LOGINDi kehidupan sebelumnya, Evelyn sangat bodoh. Dia menyia-nyiakan Saga, calon suami yang mengagumkan dan justru jatuh cinta pada pria lain yang hanya memanfaatkan dirinya dengan kejam. Di kehidupan yang sekarang, beberapa bajingan itu sedang menunggu kehancurannya. Tapi maaf, Evelyn tidak bodoh lagi. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Dia bersumpah akan mengejar Saga dan membalas para bajingan.
View MoreLangit di atas pelabuhan Timur terlihat berwarna kelabu keperakan. Kabut tipis menggantung rendah, menyelimuti deretan gudang tua yang sejak lama telah ditinggalkan.
Di antara bangunan yang reyot dan penuh karat, sebuah gudang kusam berdiri menjadi saksi bisu dari hal-hal yang seharusnya tidak pernah terjadi. Evelyn melangkah perlahan ke dalam gudang itu, namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Dan tubuhnya seketika membeku. Wajahnya langsung memucat dan tubuhnya gemetaran hebat karena menahan amarah sekaligus keterkejutan luar biasa. Dia telah berjuang setengah mati untuk bisa sampai ke tempat ini. Membawa seluruh aset berharga keluarga Brahmana dan seluruh black card senilai milyaran. Hanya demi sang pacar. Tapi, tepat ketika dia memasuki gudang ini, tempat dimana Reno mengatakan telah menunggunya dan akan membawanya kabur sejauh mungkin dari Saga, dia justru melihat pemandangan itu. Reno sedang berciuman panas dengan sahabat baiknya, Amira. Koper di tangannya terjatuh, bertepatan dengan kedua orang itu melepaskan ciuman mereka dan menoleh ke arahnya. Sebenarnya, tanpa bertanya sekalipun Evelyn sudah mengerti apa yang terjadi. Tetapi bibirnya tetap terbuka, “Apa-apaan Kalian?” Reno tertawa kecil, tatapannya dulu terasa menenangkan, kini terlihat sangat asing. “Sangat bagus, sayang. Kamu benar-benar patuh,” katanya dengan nada mengejek yang menusuk jantung Evelyn. Dalam sekejap, Reno mengeluarkan sebuah korek api dari saku jaket kulitnya. Dia menyalakannya, lalu melempar api itu ke pojok gudang, tepat ke arah jerigen-jerigen bensin yang sudah disiapkan. WOOSH! Seketika api menjilat dinding-dinding kayu lapuk, meledak dalam kobaran oranye menyala. Suara api membakar mengiringi aroma bensin yang kini memenuhi udara. Hanya dalam waktu beberapa detik, Gudang itu berubah menjadi neraka. Evelyn tersentak mundur, tubuhnya bergetar hebat. Sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan dilakukan Reno, tapi dia tetap bertanya, “Reno… apa kamu ingin membunuhku?” tanyanya dengang gelengan kepala tanda tidak percaya. Mata Reno menyipit. Wajahnya berubah dingin, penuh tatapan jijik. “Menurutmu?” Dia melangkah mendekati Evelyn. Satu meter di depannya, Reno mengangkat kakinya dan BRAK! Dia menendang Evelyn dengan keras. Evelyn tersungkur di tanah, dia belum bisa bereaksi apa-apa. Otaknya masih dalam keterkejutan yang sangat luar biasa. Saat keterkejutannya pulih, Evelyn hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bibirnya bergetar hebat saat mengatakan satu kalimat, “Pengkhianatan!” Reno mencibir kearahnya, “Ini adalah trik. Kamu saja yang terlalu bodoh.” Reno berjongkok, mengambil koper hitam di dekat kaki Evelyn kemudian melemparkannya pada Amira. Amira menangkap dengan semangat, lalu berkata pada Reno, “Selesaikan saja segera. Kita harus cepat pergi.” Reno mengangguk, dia mengeluarkan sebuah pisau dari balik jaketnya dan kembali mendekati Evelyn. Melihat pisau di tangan Reno, Evelyn tercengang. Dengan segera dia menarik tubuhnya mundur. “Reno, jangan bunuh aku. Kumohon..” Reno