Masuk“Tidak… aku tidak mau! Kak Saga. Ayo kita pergi bersama!”
“Evelyn, berjanjilah padaku. Hiduplah dengan baik.” Bruk! Pintu gudang ambruk. Saga terjepit di antara reruntuhan gudang dan tidak bisa bergerak. Sedangkan api telah berkobar dengan sangat besar. Evelyn tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menangis histeris menyaksikan Saga terbakar hidup-hidup di hadapannya. “Kak Saga… Kak Saga…!” Evelyn berteriak sekuatnya dengan suara tercekat. Dia menangis sejadi-jadinya. “Maafkan aku. Maafkan aku..” Dada Evelyn terasa sangat sesak, dan nafasnya mulai terputus-putus. Tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan, darahnya terus mengalir dari luka tikaman di perutnya. Dia tahu jika dia tidak akan selamat dari kematian. Dia menatap ke arah Saga yang telah dilahap api. Sekarang, hanya ada penyesalan yang memenuhi seluruh sarafnya. Saga adalah orang yang sangat dibencinya sepanjang hidup. Orang yang terus di tentangnya, dihina dan selalu dibohonginya. Selama ini dia selalu memperlakukan Saga dengan sangat buruk. Tetapi, justru pria itu sekarang meregang nyawa demi dirinya. “Andai saja Tuhan memberiku kesempatan sekali lagi, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kak Saga, aku akan patuh padamu. Aku akan… menikah denganmu…” Nafas Evelyn telah habis, dan dia sudah tidak bisa bertahan lagi. Matanya tertutup perlahan, dengan tetesan air mata yang terakhir. Suasana malam yang mencengkam menjadi begitu hening. Bulan purnama perlahan menampakkan dirinya dari balik awan. Sedetik, dua detik, waktu berlalu. Hingga di detik kelima… “Evelyn, Evelyn. Apa yang kamu lakukan? Cepatlah!” Sebuah tepukan di bahunya membuat Evelyn tersentak kaget. Kedua matanya yang terpejam segera terbuka. Apa yang terjadi? Evelyn menatap sekeliling. Dia tiba-tiba menjadi linglung. Saat ini, dirinya sedang duduk bersimpuh di tengah jalanan sepi yang sedikit gelap. Hanya ada cahaya rembulan yang menyinari kegelapan malam. “Evelyn, cepat berdiri! Kita harus segera melarikan diri sebelum Saga datang untuk menangkapmu lagi.” Evelyn mendongak, melihat siapa orang yang sedang berbicara dengan-nya. Begitu dia melihat wajah itu, Evelyn kaget luar biasa. Reno? Evelyn benar-benar kebingungan setengah mati. Bukankah dia tadi berada di depan sebuah gudang tua yang dilalap api? Dia sekarat dan menghembuskan nafas terakhir. Benar! Seharusnya dia sudah mati, kan? Tapi kenapa saat ini dia masih hidup? Dan Reno? Pacar kesayangannya ini yang telah menjebaknya. Membuatnya datang membawa seluruh harta Brahmana, lalu menikamnya dan membakarnya hidup-hidup didalam sana. Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba dia ada tengah jalan ini? Dia meraba tubuhnya. Tidak ada rasa panas sedikit pun, luka di perutnya juga tidak ada. Ini ajaib! Tunggu sebentar. Sepertinya, ini ada yang salah! Evelyn kembali mengingat-ingat. Jalan ini, tampak familiar dalam ingatannya. Dia duduk di tengah jalan dan Reno berdiri di sampingnya. Posisi ini, sama persis seperti posisi di malam tiga bulan yang lalu. Dimana dia kabur dari rumah besar Brahmana demi sang pacar. Lalu Saga berhasil menangkapnya kembali dan melakukan hal yang sangat mengerikan padanya. Kemudian dia dipaksa menikah dengan Saga. Ketika Evelyn menyadari sesuatu, dia benar-benar terperanjat kaget. Apa aku hidup kembali? Benarkah? Apakah ini, adalah doa terakhir kalinya? Tuhan mengabulkan doanya! Evelyn tercekat. Benar! Dia telah terlahir kembali. Dia berada pada waktu tiga bulan sebelum dia mati mengenaskan! Kak Saga! Ingatannya langsung tertuju pada Saga. “Dimana Kak Saga? Apa dia masih hidup?” Ketakutan langsung menghantam tubuhnya setelah ingatannya kembali pada tiga bulan sebelum kehidupannya hari ini. “Evelyn, jangan takut. Aku akan membawamu pergi dari pria itu. Dia tidak akan menemukanmu lagi.” Evelyn kembali mendongak. Melihat wajah pura-pura Reno, dia merasa sangat mual. Pria ini, dialah yang telah membunuhnya dan membuat Saga mati mengenaskan di hadapannya. Punggungnya tiba-tiba terasa sangat dingin, seperti disiram air es. Tidak tidak! Dia telah dilahirkan kembali. Jadi dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Evelyn mengepalkan tangannya erat-erat dan menatap tajam pada Reno. “Katakan, dimana Saga. Apa kamu sudah membunuhnya?” Reno menyerngitkan alisnya. Dia merasa agak aneh pada Evelyn. Apa karena dia sangat takut tertangkap lagi oleh Saga? “Evelyn, kamu jangan takut lagi. Aku pasti akan membunuhnya setelah ada kesempatan. Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan sebuah rencana.” Sebuah rencana? Sorot mata kebingungan Evelyn berangsur menghilang. Berganti dengan tatapan dingin yang sangat tajam. Begitu dia ingin membuka mulutnya, terdengar suara deru langkah kaki yang banyak dari belakang. Perlahan dia menoleh. Kedua matanya terbelalak dan jantungnya berdebar sangat kuat. “Kak Saga..” Dari kejauhan, dia melihat Saga sedang berjalan terburu-buru. Disampingnya, Jefri sang asisten mendampingi. Sedangkan di belakang mereka, beberapa anak buah menyusul. “Evelyn, mereka datang! Cepat bangun!” Saga menghentikan langkahnya. Diikuti oleh semua orang di belakangnya. Melihat Reno mengulurkan tangan pada Evelyn, dia tertegun. ____Air mata Leo hampir saja tumpah seperti sungai saat dia keluar dari ruangan itu.Bayangkan saja, dia yang sudah bersusah payah berada di tengah, mencoba menenangkan kedua pihak, bahkan sampai merasa bersalah sepanjang waktu. Tapi pada akhirnya, Tuan malah menyuruhnya untuk “mengawasinya dengan baik”?Yang lebih mengejutkan lagi, bahkan ketika pembicaraan menyinggung tentang Qina, Tuan sama sekali tidak terlihat marah kepada Evelyn.Leo benar-benar merasa dirinya telah melakukan kesalahan besar.Bagaimana bisa dia sampai lupa bahwa Tuannya yang sekarang sedang begitu bersemangat… menjadi seseorang yang sangat bodoh demi cinta?Setelah percakapannya dengan Leo selesai, Evelyn kembali memusatkan perhatian pada pelajarannya. Materi yang harus dia pelajari menjelang ujian benar-benar padat dan melelahkan.Sejak Saga sempat muncul di sekolah beberapa waktu lalu, area taman belakang yang biasanya ramai, terutama di sekitar pohon persik—mendadak sepi. Ditambah lagi dengan tekanan ujian yang
Setelah beberapa saat, ibunya perlahan membungkuk kembali dan melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian. Satu demi satu pakaian digantung dengan hati-hati.Melihat tubuh ibunya yang kurus dan wajahnya yang terlihat begitu lelah, Evelyn hampir saja berlari menghampirinya.Tapi…Apa yang bisa kulakukan jika aku muncul sekarang?Selain menangis dan meminta maaf… selain membuat Ibu semakin khawatir… aku tidak bisa melakukan apa pun.Aku harus segera membawa Ayah dan Ibu keluar dari tempat ini!Aku tidak akan membiarkan mereka terus diperlakukan seperti ini!Dulu Evelyn terlalu keras kepala. Demi mempertahankan citranya di depan Reno, dia menghabiskan banyak uang yang diberikan ayahnya untuk membeli barang-barang mahal yang sebenarnya tidak berguna.Sekarang dia baru menyadari satu hal.Dia membutuhkan uang.Banyak uang.Bukan hanya cukup untuk membeli rumah bagi orang tuanya.Bukan hanya untuk membuat mereka hidup layak.Dia membutuhkan kekayaan yang sangat besar.Kekayaan yang bahkan cuk
