Share

Bab 87

Author: Krisna
Dia memaksa dirinya untuk tenang, meletakkan laporan itu dengan hati-hati, lalu mengambil tehnya yang sudah dingin.

"N-Nona Yuna, ini ... ini mungkin ... ada gangguan dengan mesin kami. Apa perlu kucoba mengoperasikannya sendiri dan periksa ulang lagi? Mohon maaf, Nona Yuna ..."

Dokter Haris tergagap, tidak mampu bicara dengan lancar.

Yuna tercengang melihat wajah pucat Dokter Haris.

"Dokter Haris, apa penyakitku memburuk?"

Tapi, Yuna jelas merasakan bahwa rasa tidak nyaman di perutnya sudah hil
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 352

    Selanjutnya, Ratna berhasil.Diiringi tawa Ratna, Ayu juga berhasil.Ketiganya bersuka cita, melompat-lompat mengelilingi Dhana.Mereka tidak pernah membayangkan bisa belajar kultivasi bela diri."Kalian bertiga harus rajin berlatih. Ini baru permulaan. Keamanan Desa Mawar di masa depan ada di tangan kalian."Mereka tersenyum dan mengangguk serempak.Mawar berpikir, dia bisa mengangkat batu penggilingan seberat lebih dari 150 kilogram dengan mudah. Jadi, mengangkat Dhana pasti lebih mudah lagi, bukan?Mawar memandang Dhana, dan sebuah ide berani terlintas di benaknya.Jika bisa mengangkat Dhana, pasti sangat seru.Dengan kedua tangan memegang lutut Dhana, lalu mengangkatnya tinggi dalam posisi berhadap-hadapan.Sepertinya ... lumayan seru.Mawar tersenyum nakal.Waktu sudah cukup larut. Dhana dan adiknya mengantar Ratna pulang terlebih dahulu, baru kemudian keduanya pulang ke rumah.Dhana benar-benar lelah hari ini.Meski lelah, dia sangat bahagia.Terutama satu jam bersama Mawar yang

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 351

    Ratna mengepalkan tinjunya, merasa sangat gembira.Ayu tampak bersemangat, dengan tangan di pinggang sambil menatap langit."Kekuatanku juga meningkat. Tubuhku rasanya sangat ringan. Kalau aku coba lompat, mungkin bisa setinggi satu meter!"Mawar tersenyum lebar, pipinya merah merona."Dhana, kukira kamu cuma bercanda. Nggak kusangka, kami bertiga jadi lebih kuat."Melihat ketiga wanita itu begitu gembira, Dhana mengangguk puas.Semua kerja kerasnya membuahkan hasil.Mereka akhirnya mengerti.Baru pada pukul 10 malam, Dhana mengajarkan beberapa bab awal dari Teknik Dewi Sembilan Langit, lalu memberi perintah agar mereka berlatih dengan sungguh-sungguh.Mereka semua sangat gembira dan patuh."Oh ya, jangan beritahu siapa pun soal ini. Termasuk ayah ibuku, jangan beri tahu dulu sementara ini. Kalian harus belajar dengan tekun, dan jangan bocorkan rahasia bela diri ini kecuali dalam keadaan terpaksa."Mereka semua mengangguk lagi.Untuk menguji hasilnya, mereka pergi ke halaman.Di halama

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 350

    Dhana pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tadi membuang waktu satu jam.Kalau tidak, mereka tidak akan terburu-buru seperti ini. Untungnya, selama satu jam tadi, tidak ada yang mengganggu.Secara keseluruhan, mereka merasa cukup puas."Dhana, kenapa buru-buru begitu? Belajar bela diri kan nggak bisa dilakukan dalam sekejap. Kenapa bisa lebih penting daripada urusan tadi?"Mawar cemberut dan mengeluh.Bagi Mawar, kebahagiaan jiwa dan raga adalah yang paling penting.Soal latihan bela diri, meski dia percaya Dhana bisa mengajarkannya, itu urusan yang jauh di masa depan.Kalau hari ini tidak bisa, coba besok.Kalau besok tidak bisa, tunggu lusa."Kamu pergi berhari-hari ke kota, nggak kirim pesan, nggak tanya kabar sama sekali. Keterlaluan."Mawar mengeluh lagi.Lalu kembali mengungkit masalah lain."Kamu tadi pagi kepanasan sampai mimisan. Aku sengaja membantumu mendinginkan tubuh dan menghilangkan racun, tapi kamu malah nggak menghargai niat baikku."Dhana tersenyum nakal. "Yang bada

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 349

    Ayu berpikir sejenak. "Mungkin. kita kurang memberi umpan? Coba angkat jaringnya dulu, lalu tambahkan umpannya.""Mungkin." Ratna mengangguk ragu-ragu.Jaring pun di angkat. Di dalam jaring yang besar itu, hanya ada sekitar sepuluh ekor ikan kecil. Bahkan yang terbesar pun ukurannya hanya setebal dua jari.Melihat pemandangan itu, mereka tersenyum getir.Ratna melihat jam lagi. Dari saat melempar jaring hingga menariknya kembali, sudah berlalu lebih dari 20 menit, tapi hanya berhasil menangkap beberapa ekor ikan kecil. Sungguh sial.Dibandingkan dengan pagi tadi, dengan waktu yang sama sudah bisa menangkap ratusan kilogram.Betapa ironisnya, sungguh membuat kesal.Mereka tidak mau menyerah. Setelah persiapan dengan cermat, jaring dilempar kedua kalinya. Mereka menjulurkan leher menatap ke dalam air dengan penuh harap.Setelah memeriksa waktu, ternyata sudah berlalu setengah jam."Aduh, salah di mananya?" keluh Ratna sambil mengerutkan kening, menggosok matanya yang terasa pegal."Aku j

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 348

    "Dhana, sebelum kamu mengajarkan aku bela diri, bisakah kita menyisihkan sedikit waktu untuk melakukan sesuatu lain yang menyenangkan?"Mawar berkata dengan suara manja, sambil melirik ke arah pintu depan."Pintu sudah kututup, nggak akan ada yang masuk."Dhana bertepuk tangan gembira. "Oke, tunggu apa lagi?"Tanpa kesepakatan sebelumnya, keduanya memiliki ide yang sama....Ratna membawa Ayu ke rumahnya. Keduanya menyiapkan peralatan memancing, lalu mengendarai motor roda tiga menuju Danau Airnaga."Kak Ratna, menurutmu, kita bisa dapat berapa banyak ikan? Bisakah lebih banyak dari tadi pagi?" tanya Ayu sambil tersenyum.Mereka tadi pagi hanya menangkap ikan selama setengah jam lebih, tapi bisa mendapat sekitar 500 kilogram. Hampir seluruh Desa Mawar, dari rumah ke rumah, bisa makan ikan siang itu.Ikan yang ditangkap nanti harus dijual.Jika bisa menangkap lebih dari 500 kilogram, mereka berdua akan kaya raya.Ratna mengangguk sambil tersenyum. "Aku sudah dua kali ikut Dhana nangkap

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 347

    "Oke, aku yang duluan. Kalau sudah bisa nanti, aku akan mengalahkan kalian berdua, menumbangkan kalian dalam sekejap dengan satu tamparan."Mawar melompat dengan gembira, wajahnya dipenuhi senyuman.Lalu, dia menatap Dhana dan berkata, "Oke, ajari aku dulu."Karena sudah jujur soal menguasai bela diri, Dhana pun tidak menyembunyikan kemampuannya lagi. Di hadapan semuanya, dia memperagakan salah satu keahlian andalannya."Perhatikan baik-baik, aku akan memperagakan mengambil benda dari jarak jauh."Dhana menggulung lengan bajunya yang kanan. Telapak tangannya kosong. Dia membolak-baliknya untuk meyakinkan mereka."Tanganku kosong, nggak ada apa-apa. Lihat baik-baik. Sebentar lagi, aku akan mengambil benda dari jarak jauh. Sesuatu akan muncul di tanganku.""Jangan bercanda! Aku nggak percaya!" Ayu yang pertama kali menyangkal. Itu hal yang mustahil, Dhana tidak mungkin bisa melakukannya.Ratna sama-sama ragu. "Aku juga nggak percaya!"Sambil berkata begitu, dia menarik tangan kanan Dhana

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 201

    "Chef, pesta pernikahan hari ini istimewa, jadi menunya perlu diubah. Hapus semua hidangan daging dan ikan, ganti dengan bubur, lobak rebus, dan kentang rebus.""Oh ya, ganti minumannya dengan air putih. Anggur merahnya diganti teh. Buat semuanya sesederhana mungkin. Nggak masalah kita nggak menghas

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 197

    "Dia lebih dari hebat!" seru Yuna dengan kagum. "Dokter Haris dari Rumah Sakit Siraya sampai ingin merekrutnya dengan gaji bulanan dua miliar ditambah mobil mewah dan rumah, tapi Tabib Dhana menolak."Mendengar itu, mulut Mira ternganga lebih lebar lagi.Pemuda yang tampaknya masih cukup belia ini b

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 187

    Semua orang berkumpul di halaman, mengobrol dan tertawa.Tiba-tiba, terdengar suara mobil mendekat. Setelah suara berhenti, beberapa orang masuk, dan Dhana bergegas menyambut mereka."Benar ini rumah Tabib Dhana?"Orang yang paling depan bertanya dengan suara tinggi."Kamu pasti Pak Rayan?" Dhana me

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 186

    Pandu kemudian mendesah.Dia mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, menawarkan satu kepada Bejo, lalu mengeluarkan korek api. Mereka berdua menyalakan rokok bersama-sama.Setelah mengisap dua kali dalam-dalam, Pandu melanjutkan."Sebagai kepala Desa Mawar , aku sangat ingin menuntaskan masalah k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status