登入Demi bisnisnya yang hancur, Alsava Maureen terpaksa bersedia menggantikan Lusiana menikahi Tuan Muda Kenneth Baskara. Ken marah karena merasa ditipu, dan Alsava harus bertahan di tengah belenggu dan penyiksaan. Tapi seiring waktu, amarah itu runtuh. Di balik kebencian, tumbuh cinta.
查看更多'Tiga bulan lalu Alsava tanda tangan kontrak 8 miliar. Hari ini dia disuruh ngelap lemari kaca sampai kinclong.'
“He Alsava! Lemari ruang baca udah kau bersihkan? Harus sampai bersih, jangan ada jejak debu yang masih menempel!" Tuti, maid senior yang mengatur semua pekerjaan di rumah Tuan Baskara, menyegat langkah Alsava. Dagunya naik angkuh. Alsava berhenti, dia menoleh pelan. Wajahnya datar, dua alisnya mengerut, sedikit memicingkan matanya sinis. "Enak aja! Bersih-bersih ruang baca bukan jobdesk gue. Seenaknya aja nih senior nyuruh-nyuruh. Lu pikir gue babu yang bisa lu tindas?" umpat Alsava dalam hati. “Maaf, Mbak Tuti. Itu bukan tugas saya.” Alsava menegakkan punggung. Suaranya datar, tapi matanya nantang. Sebagai maid baru, dia sudah hafal polanya. Kerjaan numpuk, jam istirahat dipotong, tugas orang lain dilimpahkan seenaknya ke dirinya. Tuti mendongak. “Kalau mau awet kerja di sini jangan pilih-pilih! Rumah ini gede, semua harus kerja sama. Aku nyuruh kamu karena yang lain lagi kerepotan.” Alsava tak langsung menjawab, matanya menyapu ruangan. Di pojok sofa, dua maid lagi selonjoran sambil scroll HP. Di dapur, dua maid lainnya sedang ketawa-ketiwi sambil ngopi. Ada juga yang joget-joget ngikutin short video. Alsava balik natap Tuti. Bibirnya miring sinis. “Mbak Tuti nggak lagi sakit kepala kan? Sampai nggak lihat mereka nongkrong di sana!” Jarinya nunjuk satu-satu. Muka Tuti merah padam. Dia paling benci junior yang berani melawannya. Dengan langkah cepat Tuti menghampiri Alsava. Tangannya mencengkram lengan Alsava kasar, sampai tubuh Alsava oleng mau nyungsep ke lantai. “Aku ingatkan sekali lagi, ya, babu baru!” desis Tuti di telinga Alsava. “Jangan sekali-kali kamu berani membantahku. Kalau nggak mau aku aduin ke Nyonya biar kamu dipecat!” Pecat! Darah Alsava berdesir seolah berhenti mengalir. Jantungnya terpacu lebih kencang, panik. Nggak, nggak bisa! Tiga bulan lalu bisnis marketingnya hancur. Dikhianati orang kepercayaannya sendiri. Klien kabur, produk jatuh, uang perusahaan dibawa lari. Gaji maid ini receh. Tapi receh ini bisa membantunya sedikit mencicil gaji karyawan-karyawannya yang dulu. Gengsi? Sudah dia kubur dari hari pertama ngelamar jadi babu. “Oke. Aku kerjain sekarang.” Alsava tak ingin membuang waktu debat. Dia muter badan, menyusuri lorong rumah yang luasnya kayak istana, menuju ruang baca. Tangannya sibuk. Buku berserakan dirapihin, meja disapu, kaca lemari dilap, padahal tak ada satupun debu yang terlihat. "Gue jago ngitung omset milyaran. Jago nego sama klien keras kepala. Jago baca maunya customer cuma dari sorot mata. Tapi di rumah ini, orang cuma menilai lantai kinclong apa enggak setelah gue pel. Piring keset apa enggak setelah gue cuci. Lipatan baju lurus apa enggak setelah gue setrika." Alsava mengelus kaca lemari yang udah kinclong, napasnya berat. "Ah, hidup. Jungkir baliknya gampang banget sih. Kemarin masih CEO, sekarang udah jadi Upik Abu!" ** Rumah Tuan Baskara begitu riuh. Hari ini adalah hari pernikahan Tuan Muda Ken Baskara dengan gadis pilihan keluarga yang sudah dijodohkan sejak mereka masih kecil. Pesta akan diadakan di hotel paling mahal di kota, tapi semua maid tetep disuruh menyiapkan ini-itu segala keperluan pesta dari rumah. Harus seperfek mungkin! “Eh, maid junior!” Anin, maid senior kedua, ngelempar kardus ke pelukan Alsava. “Antar ini ke hotel sekarang. Dua jam lagi dipake buat acara. Jangan telat!” Alsava baru aja beresin dapur, koki baru saja selesai masak gede-gedean dan membuat dapur kotor berantakan. Napas aja belum, sekarang disuruh lari ke hotel bawa barang segede gaban. “Ada lagi?” Alsava nahan sarkas di ujung lidah. “Gak ada, cuma ini. Tapi cepet! Kalau rusak, gaji kamu sebulan nggak bakal cukup buat ganti.” Anin mengingatkan sambil ngangkat dagu. Alsava enggan menjawab. Dia langsung menggendong kardus, ngeluarin sepeda listriknya sendiri. Lebih cepat daripada nunggu mobil jemputan. Dia harus sampai sepuluh menit dari waktu yang diberikan Anin. "Kamar 231!" Alsava mengerutkan jidatnya menatap kertas yang berisi alamat tujuan. "Jadi ini kamar pengantin wanita, berarti isi kardus ini baju dan barang-barang pengantin," Jantungnya berdegup kencang, perasaannya sedikit gugup dan panik. Alsava ngebut. Takut telat, takut barang rusak, takut dipecat. Dia memilih jalur belakang untuk menghindari macet. Setengah ngos-ngosan dia ngetok pintu kamar 231. Tangannya gemetaran. Pintu kebuka sedikit. Tangan putih kecil langsung menarik pergelangan Alsava, menyeretnya masuk sampai hampir jatuh. Seorang wanita berdiri angkuh di depannya. Make up flawless, Piyama sutra putih. Tatapannya tajam, ngiris. “Siapa namamu?” Suaranya datar, tapi berkuasa. “Al-Alsava. Saya disuruh antar barang-barang ini, Nona.” Alsava menjawab dengan hati-hati. Matanya ngukur ekspresi wanita di depannya. “Kau pelayan rumah keluarga Baskara?” Alsava mengangguk pelan. Wanita itu melirik ke lorong, memastikan tak ada orang lain selain Alsava. Setelah merasa tak ada siapapun, barulah dia tersenyum tipis, Senyum yang nggak sampai mata. “Kamu butuh uang banyak, kan? Aku bisa memberinya. Asal kamu mau bantu aku.” Alsava mengerut. “Maksud Nona?” “Ikut aku.” Tanpa nunggu jawaban, wanita itu menarik Alsava lagi ke ruangan kecil di kamar 231. Di sana ada dua MUA lagi milih-milih palette. “Cepat! Rias dia seperti pengantin!” Alsava mendelik. Otaknya belum bisa mencerna. Tapi tubuhnya udah ditarik paksa, dipaksa duduk di kursi rias depan cermin gede. “Nona, maksudnya ini apa?!”“Hari ini, mereka resmi dinyatakan sebagai tersangka dengan kasus berlapis. Setelah ini mereka tidak akan bisa lagi keluar dari jeruji besi itu.”Pagi berikutnya, kabar penangkapan Marveen Marques dan Salvator mengguncang dunia bisnis. Penyelidikan mengungkap berbagai kejahatan Tiger Dark, termasuk pencucian uang, penyelundupan, pemerasan, dan keterlibatan Marveen dalam pembunuhan Cavan Mallory.Sejumlah aset yang diperoleh secara ilegal disita. Jaringan bisnis yang selama ini menjadi kedok organisasi tersebut dibekukan, sementara para anggota yang terbukti terlibat diproses sesuai hukum.Dengan bukti yang kuat dan kesaksian para saksi, Marveen tidak lagi memiliki jalan untuk menghindari pertanggungjawaban.Sementara itu, hak kepemilikan yang diwariskan Tuan Cavan kepada Alsava mulai dipulihkan melalui proses hukum. Perusahaan keluarganya yang sempat terombang-ambing akhirnya memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.Di kantor Kenneth, Alsava berdiri di depan jendela besar sambil mem
