เข้าสู่ระบบKupikir rumah tanggaku sempurna—suami tampan, humoris, dan penuh perhatian, tapi semua itu hanyalah topeng. Di balik senyum manisnya, tersembunyi pengkhianatan yang paling menyakitkan. Hari itu, dia berlutut di hadapanku, bukan untuk meminta maaf, tapi memohon izin menikahi wanita yang dia hamili. Duniaku runtuh dalam sekejap, seakan jatuh ke jurang tak berdasar. Namun, saat kulihat dia menjalani hidupnya tanpa rasa bersalah, aku pastikan air mataku tak akan sia-sia. Dari reruntuhan luka aku bangkit. Sekarang, satu-satunya tujuan hidupku adalah membuatnya menyesali setiap dusta yang pernah dia ucapkan. Kalau aku hancur kau juga harus lebur, Mas!
ดูเพิ่มเติมHours of silence flooded Remi's room; she could not believe what was about to happen to her.
"Where is she?" her father said coldly. "I don't know; maybe she should be in her room," her mother responded, coughing afterwards. The silence in her room was so much that she could hear a needle sound, and yes, she did hear all her parents said. A badge into the room; the door was opened ajar. The sound brought her back from her thoughts. "He is coming this evening, and you are going with him," her father said authoritatively. With so much shock in her eyes, she said, "Daddy, why are you doing this to me? I thought I was your best daughter, your only star. What has changed? What is happening?" She moved toward him with tears rolling down her eyes in an attempt to touch him. Her father felt the pain in her voice, but that was the only thing he could do. "As I said, my words are final, and you will do as I say," he answered her in words, looking away and turning to the door. "Wait! I have something to tell you. I am not getting married to any man overnight," she sniffed with so much courage, moving back to her room. The house became very hot inside; though it was cold outside, the laughter, smiles and energy the Bolajis had disappeared in a twinkle of an eye. It was late as Remi wondered about it in her cemented duplex building. She was losing her mind; she moved to the sitting room and then to her room while her parents were upstairs discussing silently. "Should I run? Where will I run to? I made a few friends cause I had everything a friend could give, and now things have turned around. How am I supposed to survive now? I have to think of a plan before midnight," she finalized it. She walked to her room when she heard noises. This made her tiptoe, but she was still caught by a voice. "Remi, what is wrong with you?" she heard it behind her back. She wondered why the voice seemed calm. If she could remember, she was the one being forced to get married overnight and should not be the insane one. She turned, and it was her mother. "Mummy," she said. "Why me?" Her mother signalled that she should be quiet as she placed one of her fingers on her lips. She dragged her to her room; on her bed, they both sat. "My heartbeat," her mum ended the drama and spoke softly. She interrupted her and said, "If you are not in support of this, why don't you stop your husband? Why don't you remind him it is still his only daughter he always fought for and sweated to protect? What has blinded him so fast that he forgot all the sweat, memories, and bond we shared? Mummy, why?" "It is okay, Remi," she consoled her. "Your father still loves you up till now," she added. In deep disappointment, Remi rose from the bed and faced her mum with tears running down her eyes. "Mummy," she called. "Can you remember when you both sweated to protect me? The story of how I came after the death of your first son, how my father got a new contract that changed and raised the family after my birth. The way I was pampered, the don't touch anything scheme you subscribed me to and after all, I made sure I never disappointed you and my brothers. I was in my best manners, obedient to all and very respectful. You and my father promised me a dream, so I could be successful, go to school and become the great star I wanted to be. But now you want to throw me into the hands of a man I do not even know overnight. I have no decision, no choice, not a day to think and accept." "Enough, enough," her mother thundered. Remi, in shock, moved backwards, still trying to maintain her balance. Her mother said, "Your father loves you, so do I, but this is what it is. You are getting married tonight for your brother's visa approval. You know this family needs money, and this is the..." "Mummy," she said in shock, holding her chest like she was going to have a heart attack. "I thought I came to comfort this family, as I am called. Why am I turning out to be the sacrifice? There are other ways to get that done, but why do you all choose my denial of everything..." "Mummy," she said calmly while breathing gently. "Leave my room. Closing my eyes this time, I just have two counts, and you are gone." Her mother never wanted any further scene; she left the room and headed upstairs to wait for her son-in-law at midnight. Remi fell on her bed, looking up at the ceiling; she felt nothing around her but betrayal and imagined how she got into this big mess. She thought of how her brother treated her in school. Her brothers would beat her for telling her dad the truth about what they did, which always got them punished. She recalled how her brothers were so jealous of how smart she was that they would even reduce her snack portion and sometimes threaten to lock her up if she reported. She recalled how her dad had always been her saviour, teaching her brothers a lesson every single time. "Why the twist in my life," she said faintly. "What will I be doing in marriage? I just got out of high school; what am I going to do there? Do my parents have something they are not telling me?" She wondered, still very confused. She moved her body on the bed; she felt something that didn't feel like her bedding. She woke up to check; it was a paper. She pulled it out from her bedding; it was a little envelope. "What is inside?" she said aloud. .Anna menatap Syam dalam perjalanan pulang."Menurutmu dia akan berubah?"Syam diam beberapa saat. "Mungkin tidak, tapi kita sudah melakukan yang terbaik, dan keadilan akan bicara."Anna mengangguk. Dia memejamkan mata, berharap bahwa setelah badai ini, mereka bisa benar-benar melanjutkan hidup. Ditambah rasa mual membuat pandangannya seakan berputar."Kau baik-baik saja?" Syam memelankan laju kendaraannnya. Melihat wajah pucat Anna dia menepikan kendaraannya ke bahu jalan. "Kau pucat, kita ke rumah sakit, ya."Anna menggeleng lemah. "Nggak usah. Aku cuma mual, padahal udah masuk tri semester ke-dua."Pandangan Syam menurun ke perut Anna. Dia mengus4p lembut di mana calon anaknya bersemayam. "Jangan nakal, ya, sayang. Kasian Mama."Anna tersenyum, dia memegang tangan Syam di perutnya. "Syam, apa kamu bahagia?"Syam mendekatkan wajah lalu mengecup dahi Anna lama dan lembut. "Harusnya aku yang nanya, apa kamu bahagia?""Tentu aku bahagia.""Makasih, sayang. Makasih udah bertahan sama aku
Sudah tiga hari sejak kejadian penculikan itu. Rumah menjadi tempat paling aman untuk Anna dan Kairo. Meski fisik mereka tidak terluka parah, Syam tahu luka batin lebih sulit disembuhkan.Pagi itu, matahari menyelinap lembut melalui tirai jendela kamar perawatan. Anna duduk di pinggir pembaringan Kairo, menyuapi bubur perlahan. Anak itu masih terlihat murung. Ia menunduk, hanya sesekali mencuri pandang pada wajah Anna.“Sayang, habiskan buburnya, ya,” ucap Anna dengan suara seramah mungkin.Kairo menggeleng pelan. “Nggak enak”“Kalau Kairo makan, Mama janji kita liburan ke tempat yang Kai mau."Kairo tetap diam.Anna menoleh pada Syam, yang berdiri memandangi mereka dari dekat pintu. Dia menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk, berjongkok di sisi tempat tidur anaknya.“Kairo, boleh Papa cerita sesuatu?” tanyanya pelan.Kairo mengangkat kepala perlahan.“Papa juga pernah takut. Waktu dulu, waktu Kakek dan Nenek meninggal. Papa takut banget, tapi ternyata Papa bisa jadi kuat kare
Suara tawa kecil Nadin di ujung telepon membuat d4rah Syam mendidih."Kau gil4, Nadin. Itu an-akmu, dar4h dagingmu. Apa kau tega menyakit1nya?!"“Ralat, an4k kita, bukan milikku sendiri, tapi apa? Kau lebih memilih bersama jal4ng itu daripada aku." Nadin terkekeh sinis. “Kau sudah tak menganggapku siapa-siapa, lalu sekarang kau masih berani bilang itu anakku? Dia an4kmu setelah kau buang aku seperti sampah, Syam. Sekarang kau tahu rasanya kehilangan. Aku tak akan segan meny1ks4nya. Kau lihat saja nanti!"Syam mencengkeram ponselnya dengan erat. Napasnya berat, tapi dia berusaha tenang. Dia tahu tak bisa meladeni orang nekat dengan perkataan provokasi.“Aku akan menemukanmu. Kau akan menyesal telah meny3ntuh an4kku.”"Coba saja, jangan banyak bicara. Kalau kau tidak memenuhi permintaanku dalam 2 × 24 jam, jangan salahkan kau akan menemukan may4tnya saja."Klik. Telepon terputus.Anna memperhatikan Alex yang berdiri di teras, wajahnya tampak gelisah. Pria itu mondar-mandir tak segera ma
Suasana ruang VIP rumah sakit masih sunyi saat ponsel Syam terus berdering. Para rekan bisnis dan teman ramai menanyakan tayangan gosip tentang dirinya dan Anna yang terus bergulir liar di media sosial. Wajahnya dingin, sorot matanya mengeras. Dia tahu siapa dalangnya, Nadin dan pengacaranya yang licik.'Aku akan selesaikan ini,' gumamnya pelan sambil meng-ecup kening Anna yang masih terbaring lemah.Keesokan paginya, Syam muncul di sebuah kantor hukum ternama di pusat kota. Dia datang bersamanya ada dua orang dari tim huku. legal pribadinya, dan seorang pria paruh baya yang menjadi penasihat bisnisnya selama bertahun-tahun.Pengacara Nadin, Herman Sudrajat adalah pria dengan jas mahal dan senyum licik. Dia menyambut Syam dengan ekspresi penuh percaya diri."Pak Syam, saya tidak menduga Anda akan datang sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"Syam menatap tajam."Anda terlalu percaya diri membela seseorang yang secara hukum terbukti menyerang wanita h4mil dan membantunya menyebar kebohon
Aku berbalik dan melihat dua wanita beda usia sedang menatap sinis ke arahku. Aku menghela napas, kenapa dunia sempit sekali? Apa tidak cukup bertemu Lisa dan Mama mertua di rumah saja?"Pantas aja berani ngelawan Mas Arya, ternyata udah punya selingkuhan di luar." Lagi suara cempreng Lisa membuat
"Sudah aku pergi dulu," ucap Anna lalu menutup pintu mobil.Aku masih memperhatikan Anna yang berjalan masuk ke gerbang perusahaan tempat dia bekerja. Aku mengembuskan napas keras. Tak pernah terlintas sedikit pun menduakannya. Namun, desakan Mama dan pertanyaan dari saudara tentang an4k membuatku
Namaku Anna dan lelaki yang kini membukakan pintu mobil untukku bernama Arya, suamiku. Siapa sih yang tidak bahagia dilamar cinta pertamanya? Aku langsung menobatkan Arya menjadi pemilik hati sejak melihatnya. Arya yang tampan dan supel tentu mudah menarik hati lawan jenis, berbeda denganku seorang
"Mas, nanti temanin aku periksa kandungan, ya. Aku khawatir calon anak kita gak gerak-gerak dari semalam.""Aduh, jangan sampai kenapa-napa. Mama senang sekali lho, setelah bertahun-tahun akhirnya bisa gendong cucu. Lisa memang hebat, tidak seperti ...."Tatapanku dan Mama mertua beradu, bibirnya h












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น