LOGIN(CERITA MENGANDUNG KEKERASAN DAN ADEGAN RANJANG 21+. HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN.) Demi bertahan hidup, aku terpaksa menghabisi Nikolai Petrov, bos mafia yang menculikku, hanya untuk melihatnya bangkit dari kematian sebagai kakak tiriku. Ia hadir menyusup ke dalam keluargaku dengan dendam membara, berjanji untuk menyiksaku perlahan sebagai balasan atas darah yang kutumpahkan. Namun di balik ancaman mautnya, batas antara keinginan untuk menghancurkanku dan hasrat untuk memilikiku mulai terkikis menjadi obsesi yang berbahaya. "Serahkanlah dirimu padaku, Elianore. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya." "Tidak mungkin. Kau adalah Kakak tiriku. Orang tua kita tidak akan menyetujuinya." "Aku akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi cinta kita. Kau hanya boleh menjadi milikku selamanya." Mampukah obsesi gelap Nikolai meruntuhkan norma dan meluluhkan hatiku, ataukah aku akan selamanya terpenjara dalam belenggu cinta sang mafia yang mematikan?
View More"Halo... Eli? Di mana kau sekarang?" Suara Bella langsung menyambar begitu aku menyambungkan panggilan terenkripsi melalui ponsel milik Anggi. "Aku baru saja keluar dari area kedatangan bandara. Temui aku sekarang juga di Hotel Ritz," perintahku dengan nada rendah, sembari melangkah cepat ke lobi luar dan melambaikan tangan pada sebuah taksi perak yang tengah melintas. "Baiklah, aku akan segera meluncur ke sana." Aku langsung menyusup masuk ke dalam kabin taksi begitu mobil itu berhenti tepat di hadapanku. "Jangan lupa, pesan kamar eksekutif itu atas nama pribadimu, Bel. Jangan gunakan identitas dan akunku." "Aku mengerti, serahkan padaku." "Satu lagi," aku menahan napas sejenak sebelum melanjutkan. "Ajak juga teman kencan barumu yang seorang jurnalis itu. Aku butuh bantuannya untuk melancarkan rencanaku." "Baiklah, Elianore. Sampai bertemu di san
Anggi langsung mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di dada. Dalam sekejap, rona wajahnya berubah menjadi panik dan dipenuhi ketakutan melihat intimidasi pria asing tersebut. Aku langsung bangkit dari kursi, lalu mengulas senyum ramah yang dibuat-buat pada pria gemuk itu. "Ah, iya, Tuan. Silakan duduk, aku akan segera pindah." Aku melirik ke arah Anggi sebentar dengan tatapan penuh arti sebelum melangkah pergi meninggalkan area kabin ekonomi. Di dalam hati, aku penuh harap dan menghitung mundur; wanita itu pasti akan bangkit dan memanggilku kembali. Dan benar saja. Hanya dalam selang waktu dua detik, lengkingan suaranya yang memanggilku terdengar memecah koridor lorong. "Nona! Tunggu!" Aku menghentikan langkah kaki sembari menyembunyikan senyum lebar, lalu perlahan berbalik menghadapnya dengan raut wajah yang seolah-olah bersimpati. "Bolehkah aku ikut denganmu ke depan?" ucap Anggi dengan wajah yan
Ia mengangkat anjingnya tinggi-tinggi di atas kepala sembari tersenyum lebar ke arahku. "Namaku Anggi." "Kau sedang dalam perjalanan liburan?" Anggi menggelengkan kepalanya kecil. "Tidak. Aku mau menyusul kekasihku yang bekerja di Kanada." Kanada? Sebuah kebetulan yang luar biasa. Kami memiliki rute penerbangan yang sama. "Ah, sepertinya aku harus masuk duluan, ya? Pesawatku akan segera melakukan persiapan lepas landas," ucap Anggi sembari berdiri tegak, lalu berjalan terburu-buru menuju lorong gate keberangkatan internasional. Ternyata jadwal keberangkatannya adalah sekarang. Sepertinya kami memang berada di dalam manifes penerbangan yang sama menuju Nordik. Tak lama kemudian, langkah kaki Levin terdengar mendekat. "Ini tiket dan dokumen penerbanganmu, Nona Eli. Cepatlah masuk ke dalam gate. Pesawatmu akan segera berangkat dalam waktu lima belas menit."
Aku tertawa singkat, tawa getir yang berbaur dengan sisa air mata yang menetes melewati daguku. Aku terdiam selama beberapa detik di hadapannya, sekuat tenaga berusaha mengatur ledakan emosi yang bergemuruh hebat di dalam dada. Aku mengembuskan napas berat. Jemariku bergerak kasar mengusap sisa air mata di pipi sambil membuang muka ke arah lain. "Baiklah... jika itu keputusanmu, Nikolai." Aku kembali menatapnya. Kini, jemariku mengepal erat di sisi tubuh, membalas sorot matanya dengan bibir yang bergetar tanpa ada lagi air mata yang meluncur. "Mulai hari ini, kau, Nikolai Petrov... hanya akan menjadi kakak tiriku. Dan aku, Elianore Wyss, adalah adik tirimu. Tidak lebih dari itu." Nikolai masih membeku di tempatnya. Ia menatapku dengan kilat wajah yang sedingin es, persis seperti tatapan kejam yang kulihat satu tahun silam di tengah kegelapan hutan rimba. "Aku menarik kembali... seluruh perasaan cinta yang pe
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews