Compartir

bab 77

Autor: Mariahlia
last update Fecha de publicación: 2026-04-30 07:27:56
"Kebetulan sekali, kamu mengajak saya bertemu sekarang Dalung. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya tanyakan. Terlebih kamu juga susah sekali di hubungi." Ucap Langga saat keduanya kini berada di sebuah cafe tempat Dalung dulu bekerja.

Dalung tersenyum tipis, ia berusaha keras untuk menahan gumpalan emosi yang memuncak saat melihat pria yang ada di hadapannya ini. Rasanya ia ingin menerjang pria itu, meluapkan semua emosi yang membara di dalam dadanya sana. Bagaimana Febi menceritakan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 107

    Semua orang langsung berlari keluar rumah. Hujan deras mengguyur tubuh mereka tanpa ampun. Samuel adalah orang pertama yang sampai di dekat gerbang. “FEBI!” Perempuan itu benar-benar tergeletak di jalanan basah dengan tubuh menggigil lemah. Wajahnya pucat. Bibirnya nyaris membiru karena kedinginan. Samuel langsung berlutut panik lalu mengangkat tubuh Febi ke dalam pelukannya. “Feb… bangun… please…”Namun Febi sama sekali tidak merespons. Tangannya dingin. Napasnya lemah. Dan itu membuat Samuel mulai gemetar hebat. “Ambil mobil sekarang!” bentaknya panik. Seorang satpam langsung berlari mengambil mobil. Sementara Langga berdiri membeku beberapa langkah di belakang. Dadanya terasa sesak melihat tubuh perempuan itu tak berdaya seperti ini. Hujan membasahi wajahnya. Namun pria itu bahkan tidak sadar dirinya ikut gemetar.Sintia di sana melihat itu menatap penuh kebencian ke arah gadis itu. Rasanya ia ingin memusnahkan saja gadis sialan yang telah menghancurkan rumah tangganya.

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 106

    Pintu rumah tertutup keras setelah Febi pergi. Dan suara itu, terasa seperti akhir dari semuanya. Hening hanya terdengar suara detak jarum jam di dinding, dan tangis pilu Sintia. Perempuan itu memang sedari tadi terus menangis, tanpa berhenti. Hatinya benar-benar hancur mendapatkan fakta sebesar ini. Hujan masih mengguyur deras di luar rumah. Seolah tau apa yang terjadi pada keluarga ini. Rintik hebatnya membasahi bumi. Sedangkan di dalam, keluarga itu perlahan benar-benar runtuh. Kakek Langga berdiri dengan napas memburu. Wajah lelaki tua itu merah padam menahan murka. Tatapannya lurus mengarah pada Langga. Dan saat ini amarahnya benar-benar meledak. “Kurang ajar kamu!” Bentakan itu menggema keras memenuhi ruang keluarga. Sintia langsung tersentak. Samuel memejamkan matanya lelah. Sedangkan Langga, hanya berdiri diam dengan wajah dingin. Ia sama sekali tidak mengelak, karena ini memang salahnya. Namun justru sikap diam itu membuat kakeknya semakin murka. “Kamu bikin m

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 105

    Rumah itu terasa seperti medan perang yang baru saja menghancurkan seluruh isinya. Tidak ada lagi kehangatan.b Tidak ada lagi tempat aman. Yang tersisa hanya tatapan penuh kecewa… dan hati yang remuk di mana-mana. Febi masih berdiri dengan tubuh gemetar. Air matanya tidak berhenti jatuh sejak tadi. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan Sintia. Namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding melihat Samuel menangis seperti tadi. Dan lebih menyakitkannya lagi, saat Langga akhirnya kembali membuka suara. “Pergi.” Deg. Semua mata langsung tertuju padanya.Langga berdiri tegak dengan wajah dingin. Padahal beberapa menit lalu pria itu terlihat sama hancurnya. Namun sekarang, ia seperti memaksa dirinya menjadi orang lain. “Pergi dari hidup saya, Febi.” Deg!! Jantung Febi seperti berhenti berdetak. Matanya langsung membesar. “Pak…” Namun Langga memalingkan wajahnya. Rahangnya mengeras kuat. “Semuanya udah cukup.” suaranya rendah dan dingin. “Saya nggak mau lihat kamu lagi.