Dia memang tidak ingin makan dan tinggal di rumah orang lain tanpa berbuat apa-apa. Selama masih sanggup, mencuci dan memasak bukan masalah baginya.Namun, Shireen justru mengernyit tidak senang.“Ibu, kenapa Ibu begitu baik padanya? Dia makan dan tinggal di sini gratis, pakai semua fasilitas rumah. Memintanya mencuci beberapa baju saja sudah seharusnya. Aku tidak suka ada orang luar di rumah kita. Mengganggu!”Feni segera menenangkan putrinya.“Tenang, Sayang. Ibu akan memintanya menjaga jarak supaya tidak mengganggumu. Kamu fokus saja belajar dan persiapan ujian.”Shireen mendengus.“Bu, Ibu bercanda? Mana bisa Ibu menyamakan aku dengan Evelyn?”Feni menatap putrinya dengan bangga.“Ya, ya, Ibu yang salah. Putriku jelas cantik dan luar biasa. Nanti kalau kamu masuk Media Imperial, Ibu akan minta ayahmu bicara dengan Bibi Liana supaya kamu bisa magang di Langit Kaisar.”“Masa? Aku bisa magang di Langit Kaisar?” wajah Shireen langsung berseri.“Tentu saja. Istri Presiden Grup Mahendra
“Aku tahu Saga mempercayakan semua urusan yang berkaitan denganku padamu. Dan kalau sesuatu sampai terjadi padaku, orang pertama yang akan dia salahkan pasti kamu,” ucap Evelyn pelan. “Jadi… kenapa kita tidak bekerja sama saja?” Leo menatap perempuan di depannya. Ada sesuatu yang jelas berubah pada diri Evelyn. Ekspresinya ikut mengeras. “Bekerja sama? Maksudmu apa?” Evelyn menyipitkan mata. “Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti di Kebun Brahmana. Berhadapan dengan orang yang sulit ditebak dan kejam seperti Saga, kamu yang paling paham batasannya. Kamu sudah bertahun-tahun berada di sisinya. Kalau di saat-saat genting kamu bisa memberi isyarat agar aku tidak menginjak ranjau, itu akan menguntungkan kita berdua.” Dia berhenti sejenak, lalu menatap Leo tajam. “Bagaimana?” Usulan itu terdengar masuk akal… sekaligus mengerikan bagi Leo. Bukankah ini sama saja dengan berkhianat? Perempuan ini terlalu berani. Melihat wajah Leo yang ragu, Evelyn langsung me
Setelah itu, Saga membantu Evelyn sedikit duduk dan menyodorkan segelas air putih ke bibirnya.Tanpa sadar, Evelyn membuka mulut. Air dingin membasahi tenggorokannya, membuat rasa perih itu perlahan mereda.“Apa yang terjadi denganku?” tanya Evelyn pelan setelah menghabiskan air itu.Bukankah semalam dia sedang mengerjakan soal latihan di ruang tengah? Kenapa sekarang dia berada di kamar… dan matahari sudah terbit?“Demam,” jawab Saga singkat, nada suaranya kembali dingin. “Kamu sama sekali tidak sadar?”Evelyn mengernyit, kepalanya masih sedikit berat.“Aku memang merasa tidak enak semalam… pusing, pandangan berkunang-kunang. Tapi kupikir itu cuma karena soal matematika yang terlalu rumit…”Begitu merasakan perubahan ekspresi Saga, Evelyn refleks menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya.Saga tidak langsung menjawab. Aura dinginnya sempat menghilang, lalu kembali saat dia menekan bel di samping tempat tidur, memanggil pelayan.Evelyn menatapnya dengan perasaan aneh.Kenapa Sa
Leo sempat mengira tuannya tidak akan pulang malam ini. Namun nyatanya, Saga meninggalkan jamuan makan lebih awal, tepat pukul delapan malam.Leo tahu betul satu hal, pantangan terbesar Saga adalah kehilangan kendali.Dan belakangan ini, Evelyn semakin sulit dipahami. Bukan hanya sikapnya, tetapi juga seluruh keberadaannya.Akan lebih baik jika Evelyn bersikap penurut. Namun Leo bisa dengan jelas merasakan bahwa gadis itu telah menguji kesabaran Saga sedikit demi sedikit.Begitu batas itu terlewati, tak peduli sebaik apa pun perilaku Evelyn nantinya, semua akan sia-sia.Tak lama kemudian, mobil berhenti di Kebun Jala.Keheningan di ruang utama terasa ganjil.Saga sengaja meninggalkan Bengis Putih di rumah. Dia yakin, dengan kedekatan Evelyn pada makhluk buas itu, gadis itu pasti akan ribut sendiri sepanjang malam. Namun kini, rumah itu sunyi.. terlalu sunyi.Leo mengambil mantel Saga dan mengikutinya masuk dengan perasaan tak enak.Begitu mereka melangkah ke ruang utama, pemandangan d







