登入Dua hari setelah menginap di rumah Samuel, Febi akhirnya kembali ke kampus. Pagi itu udara terasa mendung. Langit abu-abu menggantung rendah seolah ikut membawa berat yang sejak beberapa hari terakhir terus menekan dadanya.Febi turun dari ojek online di depan gerbang kampus sambil menggenggam tasnya erat. Sudah cukup lama ia tidak datang ke tempat itu. Dan anehnya, langkahnya terasa jauh lebih berat dibanding biasanya. Banyak hal berubah terlalu cepat dalam hidupnya. Ibunya pergi. Samuel kembali hadir. Dan Langga… Febi langsung menghela napas pelan. Nama itu saja sudah cukup membuat pikirannya kembali kacau. “Febi!” Suara seseorang membuat perempuan itu tersentak kecil. Nisa langsung berlari kecil menghampirinya dengan wajah kaget sekaligus lega. “Ya Allah, akhirnya kamu muncul juga!” sahut sahabatnya itu sambil memeluk Febi cepat. “Aku khawatir banget tau!” Febi tersenyum kecil lemah. “Maaf…” Nisa langsung melepas pelukan lalu memperhatikan wajah Febi lama. Dan seket
Sunyi. Kalimat itu langsung membuat udara di dapur terasa membeku. Febi menegang di tempatnya. Jantungnya berdetak sangat keras sampai telinganya sendiri terasa berdengung. Sedangkan Langga langsung menatap Samuel tajam. “Ngaco.” Jawab Langga kesal. Dan justru itu membuat Samuel makin curiga. “Loh?” lelaki itu tertawa kecil. “Aku cuma becanda. Papa kenapa sensi banget sih?” Namun tatapannya tidak benar-benar bercanda. Ia memperhatikan ayahnya dengan lekat. Memperhatikan bagaimana perubahan ekspresi pria itu. Rahang Langga mengeras, dan tatapannya seperti tidak biasa. Bagaimana pria itu terus terlihat emosional setiap kali dirinya dekat dengan Febi. Dan itu mulai terasa aneh dan ada kejanggalan. “Sam…” suara Febi langsung terdengar gugup. “Udah makan dulu aja ya.” Namun Samuel justru berjalan mendekat ke meja makan sambil tetap menatap ayahnya. “Papa nggak suka aku dekat sama Febi?” “Nggak ada hubungannya.” “Terus kenapa dari tadi papa marah terus?” Langga mengembus
Pagi datang terlalu cepat. Dan bagi Langga, itu buruk. Karena semalaman ia sama sekali tidak tidur. Pria itu duduk sendirian di ruang kerja sejak dini hari dengan kemeja yang masih kusut dan kopi yang bahkan sudah dingin di meja. Pikirannya kacau. Tentang dapur semalam. Tentang mata Febi yang penuh air mata. Dan tentang dirinya sendiri yang nyaris kehilangan kendali. Langga mengusap wajahnya kasar lalu menghembuskan napas berat. Ia seharusnya menjaga jarak. Seharusnya menghentikan semuanya sebelum semakin menghancurkan Samuel. Namun semakin ia mencoba, semakin perempuan itu memenuhi pikirannya. Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat Langga langsung menegakkan tubuhnya. “Mas?” suara Sintia terdengar dari luar. “Udah bangun?” “Ya.” Jawab Langga datar. Sintia membuka pintu sedikit lalu tersenyum kecil. “Febi lagi bikin sarapan sama Samuel di dapur.” Deg. Kalimat itu langsung membuat rahang Langga mengeras samar. Entah kenapa dadanya kembali terasa sesak. “Samue
Suara hujan kecil di luar rumah terdengar jelas menimpa kaca jendela dapur. Langga masih berdiri sangat dekat di depan Febi. Tatapannya turun pelan menatap wajah perempuan yang kini penuh air mata itu. Dan dadanya terasa semakin sakit. Karena ia yakin, perempuan ini juga hancur sama seperti dirinya. “Kalau Samuel tahu…” suara Febi kembali pecah lirih, “…dia bakal benci sama kita dan pasti nggak akan maafin kita.” Febi mengingat bagaimana Sintia juga memperlakukan dirinya dengan baik, dan ia semakin merasa bersalah. Langga menghembuskan napas berat. Tatapannya melemah. “Biar dia benci saya.” bisiknya pelan. “Tapi jangan kamu.” Deg. Febi langsung mengangkat wajah cepat. Matanya membesar menatap pria itu. “Pak jangan ngomong gitu…” “Saya serius.” Ucap Langga dengan suara rendah. Dan terdengar seperti seseorang yang benar-benar sudah menyerah melawan dirinya sendiri. “Asal Samuel nggak nyakitin kamu.” rahangnya mengeras pelan, “…saya rela dia benci saya.” Air mata Febi kembali jat
Malam semakin larut. Rumah besar itu akhirnya mulai sunyi setelah Sintia memaksa Samuel masuk ke kamar untuk beristirahat. Meski awalnya lelaki itu terus mengeluh karena ingin tetap mengobrol bersama Febi. “Aku cuma mau duduk bentar lagi…” rengeknya pelan. “Nggak ada bantahan.” Sintia menunjuk kamar Samuel tegas. “Dokter nyuruh kamu istirahat.” Samuel mendesah pasrah sebelum akhirnya menoleh pada Febi. “Kamu jangan pulang diam-diam ya.” Deg. Febi tersenyum kecil. “Iya.” “Janji?” “Iya, Sam.” Baru setelah itu Samuel terlihat sedikit tenang lalu berjalan menuju kamarnya perlahan. Dan sejak Samuel pergi,suasana rumah terasa berubah jauh lebih sunyi. dan lebih canggung. Terutama bagi Febi. Karena kini ia sadar… ia benar-benar akan menginap di rumah ini. Sintia mengantar Febi ke kamar tamu yang berada tidak jauh dari taman belakang. “Kamu tidur sini ya, Nak.” ucap perempuan itu lembut sambil merapikan selimut di atas kasur. “Kalau butuh apa-apa bilang aja.” “Makasi
Samuel terdiam sesaat mendengar jawaban ayahnya. Lalu lelaki itu tertawa kecil samar. “Iya juga sih.” Namun entah kenapa, tatapannya masih belum benar-benar lepas dari Langga. Seolah ada sesuatu yang terus mengganjal di dalam pikirannya. Sementara Febi justru semakin sulit bernapas. Karena jawaban Langga tadi terdengar begitu normal di permukaan… tetapi hanya mereka berdua yang tahu ada banyak hal tersembunyi di balik kalimat itu. “Udah jangan bahas yang aneh-aneh.” Sintia mencoba mencairkan suasana sambil duduk di samping suaminya. “Samuel harus istirahat.” Namun Samuel justru kembali bersandar di sofa sambil menatap Febi lekat. “Aku serius loh.” Suaranya pelan. “Aku kira papa marah karena aku deket sama kamu lagi.” Febi buru-buru menggeleng kecil. “Nggak mungkin…” “Kenapa nggak mungkin?” Samuel tersenyum kecil menggoda. “Siapa tau papa posesif.” “Samuel.” Langga memotong cepat. Nada suaranya terlalu tajam. Dan itu membuat ruangan kembali hening beberapa detik. Samu







