INICIAR SESIÓNTerdesak karena biaya perawatan ibunya yang terkena leukimia dan ancaman DO karena belum membayar kuliah, Febi dengan terpaksa menerima tawaran seorang teman untuk menjadi sugar baby. Febi tahu apa itu menjadi sugar baby. Uang-uang akan masuk ke dalam tabungannya, namun mungkin ia harus melayani sang 'empunya' sebagai bayarannya. Febi tidak peduli, yang penting ia bisa berkuliah dan ibunya sembuh! Namun, Febi tercekat ketika ia tahu siapa sugar daddynya. "Pak Langga...?"
Ver más“Jadi sugar baby mau? Bayarannya lumayan.”
Kalimat itu tidak terdengar keras dan disampaikan dengan nada memaksa. Justru ringan, seolah hanya menawarkan pekerjaan paruh waktu biasa. Tapi bagi Febi, kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam kepalanya. Ia duduk diam di bangku taman kampus yang mulai sepi menjelang sore. Angin menggerakkan helaian rambut panjangnya yang tergerai, menyapu pipinya yang memucat. Ia menghela nafasnya kasar. ‘Sugar baby’. Dua kata itu selama ini hanya ia dengar sebagai gosip atau bahan candaan di tongkrongan mahasiswa. Namun kini, kata itu ditujukan padanya. “Gue nggak maksa. Cuma nawarin. Kliennya aman, tajir, gak ribet. Kontrak jelas. Bayaran per bulan langsung transfer,” lanjut suara di seberang panggilan, terdengar santai dan profesional. Febi menelan ludah. Orang di panggilan itu adalah salah satu temannya yang merupakan pekerja di sebuah cafe tempatnya juga bekerja, yang disebut “punya koneksi”. Awalnya hanya obrolan basa-basi. Lalu bergeser pada keluh kesah Febi soal biaya kuliah yang menunggak, tagihan rumah sakit ibunya, dan ancaman DO jika ia tak segera melunasi pembayaran semester. Dan kini… sebuah tawaran datang. “Lo cuma perlu nemenin. Datang kalau dipanggil. Jaga sikap. Selebihnya… ya, ngerti lah.” Deg. Jantungnya berdebar semakin kencang. Febi Cantika, usia dua puluh tahun, mahasiswi hukum semester empat. Selama ini ia bangga dengan jalur hidupnya. Masuk universitas negeri favorit dengan jalur beasiswa. Berusaha mandiri. Tidak merepotkan siapa pun. Tapi hidup tak pernah benar-benar adil. Beasiswa itu dipotong karena keterlambatan administrasi. Ibunya tiba-tiba sakit keras dan harus dirawat. Ayahnya sudah lama tidak ada dalam hidup mereka. Tabungan yang sedikit habis hanya dalam hitungan minggu. Kini, Febi seperti berdiri di ujung jurang. “Bayarannya berapa?” tanyanya pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri. Terdengar tawa kecil di seberang sana. “Gue tahu lo bakal nanya itu.” Temannya itu menyebutkan angka. Mendengar angka yang disebutkan membuat napas Febi tercekat. Itu cukup untuk melunasi semua tunggakan kuliahnya. Bahkan masih tersisa untuk biaya pengobatan ibunya selama beberapa bulan ke depan. Tangannya langsung gemetar. Konsekuensinya? Tak perlu dijelaskan. Ia tahu. Ia bukan anak kecil. “Gue kirim kontraknya. Kalau setuju, tanda tangan. Transfer langsung cair,” lanjut suara di seberang sana. Febi memejamkan mata. Dalam kepalanya berputar bayangan ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Bayangan staf administrasi kampus yang menatapnya dengan dingin. Bayangan teman-temannya yang tak pernah tahu bahwa ia bekerja paruh waktu setiap malam demi sesuap nasi. Sekarang ia berpikir. Harga dirinya… atau keselamatan hidup ibu dan masa depannya? Ia menarik napas panjang. Lalu… “Oke,” ucap Febi akhirnya, meski suara itu terasa asing di telinganya