menyeringai tipis,”Kamu sudah tidak berguna lagi. Daripada terus menyusahkan aku, lebih baik mati saja!” Kemudian... Jleb! Reno menusuk perut Evelyn, dan menendangnya tanpa belas kasihani. Sambil menyisakan tawa puas, Amira dan Reno pergi meninggalkan Evelyn yang tergeletak tak berdaya di tengah kobaran api. Darah segar mengalir dari perut dan mulutnya. Evelyn sekarat dan tidak bisa bergerak lagi. “Aku benar-benar bodoh. Aku benar-benar bodoh...” Evelyn hanya bisa meratap. Air matanya mengalir tanpa terasa. Penyesalan tidak ada gunanya sekarang. Dia hanya bisa pasrah, menunggu ajal menjemputnya. Disaat keputusan asaannya, samar-samar dia mendengar suara Saga yang berteriak memanggil namanya. “Eve.. Evelyn! Kamu dimana…? Eve…!!” “Kak Saga…” Suara Evelyn sangat lemah. Lalu terdengar suara pintu gudang ditendang dengan keras. Sosok Saga menerjang kobaran api tanpa ragu. “Evelyn!” Begitu melihat Evelyn tergeletak tak berdaya dan dengan darah segar yang mengalir, wajah Saga memucat. Dengan panik dia segera menghampirinya. “Evelyn, jangan takut. Aku akan menyelamatmu. Bertahanlah.” Saga segera meraih tubuhnya. Begitu melihat sosok Saga memeluknya, Evelyn tertegun. Dia menahan tangannya dengan gemetaran, “Kak Saga. Kenapa kamu mau menyelamatkan aku?” Suaranya sangat lemah dan hampir tak terdengar. Air mata Saga mengalir dari ujung matanya. Dia mengusap darah segar di ujung mulut Evelyn. “Evelyn, kamu adalah segalanya bagiku. Aku pasti akan melindungimu.” Tanpa ragu, Saga mengangkat tubuh Evelyn, membawanya menuju pintu keluar yang hampir tertutup puing terbakar. Namun tiba-tiba… KRRAAAK! Sebuah balok kayu besar runtuh dari atas—terbakar habis—meluncur cepat ke arah mereka. Saga menyadarinya, dia dengan cepat memutar tubuhnya untuk melindungi Evelyn dengan tubuhnya sendiri. BRAK! Balok menghantam kepala Saga dengan keras. Tubuh lelaki itu jatuh di samping Evelyn, darah mengucur dari pelipisnya. “Kak Saga!” Evelyn menjerit, matanya melebar ngeri. Tubuhnya yang lemah menggigil saat melihat sosok Saga terkapar dengan kepala berlumuran darah. Api terus menyala. Asap pekat menggulung dari setiap celah gudang kayu yang kini mulai dilalap api. Bau terbakar dan serpihan debu panas memenuhi udara, menyengat paru-paru dan mata. Cahaya jingga dari kobaran api memantul liar pada tumpukan puing dan logam yang meleleh perlahan. “P-pergi… cepat pergi…” Suara Saga terdengar parau dan berat, nyaris tertelan oleh gemuruh kayu yang runtuh. Tubuhnya terhimpit balok kayu besar yang hangus sebagian. Api dengan cepat menyala di sekelilingnya. Evelyn menggelengkan kepalanya. Dia mendekap luka di perutnya dengan kuat dan berusaha untuk membantu Saga. Tetapi Saga justru mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong Evelyn keluar dari pintu. “Cepat pergi dari sini, Evelyn. Jangan pedulikan aku. Kamu harus tetap hidup.” —Mendengar ide mengejutkan dari Evelyn, Saga hanya terdiam, ekspresinya sulit ditebak.Evelyn lebih dulu angkat bicara dan berusaha meyakinkan Saga, “Menurutmu ini bukan cara paling aman? Ke depannya kamu juga tidak perlu khawatir aku menarik perhatian pria lain.”Semakin dipikir, semakin masuk akal. Wajahnya memang terlalu mencolok. Di dunia hiburan, itu justru sering membawa masalah. Kalau dia menyamar sebagai laki-laki, segalanya mungkin akan jauh lebih mudah. Lagipula, tren pria berwajah tampan dan halus sedang digemari.Saga menopang kepalanya dengan satu tangan, matanya sedikit menyipit. Sulit ditebak apakah dia setuju atau tidak.Perkataan gadis ini memang ada benarnya… tapi tetap terasa ada yang janggal.Evelyn bergumam pelan, “Aku sudah berusaha sebaik mungkin mengikuti semua aturanmu…”Saat itu, Leo datang dari dapur memberi tahu bahwa makan malam sudah siap.Begitu melihat Leo, Evelyn langsung memanggilnya, “Asisten Leo, kemari sebentar! Aku butuh pendapatmu.”“Saya?” Leo se
