LOGINSuasana di ruang investigasi itu mendadak hening. Anak buahnya yang bernama Tedy itu hanya bisa menunduk ketika Damian mengumpat. Sedangkan Derren tampak santai bersandar di kursinya sambil melipat kedua tangan di dada. “Kakek tidak mungkin memberi tugas ini jika dia tidak percaya padamu,” ucapnya. Damian berdecak pelan. Perkataan Derren justru membuatnya kembali teringat pada perdebatan dengan Zeus tadi. “Dia menyepelekan rencana kita.” “Maksudmu?” tanya Derren sambil mengerutkan kening. Entah apa yang terjadi di antara kakek dan cucu itu, tapi satu hal yang pasti saat di mansion tadi mereka pasti bertengkar. “Tidak perlu dibahas,” jawab Damian malas. Derren pun hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Damian mengalihkan pandangan pada berkas yang tergeletak di atas meja. Setelah beberapa saat, ia menariknya mendekat. “Kita sudah punya petunjuk. Lebih baik kita fokus pada langkah selanjutnya.” Derren mengangguk dan ikut melihat berkas tersebut. “Jadi, apa
Setelah mengirimkan pesan itu, tanpa menunggu balasan dari Damian, ia segera menemui anak buahnya di markas. Semoga pencarian mengenai penyusup perusahaan kali ini menemukan titik terang. Beberapa menit kemudian, setelah Derren tiba di markas ia merasa ada getaran kecil di ponselnya. Sambil terus berjalan masuk ke dalam markas, ia merogoh ponselnya dan membaca balasan itu. [Damian: Sebentar lagi.]Tidak lama setelah itu, mobil Damian keluar dari gerbang mansion melaju menuju markas Devereaux yang berada di pinggir kota. Damian duduk di kursi belakang dengan wajah serius. Ia sudah tahu dari pesan Derren bahwa penyelidikan mereka akhirnya menemukan sesuatu.Malam ini, ia seharusnya menemui Elena atas perintah kakeknya. Namun, untuk sementara, urusan penyusup jauh lebih penting. Mobil mulai memasuki area yang lebih sepi, melewati jalan berbatu di tengah pepohonan. Tak lama kemudian, sebuah bangunan besar terlihat menjulang di dalam hutan yang gelap itu. Damian menginjakkan kakinya d
“Sepertinya kehadiranku di tempat ini menjadi masalah,” Violet sedang berbicara sendiri. Ia duduk di dekat jendela menatap keluar mansion yang gelap. Sejak tadi ucapan kakeknya Damian terus berputar di kepalanya. Tatapannya jelas menunjukan kalau Zeus tidak menyukai kehadirannya. “Aku juga tidak suka ada disini,” ucap Violet membalas perkataan yang ada dikepalanya. “Tapi mau bagaimana lagi? Kabur juga tidak mungkin, bisa-bisa aku membusuk dipenjara.” Violet menghela nafas panjang sambil melemaskan otot pundaknya. Ia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil melamun. Tidak lama kemudian terdengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Ia menoleh sambil menyipitkan matanya menatap ke arah pintu. Siapa yang datang ke kamarnya malam-malam begini? Tok! Tok! Tok!Ketukan di pintunya kembali terdengar. Ia pun memutuskan untuk bangkit dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu dibuka, ia melihat satu orang pelayan perempuan berdiri dengan kepala menunduk. Ia menghela napa
Zeus tidak langsung menjawab pertanyaan cucunya. Ia hanya menatapnya selama beberapa detik, sedang mempertimbangkan apakah Damian benar-benar perlu mengetahui semuanya atau tidak. Damian menunggu jawaban kakeknya dengan rasa penasaran yang semakin tinggi. Ia tahu tindakannya di pesta tadi telah menimbulkan masalah, tetapi ia tidak mengerti mengapa kakeknya sampai semarah itu. Lalu apa maksud dari ucapan kakeknya tadi. Kau hampir menggagalkan rencanaku? Rencana apa? Damian semakin tidak mengerti. Ia kira selama ini urusan mereka hanya berkaitan dengan penyusup yang sedang ia cari. Lantas, rencana apa yang sebenarnya sedang disusun kakeknya? Ia menatap penuh kepada kakeknya dengan kening yang semakin berkerut, menunggu penjelasan dari perkataannya tadi. Karena Zeus belum mengatakan apa pun, Damian kembali mendesaknya. “Apa yang sebenarnya Kakek rencanakan di belakangku?” tanya Damian. Zeus tidak langsung menjawab. Ia justru mengembuskan napas panjang, lalu memalingkan
Perjalanan kembali ke mansion setelah dari pesta berlangsung dalam keheningan. Violet duduk bersandar menatap ke arah jalan, dan pikirannya masih dihantui kejadian saat di pesta tadi. Cara Damian menatapnya tidak biasa, dan tangannya yang tidak lepas dari pinggangnya, dan bagaimana sikapnya saat berdansa tadi benar-benar tidak seperti Damian yang ia tahu. Ia kemudian menegakkan tubuhnya ketika mobil mulai berjalan memasuki area mansion. Ia sempat melirik ke arah Damian yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Lalu tatapannya pindah ke depan, melihat Derren yang tidak jauh berbeda dengan Damian. Begitu mobil berhenti tepat di depan mansion, rasanya Violet ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Sekujur tubuhnya lelah, kakinya juga terasa sakit karena heels yang dipakainya. Punggung dan pinggangnya juga sudah terasa panas dan pegal. “Hari ini melelahkan sekali,” Violet mengeluh pelan setelah keluar dari mobil. Hari pertamanya bekerja dengan Damian su
Violet terkejut melihat Damian mengulurkan tangannya dan mengajaknya berdansa. Benarkah laki-laki yang selalu menatapnya datar dan dingin itu ingin berdansa dengannya? Rasa-rasanya tidak mungkin. Pasti ada alasan lain. Dan benar saja, dari arah panggung Elena berjalan mendekat dengan langkah pasti, berjalan menghampiri mereka dan berhenti tepat di hadapan Damian. “Damian, ayo berdansa denganku?” ajaknya tanpa basa basi. Gadis itu mengulurkan tangannya kepada Damian. Namun, Damian hanya menatapnya datar. Alih-alih menjawab dan menerima ajakan Elena, Damian justru mengalihkan pandangannya kepada Violet. Elena mengikuti arah tatapannya, dan seketika dadanya naik turun menahan kesal. Namun Damian sama sekali tidak peduli. Ia justru meraih tangan Violet dengan tenang.“Kau bersamaku malam ini. Jadi, kau yang akan berdansa denganku,” ucapannya membuat Violet terpaku. Begitupun Elena yang masih berdiri disitu, ia menyaksikan keduanya dengan sorot mata yang semakin sulit disembunyik







