LOGINRoberto menceraikan istrinya bukan karena cinta yang mati, melainkan karena kekuasaan yang menuntut kepatuhan. Atas perintah ibunya, Rebecca... istri yang ia nikahi karena cinta, harus disingkirkan dari hidupnya. Padahal dari pernikahan mereka, lahirlah seorang putra yang menjadi alasan Roberto tetap menjalani hidup. Tanpa kesalahan yang terbukti, Rebecca dipaksa menanggung kebencian keluarga suaminya. Ia dihancurkan secara perlahan, dijauhkan dari suami dan anaknya hanya karena dianggap tak pantas berdiri di sisi pria berkuasa. Ketika cinta, darah, dan dendam, saling bertabrakan, mampukah Roberto mempertahankan sumpah pernikahannya... atau justru menjadi pria yang menghancurkan ibu dari anaknya sendiri?
View MoreBab 39Suasana mobil terasa dingin ketika tidak ada dari mereka yang memulai pembicaraan. Rebecca hanya diam sambil menatap lurus ke depan, melihat deretan mobil dengan pantulan cahaya siang yang menyilaukan di kaca depan. Bahunya masih bergetar, napasnya memburu, ia berusaha mengontrol emosinya. Elion duduk di kursi kemudi, ia tahu diam seperti ini bukan ketenangan. Ini adalah fase sebelum sesuatu pecah.” "Ca—" "Aku sedang menyusunnya." Rebecca memotong, pelan. Suaranya datar, namun ada sesuatu yang bergetar di dalamnya. "Peluru itu... dari Hargrove." ia menjeda sebentar. "Pabriknya terbakar... tepat setelah jalurnya ditemukan." Elion tidak menjawab. Rebecca melanjutkan ucapannya. "Rachel punya akses. Keluarganya yang pegang distribusi—dan sekarang semua bukti itu hilang." Tangannya mengepal di pangkuannya. "Jadi jawab aku, El... ini kebetulan? atau aku yang terlalu bodoh untuk melihat yang sudah jelas?" Keheningan menggantung lama. Elion menarik napas pelan, menatap jalan ko
Menjelang pagi, Rebecca dan Elion pulang ke rumah mereka sebentar. Richard masih tertidur setelah terapi pertamanya yang menyiksa. Kesempatan itu ia gunakan sekarang. Di sana ada keluarga Serphent, terutama Rachel yang dibawa kesana akibat pendarahan karena syok mendapati pabriknya terbakar. "Aku memesan pizza favoritmu, sudah ku telepon dan akan sampai 10 menit lagi." ucap Elion dengan handuk tergantung di leher, mengecup kening rebecca yang baru saja menidurkan Jourell di boks bayi. "Terima kasih. Kau selalu tahu aku ingin makan apa. Akan ku siapkan bajumu." Elion mengangguk lalu menuju kamar mandi. Selesai menyiapkan baju suaminya, perhatian Rebecca perlahan jatuh pada tablet Elion yang menyala di atas kasur—seolah menunggunya sejak tadi. Di layar menampilkan data peluru dan tertulis jelas jalur distribusinya dari Hargrove milik Erdogan. Rebecca membaca dengan seksama. Logistik. Distribusi. Batch peluru. Tangannya bergetar saat menyentuh kursor, ia menutup mulut dengan satu tang
Malam di pinggiran London biasanya hanya menyisakan aroma tanah basah dan kabut tipis. Tapi di dalam gudang utama Hargrove, udara terasa berbeda—berat oleh aroma fermentasi anggur yang manis, tua, dan kini... bercampur dengan bau bensin yang tajam. Frederick berdiri mematung di antara barisan tong kayu ek (oak barrels). Sebuah pemantik perak berkilat di tangannya. Ia menatap label pada salah satu botol wine premium yang berjejer rapi, pikirannya beralih ke perintah Adam Ravenscroft. Bukan soal bisnis, tapi soal kepatuhan. 'Keluarga tidak saling mengkhianati.' Kalimat itu terdengar lagi—lebih keras dari suara apapun di ruangan ini. Untuk sepersekian detik bayangan Eliza saat makan malam muncul—caranya menatap penuh curiga... lalu bagaimana ia memilih percaya. 'Kau meragukanku?' Suara itu memenuhi kepala Frederick. Bukan tuduhan—lebih berbahaya; Kepercayaan. Frederick tahu, jika sesuatu terjadi di tempat ini… semua catatan logistik yang selama ini dicari Darwin akan ikut lenyap. T
Koridor rumah sakit itu begitu ramai oleh suara tangisan Jourell. Bayi yang akan menginjak 3 bulan itu tidak bisa diam meski sudah menghabiskan 1 botol asi Rebecca yang disuapi oleh Emma. Semenjak Richard dirawat, Jourell diasuh olehnya karena Rebecca fokus pada Richard. Dan entah malam ini, tepat saat sesi fisioterapi pertama Richard dimulai, bayi itu tidak mau lepas dari ibunya. "Emma, dia sudah tertidur. Richard membutuhkanku." bisik Rebecca hati-hati. Tangannya terulur ke Emma, namun saat Emma baru memegang ujung selimut Jourell, bayi itu menangis keras membuat raut Rebecca berubah frustasi. "Ssut Jourell sayang, biarkan Mommy bersama kak Richard dulu, oke?" Emma berusaha menenangkan Jourell, tapi Rebecca menggeleng, seolah mengisyaratkan jika Jourell tidak ingin lepas. Elion yang berada di sana pun tidak bisa berbuat apa-apa karena sebelum digendongan Rebecca, ia juga sudah berusaha menenangkan putranya namun nihil. "Sepertinya Jourell merindukanmu. Coba gendong dan tenangk
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.