LOGIN(CERITA MENGANDUNG KEKERASAN DAN ADEGAN RANJANG 21+. HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN.) Demi bertahan hidup, aku terpaksa menghabisi Nikolai Petrov, bos mafia yang menculikku, hanya untuk melihatnya bangkit dari kematian sebagai kakak tiriku. Ia hadir menyusup ke dalam keluargaku dengan dendam membara, berjanji untuk menyiksaku perlahan sebagai balasan atas darah yang kutumpahkan. Namun di balik ancaman mautnya, batas antara keinginan untuk menghancurkanku dan hasrat untuk memilikiku mulai terkikis menjadi obsesi yang berbahaya. Lalu, bagaimana perjalanan hidupku dalam belenggu cinta sang mafia?
View MoreAku merasakan jemari beruratnya mencengkeram tanganku yang mungil, memaksaku untuk menoleh dan menatap matanya yang sedingin es.Nikolai menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum kemenangan yang membuat darahku mendidih. Aku mencoba menarik tanganku sekuat tenaga, namun cengkeramannya justru semakin mengunci, seolah ingin mengingatkanku siapa yang memegang kendali di sini."Lepaskan tanganku..." bisikku lirih, nyaris tak terdengar.Ia hanya memiringkan kepala, ekspresinya tampak menjengkelkan sekaligus menantang. Ia tidak butuh kata-kata untuk mengatakan bahwa perintahku sama sekali tidak berarti baginya."Baiklah... kalau begitu aku tunggu kalian di bawah, ya. Cepatlah turun, Ayah kalian sudah menunggu di meja makan," ucap Bibi Sofia dari ambang pintu.Begitu sosok Bibi Sofia menghilang dan suara langkah kakinya menjauh, Nikolai langsung menyentak tanganku. Dalam satu gerakan brutal, ia menarikku hingga aku jatuh terjerembap ke dalam dekapannya yang keras."Nikol! Apa yang kau lakukan?
"Nikol... sekarang aku adalah adikmu. Tidak bisakah kita berdamai saja?" bujukku dengan suara bergetar, mencoba mencari celah waras di matanya. "Aku berjanji akan menjaga rahasiamu di depan Ayah dan Bibi Sofia. Aku tidak akan bicara apapun!"Nikolai terkekeh rendah, suara yang lebih mirip geraman predator daripada tawa manusia. Ia menatapku dengan mata sedingin es. "Apa kau pikir aku masuk ke keluarga ini hanya untuk mencari kehangatan rumah tangga?"Aku terperangah, menatapnya dengan air mata yang terus merembes. "Kau... sengaja mendekati keluargaku?"Ia kembali menyunggingkan senyum miring, lalu mengusap bibir bawahku dengan ibu jarinya yang kasar. Sentuhan yang mengintimidasi. "Tentu saja," sahutnya dengan nada mematikan."Sejak aku terbangun di rumah sakit dengan luka tembak di dada, hanya wajahmu yang memenuhi kepalaku."Ia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah benda kecil yang membuat jantungku mencelos. Name tag kedokteranku. Pantas saja aku tidak menemukannya di manap
Duniaku runtuh seketika. Tubuhku membeku, kaku seperti batu. Aku menoleh perlahan ke arah pria yang baru saja muncul dari dalam rumah. Kelopak mataku tak sanggup berkedip, napasku tercekat di kerongkongan, dan peluh dingin mulai membanjiri pelipisku.Pria itu berdiri di sana. Dengan seringai tipis yang sangat kukenali—senyum miring yang menghiasi wajah tampan namun mematikan itu di tengah hutan enam bulan lalu.Tidak. Ini pasti halusinasi terburukku. Tidak mungkin Nikolai adalah iblis yang seharusnya sudah membusuk di dalam tanah."Hai, Adik. Perkenalkan, namaku Nikolai..." ucapnya dengan seringai dingin sembari mengulurkan tangan.Aku masih membeku. Seluruh sendiku seolah terkunci, enggan diperintah untuk bergerak. Mataku terpaku pada wajah itu—wajah yang seharusnya sudah membusuk di bawah tanah hutan enam bulan yang lalu."Eli... Kau tidak menerima jabatan tangan kakakmu?" Suara Ayah terdengar khawatir, namun di telingaku, suara itu seolah bergema dari kejauhan, teredam oleh denging
Aku menggumamkan nama itu pelan. Aneh sekali. Entah kenapa, hanya dengan menyebut nama itu, seluruh bulu kudukku berdiri dan dadaku terasa sesak secara tiba-tiba.Rasanya seperti ada sesuatu yang gelap sedang menungguku di balik pintu kepulanganku.Setelah menyelesaikan seluruh urusan administrasi kelulusan yang melelahkan, keesokan harinya aku langsung terbang menuju tanah kelahiranku, Swiss.Tepat pukul 14:23 CEST, roda pesawat menyentuh landasan pacu di kota Ravenstain. Namun, saat kakiku melangkah keluar dari gerbang kedatangan bandara, sebuah sensasi ganjil menghantam dadaku. Jantungku tiba-tiba terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarku mendadak menipis. Langit Ravenstain yang semula cerah benderang, seketika tampak meredup di mataku."Ada apa ini? Kenapa jantungku..." Aku bergumam lirih sembari mencengkeram dada kiri. Debarannya tidak beraturan, liar, dan menyakitkan.Lalu, aroma itu muncul. Bau tanah basah yang pekat dan amis besi yang samar menguar di udara. Aroma yan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.