เข้าสู่ระบบ"Semua menu ini sengaja aku pelajari khusus buat manjain lidah pasien kesayanganku setiap hari. Ibu hamil itu butuh banyak protein biar janinnya tumbuh sehat dan kuat. Kalau kamu mau tambah porsi lagi, aku masih bawa satu kotak cadangan di dalam tas."Menerima perlakuan istimewa tanpa henti, hati Amara terasa sangat penuh oleh luapan kasih sayang. Makan siang hari itu benar-benar menjadi momen pengisian energi yang paling sempurna bagi fisik dan mentalnya.Tumpukan berkas di meja kerja akhirnya berhasil diselesaikan seluruhnya tanpa ada yang terlewat pada sore harinya.Amara meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk di kursi kulit kebesarannya. Sang dokter langsung menghampiri untuk memijat pelan pundak perempuannya guna melancarkan peredaran darah yang tersumbat. Sentuhan jantan tersebut langsung memberikan sensasi relaksasi yang luar biasa nyaman menembus pori-pori kulitnya."Pijatan tangan kamu selalu sukses bikin pegalku hilang dalam sekejap tanpa sis
Setibanya di gedung perusahaan pusat, suasana kantor terasa jauh lebih damai dan tertib dari hari-hari biasanya. Karyawan berlalu-lalang menyapa penuh hormat saat melihat kedatangan pimpinan tertinggi mereka di lobi utama. Amara melangkah masuk ke ruangan direktur utama dengan penuh percaya diri setelah masa pemulihannya di rumah sakit selesai.Menariknya, Adrian memutuskan untuk membatalkan semua jadwal praktiknya demi ikut menemani Amara bekerja seharian penuh.Pria berbadan tegap ini langsung mengambil posisi duduk senyaman mungkin di sofa sudut berbahan kulit. Dia dengan senang hati bertindak layaknya seorang asisten pribadi yang siap sedia setiap saat dibutuhkan.Karena melihat raut wajah Amara mulai kelelahan membaca tumpukan dokumen tebal, sang ahli medis segera beranjak dari tempat duduknya. Adrian mengatur suhu pendingin ruangan agar tidak terlalu dingin menusuk kulit sensitif perempuan hamil itu. Diseduhkannya secangkir teh kamomil hangat menggunakan dispenser air di pojok r
Dihisapnya puting kemerahan itu secara rakus oleh bibir sang dokter spesialis, hingga berbunyi kecapan nyaring.Sensasi tarikan kuat di area dadanya sukses meruntuhkan sisa-sisa pertahanan pikiran waras sang ibu hamil hingga tidak bersisa. Sendi lutut Amara mendadak lemas kehabisan seluruh tenaga penopang berdirinya, akibat diterjang gelombang kenikmatan yang menyetrum otak."Mas Adrian, kaki aku udah ngga kuat lagi buat berdiri tegak menahan berat badanku," adu wanita ini menyandarkan seluruh bobot tubuhnya ke depan.Pahlawan medis ini dengan sigap menahan pinggang ramping istrinya menggunakan sebelah tangan, agar tidak terpeleset jatuh di ubin basah. Dia langsung mengangkat dan mendudukkan perempuannya secara amat aman, tepat di atas meja wastafel marmer yang kondisinya kering. Posisi duduk menggantung ini otomatis memberikan ruang gerak yang sangat leluasa, bagi Adrian untuk mengeksplorasi mahkota terdalam pasiennya."Buka paha kamu lebih lebar, biar tanganku gampang masuk buat nge
"Kamu sengaja banget cari kesempatan, buat lihat badanku tanpa busana di siang bolong begini kan, Mas? Padahal tadi bilangnya cuma mau bantuin aku berdiri aja, biar ngga jatuh terpeleset di lantai basah. Dasar dokter nakal yang mesumnya ngga pernah ketulungan, kalau udah berduaan sama pasiennya!"Alih-alih merasa tersinggung, tawa berat nan serak justru meluncur bebas dari kerongkongan pria dominan ini. Di bawah guyuran air hangat dari mesin pemanas otomatis, kain tipis yang menutupi tubuh mereka berdua akhirnya terlucuti habis.Amara spontan menyilangkan kedua tangannya menutupi area dada, saat butiran air menyapu kulit telanjangnya.Ditepiskannya perlahan pertahanan rapuh tersebut oleh sepasang tangan besar sang dokter. Karena sudah terlampau sering menikmati keindahan tubuh ini, Adrian tidak memberikan celah sedikit pun bagi perempuannya untuk merasa malu. Dari arah belakang, laki-laki bertenaga kuat ini mulai mengusapkan sabun cair beraroma stroberi ke punggung istrinya."Wangi sa
Amara yang setengah mengantuk ikut terkejut mendengar gangguan mendadak tersebut. Menariknya, suara dari balik pintu itu terdengar sangat familier di telinga sang nyonya muda. Diabaikannya rasa cemas yang sempat mampir di kepalanya, tepat saat menyadari identitas asli sang tamu."Permisi Nyonya Amara, ini Bi Asih datang membawakan bubur ayam pesanan Nyonya Ratih dari rumah," ucap suara paruh baya dari luar sana.Tepat setelah mendengar intonasi lembut pembantu rumah tangganya, otot tegang di bahu Adrian perlahan mengendur. Dokter spesialis kandungan ini membuang napas lega, menyadari tidak ada bahaya yang mengancam keselamatan mereka."Bi Asih, tolong buburnya ditaruh aja di atas meja troli depan pintu ya! Aku lagi ngga pakai hijab dan belum siap ketemu orang lain sekarang. Nanti mangkuknya bakal diambil langsung ke depan sama Dokter Adrian!"Karena sangat mematuhi perintah majikannya, pembantu setia itu langsung menuruti instruksi tanpa banyak bertanya.Diletakkannya nampan berisi ma
Amara menganggukkan kepalanya sangat antusias menyetujui persyaratan protektif tersebut, tanpa berniat melayangkan protes sedikit pun.Rasa senangnya meluap seketika menyadari betapa besarnya upaya laki-laki ini dalam menjamin keamanannya setiap saat. Senyum memikat langsung mengembang sempurna menghiasi wajah pucat Amara."Makasih banyak ya, Mas," ucap Amara berjinjit mendekatkan wajahnya ke arah sang dokter. "Sekarang tolong kecup kening aku yang lama dong, sebelum kita pisah berangkat kerja." Tuntutan manja tersebut meluncur begitu saja dari bibir Amara.Menuruti permintaan binal tersebut, bibir tebal Adrian mendarat sangat lembut di kening sang kekasih membagikan kehangatan.Ciuman polos itu perlahan turun menyapu kelopak mata, lalu berakhir melumat bibir ranum Amara dengan sangat memabukkan. Pagutan basah yang awalnya berjalan lambat itu mendadak berubah menjadi ciuman buas penuh tuntutan gairah liar.Di bawah cahaya matahari pagi yang menembus gorden, sang pahlawan medis mulai m
Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?
Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat
"Kamar mandi dalam lagi dipakai sama Bu Amara," kilah Adrian cepat sebelum mertuanya itu bertanya lebih jauh."Jadi saya terpaksa