sendiri. “Oke bagus, gue transfer langsung uangnya.” Panggilan terputus. Febi tetap duduk diam, seolah dunia di sekitarnya berhenti bergerak. Ia tahu, setelah ini tidak ada jalan kembali. *** Tiga hari kemudian. Febi sudah berdiri di depan lobi apartemen mewah di tengah kota. Febi mengenakan dress sederhana berwarna krem dan blazer tipis. Rambutnya ia ikat rapi. Riasannya tipis—cukup untuk terlihat dewasa, tapi tidak berlebihan. Tangannya terasa dingin. Uang yang dijanjikan sudah masuk ke rekeningnya. Ia sudah melunasi tunggakan kuliah. Ia sudah membayar tunggakan rumah sakit. Semua berjalan begitu cepat bagi Febi. Rasanya terlalu baik untuk menjadi nyata. Tapi tidak ada waktu untuk berlarut dalam kelegaan itu. Sebab sekarang, ia harus menjalankan bagian dari perjanjiannya. Kontraknya jelas. Tidak ada kekerasan atau paksaan. Ia bebas berhenti kapan saja, dengan konsekuensi mengembalikan sisa uang. Tapi tetap saja. Ia akan menjadi sugar baby seorang pria yang sudah beristri. Bahkan memiliki anak. Hatinya terasa seperti diremas. Setelah mengerjap dari lamunannya, Febi melangkah masuk ke dalam lift, lalu bergerak naik dengan hening yang mencekik. Lantai demi lantai terlewati. Pantulan wajahnya di cermin lift terlihat pucat. “Tenang,” bisik Febi pada diri sendiri. “Ini cuma kontrak….” Ting Pintu lift terbuka di lantai tertinggi. Koridor itu sunyi. Karpet tebal meredam langkahnya. Nomor unit yang tertera di pesan berhenti tepat di depan matanya. Tangannya terangkat, tapi ragu untuk mengetuk. Sebelum ia sempat melakukannya— “Masuk.” Suara yang tegas tiba-tiba mengagetkan Febi. Febi lantas terkejut. Pintu itu ternyata memang tidak terkunci. Perlahan ia mendorongnya dan melangkah masuk. Unit itu luas. Desainnya minimalis dan elegan. Aroma kayu dan parfum maskulin samar memenuhi udara. Lampu temaram menciptakan bayangan panjang di dinding. Langkah Febi begitu berat. Mata Febi langsung memindai seisi ruang. Tak perlu waktu lama sampai ia melihat sosok yang menunggunya. Ia melihat siluet tubuh tinggi tegap berdiri membelakanginya, menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota malam. Febi lalu berhenti. Detak jantungnya menggema di telinganya sendiri. “Febi Cantika,” suara itu kembali terdengar. Tenang namun penuh penekanan. “Usia dua puluh tahun. Mahasiswi hukum semester empat.” Tubuhnya tiba-tiba menegang. Suara itu… Ia mengenalnya! Suara itu betul-betul tidak asing di telinga. Sosok itu perlahan berbalik. Wajahnya tegas, rahangnya kuat. Tatapan tajam yang biasa menatap kelas dengan penuh wibawa. Febi gemetar bukan main. “Selamat datang, Febi,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. “Mahasiswi saya.” Dunia Febi seolah runtuh dalam satu detik. “P-pak Langga…?”Tak lama kemudian, Febi keluar dari dalam rumah. Perempuan itu mengenakan tunik sederhana berwarna krem dengan kerudung cokelat muda. Wajahnya terlihat segar, meskipun masih ada sedikit kelelahan di matanya. Begitu melihat Langga, langkahnya terhenti. "Kamu sudah datang?" Langga tersenyum lebar. "Iya." Febi melirik kantong belanjaan di tangannya. "Itu apa?" "Makanan." "Aku bisa membeli makanan sendiri." "Aku tahu." "Lalu kenapa kamu membawanya?" Langga terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab dengan suara lembut, "Karena aku ingin." Febi mengerjap. Lagi-lagi, jawaban sederhana itu membuatnya tidak tahu harus berkata apa. Langga kemudian mengulurkan salah satu kantong belanjaan. "Ini untukmu. Ada buah-buahan dan makanan yang mudah kamu makan. Aku juga membeli beberapa camilan yang kamu sukai." Febi menatap kantong itu dengan heran. "Kamu masih ingat?" Langga mengangguk. "Tentu." Ia tersenyum tipis. "Ada banyak hal tentangmu yang masih kuingat, Febi. Bahkan hal-ha
Beberapa Minggu Kemudian...Kondisi Langga akhirnya berangsur-angsur membaik.Luka di sisi perutnya mulai mengering. Setelah menjalani perawatan intensif dan serangkaian pemeriksaan, dokter mengizinkannya pulang dengan beberapa pantangan. Ia belum boleh melakukan aktivitas berat, harus rutin mengonsumsi obat, dan wajib kembali ke rumah sakit untuk kontrol.Namun, ada satu hal yang membuat Langga jauh lebih bersemangat daripada kabar kepulangannya sendiri.Febi.Ya, perempuan itu sekarang tidak lagi menghilang setiap kali Langga ingin berbicara dengannya.Meskipun belum sepenuhnya memaafkan masa lalu, Febi mulai bersedia menerima kehadirannya. Sesekali, perempuan itu bahkan mengirim pesan untuk menanyakan kondisinya.Bagi orang lain, perhatian sekecil itu mungkin tidak berarti apa-apa.Namun, bagi Langga, satu pesan dari Febi sudah cukup membuatnya tersenyum sepanjang hari.Pagi itu, Langga berdiri di depan cermin apartemennya. Ia mengenakan kemeja biru muda dengan celana panjang hitam
Rumah Sakit, Pagi Hari... Langga masih menatap Febi yang duduk di samping ranjangnya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada perempuan itu, tetapi untuk pertama kalinya, ia memilih menahan diri. Ia tidak ingin membuat Febi merasa tertekan. Perempuan itu sudah cukup banyak terluka karena dirinya. "Febi..." "Hm?" "Kamu sudah sarapan?" Febi mengerutkan kening. "Apa?" Langga tersenyum tipis. "Aku cuma bertanya. Kamu pasti belum makan sejak semalam, kan?" Febi terdiam. Sebenarnya, Langga benar. Sejak kejadian semalam, ia bahkan tidak memikirkan makanan. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan keadaan Langga, sampai-sampai ia lupa bahwa dirinya sendiri sedang mengandung. "Sudah," jawab Febi asal. Langga mengangkat sebelah alis. "Bohong." "Memangnya kamu tahu?" "Kelihatan dari wajahmu." Febi mendengus pelan. "Sudahlah, jangan sok tahu. Urus saja dirimu sendiri. Kamu itu pasien." Langga terkekeh, tetapi segera meringis karena luka di perutnya kembali terasa nyeri.
Rumah Sakit, Pagi Hari... Cahaya matahari mulai menembus jendela ruang perawatan. Suasana ruangan itu begitu tenang. Hanya terdengar bunyi alat medis yang sesekali berbunyi pelan, mengiringi seorang laki-laki yang masih terbaring dengan selang infus terpasang di tangannya. Langga. Lelaki itu perlahan menggerakkan jari-jarinya. Keningnya berkerut samar. Rasa nyeri di sisi perutnya membuatnya kesulitan bergerak. Ia mencoba membuka mata, tetapi pandangannya masih terasa kabur. Beberapa detik kemudian, matanya akhirnya terbuka sepenuhnya. Langga menatap langit-langit putih di atasnya. Di mana dia? Kenapa tubuhnya terasa begitu sakit? Lalu, ingatan tentang kejadian semalam perlahan kembali memenuhi pikirannya. Langga langsung berusaha bangkit. "Akh!" Teriak Langga. Rasa sakit membuatnya meringis. Tangannya refleks memegang sisi perutnya yang terluka. "Pak! Anda sudah sadar?" Seorang perawat yang sedang memeriksa pasien di sebelahnya segera menghampiri. "Jangan bergerak dulu, Pak.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás