Chapter: Saat Cemas Berujung Penyesalan“Alana, angkat teleponku Alana. Jangan membuatku khawatir.”Panggilan tersambung. Mungkin sudah belasan kali Julian mencoba menghubungi nomor Alana, tetapi sama sekali tak ada jawaban.Entah kenapa dadanya bergemuruh, seperti terasa nyeri. Perasaannya campur aduk. Julian seperti merasakan sesuatu yang buruk terjadi pada Alana.“Dia pergi dengan marah. Nyetir sendirian ke rumah Margareta. Jalan menuju rumah Margareta cukup berbahaya, aku takut Alana kesulitan mengendalikan mobilnya.”Julian mencoba menghubungi nomor Alana lagi. Masih sama, tak ada jawaban. Julian menatap nomor ponsel Alana dengan wajah gusar. Dia teringat kata-kata terakhir mereka. Julian meminta Alana menghubunginya begitu sampai di rumah Margareta. Tapi Alana hanya menjawab ‘kalau dia ingat.’“Apa kamu sama sekali tidak ingat aku Alana? Biasanya meskipun kamu marah, kamu tetap menyempatkan mengirim satu pesan padaku. Setidaknya membuatku tenang. Tapi sekarang..” Julian mengusap wajahnya frustasi.Sedangkan di lokasi
Last Updated: 2026-11-02
Chapter: Jurang Di Depan Mata"Tenang, Alana. Tenang. Jangan panik."Kalimat itu keluar dari mulutnya berulang-ulang, nyaris seperti doa. Kedua tangannya mencengkeram kemudi sampai buku jarinya memutih. Ban menjerit di aspal basah, dan tikungan itu sudah tinggal beberapa puluh meter di depan.“Shit! Beach!” Alana mengumpat sendirian. “Rem tidak bisa digunakan, aku harus cepat pakai yang lain!”Alana menyentakkan tuas persneling ke gigi rendah. Mesin meraung protes, tubuhnya terdorong ke depan, tetapi laju mobil sedikit tertahan. Tidak cukup. Jarum speedometer masih terlalu tinggi untuk tikungan setajam itu."Oke, sepertinya rem tangan," desis Alana lirih, nyaris tak terdengar. Dia menarik tuasnya pelan, setengah, lalu sedikit lagi. Alana pernah mendengar, tarikan mendadak di jalan basah hanya akan membuat mobil berputar. Bagian belakang mobil bergoyang. Alana menahan kemudi sekuat tenaga dan melawan arah gelincirnya, sementara keringat dingin menetes ke matanya.Pagar pembatas berkarat itu muncul di sisi kiri, ma
Last Updated: 2026-11-02
Chapter: Kemarahan Meledak, Rem Mobil Blong“Aku seharusnya tidak perlu dengan fakta ini dari orang lain Om Julian! Aku harusnya bisa langsung dengar dari kamu bahkan tanpa aku menanyakannya. Tapi kenapa kamu malah diam, seolah menjadikan semua ini rahasia!”Alana terus berteriak. Matanya nyalang, kemarahan menyelimutinya. Seperti yang Dokter Marsya sampaikan, emosi Alana tidak stabil, dia akan mudah meledak begitu hatinya diselimuti kemarahan. Dan kalau sampai Alana tidak bisa mengendalikan emosinya, itu yang bahaya.“Karena aku pikir ini tidak perlu Alana!" Julian ikut berdiri. Suaranya pecah, dan baru kali ini Alana mendengar Julian kehilangan kendali. "Aku takut kamu mencurigaiku. Aku orang yang datang terlambat. Orang yang bajunya penuh tanah di tempat kematian Ayahmu. Kalau kamu tahu itu, aku takut kamu akan melihatku sebagai orang yang terlibat. Aku takut, kalau aku buka mulut, kamu akan memandangku seperti sekarang."Hening mengisi ruangan. Napas Alana naik turun. Ada kemarahan di matanya, tetapi di bawahnya ada sesuatu
Last Updated: 2026-11-01
Chapter: Pengakuan Julian"Om tahu kenapa aku memilih diam? Kepalaku berisik, rasanya penuh. Aku tidak bisa tenang, aku tidak bisa berpikir! Itulah kenapa aku susah tidur."Alana menatap Julian tajam. Tapi perlahan matanya mulai redup. "Aku takut, Om." Akhirnya suara Alana pecah. "Aku takut jawaban yang kudapatkan adalah sesuatu yang bisa membuatku nggak bisa percaya lagi padamu."Julian memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya, tatapannya sudah berubah. Tidak ada lagi senyum tipis yang rapi, hanya kejujuran yang telanjang. "Dengarkan aku sampai selesai. Setelah itu, kamu boleh membenciku kalau memang itu yang kamu putuskan."Alana mengangguk kaku. Menarik napas panjang agar lebih tenang."Ayah kandungku bernama James Catella. Dia rekan bisnis Papa Alverik, dulu mereka mendirikan usaha bersama. Lalu ada yang menjebaknya. Dokumen dipalsukan, dana digelapkan, dan semua tuduhan jatuh ke Ayahku." Julian menelan ludah. "Dia tidak sanggup menanggung malunya. Dia mengakhiri hidupnya, meninggalkan aku dan Ibuku yan
Last Updated: 2026-11-01
Chapter: Jadi Itu Yang Membuatmu Diam Padaku"Aku kangen kamu Alana. Sudah tiga hari, Kamu bahkan tidak mau menatap mataku."Suara Julian rendah, nyaris tanpa tenaga. Dia berdiri di ambang pintu kamar Alana, satu tangan bertumpu di kusen, satu lagi menekan perutnya. Malam sudah larut. Alana duduk di tepi ranjang dengan selimut menutupi lutut, jendela di depannya hanya memantulkan wajahnya sendiri yang kosong.Tiga hari sejak pulang dari lapas, Alana hanya menjawab seperlunya. Tidak ada obrolan hangat seperti biasanya, atau tawa dan canda renyah yang membuat hari-hari Julian terasa berwarna. Bahkan Alana juga menolak makan bersama di meja makan dengan Julian. Dia meminta Rina mengantar makanan ke kamar dan selalu mengunci pintu lagi setelah Rina keluar. Baru malam ini, Julian berhasil menahan pintu kamar Alana hingga dia bisa bicara meskipun Alana tidak menatap balik matanya. ."Aku lagi pengen sendiri dan tenang Om, “ jawab Alana datar, tanpa menoleh. “Aku nggak papa nggak perlu mengkhawatirkanku.” Jawaban yang sama. Jawaban y
Last Updated: 2026-11-01
Chapter: Lelah Yang Tak Bisa Dijelaskan“Nyonya Helena. Kau bilang kau akan memberitahu hal penting padaku, jadi apa hal penting itu? Apa ini, aku harus bertanya ke Om Julian kenapa kakek Alverik mengadopsinya?”Alana mengusap wajahnya pelan, Dia merasa lelah. Dadanya sesak, tapi dia menolak runtuh di hadapan Helena. Alana tidak boleh lagi terlihat lemah sampai semua musuhnya menganggap itu adalah senjata untuk menghancurkannya."Itu baru pembuka." Helena tersenyum tenang. "Sisanya, biar Julian sendiri yang menjelaskan. Kalau dia berani.""Kalau dia memang menyembunyikan sesuatu, aku akan mendengar langsung dari Om Julian. Bukan dari Anda!" potong Alana cepat. Matanya kembali membidik wajah Helena yang tampak tenang mengejek."Bagus. Itu jawaban yang kuharapkan darimu." Helena menepuk pembatas kaca dengan ujung jarinya. "Tapi ingat satu hal, Alana. Julian tidak akan pernah menceritakannya dengan sukarela.""Kenapa Anda begitu yakin?""Karena kalau dia bercerita, mungkin saja kamu akan membencinya?”Alana menelan ludah. Kepe
Last Updated: 2026-10-31
Chapter: Akhirnya Semua Selesai“Hari ini, mereka resmi dinyatakan sebagai tersangka dengan kasus berlapis. Setelah ini mereka tidak akan bisa lagi keluar dari jeruji besi itu.”Pagi berikutnya, kabar penangkapan Marveen Marques dan Salvator mengguncang dunia bisnis. Penyelidikan mengungkap berbagai kejahatan Tiger Dark, termasuk pencucian uang, penyelundupan, pemerasan, dan keterlibatan Marveen dalam pembunuhan Cavan Mallory.Sejumlah aset yang diperoleh secara ilegal disita. Jaringan bisnis yang selama ini menjadi kedok organisasi tersebut dibekukan, sementara para anggota yang terbukti terlibat diproses sesuai hukum.Dengan bukti yang kuat dan kesaksian para saksi, Marveen tidak lagi memiliki jalan untuk menghindari pertanggungjawaban.Sementara itu, hak kepemilikan yang diwariskan Tuan Cavan kepada Alsava mulai dipulihkan melalui proses hukum. Perusahaan keluarganya yang sempat terombang-ambing akhirnya memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.Di kantor Kenneth, Alsava berdiri di depan jendela besar sambil mem
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: Honeymoon dan Janji Tanpa Rahasia“Sekarang sudah yakin kalau aku jatuh cinta padamu?”Ken langsung melingkarkan pelukannya di pinggang Alsava. Alsava yang lagi fokus mengaduk kopi tersentak kaget, tapi dia tak bergeming menjauh.“Apa bukti cintaku masih kurang? Hm sepertinya kurang, kita belum honeymoon. Sejauh ini kemesraan kita sebagai suami istri masih kurang,” tambah Ken dengan sedikit nakal. Dia mengecup punggung Alsava membuat sesuatu berdesir di bagian perut Alsava.“Ide bagus,” saut Alsava penuh arti. “Tapi liburan kali ini ajak juga Asisten Lee.”Ken langsung membalikkan tubuh Alsava lalu mendongakkan dagu istrinya dengan jari telunjuk. “Kita mau honeymoon sayang, bagaimana bisa kamu memintaku mengajak Asisten Lee!” protes Ken.“Kita mengajaknya liburan Tuan Ken. Apa kamu nggak kasihan melihat dia sudah macam zombie yang kerja terus bagai kuda! Bisa-bisa dia mati dalam keadaan kerja,” balas Alsava yang makin membuat Ken keberatan.“Dia tidak akan mengganggu kita sayang,” bujuk Alsava setelah beberapa detik.
Last Updated: 2026-10-18
Chapter: Runtuhnya Tiger Dark“Asisten Lee, pastikan semua bukti diamankan. Jangan sampai ada satu dokumen pun yang hilang!” perintah Davin. “Siap, Tuan Davin. Kali ini saya pastikan tidak ada yang lolos, kecuali kalau Tuan Ken menyuruh saya lembur lagi.” Lee melirik Alsava. “Nona, tolong ingatkan suami Anda bahwa saya juga manusia.” “Baiklah. Nanti aku minta Ken memberimu liburan sebulan.” Mata Asisten Lee langsung berbinar. “Saya suka sekali bekerja sama dengan Nona!” “Sudah, jangan banyak bicara!” tegur Davin. “Kita harus segera membawa mereka ke kantor polisi.” Marveen mendengus ketika dua orang mantan anak buahnya menariknya berdiri. “Kalian pikir penangkapan ini akan menghancurkan Tiger Dark? Klan gelap itu tidak akan runtuh hanya karena aku ditangkap!” “Kalau begitu, Anda bisa menjelaskan semuanya di depan penyidik,” sahut Alsava dingin. “Termasuk keterlibatan Anda dalam kematian ayahku.” Marveen terdiam. Alsava melangkah mendekat. “Bertahun-tahun aku tidak tahu siapa yang merenggut ayahku.
Last Updated: 2026-10-16
Chapter: Akhir Pelarian MarveenSetengah Jam sebelumnya.“Oh rupanya aku kedatangan tamu kehormatan. Putri mendiang Cavan Mallory." Marveen tertawa pendek, lalu meraih gelas anggurnya. "Kamu sangat mirip ibumu.”Alsava memutar bola mata malas. “Move On Om topeng emas. Ibuku cintanya sama Ayah bukan dengan Anda!” ejek Alsava malas. “Aku sudah lama menunggu moment berhadapan langsung dengan Anda seperti ini.”Marveen tersenyum, meneguk gelas anggurnya sedikit. Tatapan Marveen beralih ke Davin dan terakhir ke Adrian. Tatapannya menyipit seolah mengenali siapa yang ada dihadapannya saat ini.“Davin, hahaha sudah bosan bersembunyi rupanya kau. Apa kau tidak menceritakan kisah Aku dan Aileen yang sebenarnya?”Davin hanya diam. Enggan membalas.“Adrian. Orang yang Cavan percaya untuk menyimpan rahasia terakhirnya. Kupikir kau sudah mati di tempat persembunyian.”"Sudah waktunya aku datang Mr X. Aku selalu menjaga semua yang kau cari selama bertahun-tahun," sahut Adrian tenang.Marveen menaruh gelasnya. Tangan kanannya perl
Last Updated: 2026-10-15
Chapter: Penyamaran Asisten Lee Selesai"Salvator?" Davin mengumpat pelan. "Berapa lama?""Tiga menit. Mungkin kurang."Davin memukul bagian tengkuk Marveen, melumpuhkan si Mr X agar bisa mereka bawa pergi. Davin menyeret Marveen memaksanya berdiri lalu mengikat tangannya dengan kabel pengikat dari saku. "Jalur tangga darurat sudah tidak aman. Kita pakai jalur belakang.""Ada jalur belakang?" tanya Adrian."Sekarang ada." Davin menunjuk jendela besar di sisi ruangan. Di bawahnya, atap gudang barat terhampar, dan di sana, di balik bayangan, sebuah tangga besi tua menempel di dinding.Alsava sudah lebih dulu membuka jendela. Angin malam masuk membawa bau asin laut dan asap. "Om Adrian, ikut aku. Om Davin, bawa dia.""Kamu yakin?" Adrian memandang ketinggian itu dengan wajah pucat."Om mau menghadapi sepuluh orang Salvator, atau turun lewat tangga?"Adrian menelan ludah dan melangkah ke jendela.Baru saja kaki Alsava menyentuh ambang jendela, pintu ruangan terbanting terbuka. Seorang pria bertubuh besar berdiri di sana dengan
Last Updated: 2026-10-14
Chapter: Topeng Emas Segera RuntuhDi lantai atas markas, Marveen duduk sendirian di ruang pribadinya. Sebatang cerutu menyala di tangannya, dan segelas anggur tergeletak setengah penuh di atas meja."Dorry bisa diandalkan," gumamnya. "Ken juga ternyata lebih berguna dari dugaanku."Ia tertawa kecil. Di luar pintu, koridor yang biasanya dipenuhi penjaga terasa terlalu sunyi, tetapi Marveen tidak menyadarinya. Pikirannya sibuk menghitung keuntungan dari pengiriman malam ini.Gagang pintu bergerak pelan."Dorry?" Marveen tidak menoleh. "Sudah kubilang, jangan ganggu aku sampai...""Bukan Dorry."Suara itu perempuan, tenang dan dingin.Marveen membeku. Cerutunya berhenti di udara. Perlahan ia memutar kursi. Alsava berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, Davin menutup jalan keluar dan Adrian melangkah masuk sambil membawa map di tangan."Selamat malam, Tuan Marveen," sapa Alsava santai. "Masih ingat siapa aku bukan?"Cerutu itu jatuh ke atas karpet. Marveen kaget, tapi dia segera kembali tenang. Kali ini, wajahnya tidak b
Last Updated: 2026-10-10