登入Aku langsung mengeluarkan ponsel dan membeli tiga truk uang arwah, mobil sport, serta vila kertas untuk dikirim ke pemakaman dan dibakar untuk Quinn."Quinn, kalau semua ini benar-benar kamu terima, tolong suap lagi petugas di alam baka. Datanglah ke dalam mimpiku malam ini. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu sekali lagi."Setelah semua persembahan itu selesai dibakar, aku bangkit dan kembali ke rumah lama Keluarga Prawira.Malam harinya, aku minum segelas susu agar lebih mudah tidur. Begitu terlelap, aku benar-benar bertemu Quinn di dalam mimpi. Kami berdua langsung berpelukan dengan bahagia."Sisca, dulu aku sudah bilang kalau Dean itu kelihatannya cuma ngincar kekayaanmu, tapi kamu nggak mau dengar. Hampir saja dia menghancurkan hidupmu.""Quinn, aku tahu kamu yang melindungiku. Aku benar-benar kangen kamu. Kamu terima semua yang kubakar untukmu?""Sudah, sudah. Aku memakai semua itu untuk nyuap para petugas alam baka, makanya aku bisa masuk ke mimpimu.""Syukurlah. Mulai sekara
Saat Windy hendak pergi sambil menggendong bayinya, tiba-tiba aku kembali mendengar suara laki-laki yang berat.'Aku nggak ingkar janji. Sejak awal memang aku sudah mengatur agar kamu memiliki takdir kaya raya dan menjadi bagian dari Keluarga Prawira.''Sebagai anak angkat Sisca, setelah dewasa kamu akan bekerja sama dengan Dean untuk membunuhnya, merebut seluruh harta Keluarga Prawira, lalu menjemput Windy agar kalian bertiga bisa hidup bersama sebagai satu keluarga. Setelah itu, usahamu akan makin sukses dan sepanjang hidupmu akan bergelimang kekayaan.''Kalau begitu, sekarang sebenarnya apa yang terjadi? Aku bahkan belum dewasa, kenapa sudah dibawa pulang oleh ibu kandungku?''Yang bisa kukatakan hanyalah nasib memang sulit ditebak. Di zaman sekarang, siapa yang nggak punya kerabat di alam baka? Sahabat baik Sisca, Quinn, menyuap petinggi di sana. Dengan uang 1 triliun, dia memberi Sisca kemampuan khusus agar bisa mendengar suara hatimu dan mengubah jalan hidupnya sendiri.''Apa?! K
Aku tertawa dingin. "Dean, di kamus hidupku nggak ada kata memaafkan. Kamu sudah tersingkir."Dean langsung berlutut di hadapanku dan menangis sambil memohon, "Nggak, Sayang. Aku benar-benar tahu aku salah. Nggak ada manusia yang nggak pernah berbuat salah. Tolong kasih aku satu kesempatan untuk bertobat ...."Aku mengangkat kaki dan menendangnya hingga terjatuh ke tanah. "Di hadapanku, kamu nggak punya hak untuk menawar."Setelah berkata demikian, aku langsung berjalan masuk ke kompleks. Dean masih ingin mengejarku, tetapi langsung dihalangi oleh satpam."Rumah di kompleks ini dibeli oleh Bu Sisca. Mulai sekarang Anda bukan lagi penghuni di sini. Silakan angkat kaki. Kalau Anda tetap memaksa masuk, jangan salahkan kami kalau bertindak tegas!"Dengan dibantu seorang wanita di sampingnya, Windy buru-buru berdiri dan berteriak kepadaku, "Bu Sisca, mana anakku?"Tanpa menoleh, aku menjawab, "Ikut aku."Windy mengikuti langkahku, lalu aku membawanya menuju gedung lain di dalam kompleks. Be
Emosi Windy langsung meledak. Dia segera menarik lengan Dean."Dean, dulu jelas-jelas kamu bilang Sisca mengancammu dengan masa depanmu dan keselamatanku agar kamu putus denganku. Kamu bilang kamu bersama dia hanya untuk melindungiku.""Dean, selama kita bertiga bisa bersama, aku nggak takut bahaya. Sekarang ini negara hukum. Aku nggak percaya Keluarga Prawira bisa menginjak-injak hukum dan bertindak sesuka hati!"Semula aku memang menganggap Windy pantas dibenci karena tahu dia menjadi pelakor. Namun sekarang, tampaknya dia juga hanyalah korban yang ditipu oleh Dean.Aku berkata dengan suara berat, "Dulu justru Dean yang bilang dirinya jatuh cinta padaku pada pandangan pertama. Setiap hari dia bersikeras antar jemput aku. Dia juga bilang nggak akan menikahi wanita lain selain aku, bahkan rela menikah dan masuk ke Keluarga Prawira.""Sejak mengenalnya sampai menikah dengannya, aku sama sekali nggak tahu kamu ada. Apalagi menggunakan keselamatanmu untuk mengancamnya.""Windy, dari awal
"Sayang, soal ini aku juga bisa jelasin. Aku ...."Aku sudah tidak ingin lagi melihat wajah munafiknya. Aku pun memutuskan untuk berbicara terus terang."Dean, aku tahu sejak awal tujuanmu adalah kekuasaan dan harta Keluarga Prawira. Orang selalu ingin meraih kedudukan yang lebih tinggi. Memiliki ambisi bukanlah sesuatu yang buruk.""Tapi sekarang aku baru sadar, keserakahanmu lebih besar daripada ambisimu. Kamu sudah punya banyak hal, tapi masih mengincar yang lain. Pada akhirnya, keserakahan hanya akan mencelakaimu hingga kamu kehilangan segalanya."Dean terdiam setelah disindir habis-habisan olehku. Dengan nada tidak rela, dia bertanya, "Selama ini aku nggak pernah memperlihatkan sedikit pun celah. Gimana kamu bisa tahu?"Aku mendengus dingin. "Kalau nggak ingin ketahuan, jangan dilakukan. Tiba-tiba saja muncul bayi di hadapanku, tentu saja aku akan curiga.""Kamu kira rencanamu sempurna tanpa cela, padahal kenyataannya begitu gampang terbongkar."Sebenarnya aku tidak sejeli itu. Ak
Aku membentangkan hasil tes DNA itu di hadapan semua orang. Seketika, mata mereka membelalak.Dean berkata dengan terbata-bata, "Sayang, ini pasti salah paham. Rumah sakit pasti keliru."Aku kembali mengeluarkan dua lembar hasil tes DNA lainnya dari dalam tas."Dean, selama lima tahun kita menikah, kamu selalu begitu perhatian kepadaku dan menuruti semua keinginanku. Sebelum kemarin, aku nggak pernah sekali pun mencurigaimu, apalagi berpikir kamu akan selingkuh.""Tapi sekarang fakta sudah ada di depan mata. Kalau satu hasil tes kamu bilang salah, gimana dengan dua hasil tes dari rumah sakit yang berbeda ini? Kamu masih berani bilang semuanya salah?"Dean akhirnya benar-benar tidak bisa membela diri lagi. Dia hanya menundukkan kepala.Melihat reaksinya, semua orang langsung menyadari apa yang sebenarnya terjadi."Sekarang aku paham. Bayi itu ternyata anak haram Dean. Dia pasti sengaja buang bayinya di depan gerbang kompleks.""Kalau anak haramnya dipungut oleh istrinya sendiri, dia bis






