Short
Suara Hati Anak Haram yang Menusuk

Suara Hati Anak Haram yang Menusuk

By:  MakjosCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
557views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pagi itu saat keluar rumah, aku melihat bayi yang terlantar di pinggir jalan. Saat hendak menggendong bayi itu dan membawanya pulang, tiba-tiba aku mendengar suara hatinya. 'Ayahku benar-benar pintar. Dia sengaja membuangku di sini, supaya Sisca memungut dan mengadopsiku. Dengan begitu, aku bisa resmi masuk ke Keluarga Prawira.' 'Dulu Sisca mengandalkan status keluarganya untuk memisahkan ayah dan ibuku dengan kejam. Sekarang dia malah membesarkan anak haram ayahku. Itu balasan yang pantas untuknya!' 'Begitu aku menjadi Tuan Muda Keluarga Prawira, aku pasti akan secepatnya membantu ayahku menyingkirkan wanita jalang ini. Setelah itu, kami akan menjemput ibuku dan keluarga kami bisa bersatu kembali.' Bayi di tanah itu tersenyum kepadaku. Suara hatinya pun sudah kudengar dengan sangat jelas. Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman tipis, lalu aku mengangkat ponsel dan menelepon seseorang. Kalau memang anak haram, tentu harus dikirim ke tempat yang memang seharusnya menjadi tujuannya!

View More

Chapter 1

Bab 1

Malam harinya, Dean pulang sambil membawa satu kantong besar berisi susu formula dan popok, lalu membuka pintu rumah.

"Sayang, aku dengar tadi pagi waktu kamu keluar, kamu menemukan bayi terlantar. Ini pasti takdir. Kita adopsi saja dia."

Aku melepaskan masker wajahku, menatapnya dengan pura-pura terkejut. "Sayang, kamu ngomong apa? Kapan aku menemukan bayi?"

Wajah Dean seketika menunjukkan sedikit kepanikan. "Maksudku bayi yang tadi pagi kamu temukan di jalur hijau di samping kompleks."

"Sayang, aku tahu kamu baik hati. Kalau lihat bayi terlantar, kamu nggak mungkin membiarkannya begitu saja."

Aku tersenyum. "Ya, tentu saja. Biasanya kalau lihat kucing atau anjing liar di luar saja pasti kutolong. Apalagi kalau bayi."

Mendengar jawabanku, Dean tampak jelas mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, cepat gendong bayinya keluar. Dia pasti sudah lapar. Aku sudah beli susu formula, nanti langsung kubuatkan susu untuknya."

Aku menyahut dengan wajah polos, "Tapi masalahnya, aku nggak menemukan bayi di jalan."

Tubuh Dean langsung membeku. "Sayang, jangan bercanda. Kamu pasti mau kasih aku kejutan ya?"

Ekspresiku berubah serius. "Ini menyangkut nyawa manusia. Mana mungkin aku bercanda soal hal seperti itu? Kalau benar aku menemukan bayi, pasti yang pertama kulakukan adalah melapor ke polisi. Mana mungkin aku langsung bawa pulang?"

Tanpa sadar, Dean berkata, "Tapi dia bilang dia melihat sendiri kamu gendong bayi itu pulang ...."

Aku mengangkat alis dan menatapnya. "Dia itu siapa?"

Baru saat itu Dean sadar kalau dirinya salah bicara. Dia buru-buru mengoreksi. "Itu ... satpam. Ya, satpam kompleks kita. Dia bilang lihat kamu gendong bayi."

Aku tetap tersenyum. "Mungkin saja satpamnya salah lihat. Toh mereka juga nggak muda lagi. Penglihatan kabur itu wajar kok."

"Nggak, dia nggak mungkin salah lihat." Dean yakin sepenuhnya bahwa aku membawa bayi itu pulang. Dia buru-buru menggeledah seluruh ruangan di rumah. Jangankan menemukan bayi, jejak apa pun tidak ada.

Seketika, dia benar-benar panik. "Mana mungkin nggak ada. Bayinya ke mana?"

Aku menghampirinya dan menghibur. "Sayang, kalau kamu memang ingin punya anak, kita bisa buat janji ke rumah sakit untuk menjalani operasi penyambungan kembali setelah vasektomi. Nanti kita bisa punya anak sendiri."

Tidak lama setelah menikah, Dean pernah berkata kepadaku bahwa melahirkan berarti seorang wanita mempertaruhkan nyawanya. Dia tidak ingin aku menanggung risiko sedikit pun, jadi dia berinisiatif menjalani vasektomi.

Saat itu, aku begitu terharu dengan tindakannya. Aku benar-benar mengira telah menemukan pria yang tulus mencintaiku dan peduli padaku.

Namun sekarang, setiap kali teringat keberadaan anak haram itu, aku hanya merasa semuanya sangat menggelikan.

Aku menarik lengannya dan mengajaknya menuju kamar tidur. "Kamu sudah capek seharian. Cepat istirahat."

Dean melepaskan tanganku, lalu berkata dengan gelisah, "Aku baru ingat masih ada urusan kantor yang belum selesai. Aku pergi urus dulu."

Melihat punggungnya yang pergi dengan tergesa-gesa, sudut bibirku terangkat membentuk seringai dingin.

Aku tahu dia pergi mencari anak itu. Namun sekarang, selain aku, tidak ada seorang pun yang tahu di mana anak itu berada.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status