登入Dalung langsung menangkap arah tatapan Langga. Dan dalam satu detik, lelaki itu tahu bahaya besar baru saja datang. Suara muntah Febi masih terdengar samar dari dalam kamar mandi. Membuat wajah Langga perlahan berubah kaku. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi dengan napas mulai tidak teratur. “Dia sakit apa?” Pertanyaan itu terdengar pelan. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin menegangkan. Dalung langsung menyahut cepat sebelum siapa pun sempat berpikir lebih jauh. “Maag.” Langga menoleh tajam. “Dia emang gampang kambuh kalau stres.” lanjut Dalung santai sambil menyandarkan tubuh ke dinding. “Lo sendiri bikin hidup dia kayak neraka.” Namun Langga tidak langsung percaya. Karena tadi… wajah Febi terlalu pucat. Dan cara perempuan itu buru-buru menutup mulutnya terasa familiar di kepalanya, seperti Sintia yang dulu saat hamil Samuel. “Udah berapa lama dia muntah-muntah?” Dalung langsung menatap Langga dingin. “Lo interogasi gue?” “Jawab.” “Gu
Pagi itu berjalan jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Untuk setelah sekian lama, Febi bisa duduk tanpa merasa sedang dihakimi siapa pun. Miko bahkan terus mengoceh sejak tadi sambil memakan mie goreng buatan Dalung. “Bang Dalung bisa masak, bisa nyetir, bisa berantem…” Miko menghitung dengan jari. “Kurang apa coba?” Dalung langsung mendelik kecil. “Kurang kaya.” Miko tertawa keras. Sedangkan Febi hanya tersenyum tipis kecil. Dan senyum itu… Entah kenapa membuat Dalung diam beberapa detik. Karena sudah lama sekali ia tidak melihat Febi tersenyum walaupun hanya sedikit. “Kalau Kak Febi nikah sama Bang Dalung kayaknya cocok deh.” Deg. Sendok di tangan Febi langsung berhenti bergerak. “MIKO!” perempuan itu langsung memerah panik. Sedangkan Dalung malah tertawa kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursi. “Boleh juga idenya.” “Lung!” Miko makin semangat. “Nah kan! Aku bilang juga apa!” Febi buru-buru berdiri sambil membawa piring kotor ke dapur. “Kalian aneh.” Namun
Mobil tua milik Dalung melaju pelan meninggalkan kota yang selama ini terasa seperti neraka bagi Febi. Hujan rintik masih turun membasahi kaca mobil. Lampu jalan memantul samar di aspal basah. Dan di kursi penumpang depan, Febi duduk diam memeluk dirinya sendiri. Matanya kosong. Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu singkat sampai perasaannya seperti mati rasa. Sedangkan di kursi belakang, Miko justru terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Remaja itu sesekali melirik Dalung dengan mata berbinar kecil. “Bang Dalung keren ya…” bisiknya pelan pada Febi. Febi menoleh lemah. Miko tersenyum kecil. “Dateng pas banget kayak pahlawan.” Kalimat itu membuat Dalung tertawa kecil hambar di balik kemudi. “Pahlawan apaan.” gumamnya pelan. "Kak Febi lagi sedih karena ibu. bang Dalung datang jadi pahlawan dong, buat hibur kakak!!" Namun diam-diam, lelaki itu menggenggam setir lebih erat saat matanya melirik Febi sekilas. Karena sejak tadi, perempuan itu terlalu di
Hujan rintik kembali turun saat Febi keluar dari area kampus. Tubuhnya masih basah oleh air got. Bau kotor itu masih melekat di bajunya. Rambutnya lengket berantakan. Dan orang-orang yang dilewatinya masih terus menatap dengan jijik atau kasihan. Namun Febi sudah terlalu mati rasa untuk peduli. Langkahnya limbung menyusuri trotoar pinggir jalan. Air matanya terus jatuh tanpa henti. Dadanya sesak sampai terasa sakit untuk bernapas. Dan akhirnya, perempuan itu berhenti di dekat halte kecil yang sepi. Tangannya gemetar memeluk tubuh sendiri. Lalu perlahan… Febi terduduk lemah di bangku halte. Tangisnya pecah lagi. “Hiks…”Tubuhnya sampai membungkuk karena terlalu sakit menahan semuanya sendirian. Ia dihina. Dipermalukan. Dibully seperti sampah di depan satu kampus. Dan yang paling menghancurkannya, ia bahkan tidak bisa membela diri. Karena semua memang berawal dari kesalahannya. “Febi…” Suara itu tiba-tiba terdengar pelan dari depan. Febi langsung mengangkat wajahnya perlahan. D
Febi berjalan pelan melewati koridor kampus dengan kepala tertunduk. Tangannya menggenggam tali tas begitu erat sampai jemarinya memutih. Ia bisa merasakan tatapan orang-orang menusuk tubuhnya dari segala arah. Bisik-bisik itu terus terdengar. Semakin lama semakin keras. “Eh itu dia…” “Berani juga masih masuk kampus.” “Kalau aku sih malu.” Air mata Febi hampir jatuh lagi. Namun perempuan itu terus berjalan meski langkahnya mulai goyah. Ia hanya ingin masuk kelas. Hanya ingin semuanya cepat selesai. Namun baru beberapa langkah... Brugh Seseorang sengaja menabrak pundaknya keras. Tubuh Febi langsung oleng kecil. Dan saat menoleh, Laura berdiri di depannya bersama tiga orang temannya. Senyum perempuan itu sinis sekali. “Oh maaf…” ucap Laura pura-pura terkejut. “Nggak lihat ternyata ada pelakor lewat.” Teman-temannya langsung terkekeh. Jantung Febi langsung terasa jatuh. “Aku mau lewat…” suaranya lirih, ia ingin pergi segera dari sana. Sungguh ia tidak mau berurusan dengan
Pagi itu berjalan lambat di rumah kecil mereka. Setelah Miko berangkat sekolah, suasana kembali sunyi. Hanya suara kipas angin tua dan sesekali bunyi kendaraan dari luar gang yang terdengar samar. Febi berdiri lama di depan wastafel dapur sambil menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca kecil yang tergantung di dinding. Matanya masih sembab. Wajahnya bahkan pucat. Dan perempuan itu bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Perlahan, tangannya kembali menyentuh perutnya. Dadanya langsung kembali sesak lagi. Namun kali ini, Febi memejamkan matanya kuat-kuat lalu menarik napas panjang. “Enggak…” bisiknya lirih. Air matanya kembali menggenang, tetapi kali ini ia menahannya mati-matian. “Aku nggak boleh hancur sekarang.” Karena sejak semalam, sebuah kenyataan akhirnya benar-benar masuk ke dalam kepalanya. Ia tidak sendiri lagi. Ada Miko. Dan ada bayi ini. Febi langsung menutup wajahnya sebentar sambil menahan tangis. Ia memang merasa hidupnya sudah berantakan. Bahkan sempat







