Jam 8 malam. Kantor sudah sepi, Lampu lantai 38 hanya sebagian yang masih menyala. Alsava masih menunduk di meja kerja ruangan Tuan Ken. Di depannya, berbaris mengejek tumpukan data lapangan 3 bulan. Mata panda, merah dan mulai perih, kopinya sudah dingin, kepulan asapnya sudah hilang bersama detikan waktu. Dia belum berani pulang sebelum menemukan pola yang Ken inginkan.“Churn 42%, cash flow minus, target market salah. Kalo sampai gue nggak menemukan benang merahnya besok, gue yang bakalan digulung Ken di depan Pak Reza!” Batin Alsava mengeluh. Kepalang tanggung masuk ke permainan yang pelik, tak ada lagi jalan untuk mundur. Kalau mau selamat, kuncinya hanya satu! Meyakinkan Ken jika dia berkompeten dan bisa diandalkan.Pintu kebuka pelan, tanpa mengetuk pintu bi Imah masuk menenteng rantang sambil mengulas senyum.“Capcay, Nyonya.” Bi Imah nyelonong masuk begitu saja menghampiri Alsava yang masih berkutat dengan layar laptop.“Tuan meminta saya mengantarnya untuk Nyonya, kata Tuan,
Last Updated : 2026-08-06 Read more