Mag-log inRoberto menceraikan istrinya bukan karena cinta yang mati, melainkan karena kekuasaan yang menuntut kepatuhan. Atas perintah ibunya, Rebecca... istri yang ia nikahi karena cinta, harus disingkirkan dari hidupnya. Padahal dari pernikahan mereka, lahirlah seorang putra yang menjadi alasan Roberto tetap menjalani hidup. Tanpa kesalahan yang terbukti, Rebecca dipaksa menanggung kebencian keluarga suaminya. Ia dihancurkan secara perlahan, dijauhkan dari suami dan anaknya hanya karena dianggap tak pantas berdiri di sisi pria berkuasa. Ketika cinta, darah, dan dendam, saling bertabrakan, mampukah Roberto mempertahankan sumpah pernikahannya... atau justru menjadi pria yang menghancurkan ibu dari anaknya sendiri?
view moreDarwin melangkah cepat menyamakan ritme langkah Roberto yang lebar dan penuh amarah yang tertahan. Ia menyerahkan tablet digital yang menampilkan titik koordinat radar terupdate. "Helikopter itu mendarat di sebuah properti pribadi tersembunyi di wilayah pesisir Cornwall, Tuan. Sesuai dugaan Anda, Adam Ravenscroft sudah menyiapkan segalanya di sana. Tempat itu dijaga ketat, dan kami menduga mereka akan menyembunyikan Eliza dan Frederick di sana sampai situasi pengadilan mendingin," Roberto menghentikan langkahnya tepat di depan lift khusus. Dia tidak melihat ke arah tablet, melainkan menatap lurus pada pantulan dirinya di pintu lift logam yang mengkilap. Sepasang matanya menyipit, memancarkan kebengisan murni seorang Serphent. "Adam sengaja melarikan mereka agar publik tidak melihat skandal perselingkuhan murahan," suara Roberto rendah namun sanggup membuat bulu kuduk Darwin meremang. "Pria tua licik itu ingin menyusun narasi melodrama romantis. Dia ingin Eliza keluar sebagai w
Cklek. Suara pintu membuat Margareth dan Rebecca kompak menoleh. Begitu pandangan mereka bertemu, Margareth langsung mematung. Rasa malu yang besar menyergap dirinya. Ia tertangkap basah oleh putranya sendiri dalam kondisi yang paling hina dan menyedihkan. Tapi, naluri keibuan Margareth yang selama ini tertutup oleh ambisi, mendadak keluar murni ketika ia menatap wajah Roberto secara detail. Dari jarak dekat begini, Margareth bisa melihat dengan jelas lingkaran hitam yang pekat di bawah mata putranya. Wajah pria itu sangat kuyu, letih, dan menyimpan beban yang sangat berat. Putranya yang dulu selalu gagah dan tak tersentuh, sekarang nampak seperti pria yang sedang sekarat karena menanggung kekacauan yang diciptakan oleh ibunya sendiri. "Roberto..." suara Margareth bergetar menahan rasa bersalah yang semakin mencekik lehernya. Roberto tidak menjawab. Suara ketukan sepatu pantofelnya terdengar berbobot ketika pria itu melangkah lebih jauh ke dalam kamar rawat dengan pembawaan ya
Di kediaman utama Serphent, suasana tidak kalah mencekam dari kamar rawat Richard. Berita mengenai pengkhianatan Eliza dan pengepungan di Windsor sudah sampai ke telinga para petinggi klan, terutama Margareth. Wanita tua yang biasanya selalu tampil anggun dan penuh kendali itu kini duduk mematung di sofa ruang kerjanya. Cangkir teh porselen di tangannya bergetar halus, menciptakan denting kecemasan yang konstan. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap kosong ke arah lantai. Tercengang. Syok. Dan yang paling mendominasi adalah rasa malu yang luar biasa. Eliza—wanita yang dulu ia pilihkan dengan penuh kebanggaan untuk menjadi menantunya, wanita dari dinasti terhormat Ravenscroft yang ia agung-agungkan baru saja menginjak-injak harga diri putranya, Roberto, dengan cara yang paling menjijikkan. "Bagaimana... bagaimana bisa Eliza melakukan hal sehina itu?" suara Margareth bergetar, penuh dengan penolakan. "Dia seorang Ravenscroft! Dia dididik untuk menjaga martabat! Bagaimana bisa dia
BRAAAKKK! Suara tembakan keras terdengar dari arah gerbang depan pondok, disusul dengan hantaman masif pada pintu kayu utama. Pasukan Serphent tidak sekadar mengetuk—mereka datang untuk meruntuhkan seisi rumah di tengah hari kelabu ini. Eliza tidak perlu berpikir dua kali. Seluruh keangkuhan, kelicikan, dan harga dirinya luruh dalam satu detik, digantikan dengan naluri bertahan hidup yang murni. Ia menatap Adam penuh kebencian yang mendalam, tapi kepalanya mengangguk cepat. "Aku pergi," bisik Eliza, suaranya hampir tenggelam oleh suara hantaman pintu di depan. Adam hanya memberikan senyum tipis yang dingin, seolah keputusan Eliza hanyalah gerak bidak catur yang sudah ia perkirakan sejak awal. Tanpa sepatah kata pun, Adam berbalik dan melangkah cepat menyusul Berlina yang sudah lebih dulu menuju pintu belakang, dikawal ketat oleh sisa pasukannya. "Ayo, Eliza! Jalan!" Frederick bangkit berdiri secepat kilat. Ia menyambar pistolnya kembali dari atas meja, kemudian mencengkera
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.