MasukHari itu, karena Max sudah masuk kantor, aku langsung menemuinya. Rasa penasaran yang kutahan-tahan tak lagi bisa kutekan lebih lama. Kepalaku nyaris meledak karena terus memikirkannya. "Kau pasti tahu siapa orangnya, kan?" Aku langsung melontarkan pertanyaan tanpa banyak basa-basi pada Max. Pria itu berdiri di dekat jendela menatap ke luar beberapa saat sebelum menjawab."Aku memang mencurigai seseorang." Dia menyilangkan tangan di dada. "Dan waktu itu di rumah duka, dia terlihat sangat gelisah setelah menerima telepon.""Siapa?" tanyaku cepat. "Siapa dia?""Dia salah satu dokter di rumah sakit." Max berhenti sejenak. "Namanya Dokter Andrew."Aku langsung tercengang. "Dokter?"Mataku membesar. "Mereka bekerja bersama?"Max mengangguk singkat."Jadi selama ini mereka selingkuh sambil bekerja?"Rasanya sulit dipercaya. Namun semakin kupikirkan, semua semakin masuk akal.Tiba-tiba aku teringat bagaimana reaksi Cindy saat mengetahui hubunganku dengan Sam. Dia memang marah, tetapi tid
Aku spontan duduk lebih tegak dengan tubuh menegang."Tidak. Tidak mungkin...," gumamku tak yakin.Dengan tangan gemetar, aku memutar ulang rekaman itu dari awal.Mendengarkannya sekali lagi.Lalu sekali lagi.Dan sekali lagi.Setiap kali hasilnya tetap sama. Aku tidak salah dengar. Isi percakapan itu benar-benar di luar dugaan. Bahkan setelah mendengarnya berulang kali, aku masih sulit mempercayainya.Karena jika isi percakapan itu benar...Maka banyak hal yang selama ini kuanggap sebagai kebetulan ternyata bukan kebetulan sama sekali.Dan yang lebih mengerikan...Kemungkinan besar seseorang telah berbohong kepada kami semua sejak awal.**Max pulang dari rumah duka keluarga Arsen lebih cepat setelah aku menghubunginya dan memintanya datang menemuiku.Sejak turun dari taksi tadi, aku terus duduk di teras rumah tanpa berpindah tempat. Pikiranku dipenuhi potongan-potongan kejadian dari masa lalu. Serta kemungkinan-kemungkinan mengerikan yang terus berputar di benakku.Suara mesin mobil
Aku menatap pesan itu beberapa saat. Lalu menghela napas panjang."Baiklah," gumamku lesu.Kalau Max harus menyuruhku melakukan ini di tengah suasana duka seperti sekarang, pasti ada alasan kuat.Akhirnya aku menyusul Cindy. Kutemukan wanita itu berhenti di sudut yang jauh lebih sepi dari ruang utama.Kepalanya celingukan beberapa kali sebelum dia mengeluarkan ponsel.Untungnya, aku sudah bersembunyi di balik pilar besar sambil mengintip hati-hati. “Kenapa kau bersamanya?” suara Cindy terdengar samar. Dia mungkin marah. “Kau sudah tahu kau tidak seharusnya muncul di sini.”Aku langsung memfokuskan pendengaran. Sayangnya suara lawan bicaranya tidak terdengar sama sekali. Hanya suara Cindy yang sesekali sampai ke telingaku.Nada bicaranya menunjukkan bahwa percakapan itu bukan percakapan biasa. Entah dengan siapa dia bicara. Yang jelas, orang itu membuatnya sangat gelisah.Aku semakin penasaran. Dengan sangat hati-hati, aku mulai bergerak mendekat. Selangkah demi selangkah. Sebisa mung
Rahang Cindy beradu keras.Otot di wajahnya menegang, sementara tatapannya menyiratkan seolah dia ingin melumatku hidup-hidup saat itu juga. Dia jelas tidak terima ditantang seperti ini. Terlebih olehku.Aku menatapnya tanpa berkedip."Apa kau akan membuatku terkena serangan jantung juga?" tanyaku tajam.Mata Cindy langsung membesar karena marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Namun alih-alih menyangkal, dia justru mendekat dan berkata pelan dengan senyum tipis yang membuat bulu kudukku meremang."Kau benar. Aku memang memberitahu mendiang ayah mertuaku tentang perselingkuhan kalian."Tanganku langsung mengepal. Seharusnya aku tidak terkejut. Sejak awal aku sudah mencurigainya. Tetapi mendengar pengakuan itu keluar langsung dari mulutnya tetap membuat dadaku sesak.Dia benar-benar melakukannya. Sungguh jahat."Pria tua itu sangat terkejut," lanjut Cindy santai. "Dan tidak bisa menguasai dirinya."Senyumnya semakin sinis."Itu artinya dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa putranya
Saat taksi yang kutumpangi berhenti di depan kediaman keluarga Arsen, dadaku langsung terasa makin sesak.Halaman rumah besar itu telah dipenuhi mobil-mobil mewah berwarna gelap. Orang-orang berpakaian hitam keluar masuk dengan wajah muram. Beberapa pelayan tampak sibuk menyambut tamu, sementara suara tangisan samar terdengar dari dalam rumah.Suasana duka itu terasa begitu nyata.Tanganku gemetar saat membuka pintu taksi. Bahkan kakiku nyaris lemas ketika melangkah turun.Tuan Henry benar-benar sudah tiada.Aku hampir berlari masuk ke dalam rumah. Para penjaga di depan gerbang hanya menatapku sekilas tanpa mencoba menghentikan. Mereka sudah mengenalku.Namun baru saja aku memasuki ruang duka, langkahku mendadak terhenti.Cindy berdiri tepat di depan pintu seperti sudah menungguku sejak tadi.Wajahnya dingin dan penuh kebencian.“Apa yang kau lakukan di sini?” desisnya tajam.Aku berusaha tetap tenang meski napasku memburu. “Aku ingin memberi penghormatan terakhir.”“Penghormatan?” Ci
“Tuan mungkin terkena serangan lagi, Nyonya!” lanjut si pelayan ketakutan.Nyonya Miranda sontak menjerit pelan sebelum buru-buru berlari masuk ke dalam rumah.“HENRY!”Sam langsung menyusul dengan langkah besar. Aku ikut berlari di belakang mereka, jantungku berdetak kacau tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.Begitu sampai di ruang makan, suasana di sana benar-benar berantakan.Tuan Henry tergeletak di lantai marmer dengan tubuh kaku tak bergerak. Gelas wine yang tadi berada di mejanya sudah pecah di dekat kaki kursi. Cairan merah itu menyebar seperti noda darah.Dan di sisi pria tua itu, Cindy sedang berjongkok sambil berusaha memberikan pertolongan.“Ayah! Ayah! Bisa dengar aku?”Tangannya bergerak cepat memeriksa denyut nadi lalu menekan dada pria itu beberapa kali.Sebagai dokter, aku tahu Cindy bukan orang sembarangan dalam situasi seperti ini. Dan saat melihat ekspresi serius di wajahnya, ketakutan mulai merambat dalam dadaku.Tuan Henry tampak tidak bernapas. Wajahnya pucat
“Sam, kau di mana? Apa semua baik-baik saja di sana? Di sini kacau sekali,” gumamku lirih.Aku merapatkan sweater ke tubuh. Angin malam bertiup cukup kencang hingga membuat kulitku merinding.Sudah berjam-jam aku duduk di teras rumah. Mataku menatap kosong ke jalanan, menggigit bibir demi menahan r
"Aku tidak tertarik untuk mengenalnya!"Kalimat itu nyaris saja meluncur dari mulutku andai aku tak mengingat bahwa aku harus bersikap baik. Setidaknya aku akan pura-pura bekerja sama agar mereka tidak terlalu menekanku. Melihatku hanya terdiam dengan wajah bimbang, Ibu melanjutkan, “Status sosial
“Maaf, aku tak tahu mereka akan datang,” bisikku panik saat Sam mengunci pintu dan berbalik menatapku.Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya. Cahaya matahari di luar seperti menembus dinding, membuatku berkeringat karena tegang. Dia baru saja meninggalkan orang tuanya dan kini seluruh p
Aku memegang kepalaku yang serasa hampir meledak. Belum juga masalah Sean berhenti kupikirkan, kini ibu muncul dengan membawa masalah baru. Kapan semua ini akan berakhir damai untukku?“Ibu sudah berbicara dengan Paman dan Bibimu.”Aku terdiam.“Ada seorang pria. Teman lama Pamanmu. Dia baik. Terp







