LOGINAku beranjak bangun. "Tidak. Kenapa saya harus bekerja di sana?" tanyaku, perlahan berdiri sambil menahan rasa nyeri yang kembali terasa. Tian membuka matanya. "Lebih simple dan fleksibel."Sudah sampai di depan pintu kamar mandi, aku berbalik dan menatap wajah Tian yang serius. "Jangan mencampuradukkan masalah pribadi dengan dunia nyata, Tuan."Setelahnya aku masuk. Tak peduli dengan reaksi terkejut Tian. Bekerja di perusahaan bonafid. Siapa yang tidak mau? Bahkan aku bisa masuk tanpa harus melamar. Privilege yang aku dapatkan karena hubungan esek-esek kami. Tapi, sungguh hal demikian belum terbayang di benakku sekarang. Aku yang masih berstatus mahasiswi, belum kepikiran untuk melamar pekerjaan di perusahaan terkenal sebelum menyelesaikan kuliahku terlebih dahulu. Mengandalkan orang dalam, bahkan mungkin pemiliknya, siapa yang bisa menolak? Tapi, aku adalah sosok idealis. Aku tidak mau lewat jalur itu. Seandainya aku memiliki rencana atau keinginan untuk bekerja di salah satu p
Lelaki itu sudah ingin menciumku ketika aku masuk kamar. Namun, aku menolak mundur sembari menahan dadanya. "Kau menolakku?" tanyanya, sedikit kesal. "Sepertinya kita perlu bahas sesuatu." Aku bergeser, lalu berjalan menuju sofa. Tian menatapku bingung. Tapi, ia turut menghampiriku yang sudah duduk setelah menyimpan tas di samping. "Apa yang mau kau bahas?" tanyanya masih tersisa rasa kesal dari suaranya. Kami duduk berhadapan. Benar-benar menunjukkan status kami sebenarnya. Aku menatapnya, sok berani. Lalu, lembar perjanjian yang pernah Tian berikan, ku sodorkan kepadanya. "Mengenai surat perjanjian ini, ada hal yang mau saya minta Anda ubah atau tambahkan."Ku lihat matanya menyipit. Namun, kertas di depannya tidak juga menarik perhatiannya. "Kau sudah sepakat dan tanda tangan.""Ya, saya akui itu kesalahan saya. Untuk itulah saya meminta supaya ada yang diubah.""Apa masalahnya?" Kali ini Tian sudah dalam mode sebagai seorang pengusaha yang sedang bernegosiasi.Aku menghel
Silvi mendekatiku setelah aku melambai, memanggilnya. Ia tersenyum setelah berdiri di depanku. "Kursimu kosong, Bi?"Aku mengangguk, membalas senyumnya. Hani, yang sebelumnya duduk di sebelahku, bergeser memberi space untuk Silvi. Tak banyak bicara, Hani memilih mengobrol dengan yang lain. Bukan tidak tahu jika mahasiswa di kelas memandang ke arahnya, tapi yang kulihat Silvi tampak santai dan tak peduli. Meski raut lelah dan kecewa tampak terlihat di wajahnya yang cantik. "Bagaimana kabar ibumu?" tanyanya —jujur aku surprise mendengar pertanyannya. "Masih belum ada kabar baik. Ibuku masih belum sadar." Jawaban yang terlontar dari mulutku, sebisa mungkin keluar dengan suara yang tenang dan tidak menyedihkan. "Aku turut prihatin. Semoga ibumu segera pulih. Maaf karena aku belum sempat menjenguk beliau.""Ah, tidak apa-apa. Santai saja." Aku berusaha sekali untuk tidak canggung. Sebab hampir saja aku kelepasan mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyinggung masalahnya. "Dirawat d
Aku sama sekali tak berpikir bahwa Tian akan mengatakan kalimat tadi. Hanya saja mengira jika aku memiliki hubungan dengan Angga? Itu sungguh di luar dugaan. Ya, meskipun bisa saja, tapi apa kepentingannya mengatakan hal itu? 'Ah, sudah. Lupakan!' Aku berkata dalam hati. Bukankah itu jadi satu keberuntungan untukku. Hubungan kami —aku dengan Tian, yang merupakan hubungan lendir yang sama-sama menguntungkan alias simbiosis mutuaslisme, setidaknya meminimalkan keterikatan aku dengan lelaki itu. Setidaknya aku punya pelindung, yang mana suatu saat bisa aku butuhkan jika terjepit. Itu yang aku pikirkan. Sedikit membuat lega. Namun, kenyataannya jauh dari apa yang aku bayangkan. Tian justru tidak suka. Ia mengirimkan potongan surat yang aku sudah tanda tangani, di mana aku dilarang memiliki hubungan dengan lelaki lain selain dirinya. "Itu sangat tidak masuk akal. Bagaimana Anda bisa mengatur saya sampai hubungan pribadi saya sekali pun!" protesku saat ia mengganggu waktu istirahatku
