Masuk"Dimana ibuku? cepat katakan!" Mahira Kamala harus pasrah dijual ayah kandungnya sendiri demi keselamat sang ibu kepada mafia berdarah dingin Kenrick Alonzo. Hidup mewah dan diratukan hanyalah iming-iming ayah dan ibu tirinya kenyataannya disana seperti penjara emas. Bagaimana kehidupan Mahira setelah dalam genggaman Tuan mafia?
Lihat lebih banyakMahira kembali ke kamarnya yang beberapa hari lalu di tinggalkan. Mencari ponselnya membuka setiap laci dan ia bisa menemukan ponsel itu.“Syukurlah masih ada,” gumam Mahira. Ia terduduk di ujung tempat tidur dan mengisi daya ponselnya karena sudah kehabisan daya.Ia mendapati puluhan pesan dan panggilan telepon dari Rangga.“Ya ampun, pasti Rangga mencariku dari kemaren!” Mahira ingin menghubungi Rangga, tapi itu tidak terjadi karena Ken masuk ke dalam kamar dan meraih ponselnya dengan cepat.“Rangga? Kau menghubungi Rangga siapa? Pacarmu?” tanya Ken mengintimidasi.“bukan, itu hanya temenku aja!”“Ingat, aku tidak suka kalau mainanku di sentuh oleh pria lain. Jika melanggar kau akan tahu sendiri akibatnya!” tegas Ken dan melempar ponsel ke lantai sampai hancur berkeping-keping dan Mahira hanya bisa menganga.“Aku belikan yang baru nanti!” cetus Ken lalu duduk di sofa kecil yang ada di kamar itu.“Kenapa harus marah-marah dan lempar ponselku
Di hari itu juga pada pukul tujuh malam. Ken mengajak untuk pergi menemui ayahnya untuk mencari tahu keadaan sang ibu. Itu membuat Mahira bersemangat, ia tidak berpikir akan pergi secepat itu.“Pakailah pakaian yang bagus!” titah Ken.Dengan cepat Mahira beranjak untuk berganti pakaian. Tanpa banyak memilih karena semua pakaian yang tersedia adalah pakaian-pakaian baru.Saat kesulitan menaikkan resleting di punggungnya, tiba-tiba Ken datang menghampiri dan membantu Mahira menutup resletingnya dan membuat Mahira terkejut apalagi kemudian memeluknya dari belakang.“Aku akan membawamu keluar dari sini, jangan pernah sekali pun berpikiran untuk kabur! Atau kau akan menanggung akibatnya. Aku tau apa yang ada di pikiranmu itu!” bisiknya seraya mengecup lembut tengkuk Mahira lalu melepaskan pelukannya.“Sepertinya untuk sekedar berpikir kabur saja aku tidak akan bisa! Aghhh aku hanya bisa pasrah. Semoga keinginannya tidak aneh-aneh!” batin Mahira bermonolog.K
Mahira mengernyitkan dahinya, sedikit pergerakan membuatnya merasakan sakit ngilu di area sensitifnya itu. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur ia begitu kesulitan, tapi ia paksakan karena ingin membersihkan diri yang sudah kotor itu.“Mau kemana?” cetus Ken dengan suara paraunya.“A–aku mau ke kamar mandi,” jawab Mahira tersendat.Ken tidak bicara lagi dan Mahira melanjutkan langkahnya yang sempat tersendat itu. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower-nya, berdiri di bawahnya dan sekarang tubuh itu telah basah. Air mata telah bercampur membasahi tubuh mungil itu, menyesal tidak ada artinya lagi.“Bu, ini semua demi ibu. A–aku rela melakukan apapun agar ibu tetap hidup dan tunggu aku, aku akan segera membawamu pergi dari pria jahat itu!” lirihnya.Merasa sudah mendapatkan kekuatan lagi, Mahira menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia tidak ingin membuat Ken marah.Sementara Ken masih berbaring di tempat tidur, kemudian ponselnya berdering dan ia ban
Rasa penasaran itu harus terkubur sementara sampai Tuan Ken kembali. Bertanya pada pelayan dan pengawal percuma saja karena mereka punya aturan ketat tentang tidak memberi informasi apapun.Dua hari berlalu dan Ken kembali ke rumah di tengah malam dengan keadaan luka-luka. Dokter pribadi khusus datang untuk merawat Ken.“Kau ini, senang sekali turun tangan sendiri padahal anak buahmu banyak. Alhasil luka-luka lagi, kan? Bosen banget aku mengobatimu!” tutur dokter Arga. Terdengar akrab memang mereka adalah teman sekolah dulu.“Aku ingin semua selesai lebih cepat!” jawab Ken datar.“Untung besar dong?”“Yasudah pasti.”“Eh, bukannya beberapa waktu lalu kau menikah? Dimana istrimu, aku tidak melihatnya?” tanya Arga.“Untuk apa kau melihatnya? Tidak boleh!” jawab Ken.“Diihhh luluh juga ternyata sama cewek.”“Hehh kau bicara terus dari tadi. Sudah selesai belum? Kalau sudah sana cepatlah pergi. Kau tetap disini aku tidak akan membayarmu!” anc
Sinar matahari yang menyilaukan membuat Mahira terbangun. Ia terduduk seraya mengucek matanya untuk menjernihkan pandangan. Melihat di sampingnya tempat tidur masih rapi.“Apa Tuan Ken semalam tidak pulang? Atau tidur di kamar lain?” gumam Mahira.Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, i
Menatap istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin, keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. Kemudian Ken mengisyaratkan pada Fattan untuk membelikan pakaian dan barang-barang baru untuk Mahira.Tanpa penjelasan lebih lanjut, Fattan mengerti dan berlalu pergi.“Kau sudah menjadi i
Dengan langkah kaki yang berat, Mahira berjalan menuju meja akad lalu duduk di samping pria asing itu. Pria yang sama sekali belum pernah ia temui. Jantungnya semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah bercucuran dan tangannya begitu gemetar.Ini adalah pernikahan resmi secara agama dan n
Dengan nafas terengah-engah, Mahira akhirnya sampai di kediaman Khairi–sang ayah. Menatap bangunan megah tiga lantai di hadapannya, rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya selama lima belas tahun terakhir. Tidak terasa sudah delapan tahun Mahira dan Paramita–ibunya–meninggalkan ruma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.