Masuk"Kau puas, Sayang?" bisik Nikolai dengan suara serak yang masih terengah-engah.
Aku mengangkat wajah, menatapnya dengan senyum lebar yang penuh binar kebahagiaan. "Emh. Aku mencintaimu, Nikol."Ia tersenyum lebar dengan binar menggoda. Tanpa menjawab dengan kata-kata, Nikolai kembali menarik tengkukku, melumat bibirku dengan penuh gairah yang seolah tak ada habisnya.Sepertinya, satu bulan penuh tanpa kehadiranku telah menciptakan lubang kerinduan yang sangat dalamTepat saat aku berhasil meringkuk di balik tembok luar, suara pintu di dalam ruangan itu terdengar didobrak dengan kasar.BRUAK!"Bos, Anda tidak apa-apa?! Di mana wanita itu?" teriak salah satu anak buah Gideon dengan nada panik.Dari balik jendela kaca yang buram, aku melihat sebuah bayangan besar mendekat seiring dengan suara langkah sepatu boot yang berat. Jantungku berdetak kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhku.Jangan mendekat. Kumohon, jangan ke sini.Aku meremas sisi celanaku, berusaha menahan gemetar. Suara sepatu itu terdengar semakin dekat, bayangannya kini memenuhi bingkai jendela. Aku mengeluarkan pisau kecil itu kembali, menggenggamnya erat dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dan sisa darah.Sedetik kemudian, jendela mulai digeser terbuka. Aku mengendap dengan napas memburu, bersiap untuk menghujamkan pisau pada siapa p
Bersamaan dengan ketegangan itu, aku merasakan cairan hangat membasahi punggung tanganku. Aku tersentak, spontan mencondongkan wajah untuk mencari tahu. Cairan apa ini? Darah Nadine-kah?Bukan. Itu air mata Nikolai.Dadaku sesak melihatnya. Seorang pemimpin mafia yang dikenal dingin dan tak punya belas kasihan, kini menitikkan air mata di hadapanku? Aku bisa merasakan dadanya naik-turun dengan hebat karena emosi yang tertahan. Namun, hatiku sudah terlanjur membeku; aku tidak akan semudah itu tertipu oleh air mata buayanya lagi."Cepat selamatkan dia!" Aku mendorong tubuhnya kasar ke arah Nadine yang mulai sekarat dengan wajah sepucat mayat. "Satu menit saja kau terlambat, kau akan kehilangan nyawanya!"Namun, Nikolai tak langsung menuruti permintaanku. Ia membalikkan badan, menatapku dengan kelopak mata yang turun."Eli... ikutlah bersamaku, hm?" ajaknya lagi dengan suara parau dan mata yang masih berkaca-kaca.Bel
Aku melirik Nikolai dengan air mata yang menetes deras, mengaburkan pandanganku. Hatiku remuk, hancur berkeping-keping melihatnya hanya berdiri mematung, membiarkan harga diriku diinjak-injak tanpa melakukan apa pun untuk membelaku."Apa yang kau lihat, hah?!" Nadine mendorong pundakku dengan kasar hingga aku tersungkur di atas lantai marmer yang dingin. "Kau masih berharap belas kasihan dari Nikolai? Bangun dari mimpimu, jalang!"Aku hanya menunduk, membiarkan rambutku menutupi wajah. Air mataku luruh, membasahi serat karpet mahal di bawahku."Selama ini Nikolai hanya berpura-pura baik padamu demi tugas dari Ayah. Dan kau benar-benar jatuh cinta padanya?"Nadine menginjak punggungku dengan ujung sepatu heels-nya yang runcing, lalu menekannya dengan gerakan memutar hingga rasa perih yang luar biasa mengoyak kulitku.Aku menggigit bibir, jemariku saling bertaut dengan erat—menahan rasa sakit yang melubangi daging sekaligus hatiku.
Sepintas aku melihat wajah Gideon menegang. Sang Naga itu terperanjat, menarik tubuhnya mundur dengan sisa-sisa harga diri yang mulai luntur.Tepat saat jariku akan menarik pelatuk dengan sisa dendam yang membara, sebuah tangan berotot yang sangat kukenali tiba-tiba menyambar pergelangan tanganku dan mengarahkannya ke atas.DOR!Tembakanku melesat jauh, menghantam langit-langit ruangan dan menjatuhkan debu-debu marmer."Apa yang kau lakukan, Eli?!" teriak Nikolai setelah berhasil merebut pistol dari tanganku dengan kasar.Raut wajahnya menegang hebat. Namun, aku menyadari satu hal yang menyakitkan; ia ketakutan bukan karena nyawaku terancam, melainkan karena tanganku hampir saja merenggut nyawa ayah angkatnya."Kau marah padaku?" tanyaku dengan napas yang masih tersengal-sengal, mataku menatapnya nanar.Ia hanya menggeleng, mulutnya sedikit terbuka namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan.Bersamaan dengan
Mataku membulat sempurna mendengar Gideon menyebut nama ibuku. Napasku tertahan di kerongkongan. Untuk sekian detik, tubuhku membeku seperti patung es. "Kau... mengenal ibuku?"Gideon menyeringai puas melihat reaksiku. Ia menegakkan kembali tubuhnya sembari mengisap cerutunya dalam-dalam. "Tentu saja. Dia adalah dokter berbakat yang sangat cantik. Dan wajahmu... kau adalah replika sempurna darinya.""Apa yang kau tahu tentang ibuku?!" tanyaku dengan nada yang mulai tak stabil. Amarah mulai membakar setiap sel di tubuhku.Ia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan satu kaki ditekuk ke atas paha, menunjukkan dominasi yang memuakkan. "Aku... pernah memintanya untuk hidup bersamaku. Memberinya kemewahan yang tak terbatas."Ia menjeda kalimatnya sejenak sebelum lanjut dengan tatapan yang penuh luka. "Hanya saja... dia lebih memilih setia pada ayahmu yang miskin itu, lalu mengakhiri hidupnya dengan tragis."Tubuhku semakin bergetar hebat
Tubuhku spontan terdorong mundur, napasku kian sesak. Levin menoleh sedikit ke arahku dengan wajah memucat karena panik yang luar biasa. "Nona... saat aku mulai menembak nanti, kau harus lari sejauh mungkin! Jangan menoleh ke belakang!"Tidak. Jika aku lari, mereka akan mencabik-cabik Levin tanpa ampun.Tepat saat jari Levin akan menarik pelatuk, secara spontan aku menurunkan tangannya. "Hentikan, Levin. Jangan lakukan itu," ucapku dengan suara gemetar namun penuh penekanan.Levin tertegun, menatapku dengan tatapan tak percaya sekaligus cemas."Aku akan ikut dengan mereka," ucapku dengan nada setenang mungkin, meski di dalam, jantungku sedang bergemuruh hebat seperti ombak yang menghantam karang."Nona... Bos pasti akan—""Dia akan tahu," potongku, berusaha meyakinkannya melalui tatapan mata. "Sampaikan saja padanya bahwa aku yang memaksa ikut. Ini pilihanku."Aku menatap Levin sekali lagi sebelum akhirnya melangkah