"Demi memuaskan egonya sendiri, Han Xian memanfaatkan putri kecilku; dia benar-benar bajingan!"Saat itu, Han merebut ponsel dari Fei lalu berkata dengan tegas, menekankan tiap katanya,"Aku beri tahu kamu, percuma saja kalau kamu mau menuntutku. Aku tidak akan memberimu satu rupiah pun!"Pria di seberang telepon mencibir,"Baiklah, Han. Karena kamu sama sekali tidak merasa bersalah, kita lihat saja nanti akibatnya!"***Setelah Evelyn berpisah dari Rega dan Rania, dia membuka kotak pesannya.Di sana, pesan terakhir masih pesan yang dia kirim beberapa hari lalu sebelum mengajak kakaknya pergi. Sampai sekarang belum juga dibalas.Sudut bibir Evelyn terangkat, matanya berkilat.Jadi kamu mau pakai cara kasar, ya?Dengan santai, Evelyn mengirim pesan lagi:[Hubungi aku dalam 10 menit. Kalau tidak, video saat kamu tidur dengan model seksi itu akan langsung kukirim ke email Amira!]Setelah mengirim pesan itu, Evelyn tetap berdiri di tempat, menghitung dalam hati: 1, 2, 3, 4, 5, 6...Saat
Saat ini, Han Xian Yu adalah salah satu aktor pria paling bersinar di dunia hiburan.Popularitasnya meroket begitu cepat, sampai dijuluki “Pangeran Terpopuler Asia” oleh para penggemar, terutama kalangan remaja.Wajah tampan, aura dingin, ditambah kepribadian yang terlihat elegan—semua itu membuatnya langsung mencuri perhatian sejak debut.Kariernya bisa dibilang berjalan mulus tanpa hambatan.Bahkan, popularitasnya sudah melampaui aktor tampan dari Kekaisaran Langit, Ling Shao Zhe.Keduanya seusia, berada di puncak yang sama, dan otomatis menjadi rival berat di industri.Belum lama ini, Han Xian Yu juga terlibat dalam proyek film besar dengan investasi fantastis.Produksi kelas atas, tim efek khusus internasional, ditambah deretan bintang ternama—film itu hampir pasti akan meledak di pasaran.Seharusnya… itu jadi batu loncatan terakhirnya menuju puncak karier.Tapi justru di momen sepenting ini—skandal besar malah muncul.Jika karier Han Xian Yu runtuh, semua proyek yang ada di tang
Para orang tua berdiri di luar gerbang, mengantar anak-anak mereka. Ada yang memberi nasihat, ada yang terus mengingatkan, ada juga yang menyemangati tanpa henti.Suasana khas hari ujian masuk perguruan tinggi.“Aku masuk dulu,” kata Evelyn sambil melepas sabuk pengamannya.Namun saat dia hendak membuka pintu—“Tunggu.”Saga memanggilnya.Evelyn berhenti dan menoleh.Apa dia mau menyemangatiku juga?Saga menatapnya tenang.“Kumpulkan jawabanmu lebih awal. Jangan buang waktu.”Evelyn langsung terdiam.“…”Orang tua lain justru menyuruh anak mereka mengecek ulang berkali-kali sebelum mengumpulkan.Tapi Saga malah menyuruhnya cepat selesai?Benar-benar…Perbandingan itu menyakitkan.Untung saja dia sudah “diberkati” oleh si Bengis Putih tadi.“Uhuk… baiklah,” jawab Evelyn sambil berdeham.Hari ini adalah ujian mata pelajaran teori.Seharusnya memang tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.Dia membuka pintu mobil.Namun baru setengah jalan,“Tunggu.”Suara Saga terdengar lagi.Evel
Evelyn yang kesal langsung menarik tangan Saga dan menggigitnya.“Kenapa kamu menyebalkan sekali?!”Karena merasa tidak bisa pergi, Archel akhirnya ikut membuat keributan. