MasukRoberto menceraikan istrinya bukan karena cinta yang mati, melainkan karena kekuasaan yang menuntut kepatuhan. Atas perintah ibunya, Rebecca... istri yang ia nikahi karena cinta, harus disingkirkan dari hidupnya. Padahal dari pernikahan mereka, lahirlah seorang putra yang menjadi alasan Roberto tetap menjalani hidup. Tanpa kesalahan yang terbukti, Rebecca dipaksa menanggung kebencian keluarga suaminya. Ia dihancurkan secara perlahan, dijauhkan dari suami dan anaknya hanya karena dianggap tak pantas berdiri di sisi pria berkuasa. Ketika cinta, darah, dan dendam, saling bertabrakan, mampukah Roberto mempertahankan sumpah pernikahannya... atau justru menjadi pria yang menghancurkan ibu dari anaknya sendiri?
Lihat lebih banyakBau antiseptik menyusup perlahan ke dalam kesadaran Rebecca, menusuk hidungnya bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka. Cahaya putih rumah sakit terlalu terang, menekan kelopak matanya yang bengkak dan perih. Tubuhnya terasa berat, seperti baru saja ditarik kembali dari laut setelah nyaris tenggelam. Nyeri di perut bagian bawah masih terasa tajam, jahitan bekas operasi berdenyut setiap kali ia menarik napas.
Tetapi, di balik semua rasa itu, ada satu suar yang membuatnya bertahan. Tangisan kecil... tidak keras, tidak kuat, namun hidup. Air mata Rebecca keluar tanpa ia sadar. Tenggorokannya tercekat, dadanya terasa penuh. "Jourell..." Namanya keluar pelan, seperti doa yang terlalu rapuh untuk diucapkan dengan suara lantang. Putranya, anak yang ia bawa selama sembilan bulan penuh kecemasan, ketakutan, dan doa yang tidak pernah putus. Di samping ranjangnya, Elion berdiri kaku, kedua tangannya merengkuh bayi itu dengan hati-hati seolah makhluk kecil dalam pelukannya bisa hancur jika ia bernapas terlalu keras. Wajah pria itu pucat, matanya merah, rahangnya menegang menahan emosi yang belum sempat keluar. "Aku takut meremukkan nya," gumam Elion nyaris berbisik. Rebecca memaksakan senyum. Bibirnya pucat, seluruh panca inderanya seperti mati rasa, namun suaranya tetap lembut. "Pegang dia lebih erat, El. Dia bukan kaca." Elion menurut. Tangannya menyesuaikan posisi, dan untuk sesaat, bayi itu berhenti menangis. Jari-jari mungil Jourell bergerak tanpa arah, menyentuh udara, seperti sedang mencari sesuatu yang masih asing. Elion menunduk, napasnya tertahan. "Kau hebat," katanya pelan. "Aku melihatmu hampir kehilangan kesadaran... dan aku tidak bisa melakukan apa-apa." Rebecca tidak menjawab. Ia tahu satu hal yang pasti: bertahan hidup bukan pilihan baginya. Itu adalah kewajiban. Ia sudah pernah kehilangan segalanya sekali dan sekarang ia takkan mengulanginya. Ponsel di meja kecil dekat jendela bergetar. Elion meraih dan membaca pesan singkat. "Orang tuamu sudah di jalan," katanya. "Lima jam lagi." Rebecca mengangguk pelan, untuk sepersekian detik, ia merasa begitu aman, terlindungi. Dikelilingi cahaya, tenaga medis, dan orang-orang yang mencintainya. Ia tidak menyadari bahwa rasa aman yang sekarang memenuhi hatinya hanyalah ilusi. --- Di luar rumah sakit, sebuah mobil hitam terparkir tanpa lampu. Mesinnya tetap menyala hampir tanpa suara. Di kursi belakang, Roberto duduk dengan punggung tegak, memakai jas rapi dan wajahnya dingin. Tatapannya tidak kelas dari gedung rumah sakit di seberang jalan. Ia sudah berada di sana sejak Rebecca dibawa masuk ke ruang bersalin. Tujuannya bukan menjenguk, tapi menunggu. "Tim sudah siap," lapor Darwin dari kursi depan. "Pergantian perawat malam. Jadwal longgar. CCTV koridor mati tiga menit." Roberto mengangguk pelan. "Bayinya?" Darwin memakai sabuk pengamannya, "Di ruang perawatan." sedangkan Roberto bersiap turun. "Bagus." tidak ada emosi di suaranya. "Anak itu tetap di sana." Darwin menoleh, keraguan merayap di punggungnya, "Dan Rebecca?" Roberto menatap lurus ke depan. "Bersamaku." jawabnya tanpa ragu, tanpa bantahan. --- Rebecca baru saja selesai menyusui Jourell saat pintu diketuk. Seorang perawat masuk sambil tersenyum ramah. "Bu Rebecca, kami perlu membawa bayi Anda untuk pemeriksaan lanjutan." Elion reflek berdiri, "Aku ikut." perawat itu menoleh, "Maaf tuan. Prosedur rumah sakit-" Rebecca mengangguk lemah, menyentuh lengan suaminya. "Tidak apa-apa. Istirahatlah.." Elion