เข้าสู่ระบบ“Tuan, ada dua kabar yang harus Tuan dengar segera,” ujar Mateo begitu Ken masuk ke mobilnya. Ken mengatur napas. Dia tak mau terburu-buru mendengar laporan apapun sebelum dia tenang. “Katakan!”“Asisten Lee berhasil menemukan bukti keterlibatan Marveen atas kematian Tuan Cavan. Bukti sudah diamankan.”Ken terkesiap. Dia bukan kaget soal dokumen itu, karena dia sudah menduga kalau kematian Tuan Cavan alias Mertuanya itu memang ulah Marveen. Tapi sampai Asisten Lee menemukan dan mengamankan bukti itu, tentu itu adalah usaha yang tidak mudah yang sudah Asisten Lee lakukan.“Bergerak! Bantu Asisten Lee mengamankan bukti itu. Nyawanya akan dalam bahaya kalau sampai ada yang menyadari pergerakannya.”“Mengerti Tuan. Setelah ini saya akan langsung mengirim orang dan berkoordinasi dengan Asisten Lee.” Mateo mengangguk patuh. Kinerjanya juga tak perlu diragukan lagi.“Lalu apa laporan kedua?” Ken meminta Mateo melanjutkan laporannya. Sebelum menjawab, Mateo melirik Tuannya dari balik spion.
“Sudah kembali Tuan Muda Ken.. saya sudah menunggumu sejak siang tadi.” Begitu melihat Ken tiba di ruangannya, Marveen langsung tersenyum lebar. Senyum seseorang yang seolah baru saja bertemu sahabat lama setelah bertahun-tahun berpisah.“Kupikir kau tidak langsung menemuiku sore ini.” Marveen mempersilahkan Ken duduk di sofa ruangannya. Ken tersenyum datar, matanya tetap diam tidak menggambarkan senyuman yang sebenarnya.“Mana mungkin aku berani pergi tanpa menemuimu dulu Tuan. Jelas saya akan datang untuk menghadap Anda,” saut Ken merendah, tetapi bukan menjatuhkan diri.“Hmm.. laporan pengiriman sudah saya terima. Saya tinggal menunggu kabar barang itu sudah sampai ditangan Tuannya.” “Yah, akupun menunggu kabar itu. Aku tidak meragukan penjagaan Tiger Dark, hanya saja sedikit kelengahan bisa membuat pergerakan kita terendus pemimpin di daerah sekitar.” Ken juga menimpali. Mereka sama sama duduk berseberangan dan saling tatap sejajar.“Jangan khawatir Tuan Ken, kau tahu kalau aku
Di saat yang sama, di markas Tiger Dark, Asisten Lee masih berada di ruang arsip.Kali ini dia tidak sendirian. Salvator duduk di sebuah kursi sambil memutar-mutar pulpen di antara jarinya.“Kau dengar, kan?” tanyanya. “Tuan kita sudah deal dengan Tuan Ken.”Raka mengangguk. “Iya. Saya mendengar kabar itu,” balas Raka alias Asisten Lee datar. Seolah tak begitu peduli.“Kau tahu artinya apa?” tanya Salvator lagi. Raka mendongak, menatap Salvator datar. “Mulai besok kita akan sibuk.” “Sibuk? Apa kita diterjunkan untuk mengawal hal itu,” Raka pura-pura memastikan.Salvator bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati Raka. “Bukan. Kita tidak diterjunkan disana. Tuan X meminta kita untuk lebih waspada.”“Untuk?”“Menjaga arsip ini.” Salvator menatap Raka serius. “Dan aku butuh orang yang bisa dipercaya untuk menjaga arsip ini. Orang yang tidak banyak bicara.” Tatapannya meneliti Raka. “Seperti kau.”Raka menundukkan kepala. “Terima kasih atas kepercayaannya, Bos.” Asisten Lee tak bany
“Biarkan dia masuk!”Suara Alsava membuat dua penjaga yang sedang mendorong Adrian berhenti seketika. Keduanya menoleh ke belakang dan langsung menunduk begitu melihat Alsava berdiri beberapa langkah dari mereka.“Dia tamuku dan dia tidak berbahaya. Jadi biarkan dia masuk,” tegas Alsava. Tatapannya berpindah dari satu penjaga ke penjaga lainnya. Nada suaranya cukup jelas untuk membuat keduanya tidak berani mengajukan pertanyaan lagi.“Baik, Nona.”Kedua penjaga itu segera bergeser dan memberi jalan.Adrian tersenyum tipis. Namun, di balik wajah tenangnya, ada kebingungan yang cukup jelas. Dia sama sekali tidak menyangka putri Tuan Cavan Mallory mengenal dirinya, apalagi sampai menganggapnya sebagai tamu.Adrian kemudian berjalan mendekati Alsava.Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik berlalu tanpa satupun dari mereka berbicara. Ada banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin mereka lontarkan, tetapi keduanya seolah memilih menunggu waktu yang tepat.“Silakan masuk, Tuan. Aku yakin Anda m
Adrian terkesiap kaget begitu melihat wajah seorang wanita muda yang sangat dikenalinya. Meskipun beberapa tahun kebelakang ini dia tak melihatnya secara langsung lagi, tapi garis wajah, cara jalan dan suara wanita itu jelas tak mungkin dilupakannya.“Putri Tuan Cavan!” Adrian langsung mengejar Alsava yang baru saja keluar dari pusat perbelanjaan. Alsava naik ke mobil hitam yang dijaga beberapa orang.“Bodyguard! Ahh ternyata anak manis itu sudah menjadi Nona keluarga Baskara.” Adrian mendengkus. Kabar pernikahan Alsava dan Ken bisa dibilang bukan kabar yang bagus. Tapi apapun itu, Adrian harus bertemu Alsava langsung untuk memastikan semuanya. Adrian buru-buru membuntuti mobil Alsava.“Rupanya disini mansion kediaman Kenneth Baskara! Pantas saja sulit di cari jejaknya, ternyata Ken benar-benar memasang penjagaan ketat bahkan sampai tidak bisa terlacak.” Adrian segera mencari cara untuk bisa masuk ke mansion Ken dengan alasan yang tidak mencurigakan.“Maaf Tuan!” Dua orang penjaga men
Gudang pelabuhan utara. Jam 01.17.Hujan rintik-rintik turun membasahi area pelabuhan. Lampu kuning temaram menggantung di atas deretan peti-peti kontainer. Bau laut bercampur dengan aroma oli dan sisa darah lama yang masih menempel di lantai beton.Ken turun lebih dulu. Ujung jasnya sedikit basah terkena hujan. Di belakangnya, dua pengawal ikut turun mendampingi Tuan Mudanya. Wajah mereka semua tampak tenang. Ken berjalan santai menemui Dory yang dipercaya Mr X untuk menghalau pergerakan gelap ini.Di depan gudang, enam orang sudah menunggu. Termasuk Dory disana. Mereka menyambut kedatangan Ken.“Semua sudah siap?” tanya Ken begitu berdiri didepan Dory dan anggota Tiger Dark lain.“Sudah Tuan Ken. Tetapi Tuan kami meminta pengecekan ulang sebelum dikirim,” jawab Dory membuat Ken mengerutkan jidat kerung.“Di cek ulang?” tanya Ken dengan nada sinis. “Apa kalian sedang meragukanku?” Ken memprotes keraguan Marveen soal barang yang sudah dipersiapkannya.“Bukan begitu Tuan Ken, Tuan kami