Aku selesai dengan pekerjaan pertama, dan sekarang sudah berada di belakang dapur —menunggu pesanan salah satu pelanggan yang tak kunjung selesai. "Tumben sih, Pak, bakar ribs-nya lama?" Aku protes, melampiaskan kekesalan sebab baru saja dimarahi pelanggan. "Maaf, Bi. Menu ini 'kan baru dua hari, jadi masih banyak yang pesan. Lagian pesanan kamu 'kan baru dibanding anak-anak yang lain."Aku akui memang betul. Tapi, tamu yang aku layani tak mau tahu alasan itu. Mereka ingin dilayani dengan penuh. Tanpa ada drama menunggu. Terlebih perut sedang lapar. Lima menit kemudian akhirnya makanan yang sengaja aku tunggu matang. Bergegas aku menuju area restoran setelah memberi tahu petugas food checker untuk menandai pesanan. Bersyukur tak ada drama. Karena makanan yang datang —sesuai dengan ekspektasi mereka. Memilih beristirahat sejenak sambil mencari air minum setelah menguras energi menghadapi satu rombongan tamu yang lapar, nyatanya sebuah pesan dari Tian membuat energiku semakin habis
"Karena tiba-tiba kau hadir dan akhirnya aku mengenalmu."Kalimat Tian masih terngiang di kepalaku. Saat ini aku sudah kembali berada di lorong rumah sakit. Sesuai janjinya, kami tidak melakukan hubungan seks seperti malam sebelumnya. Ia hanya ingin menyerahkan salinan surat perjanjian yang sudah ditandatangani. Padahal sebelumnya aku yang minta salinan tersebut, tapi tetap saja tidak aku buka atau kembali dibaca. Seolah percaya? Atau sama sekali tak peduli? Entahlah, aku sendiri tak paham. Yang jelas, kini justru aku kepikiran dengan kalimat terakhir yang Tian ucapkan sebelum kemudian memintaku pulang. 'Apakah ia sudah jatuh cinta padaku?' batinku merasa percaya diri. Namun, itu sangat tidak masuk akal. Siapa aku? Anak keluarga miskin. Mahasiswi penerima beasiswa yang biaya kuliahnya gratis. Seorang pelayan restoran juga penjaga perpustakaan kampus. Sama sekali tak ada yang istimewa. Di saat aku masih berpikir bahwa Tian menyukaiku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan notifikas
Malam menjelang dengan ibu yang masih belum sadar, aku pergi menemui Tian di kamar hotel yang sudah dua kali kami singgahi. Ya, sekarang aku diizinkan untuk memanggil namanya saja dibanding panggilan tuan yang selama ini aku lontarkan. Tapi, tetap saja aku masih belum terbiasa. Alhasil, berkali-k
Mungkin bisa dibilang aku terlalu percaya diri. Ku pikir pria itu akan datang. Memberiku dukungan atau perhatian. Tapi, hingga malam menuju larut, wujudnya tak pernah hadir. Hanya seorang kurir makanan yang membawa dua buah goodie bag dari restoran yang berbeda. Restoran terkenal yang aku tahu. 'K
Operasi masih berlangsung ketika aku sampai di rumah sakit. Bu Yana duduk bersama seorang remaja yang tak lain adalah putranya, Hasan. "Bagaimana operasinya, Bu?" tanyaku datang dengan tergopoh-gopoh. Tak ku pedulikan rasa nyeri yang kembali menyerang paska 'serangan' yang Tian lakukan. "Sudah ti
Lelaki di depanku mengangkat bahunya. "Itu pilihanmu. Aku tak akan memaksa."Aku menatapnya marah. "Anda telah mempermainkan saya.""Di dunia ini tidak ada yang gratis, Nona Shabia."Aku menatapnya kaget saat mendengar namaku terlontar dari mulutnya. "Dari mana Anda tahu nama saya?"Lelaki itu ter