“Sekarang sudah yakin kalau aku jatuh cinta padamu?”Ken langsung melingkarkan pelukannya di pinggang Alsava. Alsava yang lagi fokus mengaduk kopi tersentak kaget, tapi dia tak bergeming menjauh.“Apa bukti cintaku masih kurang? Hm sepertinya kurang, kita belum honeymoon. Sejauh ini kemesraan kita sebagai suami istri masih kurang,” tambah Ken dengan sedikit nakal. Dia mengecup punggung Alsava membuat sesuatu berdesir di bagian perut Alsava.“Ide bagus,” saut Alsava penuh arti. “Tapi liburan kali ini ajak juga Asisten Lee.”Ken langsung membalikkan tubuh Alsava lalu mendongakkan dagu istrinya dengan jari telunjuk. “Kita mau honeymoon sayang, bagaimana bisa kamu memintaku mengajak Asisten Lee!” protes Ken.“Kita mengajaknya liburan Tuan Ken. Apa kamu nggak kasihan melihat dia sudah macam zombie yang kerja terus bagai kuda! Bisa-bisa dia mati dalam keadaan kerja,” balas Alsava yang makin membuat Ken keberatan.“Dia tidak akan mengganggu kita sayang,” bujuk Alsava setelah beberapa detik.
“Asisten Lee, pastikan semua bukti diamankan. Jangan sampai ada satu dokumen pun yang hilang!” perintah Davin. “Siap, Tuan Davin. Kali ini saya pastikan tidak ada yang lolos, kecuali kalau Tuan Ken menyuruh saya lembur lagi.” Lee melirik Alsava. “Nona, tolong ingatkan suami Anda bahwa saya juga manusia.” “Baiklah. Nanti aku minta Ken memberimu liburan sebulan.” Mata Asisten Lee langsung berbinar. “Saya suka sekali bekerja sama dengan Nona!” “Sudah, jangan banyak bicara!” tegur Davin. “Kita harus segera membawa mereka ke kantor polisi.” Marveen mendengus ketika dua orang mantan anak buahnya menariknya berdiri. “Kalian pikir penangkapan ini akan menghancurkan Tiger Dark? Klan gelap itu tidak akan runtuh hanya karena aku ditangkap!” “Kalau begitu, Anda bisa menjelaskan semuanya di depan penyidik,” sahut Alsava dingin. “Termasuk keterlibatan Anda dalam kematian ayahku.” Marveen terdiam. Alsava melangkah mendekat. “Bertahun-tahun aku tidak tahu siapa yang merenggut ayahku.
Setengah Jam sebelumnya.“Oh rupanya aku kedatangan tamu kehormatan. Putri mendiang Cavan Mallory." Marveen tertawa pendek, lalu meraih gelas anggurnya. "Kamu sangat mirip ibumu.”Alsava memutar bola mata malas. “Move On Om topeng emas. Ibuku cintanya sama Ayah bukan dengan Anda!” ejek Alsava malas. “Aku sudah lama menunggu moment berhadapan langsung dengan Anda seperti ini.”Marveen tersenyum, meneguk gelas anggurnya sedikit. Tatapan Marveen beralih ke Davin dan terakhir ke Adrian. Tatapannya menyipit seolah mengenali siapa yang ada dihadapannya saat ini.“Davin, hahaha sudah bosan bersembunyi rupanya kau. Apa kau tidak menceritakan kisah Aku dan Aileen yang sebenarnya?”Davin hanya diam. Enggan membalas.“Adrian. Orang yang Cavan percaya untuk menyimpan rahasia terakhirnya. Kupikir kau sudah mati di tempat persembunyian.”"Sudah waktunya aku datang Mr X. Aku selalu menjaga semua yang kau cari selama bertahun-tahun," sahut Adrian tenang.Marveen menaruh gelasnya. Tangan kanannya perl
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.