenal. Tidak ada suara lembut yang biasanya memanggil namanya dengan nada khawatir. Tidak ada tangan kecil yang menggenggam jemarinya sambil berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.Revan menghela napas pelan, meski rasa sakit langsung menyambar dadanya. Setiap tarikan napas seolah mengingatkannya pada benturan keras malam itu—pada
Mobil Revan melesat melewati jalan raya yang sepi, lampu mobilnya menyinari jalan depan dengan terang. Pukulan di pipinya masih terasa sakit, dan darahnya masih menetes perlahan ke bajunya. Tapi dia tidak peduli—semua yang ada di pikirannya hanyalah Aruna, dan janji untuk "mengurungnya" yang membuat hatinya berdebar dengan ganas.Hari sudah benar-benar gelap. Langit penuh awan, tidak ada bintang sama sekali. Saat melewati persimpangan kecil, Revan melihat cahaya api yang menyala di kejauhan—seperti api unggun di tengah hutan. Dia menginjak rem perlahan, matanya memandang itu dengan curiga."Siapa yang ada di situ?" gumamnya pelan.Tanpa berpikir panjang, dia memutar stang ke kiri dan melaju ke jalan tanah yang menuju api itu. Jalanannya licin dan bergelombang, membuat mobilnya bergoyang-goyang. Setelah beberapa menit, dia melihat sebuah rumah kayu kecil yang sederhana, dengan api unggun menyala di halaman depannya. Dan di dekat api itu—dia melihat bayangan seorang wanita yang dud
Saat di perjalanan Revan melihat mobil baru saja kembali dengan muatan barang-barang belanjaan. Kardus-kardus rapi disusun di bagasi, beberapa ibu-ibu masih menyisihkan belanjaan mereka yang tergeletak di kursi belakang.Revan buru-buru menghentikan mobil itu. Roda mobilnya mendesak aspal, ia langsung memutar stang ke kanan tanpa memikirkan apakah ada kendaraan di belakang.Kikkk... kikkkkkk..Suara klakson besar menggelegar, membuat salah satu ibu-ibu terkejut dan menjatuhkan sayuran. Mobil yang sedang melaju perlahan itu segera berhenti, supirnya menurunkan jendela dan melihat ke arah Revan dengan wajah bingung.Revan buru-buru turun, kakinya hampir tergelincir karena terlalu tergesa-gesa. Ia mendekati mobil itu dengan langkah cepat, napasnya terengah-engah dan keringat membasahi dahinya meskipun udara cukup sejuk."Kalian ada yang liat istri saya?" Tanya Revan dengan ekspresi panik. Matanya melotot ke setiap wajah di dalam mobil, tangannya menggenggam erat pegang pintu mobil.S
Sore hari, sinar matahari yang sudah lemah menyebar melewati celah tirai, menyentuh wajah dua insan yang terlelap dalam tidur yang terlarut kelelahan dan mengantuk. Revan bangun duluan, tubuhnya terasa berat seperti terbebani batu. "Enghhh..." Ia menggerakkan lehernya perlahan, menatap sekeliling ruangan yang masih bingung. Dan kemudian—jantungnya berhenti sejenak sebelum berdebar kencang seperti akan meledak—ia melihat Cintya berdampingan, tanpa sehelai benang pun, sama seperti dirinya. "Akh..." Suara merintihnya tercium tipis, kepala menyakitkan parah akibat efek samping minuman keras yang meledak di dalam otak. Semua ingatan semalam seperti kabut tebal yang sulit terurai. Cintya pun terbangun, matanya masih membutuhkan waktu untuk fokus. Namun bukannya merasa malu atau menghindar, ia malah merengkuh tubuh Revan dengan lembut, wajahnya mendekat hingga bibirnya menyentuh bibir pria itu. Hmmmpt