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 104

    Ruangan itu berubah kacau dalam sekejap. Samuel masih berdiri membeku di tengah pecahan kaca. Dadanya naik turun tidak beraturan. Matanya merah. Namun bukan hanya karena menangis saja. Melainkan karena rasa hancur yang perlahan berubah menjadi kemarahan. “Kamu juga?” Pertanyaan itu kembali terdengar lirih dari bibirnya. Namun kali ini terdengar lebih menusuk. Lebih menyakitkan dari sebelumnya. Febi menangis sambil menggeleng cepat. “Sam… dengerin aku dulu…” “Dengerin apa?!” Bentakan Samuel langsung menggema memenuhi rumah. Deg!! Tubuh Febi langsung tersentak ketakutan. Bahkan Sintia ikut membeku karena tidak pernah melihat anaknya semarah ini. Samuel tertawa kecil. Namun tawanya terdengar hancur. “Aku hampir mati karena mikirin kamu…” suaranya mulai pecah. “Aku nangis tiap malam nyariin kamu…” Air matanya jatuh semakin deras. "Aku sampai bingung kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku. Apa karena aku yang pergi ke Swiss. Padahal aku selalu setia sama kamu walaupun aku di sa

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 103

    Ruangan langsung sunyi. Samuel perlahan mengangkat wajahnya dari bahu Febi. Tatapannya lurus ke arah Langga. Dan ia melihat ada sesuatu yang berubah di mata lelaki itu.yaitu rasa terusik. “Kenapa?” tanyanya pelan. Langga berdiri tegak dengan rahang mengeras. Tatapannya masih tertuju pada tangan Samuel yang menggenggam Febi terlalu erat. “Nggak semua hal harus diumbar.” jawabnya dingin. Samuel tertawa kecil samar. “Ummbar?” ulangnya pelan. “Dia pacar aku, Pa.” Febi langsung menunduk cepat. Sedangkan Langga terlihat semakin kehilangan ketenangan. "Aku cuma meluk pacar sendiri.” lanjut Samuel sambil mengusap pelan jemari Febi. “Apa itu salah?” Sunyi. Namun ketegangan di ruangan itu semakin terasa jelas. Febi bahkan mulai sulit bernapas. Karena sekarang, mereka tidak lagi terdengar seperti ayah dan anak yang sedang bicara biasa. Mereka seperti dua orang yang sedang saling menahan sesuatu. Dan dirinya berada tepat di tengah-tengahnya. “Sam…” suara Febi mulai gemetar. “Udah

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 102

    Sore itu hujan turun pelan membasahi halaman rumah Samuel. Dan lagi-lagi, Febi berada di sana. Samuel yang sejak siang terus menghubunginya akhirnya berhasil membujuk perempuan itu datang dengan alasan kondisinya kembali drop. “Aku cuma pengen lihat kamu…” ucapnya tadi di telepon dengan suara lemah. “Sebentar aja.” Dan Febi, lagi-lagi tidak tega menolaknua. Rasa bersalah membelenggu dirinya, sehingga ia tidak bisa berkutik sama sekali saat pemuda itu mengancam. Kini perempuan itu duduk di ruang keluarga bersama Samuel yang tampak jauh lebih sehat dibanding beberapa hari lalu. Namun lelaki itu justru terus menempel padanya sejak tadi. “Sam…” Febi berusaha menarik tangannya pelan. “Duduk yang bener.” “Nggak mau.” Samuel malah menyandarkan kepalanya ke bahu perempuan itu dengan mata terpejam. Seolah tempat paling nyaman di dunia memang hanya ada di dekat Febi. “Aku kangen…” bisiknya lirih. Tubuh Febi langsung menegang. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata pelayan rumah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status