author-banner
Sidney Fellice
Sidney Fellice
Author

Novels by Sidney Fellice

TERGODA AYAH SAHABATKU

TERGODA AYAH SAHABATKU

Cinta terlarang yang melanggar batas dunia, juga nurani. Sam Arsen. Sosok pria matang, kharismatik, sekaligus terlarang. Di mata dunia, dia pria berwibawa dengan reputasi tak bercela. Bagiku? Dia adalah godaan yang menyiksa. Harusnya aku hanya melihatnya sebagai ayah dari sahabatku. Seseorang yang tak boleh kusentuh, apalagi kucintai. Namun… kejadian malam itu mengubah segalanya. Sisi lain di balik wajah tampan dan senyum teduhnya perlahan meruntuhkan benteng pertahananku. Aku tahu, satu sentuhan darinya saja bisa menghancurkan segalanya — persahabatanku, reputasiku, bahkan hidupku sendiri. Tapi… apa aku sanggup menghindar, ketika setiap tatapannya membuatku yakin, aku bukanlah satu-satunya yang terbakar?
Read
Chapter: TAS 291
Pesan terakhir Max tak berhenti berputar dalam kepalaku.Sepanjang jalan aku terus memikirkannya. Aku tak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kondisiku menarik perhatian semua orang. Aku membuka layar kamera, menatap wajahku dan langsung meringis. "Astaga... mukaku terlihat seperti donat."Berat badanku entah naik berapa kilo sekarang. Aku mungkin tak menyadarinya jika bukan karena teguran Max."Mungkin dia benar, aku harus membatasi pergaulan sekarang." Aku melirik dua benda yang kuletakkan di kursi sebelahku, lalu bergumam pelan, "sebaiknya kutitipkan saja." Sopir melirikku dari spion sebelum mobil berhenti. "Perlu kutemani, Nona?"“Tidak perlu,” kataku pada sopir sebelum membuka pintu mobil. “Tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama.”“Baik, Nona.”Aku menghembuskan napas keras kemudian melangkah masuk ke area kampus yang masih sangat ramai. Acara wisuda rupanya baru saja selesai. Di mana-mana orang sibuk tertawa, berfoto dan membawa bi
Last Updated: 2026-05-16
Chapter: TAS 290
Seluruh tubuhku membeku di tempat karena terkejut.Wajahku langsung memanas. "K—kau," ibu sampai kehilangan kata melihat kejadian tak terduga itu.Sam mundur perlahan tanpa canggung. “Selamat malam, Audrey.”Aku mengangguk sekali, meski jantungku rasanya hampir meloncat keluar. Lalu dia pergi begitu saja. Meninggalkanku berdiri kaku di depan rumah dengan wajah panas merona dan ibu yang masih menatapku tidak percaya."Apa dia sudah gila? Bagaimana kalau ada tetangga yang melihat?" Ibu langsung keluar dan menarikku masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tertutup keras. Namun aku masih berdiri mematung di depan ibu, seolah tubuhku tertinggal beberapa menit di belakang bersama kecupan hangat di keningku tadi.Ya Tuhan...Dia sungguh berani melakukannya di depan ibu.Aku tanpa sadar mengangkat tangan menyentuh kening sendiri. Masih terasa hangat. Dan entah kenapa, semakin kuingat ekspresi tenang Sam setelah melakukannya, semakin sulit menahan senyum yang terus naik sendiri.“Audrey! Berhenti
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: TAS 289
Sam tidak menjawabku.Tatapannya justru tertuju pada rumahku yang gelap dengan rahang menegang seolah sedang memikirkan suatu keputusan yang sudah bulat di kepalanya.“Jangan berpikir untuk masuk! Pergi sebelum ibu melihat.” Aku berusaha menahannya dengan tubuhku. “Sudah kubilang, aku akan mengantarmu sampai depan pintu.”“Jangan bercanda!”“Aku tidak berminat bercanda malam ini.”Aku mendesis frustrasi. “Kumohon, pulanglah...”Sam justru melangkah lebih dekat. Sebelum sempat menghindar, jemarinya sudah lebih dulu menggenggam tanganku erat.Tangan hangat itu. Genggamannya yang kuat...Aku sempat terpaku sebelum berakhir jadi panik. “Sam! Ini tidak lucu.”Sam tidak bicara apapun lagi. Dia malah menarikku pelan menuju rumah. Aku buru-buru menahan langkah sambil berusaha melepaskan tangan.“Lepaskan! Kau benar-benar mau membuat keadaan makin buruk?”Dia masih tak bereaksi. Aku pun terus terseret bersamanya hingga kami hampir mencapai pintu.“Kau pikir menemui ibuku tengah malam begini a
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: TAS 288
"Ayah?" Sean menatap bingung pada Sam. Sam melirik sekilas padaku yang duduk di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tidak nyaman, lalu kembali menatap putranya.“Sean.”Sean menghela napas kecil dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. "Cepat turun." Kali ini Sam beralih memerintahku. Aku dengan cepat keluar dari mobil. Berdiri di belakangnya. "Ayah, ada apa?" Nada suara Sean masih terdengar hormat meski sedikit berat."Ayah ada urusan dengan Audrey."Sean langsung berkata dengan nada keberatan, “Kakek dan nenek yang menyuruhku mengantarnya pulang.”“Sekarang, Ayah yang ambil alih,” balas Sam singkat.Sean terdiam.Aku spontan memegang lengan Sam pelan. Jemariku mencengkeram kemeja pria itu dengan gugup sebelum berbisik lirih, “Sean sepertinya mabuk.”Sam langsung menoleh singkat. Tatapannya berubah lebih serius. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.Beberapa menit kemudian, sopir pribadi Sam turun dari mobil dengan tergesa lalu menghampiri ka
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: TAS 287
Aku bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku sendiri.“Anda bercanda?” tanyaku spontan, sedikit terdengar tidak sopan karena terlalu terkejut. “Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Sementara aku...”“Dari banyak ahli, hanya kau yang paling mengerti makna semua karya itu,” jelas Nyonya Miranda pelan, tapi penuh keyakinan.Aku langsung terdiam.“Tak ada yang pernah menyarankan pameran dan lelang hingga patung yang tak berharga itu bisa terjual mahal. Kau yang membuat semuanya terjadi.”Aku membuka mulut, ingin menyangkal lagi, tapi Tuan Henry ikut menambahkan,“Kau bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.”Pujian itu justru membuatku semakin tidak nyaman.Aku refleks menoleh ke belakang, mencari satu orang yang seharusnya ada di rumah ini.Sam.Namun pria itu benar-benar menghilang sepenuhnya setelah perdebatan kami tadi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Tidak ada tanda dia masih ada di sekitar sini.Dadaku terasa makin sesak.Apa dia tahu soal ini?B
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: TAS 286
Aku masih berdiri canggung di dekat lorong ketika Nyonya Miranda menatapku dengan lekat. Gurat wajahnya sulit kutebak. Dadaku mulai terasa tidak nyaman akibat berdebar keras. Terlebih karena saat aku refleks menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana.Dia menghilang sangat cepat. Padahal beberapa detik lalu dia masih berdiri di sana. Di tempat kami bicara. Panik mulai merayap perlahan di kepalaku. Apa yang harus kukatakan?“A-anda di sini?” tanyaku tergagap, berusaha terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering.Nyonya Miranda mengangguk. “Ya, aku melihat semuanya.”Aku langsung terkesiap.Melihat semuanya?Pikiranku seketika kacau. Potongan percakapanku dengan Sean tadi berputar kembali dalam kepalaku.Wajahku langsung memucat. Kalau dia benar-benar mendengar semua, artinya... semua sudah selesai. "Aku sudah curiga sejak lama," lanjutnya menyipitkan mata. "Tapi baru kali ini aku menyaksikan sendiri."“A-aku minta maaf,” ucapku cepat sebelum sempat berpikir lebih jauh.
Last Updated: 2026-05-08
Menikahi Paman Mantan Tunanganku

Menikahi Paman Mantan Tunanganku

Dikhianati tunangan dan sahabatnya, Lyra Sasmita berakhir melampiaskan luka dengan seorang pria asing yang terlalu tampan untuk diabaikan. Dia mengira itu hanya permainan satu malam yang bisa dilupakan—sampai mereka bertemu lagi dan mendapati ... pria itu ternyata Dastan Adiwangsa, paman tunangannya sendiri! "Lyra, kalau sudah seperti ini, bukankah kau harus bertanggung jawab atas diriku?" ***
Read
Chapter: Bab 205 (Extra Part)
Pagi itu, Lyra terbangun karena suara muntah dari kamar mandi. Matanya mengerjap pelan, lalu menoleh ke samping tempat tidur. Dastan tidak ada di sana. “Dastan?” panggilnya setengah sadar. Tak lama, pria itu keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan mata berair. “Aku... mual,” gumamnya. Lyra mendesah. “Mual bagaimana? Bukan kau yang hamil di sini.” “Aku tahu, tapi aku merasa seperti... mau mati. Kepalaku pusing, banyak bau aneh. Perutku juga tak nyaman. Aroma sabun di kamar mandi menyengat sekali... semuanya bikin mual.” Lyra menahan tawa, tapi gagal. “Bagus, kau dapat bagian dari proses panjang ini. Andai saja kau bisa mengambil alih kehamilanku juga...” Dastan menggeleng serius. “Ini tidak lucu, aku benar-benar tidak enak badan. Seperti jet lag.” Pagi itu di kantor, Dastan tak sanggup menelan sarapan. Kopi favoritnya kini hanya membuat perutnya melilit. Claudia sampai menawarkan teh herbal, sementara Charlie diam-diam mengganti semua pengharum ruangan dengan ya
Last Updated: 2025-07-26
Chapter: Bab 204
"Tuan Adiwangsa, kami butuh tanda tangan Anda sekarang." Suara perawat yang tadi membawa selembar kertas persetujuan tindakan medis, mendesak lebih keras. Sudah beberapa menit Dastan memandangi kertas itu tanpa bergerak. Kini tangannya bergerak gemetar saat meraih kertas. Mata Dastan menelusuri baris demi baris huruf kecil di halaman itu, tapi tak satu pun yang benar-benar dia pahami. Semuanya kabur. Seolah hanya ada satu kalimat yang terpatri jelas dalam benaknya, "Nyawa Lyra ada di ujung keputusan ini." “Tuan...” Suara Charlie terdengar pelan, penuh kehati-hatian. “Aku tahu ini berat. Tapi... hanya Anda yang bisa memutuskan ini sekarang.” Dastan mencengkeram kertas itu lebih kuat, matanya mulai berkaca-kaca. “Kalau aku tanda tangan... dan Lyra tidak selamat... apa aku bisa memaafkan diriku?” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Charlie menunduk, menahan napasnya sendiri. “Waktu terus berjalan, Tuan,” perawat kembali mengingatkan, kali ini dengan suara lebih cepat. “De
Last Updated: 2025-07-26
Chapter: Bab 203
Begitu tiba di depan bangunan tinggi yang dikelilingi tembok beton menjulang serta kawat berduri yang melingkar di atasnya, Talia menghentakkan langkah dengan geram. Pandangannya menyapu pagar besi yang menjulang, para penjaga berseragam berjalan mondar-mandir dengan ekspresi datar. Semua terasa mencekam.Jika bukan demi Lyra, demi nyawa putri angkatnya itu… seumur hidup, Talia tak akan pernah sudi menginjakkan kaki di tempat seburuk ini."Ayo, Talia! Cepat!" seru Leonard. Suaranya penuh urgensi, ciri khas orang yang tengah berpacu dengan waktu. Tubuh lemahnya nyaris berlari menembus terik matahari yang membakar halaman luas itu.Talia mendesah berat, lalu mengikutinya sambil mengumpat pelan. Hatinya belum bisa menerima bahwa pria tua itu memutuskan untuk menemui orang yang hampir saja membunuh anaknya sendiri.Lima belas menit kemudian, mereka dipersilakan masuk ke area kunjungan. Seorang sipir memanggil Leonard ke dalam ruang pertemuan tahanan. Talia duduk menunggu di luar dengan g
Last Updated: 2025-07-25
Chapter: Bab 202
Tapi yang muncul di sana, bukan wajah yang dia harapkan. Masih bukan dokter, melainkan seorang perawat yang berjalan cepat, wajahnya tegang dan napasnya memburu. Ini sudah ketiga kalinya perempuan itu bolak-balik keluar masuk ruang operasi. Kali ini, Dastan tak membiarkannya lewat begitu saja.Dia melangkah cepat dan menahan lengan si perawat. “Bagaimana keadaan istriku? Ini sudah empat jam, operasinya berhasil kan?” tanyanya dengan suara yang tajam dan penuh desakan.Si perawat tampak gugup, menatap Dastan lalu sekilas melirik Charlie di belakang pria itu, seolah berharap ada yang membantunya keluar dari situasi ini. “Op-operasi luka tembaknya sudah selesai, Tuan. Tapi…”“Tapi apa?” Dastan menyela cepat, matanya menyorot curiga.“Itu… pasien kehilangan banyak darah sebelumnya, dan…” Perawat itu tampak ragu. Jemarinya meremas catatan medis di tangannya. “Saat ini… pasien masih dalam pengawasan intensif. Sebaiknya Anda tunggu saja. Dokter akan segera memberikan penjelasan langsung.”“
Last Updated: 2025-07-25
Chapter: Bab 201
Letusan itu memecah udara pesta seperti petir menyambar dari langit cerah.Semua orang membeku. Musik yang tadi mengalun lembut terhenti mendadak. Suara tawa dan obrolan hangat lenyap berganti dengan jeritan dan kepanikan. Kursi yang terjungkal, gelas serta piring pecah, tak ada yang peduli.Ajudan yang terkena tembakan pertama terguling di tanah, menggeliat dengan darah mengalir deras dari pahanya. Napasnya memburu, matanya terbelalak tak percaya. Tapi sebelum siapa pun bisa bereaksi lebih jauh, sebuah sosok tua muncul dari balik tirai panjang tempat katering berada. Tangannya menggenggam pistol kecil yang berkilat."Nyonya Alida?" seru Lyra terkejut.Wanita tua itu memang masih buron, tapi siapa sangka dia masih bersembunyi di negara ini?Tak ada satu pun dari ajudan yang mencurigai wanita tua itu. Dia menyamar sebagai pelayan katering. Penyamaran sempurna, rambut disanggul sederhana, seragam putih berlumuran saus, juga gerak-geriknya dibuat lambat seperti layaknya pelayan lansia. T
Last Updated: 2025-07-24
Chapter: Bab 200
Dastan menatap wajah Lyra yang tertidur lelap di ranjang. Napasnya tenang, semalaman dia benar-benar mengistirahatkan diri. Dastan pun tak ingin mengganggunya. "Sulit dipercaya kau senekat itu," gumamnya bergeleng pelan.Wanita yang dicintainya ini sempat menghilang begitu saja, lalu muncul kembali secara misterius, seolah semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk yang tak pernah benar-benar menyentuh mereka.Andai tak ada luka memar di sudut bibirnya, goresan-goresan halus di kulitnya, serta keputusan penyelidikan yang tiba-tiba berubah arah, Dastan mungkin tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia nyaris gila mencari, bahkan tak bisa tidur, sementara Lyra diam-diam berjuang sendiri dalam bahaya.Saking paniknya, Dastan sempat menyeret Lyra untuk cek medis dadakan, sesaat setelah ‘interogasi ringan’ yang berakhir dengan tangisan dan pelukan panjang. Dia tak peduli betapa lelah mereka saat itu. Yang penting, ia harus memastikan kondisi istrinya dan calon bayinya baik-baik sa
Last Updated: 2025-07-23
You may also like
Cintai Aku Om!
Cintai Aku Om!
Romansa · Viie _ 96
1.2K views
Affair With Mantan
Affair With Mantan
Romansa · Dwie_ina
1.2K views
SANG KUPU-KUPU MALAM
SANG KUPU-KUPU MALAM
Romansa · Meta Janush
1.2K views
Menikahi Duda Kaya
Menikahi Duda Kaya
Romansa · Risma123
1.2K views
Kontrak Cinta Sang Pewaris
Kontrak Cinta Sang Pewaris
Romansa · Blue Apple
1.2K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status