LOGINTerdesak karena biaya perawatan ibunya yang terkena leukimia dan ancaman DO karena belum membayar kuliah, Febi dengan terpaksa menerima tawaran seorang teman untuk menjadi sugar baby. Febi tahu apa itu menjadi sugar baby. Uang-uang akan masuk ke dalam tabungannya, namun mungkin ia harus melayani sang 'empunya' sebagai bayarannya. Febi tidak peduli, yang penting ia bisa berkuliah dan ibunya sembuh! Namun, Febi tercekat ketika ia tahu siapa sugar daddynya. "Pak Langga...?"
View MoreMendengar perkataan Febi, membuat nafas Dalung tercekat, ia jadi merasa bersalah dengan gadis itu, karena semula bermula dari dirinya, yang sebelumnya menawarkan gadis itu menjadi sugar baby seseorang, dan Dalung juga ikut menikmati hasil dari Febi bekerja. “Aku udah kayak gini. Jadi nggak akan mungkin ada yang mau sama aku. Aku juga merasa kecil sama siapapun.” Kembali suara Febi terdengar lirih, membuat Dalung semakin membendung rasa bersalah dalam dirinya. “Setiap orang berpasangan Feb. Nggak mungkin elo bakalan terus ngejomblo seumur hidup ini.” Dalung mencoba berbicara tenang walaupun di hatinya bergemuruh sesuatu. Febi menggelengkan kepalanya kencang, hidupnya sudah habis, dan ia hanya seorang wanita hina yang tidak pantas untuk siapapun. “Siapa yang mau sama orang kayak aku, Lung? Di dunia ini bahkan banyak wanita cantik dan baik. Sedangkan aku?” Febi menunjuk dirinya sendiri, tatapannya sendu membayangkan kehidupan mendatang yang sepertinya tidak akan berjalan mulus, ia b
“Papa kamu keluar kota Sam. Dia ada yang di urus.” Sintia menatap anaknya satu-satunya itu dengan senyuman miris. Andai saja Samuel tau jika selama ini Langga benar-benar tidak memperlakukan dirinya dengan baik, ia yakin Samuel akan marah besar. Dan kepulangan Samuel ini benar-benar di luar dugaan. Padahal masih ada waktu beberapa hari lagi, tapi Samuel pulang lebih cepat dari waktu yang di sebutkan. “Mama penasaran, kenapa kamu kok pulang cepet banget? Padahal kan kata kamu seminggu lagi ya?” Samuel tersenyum lebar. “Ma. Aku kangen banget sama mama dan papa. Jadi aku pulang lebih cepat dari jadwal yang aku bilang.” Ujar Samuel, Sintia mengangkat alisnya, “yakin cuman karena mama dan papa? Kok mama nggak yakin ya kalau kamu pulang cuman karena kami?” Sindirnya. Samuel terkekeh kecil, mamanya ini tau saja. “ck, nggak surprise lagi kalau mama tau.” “Cerita sama mama. Hadiah yang indah banget yang langsung kamu masukin ke dalam kamar itu buat siapa hm?” Tanya Sintia penasaran, pasal
“Ini gila! Elo mau beli satu toko antik bapak itu tadi? Banyak duit elo.” Dalung berdecih sinis, ia menatap barang bawaan yang merupakan kerajinan tangan dari seorang bapak-bapak tadi, yang katanya hadiah untuk buk Yosi, agar Febi tak mendapatkan nilai jelek. Febi menghela nafasnya kasar. “Cantik gitu. Lagian aku nggak beli banyak kok. Cuman beberapa aja. Kamu aja yang lebay banget Lung. Udahlah kita balik. Mumpung belum sore.” Febi berjalan mendahuluinya membuat Dalung mendelik kesal. “Astaga! Untung elo itu sekarang atasan gue. Kalau masih temen pelayan kayak dulu, gue jitak tuh kepala.” Omel Dalung, namun ia tetap melangkahkan kakinya menyusul Febi ke sebuah taksi yang ada di depan sana. Saat ia sampai di sana, wajah Febi malah tampak tak seperti sebelumnya, gadis itu tampak gelisah bukan main. “Eh elo kenapa?”Febi malah meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, memberikan isyarat agar Dalung diam. Dalung pun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, “Maaf, Sam.” “Kenapa sayang?
Malam semakin larut. Suara ombak di luar masih terdengar… pelan, berulang, seolah menjadi irama yang menenangkan. Namun di dalam kamar itu suasana sudah berubah. Tidak lagi panas seperti sebelumnya. Tidak lagi penuh gejolak. Yang tersisa kini hanya… sisa-sisa kelelahan. Dan sesuatu yang lebih sunyi. Lebih dalam. Febi masih berbaring di atas ranjang. Tubuhnya terasa lelah. Namun bukan hanya fisik pikirannya juga. Matanya menatap langit-langit kamar. Namun di dalam kepalanya… penuh. Ia mengingat semuanya. Setiap sentuhan. Setiap tatapan. Setiap kata. Dan semakin ia mengingat semakin ia tidak tahu harus menempatkan dirinya di mana. Tangannya perlahan naik. Menarik selimut menutupi tubuhnya. Seolah mencoba melindungi diri dari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak pahami. Di sisi lain Langga berdiri di dekat meja. Lampu kecil menyala redup. Menerangi sebagian wajahnya. Tangannya sibuk dengan laptop. Namun sesekali tatapannya melirik ke arah ranjang. Ke arah Febi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore