TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA

TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA

last updateLast Updated : 2026-04-09
By:  Libra SyafarikaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

(CERITA MENGANDUNG KEKERASAN DAN ADEGAN RANJANG 21+. HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN.) Demi bertahan hidup, aku terpaksa menghabisi Nikolai Petrov, bos mafia yang menculikku, hanya untuk melihatnya bangkit dari kematian sebagai kakak tiriku. Ia hadir menyusup ke dalam keluargaku dengan dendam membara, berjanji untuk menyiksaku perlahan sebagai balasan atas darah yang kutumpahkan. Namun di balik ancaman mautnya, batas antara keinginan untuk menghancurkanku dan hasrat untuk memilikiku mulai terkikis menjadi obsesi yang berbahaya. Lalu, bagaimana perjalanan hidupku dalam belenggu cinta sang mafia?

View More

Chapter 1

BAB 1 SAKSI TAK DIUNDANG

"Maafkan aku, Tuan. Tolong, jangan bunuh aku!" Suara parau pria di sampingku pecah, melengking dalam keputusasaan.

Amis darah dan bau tanah basah yang pekat memaksa indra penciumanku untuk menghirupnya. Aku melirik pada pria itu sejenak, saat terik matahari berhasil menyinari wajahnya yang pucat dan basah dengan keringat.

Beberapa menit yang lalu, aku baru saja berhasil mengeluarkan seonggok peluru dari lengan kekar pria tampan yang saat ini masih duduk di hadapanku.

Sekumpulan pria berbadan besar yang berjejer di belakang pria naas itu, memanggilnya "Bos".

Aku pikir hari sialku akan segera usai. Namun ternyata, mereka memaksaku melihat pertunjukan mengerikan, seorang pria dengan perawakan paruh baya dan masih mengenakan setelan jas mewah tengah berlutut gemetar di tepi lubang besar yang menganga.

Tangannya terikat ke belakang, punggungnya melengkung pasrah menghadap liang lahat yang mungkin sengaja digali khusus untuknya.

"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, Tuan. Aku tidak akan mengkhianati Anda lagi!" rintihnya, air mata dan keringat bercampur aduk di wajahnya yang suram.

Aku bisa merasakan setiap sendi di tubuhku melembek, seolah tulang-tulangku berubah menjadi jeli. Entah sial apa yang menimpaku semalam.

Sebagai mahasiswi kedokteran, aku terbiasa melihat darah, tapi bukan darah dari luka tembak yang didapat dari baku tembak nyata.

Aku ditugaskan magang di wilayah pelosok ini, lalu diculik, mataku ditutup, dan dibawa ke tengah hutan entah di mana. Hanya untuk mengobati satu orang.

"Tidak akan mengulangi lagi?" Suara rendah dan tajam sang pemimpin mafia terdengar mengulang kalimat itu dengan senyum miring yang kejam.

Wajahnya terpahat sempurna, luar biasa tampan dengan rahang tegas, namun tatapannya sedingin es dan sekosong jurang tanpa dasar. Tidak ada belas kasih di sana.

"Sudah berapa kali kau membocorkan rencanaku pada musuh?" lanjutnya, penekanan dari suaranya mampu membuat bulu kudukku berdiri. Ia tidak berteriak, tapi otoritas dalam suaranya jauh lebih mengerikan dari guntur.

"T-tidak, Tuan. A-aku tidak sengaja..." Pria itu tergagap, tubuhnya bergetar hebat hingga suaranya nyaris tak terdengar di antara deru angin siang yang bergesekan dengan daun-daun kering.

Si bos mafia di hadapanku ini hanya tersenyum tipis. Kontras yang mengerikan. Sementara satu orang sedang mengemis nyawa di ambang lubang kubur, ia tetap duduk tenang sambil mengulurkan satu tangannya padaku untuk dibalut, seolah tak tersentuh oleh drama di samping kami.

"Kau bilang tidak sengaja?" Nada suaranya sedikit naik, tapi cukup untuk membuat pria itu tersentak seolah dicambuk. "Apa kau tidak sadar aku hampir mati karenamu?!"

Pria malang itu membungkuk berkali-kali hingga keningnya membentur gundukan tanah liat di hadapannya. "Maafkan aku, Tuan! Ampun!"

Sunyi sejenak, hanya terdengar suara napas memburu si korban dan desau angin. Tak berselang, seorang anak buah mafia yang berdiri di belakang pria itu bergerak. Sebuah tendangan brutal bersarang di punggung pria yang berlutut itu. Suara tulang yang bergeser atau patah terdengar, disusul jeritan singkat saat tubuhnya terjungkal, jatuh terperosok ke dalam lubang gelap di depannya.

"Eksekusi," perintah sang pemimpin, dingin tanpa emosi.

Keheningan hutan pecah seketika. Rentetan tembakan menggema, memekakkan telinga. Aku bahkan bisa mencium bau mesiu yang menyengat, bercampur dengan bau besi dari darah yang baru tertumpah.

Bayangan siluet pria di dalam lubang itu tersentak-sentak seiring peluru menghujam tubuhnya berkali-kali, hingga akhirnya diam tak berkutik.

Suara letusan itu membuat seluruh sistem sarafku lumpuh. Detak jantungku berpacu seperti genderang perang, menghantam dadaku sendiri.

Dalam kengerian yang melumpuhkan itu, tanpa sadar tanganku yang tengah mengganti perban meremas luka tembak di lengan sang pemimpin mafia dengan kekuatan penuh.

Darah segar merembes cepat, mewarnai perban putih menjadi merah pekat.

Aku mematung. Waktu seolah berhenti.

Perlahan, pria menyeramkan itu menoleh padaku. Tatapannya menajam, menusuk langsung ke dalam sukmaku, seolah ia bisa melihat betapa ketakutannya aku di dalam hutan mengerikan itu. Matanya bak bilah pisau yang siap menguliti kecerobohanku kapan saja.

"M-maaf..." bisikku, suaraku tercekat di tenggorokan yang kering.

Aku bergegas melepaskan remasanku setelah sempat saling bertatapan dengannya, lalu mengganti perban itu kembali dengan tangan yang bergetar hebat. Peluh dingin membasahi punggungku.

Tuhan... Kenapa aku harus terjebak di sini? Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.

Logikaku sebagai calon dokter berusaha mengambil alih, memberitahuku untuk tetap tenang demi menyelesaikan tugas, tapi rasa takutnya terlalu dominan. Dengan tangan gemetar, aku berusaha menutupi luka itu lagi.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang terasa sangat dingin di kulitku mengangkat daguku pelan, memaksaku untuk menatap mata gelapnya yang mematikan.

"Apa... kau orang Italia asli?" tanyanya. Nadanya ramah, namun terdengar seperti ancaman yang mematikan.

"T-tidak, Tuan. Aku... aku berasal dari Swiss," sahutku dengan napas tersengal, dadaku naik turun tak beraturan karena situasi ini.

Bos mafia itu menaikkan satu alisnya, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya yang kaku. "Sayang sekali. Mata cantikmu ini... harus melihat semua kekejaman ini."

Entah apa maksudnya. Tapi kata-katanya tidak terdengar seperti pujian di telingaku. Itu terdengar seperti pengumuman bahwa keindahanku tidak mampu menyelamatkanku dari kematian.

"Bos. Aku akan menghabisi wanita itu sekarang juga." Suara keras dari anak buah di belakangku terdengar. Ia bersiap mengangkat pistol dan mengarahkannya padaku.

Aku reflek berdiri dengan tubuh bergetar—bersiap melarikan diri. Namun dengan cepat bos mafia ini menangkap tanganku.

Perlahan, ia beranjak berdiri sambil menatapku dengan senyum miringnya yang khas. Sosoknya menjulang tinggi, mendominasi pandanganku, membuatku merasa semakin kecil dan tak berdaya.

Aku menggeleng cepat sambil berusaha melepas genggaman tangannya. "Aku mohon, biarkan aku pergi..."

Ia tak menjawab dan justru menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya yang tipis. Seorang anak buahnya mendekat—menyalakan korek untuknya. Bos mafia itu menghisap rokoknya dalam, lalu membuang asapnya tepat di wajahku.

"Kenapa kau sangat terburu-buru, Nona..."

Aku seketika terbatuk, lalu mengibas asap yang menghalangi pandanganku. Dalam sekejap, wajah tampan yang menakutkan itu kembali telihat jelas, membuat tubuhku seketika terdorong mundur.

"Kau tinggal sendirian di sini?" lanjutnya, memandang remeh ke arahku.

"I-iya, Tuan..." jawabku sambil menunduk, tak berani menatap matanya.

Namun, mataku terus melirik waspada ke arah anak buahnya yang sejak tadi mengacungkan pistol ke arahku.

Pria itu terdiam sejenak, membiarkan keheningan hutan dan suara napasku yang memburu mengisi udara. "Jadi... jika kau menghilang, tidak akan ada yang mencarimu, bukan?"

Aku seketika mengangkat wajah, menatapnya sambil menggeleng cepat. Bumi serasa berhenti berputar di bawah kakiku. Air mata, yang sedari tadi kutahan, akhirnya luruh membasahi pipi. Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di dada.

Tidak. Dia akan membunuhku. Dia akan membuangku ke lubang itu seperti anjing.

Ketakutan itu memberiku kekuatan semu. Aku menggenggam tangannya dengan erat. "Apa maksud Anda? Aku baru saja menyelamatkan nyawa Anda, Tuan," ucapku, berusaha meyakinkan, meski suaraku nyaris hilang di tenggorokan.

Ia kembali menghisap rokoknya dengan tenang, seolah eksekusi barbar yang baru saja terjadi tidak lebih penting dari rasa tembakau di lidahnya.

Ia merapatkan jarak diantara kami, lalu kembali meraih daguku dengan ujung jari dinginnya. "Kau memang sudah menyelamatkan nyawaku," bisiknya, suaranya sedingin salju di kutub utara. "Tapi peraturan kami tegas, tidak boleh ada saksi mata."

Itu adalah vonis mati.

Refleks, aku berlutut sambil memeluk kakinya, menangis tersedu-sedu. "Aku janji akan merahasiakan semuanya. Mulutku bisu, mataku buta! Aku tidak melihat apa-apa! Tolong jangan bunuh aku, Tuan. Ayahku... Ayahku sendirian di rumah. Aku anak satu-satunya. Aku mohon, jangan bunuh aku..."

Pria itu menarik tanganku keras, memaksaku berdiri tepat di hadapannya. Jarak kami begitu dekat. Aku bisa mencium aroma rokok bercampur parfum maskulin serta aroma tembaga dari darahnya sendiri.

Jemarinya yang kasar menelusuri garis rahangku dengan pelan, sebuah sentuhan yang lebih menakutkan daripada hunjaman pisau.

"Cantik..." Dia memujiku. Kali ini, nadanya berbeda. Itu adalah pujian yang tulus, tapi justru itu yang membuatnya terasa semakin mengerikan. "Tapi sayang... wajah cantikmu ini tidak akan berguna lagi sekarang."

Di tengah keputusasaan ini, naluri bertahan hidupku bekerja cepat, memutar otak mencari cara apapun untuk menyelamatkan diri. Tak peduli meski harus mengorbankan moralitas. Setitik harapan, harus aku manfaatkan untuk menyelamatkan diri.

"Jadikan aku teman tidurmu," ucapku reflek, membuatnya seketika mengernyitkan dahi. "Kau mengagumi wajahku, bukan? Aku berguna untuk memberimu kepuasan di ranjang."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status