Compartilhar

BAB 79

Autor: Pipit Chie
last update Data de publicação: 2026-11-02 21:00:00

Melvin membawa mereka berdua ke ruang rapat. Beberapa orang sudah menunggu di sana, termasuk perwakilan HR dan jajaran manajemen. Aku ikut masuk sebagai saksi. Saat diminta memberikan kronologi kejadian, aku menjelaskan semuanya secara apa adanya, tanpa melebih-lebihkan ataupun menyembunyikan apa pun. Setelah selesai memberikan keterangan, aku berpamitan untuk kembali bekerja.

Yang menungguku di luar adalah Rainer. Tidak kusangka dia benar-benar datang ke kantor siang ini.

”Hai, Baby…
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sweet Trouble   BAB 88

    “Lo tahu berapa lama gue nunggu? Dari jam delapan, sekarang jam… sebelas? Hampir jam dua belas?” Dia berdecak sinis. Kuberanikan diri menoleh ke arah sofa. Dia duduk di sana dalam kegelapan. Bahkan tanpa menatap ke arahku. Pandangannya tertuju lurus pada meja di hadapannya.”Makanan yang gue bawa bahkan udah dingin.”Ada paper bag di atas meja, yang terabaikan begitu saja.”G-gue….””Kenapa lo nggak balas chat gue? Kenapa nggak angkat call gue? Kenapa lo nyuekin gue?”Aku yang berdiri di dekat pintu kamar hanya bisa bungkam. Saat itulah Rainer akhirnya mengangkat kepala untuk menatapku. Sinar lampu dari dapur mengenai wajahnya. Dan tatapan matanya… tampak marah. Benar-benar marah. Ia hampir tidak pernah marah padaku, baru kali tatapan matanya tampak menakutkan.”Dari mana lo sejak tadi? Gue hubungi Erika, katanya lo udah pulang sejak sore. Gue takut lo ke Litera, jadi beberapa menit sekali gue call manajer buat mastiin lo di sana atau nggak. Tapi lo ngga

  • Sweet Trouble   BAB 87

    ”Mending lo check-out barang gue nih, udah menuhin keranjang gue.””Sini, gue bayar. Lo mau apa?”Ia tertawa sambil menggeleng. “Bercanda kali, ah.”Tapi aku benar-benar mengirim uang ke rekeningnya yang membuatnya melotot.”Lo sekarang nggak bisa diajak bercanda apa gimana Flo?””Beli, deh. Biar gue nggak merasa bersalah karena udah ngerepotin lo selama beberapa hari ini.””Dasar si paling nggak mau hutang budi.”Ya, aku sulit menerima kebaikan orang lain tanpa berusaha untuk membalasnya. Mungkin benar, aku memang tidak pernah mau berhutang budi kepada orang lain. Tapi semata-mata itu kulakukan untuk mengurangi rasa bersalah karena telah menyeret Erika dalam kebingunganku sendiri, yang aku sendiri belum bisa memahaminya sampai sekarang.Aku benar-benar benci menyetir sendiri! Padahal selama ini, aku menjadi sopir pribadi untuk diriku sendiri. Namun sekarang, menghadapi kemacetan membuat otakku mendidih. Menjadi penumpang memang sangat menyenangkan. A

  • Sweet Trouble   BAB 86

    ”Kenapa nggak?” Mas Gugun buka suara. “Kalau lo mau dengar perspektif gue sebagai cowok, maka bisa gue simpulkan kalau Rainer juga cinta sama lo. Cowok, termasuk gue dan cowok-cowok lainnya, nggak akan mungkin ngelakuin semua itu kalau kami nggak cinta. Siapa yang rela bangun pagi-pagi padahal dia baru tidur subuh cuma buat bikinin sarapan dan nganter cewek ke kantor? Nggak akan sudi kalau nggak cinta. Siapa yang terus-terusan kirim makanan, camilan, chat dan call tiap saat? Nggak mungkin kalau nggak cinta. Kalau perhatian temen, nggak ada temen yang segitunya. Nggak ada!” ”T-tapi—“ ”Dan siapa cowok yang ke mana-mana rela jadi sopir kalau bukan karena cinta? Yang selalu mastiin cewek itu makan dengan bener, ngisi kulkasnya yang kosong, temenin dia ke mana pun. Siapa coba, gue tanya? Siapa kalau bukan cinta?” “Nggak mungkin,” bisikku pelan. ”Sekarang lo menghindari dia karena lo mulai nyadar sama perasaan lo? Oke, lo bisa menghindar, gue pun bi

  • Sweet Trouble   BAB 85

    Satu hari menjadi dua hari. Dan semakin bertambah hari, rasanya semakin berat. Berulang kali aku ingin menyerah, mencoba menghubunginya kembali, atau setidaknya mengangkat panggilannya. Tapi sekuat tenaga kutahan keinginan itu. Jika hanya berpisah selama beberapa hari saja tidak sanggup, bagaimana jika nanti malah berpisah selamanya? Akan jadi apa aku tanpanya?”… eh iya… gue… tunggu sebentar. Sebentar aja, gue lagi dipanggil atasan.”Aku baru saja duduk di kursi kerja ketika Erika mendekat. Ia berbisik di telingaku.”Rainer call gue nih.””Hah?””Iya, katanya lo nggak angkat call dia dari kemarin. Gue mesti gimana?” Ia berbisik panik. “Gue takut banget salah ngomong. Kalian kenapa? Ada masalah?””Bilang gue lagi meeting.””Yakin? Kenapa?””Bilang aja dulu.””Okay.”Erika meraih kembali ponselnya, mendekatkannya ke telinga. ”Oh sorry, tadi gue sekalian nyari Flo. Dia lagi meeting… iya… dia baik-baik aja, kok.” Erika bicara sambil menatapk

  • Sweet Trouble   BAB 84

    Aku merasa haus. Tenggorokanku rasanya sangat kering.”Ren… gue haus. Minum dong.”Kutarik selimut sampai ke dada.”Ren? Haus.” Apa Rainer tidak mendengarku memanggilnya? Tidak biasanya dia hanya diam saat kupanggil. “Ren?” Tanganku meraba ke samping. Tapi yang kutemukan hanyalah sisi kosong yang terasa dingin. Mataku akhirnya terbuka, menatap sisi kosong itu dalam diam.Benar, dia sedang berada di Singapore. Tidak ada di sini.Kutatap nakas yang juga kosong. Biasanya ada segelas air di sana. Oh shit! Ya, Rainer yang selalu menaruh air di nakas karena tahu aku suka minum kalau bangun tidur. Atau terkadang suka haus kalau tengah malam.Dengan malas, aku bangkit dari ranjang, keluar dari kamar menuju dapur. Sambil minum, aku tiba-tiba memikirkannya. Apa aku sudah menjadi manja? Kalau kupikir lagi, kapan terakhir aku menyetir sendiri? Berapa lama mobilku hanya diam saja di basement? Kapan terakhir kali aku membeli makanan sendiri? Kapan terakhir kali aku melakuk

  • Sweet Trouble   BAB 83

    “… Flo?””Hah?” Kepalaku menoleh ke arah Erika yang berbicara padaku. “Sorry, lo tadi bilang apa?””Lo melamun?””Nggak, tapi kepikiran sesuatu aja. Lo bilang apa tadi?”“Meeting nanti sore, kita satu mobil aja apa gimana? Lo mau langsung pulang? Minta jemput tunangan lo aja nanti.”Masih saja ia menggodaku dengan kata tunangan itu. Lama-lama, aku hanya membiarkan karena dia memang berharap aku marah-marah. Setiap kali aku marah, justru Erika akan tertawa dan kian gencar menggoda.Baik Erika maupun Rainer selalu mengatakan bahwa wajah ‘prengat prengutku’ terlihat menggemaskan. Menggemaskan apanya?”Jadi gimana? Dijemput?”“Rainer nggak di Jakarta, ke Singapore anterin bokapnya check-up.””Orang have tuh beda banget, ya. Nggak kayak kita ngandelin BPJS,” celetuk Mas Gugun. “Jatuh dikit langsung ke Mount Elizabeth. Lah, kita? Ngurus rujukan aja pusingnya minta ampun, antrian udah kayak antrian sembako, terus nakesnya suka judes kalo pake BJPS, padah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status