로그인Damian yang semula bersandar perlahan menegakkan tubuh, merubah posisinya menjadi lebih serius. Ia menatap Derren. “Kita akan mulai dari orang-orang yang punya akses langsung.” Darren mengangguk pelan. Ia mengambil tablet yang tadi diletakkannya di meja, lalu membuka beberapa data perusahaan. “Aku bisa mulai dari daftar orang yang punya akses ke laporan tersebut.” “Jangan hanya karyawan.” Darren berhenti menggerakkan jarinya. Ia menatap Damian. “Maksudmu?” “Periksa semua orang yang belakangan ini berhubungan dengan perusahaan. Karyawan, rekan bisnis, pemasok, bahkan orang yang keluar-masuk gedung.” Darren mengangguk. “Kalau penyusupnya cukup pintar sampai bisa mengambil informasi tanpa ketahuan, dia pasti sudah memikirkan cara untuk menutupi jejaknya.” Tatapan Darren berubah tajam. Apa yang diucapkan Damian benar. “Karena itu jangan hanya mencari orang yang terlihat mencurigakan,” tambah Damian. Darren kemudian tersenyum tipis. “Sepertinya pekerjaan kita kali ini bakal
Damian yang semula bersandar perlahan menegakkan tubuh, merubah posisinya menjadi lebih serius. Ia menatap Derren. “Kita akan mulai dari orang-orang yang punya akses langsung.”Darren mengangguk pelan. Ia mengambil tablet yang tadi diletakkannya di meja, lalu membuka beberapa data perusahaan.“Aku bisa mulai dari daftar orang yang punya akses ke laporan tersebut.”“Jangan hanya karyawan.”Darren berhenti menggerakkan jarinya. Ia menatap Damian. “Maksudmu?”“Periksa semua orang yang belakangan ini berhubungan dengan perusahaan. Karyawan, rekan bisnis, pemasok, bahkan orang yang keluar-masuk gedung.”Darren mengangguk.“Kalau penyusupnya cukup pintar sampai bisa mengambil informasi tanpa ketahuan, dia pasti sudah memikirkan cara untuk menutupi jejaknya.”Tatapan Darren berubah tajam. Apa yang diucapkan Damian benar. “Karena itu jangan hanya mencari orang yang terlihat mencurigakan,” tambah Damian. Darren kemudian tersenyum tipis. “Sepertinya pekerjaan kita kali ini bakal menyenangka
Sudut bibir Damian terangkat tipis. Matanya masih menelisik isi map yang berada di tangannya, membaca setiap informasi dengan ketelitian yang tenang. Zeus memperhatikannya dalam diam. Ada sesuatu dalam sorot mata Damian yang membuat pria tua itu perlahan mengangkat sudut bibirnya. Tatapan itu begitu familiar. Dingin, tajam, dan penuh perhitungan. Sejenak, Zeus merasa seperti sedang melihat dirinya sendiri di dalam diri cucunya. Ia menyesap wine-nya perlahan, membiarkan rasa hangat minuman itu melewati tenggorokannya. Tak lama kemudian, Damian bangkit dari kursinya. Zeus mengangkat sebelah alisnya sambil bertanya. “Mau kemana?” Damian menatap Zeus dengan tatapannya datar, tanpa sedikitpun niat untuk menjelaskan. Ia hanya mengangkat map yang tadi diberikan Zeus, seolah benda itu sudah cukup menjadi jawaban. Setelah itu, Damian berbalik dan berjalan menuju pintu. “Damian.” Langkah Damian berhenti sesaat ketika Zeus kembali memanggilnya, tetapi ia tidak menoleh. Zeus menghel
Sementara itu, di sisi lain kota, Damian tiba di sebuah bangunan megah yang berdiri di tengah kawasan bisnis. Di siang hari seperti ini, suasana di sekitarnya justru terasa lengang. Tidak banyak kendaraan yang berhenti di depan bangunan tersebut. Lampu-lampu di area pintu masuk pun masih redup, seolah tempat itu belum sepenuhnya terbangun. Bangunan tersebut menjulang dengan desain modern dan mewah. Di bagian depan, sebuah lambang naga berwarna perak terpasang tepat di atas pintu masuk. Lambang itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah simbol keluarga Devereaux. Begitu Damian turun dari mobil, salah seorang pria yang berjaga di depan langsung menghampiri dan membuka pintu belakang. Damian turun dengan penuh wibawa. “Tuan Damian,” sapa pria itu sambil menundukkan kepala. “Tuan Zeus sudah menunggu Anda di ruangannya sejak tadi.” Damian hanya mengangguk singkat. Tanpa mengatakan apa pun, ia berjalan masuk. Beberapa saat kemudian, lift yang dimasukinya berhenti di lantai paling atas.
Jusa yang semula bersandar santai langsung mengangkat alis. “Memangnya seperti apa Damian di matamu?” Nada suaranya terdengar begitu tertarik hingga Violet kembali ragu. Violet menundukkan pandangan, memainkan ujung jarinya sendiri. Ada sesuatu yang ingin dia ketahui mengenai Damian. Mungkin Jusa tahu sesuatu. Ia juga ingin bercerita, tetapi belum tahu seberapa jauh dirinya bisa mempercayai pria ini. Bagaimanapun juga, Jusa masih bagian dari keluarga Damian. Jusa sepertinya menyadari keraguan itu. Ia kemudian tersenyum santai. “Tenang saja, kau bisa cerita padaku. Aku tidak akan membocorkannya kepada Damian.” Violet mengangkat wajahnya dan menatapnya penuh keraguan. “Kau yakin bisa dipercaya?” Jusa tertawa pelan. “Kenapa tidak? Aku juga suka membicarakannya.” “Tapi— bagaimanapun, kau pasti bagian dari keluarga Damian.” “Memang.” Jusa mengangguk santai. “Tapi aku cuma sepupunya,” ucapnya menambahkan. “Jadi kau tenang saja. Aku tidak akan lari pada Damian hanya un
“Pilih membayarnya dengan uang, atau membayarnya dengan empat bulan waktumu.” Damian berkata lagi membuat suasana terasa semakin mendesak. Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Violet mengangkat wajahnya. Bibirnya terbuka, hendak menyampaikan jawaban yang sejak tadi berusaha ia susun. “Aku—” “Oke. Kau akan tetap di sini selama empat bulan.” Damian memotong ucapannya begitu saja. Violet terdiam. Matanya sedikit membesar, seakan-akan baru saja menyadari bahwa keputusan itu telah diambil bahkan sebelum ia sempat mengucapkannya. “Aku bahkan belum mengatakan apapun.” “Tapi itu, kan, yang kau pilih?” tanya Damian menatap Violet. Violet membuka mulut, lalu mengurungkan niatnya untuk membantah. Ia menatap Damian beberapa saat, mencoba menemukan celah dalam sikap pria itu, sebelum akhirnya mengangguk dengan ragu. “Ya...” jawabnya pelan. “Hanya pilihan itu yang terasa lebih mudah.” Damian terus memperhatikannya, seolah-olah sedang memastikan bahwa Violet benar-benar memah