mencium kening istrinya sebelum menyerahkan Jourell. Pintu tertutup bersama mereka berdua. Rebecca menghela napas panjang, menatap langit-langit putih. Badannya masih gemetar efek kelelahan. Matanya mulai menutup, tak sadar bahwa dunia telah berubah. Sayup-sayup, langkah kaki terdengar berat, pelan, dan terlalu yakin. Wanita itu membuka mata, mengetahui gejolak aneh singgah sesaat di dadanya. Rebecca membuka mata. Seorang pria berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlalu familiar, terlalu menghantui. Napas Rebecca memburu, dadanya terasa menyempit dan jantungnya seakan menolak berdetak. "Roberto..." Pria itu melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Bunyi klik kecil terdengar seperti vonis. "Apa yang kau lakukan di sini?" suara Rebecca bergetar. Ia mencoba duduk, namun tubuhnya menolak. Ranjang ini tiba-tiba terasa seperti penjara. "Kau ikut denganku," kata Roberto tenang. "Keluar." Rebecca menggeleng panik. "Keluar sekarang." Roberto mendekat, terlalu dekat. Tatapannya dingin, kosong, tanpa rasa. "Kau tidak sedang bisa memberi perintah." "Aku sudah menikah!" Roberto menunduk, menyamakan posisinya dengan Rebecca. "Kau ibu dari anakku." Rebecca mencoba mundur meski rasa perih itu datang. "Kau menceraikanku!" "Aku tidak pernah melepaskanmu." tangannya meraih lengan Rebecca. Tidak kasar, tapi juga tidak lembut... tepat di batas yang membuatnya mustahil melawan. "Jourell-" suaranya pecah. "Bukan urusanku." Rebecca menjerit, tapi suara itu teredam dengan tangan Roberto. Dunia terasa berputar, cahaya lampu, pintu, dan lorong mendadak gelap. Dalam hitungan detik, kamar itu kosong. --- Perawat kembali 10 menit kemudian, teriakannya lolos begitu melihat kamar itu kosong. Reaksinya membuat Jourell yang tidur, dipaksa bangun hingga menangis kencang. "Ibu Rebecca?!" perawat wanita itu panik, ia meletakkan Jourell yang masih menangis di boks bayi, setelah itu membuka kamar mandi. Tapi ada bekas noda darah yang tertinggal di ranjang tapi hilang saat di lantai. Elion kembali dan langsung berlari begitu mendengar tangisan anaknya. Ia menghampiri perawat yang menangis pelan, menimbulkan kegaduhan koridor. "Di mana istriku?!" perawat itu menggeleng, ia menunjuk ranjang. "Pak Elion... saat saya kembali, ranjang ibu Rebecca sudah kosong, bahkan ada bekas darah di sana." jawabnya takut. Elion memeriksa sendiri, ada jejak merah yang terseret di lantai granit, seolah-olah Rebecca dipaksa pergi sebelum tubuhnya benar-benar mampu menumpu beratnya sendiri. Ia juga membuka jendela kamar dan menemukan siluet mobil yang menghilang. "Rebecca!" teriaknya akhirnya, tapi apa daya semua sudah terlambat. Elion merasa dunianya runtuh dalam satu kedipan mata. Aroma Rebecca masih tertinggal di bantal, tapi pemiliknya telah lenyap ditelan kegelapan malam. Pria itu segera menelepon seseorang seperti baru saja kehilangan kewarasannya. --- Di dalam mobil, Rebecca terbaring lemah. Napasnya tersengal, air mata mengalir tanpa suara. Roberto duduk di sampingnya, menggenggam tangannya terlalu erat. "Kau akan pulang," katanya. Rebecca menatapnya dengan kebencian. "Ke neraka." Roberto tersenyum tipis. "Itu rumahku." ***Raung sirene ambulans mendadak mati tepat ketika roda-roda kendaraan medis itu membelah area drop-off Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit St. Mary's. Bahkan sebelum pintu belakang terbuka lebar, Dr. Christopher bersama tim bedah trauma terbaik rumah sakit sudah berbaris siaga. Instruksi langsung dari Justin dan Margareth beberapa menit lalu telah menggerakkan seluruh lini prioritas tertinggi di fasilitas medis tersebut. "Buka pintunya! Sekarang!" Pintu ambulans dihentakkan. Pemandangan di dalamnya seketika membekukan udara malam itu. Suara ritmis dari portable monitor berbunyi nyaring, diselingi desis bag-valve mask yang dipompa secara manual oleh paramedis. Tandu dorong diturunkan dengan manuver cepat. Willy, dengn pakaian yang basah kuyup dan ternoda darah, ikut merangsek maju, memegang sisi besi tandu seraya berlari menyusuri koridor steril. Di sisinya, Darwin bergerak terpisah menuju konter pendaftaran, menyelesaikan seluruh proses administrasi darurat tanpa membuang sat
Gerimis yang belum reda menemani perjalanan SUV yang dikemudikan Roberto menuju townhouse. Tidak ada alunan musik atau pun percakapan taktis, Hanya ada suara bilah wiper yang bergerak ritmis menghapus rintik air di kaca depan. Sesekali kilat menyambar di atas langit London, memantulkan bayangan redup di dalam kabin.Bayangan kondisi SUV Elion yang ringsek parah dan tubuhnya yang dibawa ambulans menuju Rumah Sakit St. Mary's terus memenuhi ruang pikiran Roberto. Jemarinya mencengkeram lingkar kemudi semakin kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.Setiap denyutan jantung membuat luka di pelipis kirinya kembali berdenyut nyeri. Perban putih yang melingkari kepalanya semakin lembap, entah oleh keringat atau sisa air hujan yang belum sempat mengering. Tetapi Roberto bahkan tidak mengangkat tangan untuk memeriksanya. Rasa sakit itu nyaris tidak berarti dibanding beban yang sedang menunggunya di depan.'Bagaimana... Bagaimana bisa aku mengatakan semua ini padanya?' monolog Robe
Roberto menurunkan ponselnya perlahan dari telinga. Jemarinya yang selalu mantap dan tidak pernah bergetar, kini nampak gemetar nyaris tak terlihat. Pandangannya kosong menembus lantai marmer ruang kerja mansion yang dingin, seolah pikirannya masih tertinggal pada kalimat pendek yang baru saja ia dengar dan ucapkan.'Elion mengalami kecelakaan.'Kalimat itu terasa begitu asing, bahkan bagi dirinya sendiri. Ia menarik napas panjang yang dalam, mencoba menguasai paru-parunya, namun dadanya tetap terada sesak.Tanpa membuang waktu, Roberto segera berbalik meninggalkan ruang kerja menuju ruang keluarga Mansion Utama. Langkah kakinya cepat namun terasa sangat berat. Semakin ia melangkah, semakin sulit ia membayangkan bagaimana raut wajah Rebecca saat mendengar kabar yng sanggup meruntuhkan dunia wanita itu.Cklek.Pintu ganda ruang keluarga terbuka. Justin Serphent yang sedang berdiri tegak di dekat perapian langsung menoleh. Sedangkan Margareth masih duduk anggun di sisi sofa tempat Richa
Disisi utara London, tiga SUV hitam besar milik Serphent membelah keheningan pelataran Mansion Utama yang kaku. Roberto turun lebih dulu, langkahnya tegap meski perban di pelipisnya terus berdenyut nyeri. Di belakangnya, pengawal pribadi Justin menggendong Richard yang terlelap karena kelelahan emosional. Pintu ganda mansion terbuka lebar, menampilkan siluet tinggi Margareth Serphent dengan gaun beludru gelapnya yang anggun namun dingin. Wanita paruh baya itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kakinya perlahan mendekati pengawal. Dengan kedua tangannya sendiri, ia mengambil alih tubuh kecil Richard dari gendongan pengawal. Margareth membawa Richard ke sofa panjang ruang keluarga. Meletakkannya dengan sangat hati-hati, lalu menyelimuti tubuh cucunya dengan kain wol hangat. Roberto berdiri diam di dekat perapian, mengawasi gerak-gerik Ibunya. "Dia aman, Ibu. Richard tidak disentuh oleh mereka," ucap Roberto memecah kesunyian. Margareth tetap diam. Ia hanya mengusap lembu
Cahaya matahari sore London yang pucat menembus jendela berlapis baja di kamar utama mansion Victoria. Rebecca masih terbaring lemah, matanya menatap hampa ke langit-langit kamar yang berhias ukiran rumit. Rasa nyeri di perutnya kini mulai tertutupi dengan rasa kaku dan panas dari dadanya yang kian
London di pagi buta selalu terasa mencekam, namun hal itu tidak berlaku bagi Henry dan Eleanor Foster. Kabut yang menyelimuti area Paddington pagi itu terasa seperti pelukan hangat. Mereka turun dari taksi hitam, membawa tas kain berisi pakaian bayi dan termos sup ayam yang masih mengepul."Pelan-p
Langkah kaki pelan terdengar dari balik pintu. Roberto menoleh saat seorang pria berusia lima puluhan masuk membawa tas medis hitam. Rambutnya sudah memutih di pelipis, wajahnya kaku, jelas tidak nyaman berada di tempat itu. "Apa kau sudah gila, Roberto?" suara Christopher direndahkan, amarahnya m
Bau antiseptik menyusup perlahan ke dalam kesadaran Rebecca, menusuk hidungnya bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka. Cahaya putih rumah sakit terlalu terang, menekan kelopak matanya yang bengkak dan perih. Tubuhnya terasa berat, seperti baru saja ditarik kembali dari laut setelah nyaris tengg












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.