INICIAR SESIÓNMenghabiskan sisa umurnya dalam kehinaan mutlak yang menyayat ego sombongnya, Pak Arman akhirnya dijatuhi vonis kurungan seumur hidup di sel isolasi atas segala kejahatan korupsinya. Pasalnya, bukti-bukti telak dari peretasan jenius yang dipimpin Leo benar-benar tidak menyisakan sedikit pun celah hukum bagi bos mafia itu untuk kembali menghirup udara bebas.Alhasil, segala rintangan kelam warisan masa lalu itu resmi terkubur sedalam-dalamnya, memberikan kemenangan mutlak bagi sang ahli strategi yang kini memimpin keluarganya menuju keabadian.Tatkala waktu bergulir memasuki senja hari, semburat jingga perlahan menghiasi langit ibu kota membiaskan pendaran magis yang teramat romantis ke seluruh penjuru rumah megah tersebut. Mengganti setelan jas kerjanya dengan balutan kaus santai berwarna gelap, Adrian melangkah pelan dengan senyum kepuasan menyusul belahan jiwanya menuju area semi terbuka di lantai dua.Duduk bersandar penuh kenyamanan di atas sofa rotan bundar, Adrian dan Amara dudu
Membelai punggung telanjang istrinya yang terekspos gaun sutra, Adrian berbisik mesra ke telinga wanita cantik itu. Padahal, pesta perayaan ini digelar dengan sangat sederhana, namun makna di baliknya terbukti mampu mengalahkan seluruh kemewahan di muka bumi."Sekarang waktunya kamu fokus sepenuhnya buat bahagiain suami tampanmu ini di kamar sana. Soalnya sedari tadi siang tanganku udah lumayan gatal pengen buka resleting gaun pengantinmu yang super merepotkan ini. Habisnya pesona kamu malam ini bener-bener bikin pertahananku hampir rubuh sejak kita masih berdiri di altar kapel tadi siang."Mengedipkan sebelah matanya dengan gaya super menggoda, Amara seketika memukul pelan dada bidang pria berjas tuksedo hitam tersebut.Tersenyum penuh kemenangan melihat rona merah di pipi istrinya, gairah di dalam urat nadi sang mantan mafia langsung melonjak ke titik puncak. Tatkala pendaran lampu kristal mulai diredupkan oleh staf, sepasang suami istri ini mulai bersiap meninggalkan keramaian penu
Saat fajar menyingsing, Amara tertidur lelap di pelukan Adrian dengan senyum yang tidak pernah pudar, memeluk erat lengan pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya di mata hukum dan agama.Persiapan pernikahan tertutup itu dilakukan dengan sangat rahasia, jauh dari endusan media massa maupun rekan bisnis lama yang penuh kepalsuan.Menginginkan kesakralan mutlak tanpa gangguan eksternal, Adrian mengerahkan seluruh anak buah kepercayaannya untuk memblokir akses informasi menuju area perbukitan asri ini. Bahkan, penjagaan berlapis sengaja dipasang di setiap titik masuk menuju lokasi acara demi menjamin keamanan sang ratu hati.Berjalan menyusuri lorong berkarpet merah, jantung Amara berdebar teramat kencang di balik balutan gaun pengantin sutra putih yang menjuntai indah menyapu lantai. Padahal, dia dulu mengira kisah cintanya akan berakhir tragis di bawah bayang-bayang kediktatoran sang ayah yang selalu memaksakan kehendaknya. Kendati demikian, genggaman hangat dari Pak Santos
Malam itu menjadi malam penyatuan yang paling sempurna bagi mereka berdua, di mana Adrian memberikan ciuman panas dan sentuhan sensual yang sangat mendominasi, merayakan kemerdekaan cinta mereka setelah masa nifas selesai.Memiringkan kepalanya mencari sudut paling pas, lidah pria tangguh ini menyapu liar setiap sudut rongga mulut sang pasien tanpa memberikan jeda untuk bernapas. Sehingga, lenguhan tertahan mulai lolos dari tenggorokan Amara merespons sentuhan panas yang seketika membakar seluruh titik kewarasannya di bawah pendaran cahaya remang."Kamu beneran cantik banget malam ini, makanya aku nggak bakal ngelepasin kamu sedetik pun sampai matahari terbit besok pagi buat nebus kerinduanku."Mengangkat tubuh ringan wanitanya ala bridal style, pahlawan medis ini melangkah pasti menuju ranjang king size yang telah dihias sedemikian rupa layaknya peraduan raja dan ratu.Membaringkan tubuh wangi itu secara sangat hati-hati, pria mempesona ini mengurung kekasihnya di atas lautan kelopak
Berdiri tepat di tengah-tengah sebuah dermaga kayu yang teramat kokoh, Adrian akhirnya melonggarkan ikatan kain sutra tersebut dari belakang kepala sang nyonya muda.Tatkala kain itu dibuka perlahan, kelopak mata Amara langsung mengerjap menyesuaikan diri dengan pendaran cahaya temaram yang membias indah di depannya. Bahkan, sepasang mata bulatnya seketika membelalak sempurna melihat mahakarya visual luar biasa yang terpampang nyata menghiasi seluruh penjuru area privat tersebut malam itu.Menyapu pandangannya ke sekeliling dengan decak kagum, Amara terperangah melihat sebuah villa pribadi mewah di tepi danau yang sudah dihias dengan ribuan mawar putih dan lilin aromaterapi.Memantulkan cahaya keemasan yang menari-nari di atas permukaan air danau, susunan lilin-lilin mungil itu membentuk jalan setapak bersinar menuju pintu masuk bangunan kayu eksotis di ujung sana. Membawa aroma semerbak menenangkan, hamparan kelopak mawar putih yang sengaja ditebar menutupi seluruh lantai dermaga ter
Beralih menjelang siang harinya, suasana lobi utama gedung pencakar langit itu mendadak heboh oleh kedatangan sosok tamu yang teramat istimewa. Dikawal ketat oleh Rian dan barisan penjaga kepercayaan, Amara memberikan kejutan dengan mengunjungi kantor membawa bayi mereka yang sedang tertidur lelap di dalam kereta dorong eksklusif.Berjalan anggun melewati koridor eksekutif menuju lantai atas, nyonya muda ini mengenakan gaun selutut berwarna putih gading yang membuat pesona kecantikannya semakin terpancar sempurna pasca-persalinan. Padahal, dia biasanya selalu merasa sesak napas dan tertekan setiap kali menginjakkan kaki di gedung ini akibat bayang-bayang kediktatoran ayah kandungnya pada masa lalu.Kendati demikian, ketakutan panjang itu kini lenyap tak berbekas tergantikan oleh rasa antusias luar biasa untuk melihat sang pahlawan hati saat sedang memimpin perusahaan.Berdiri diam-diam di balik dinding kaca tembus pandang ruang konferensi, Amara menatap penuh kekaguman melihat wibawa







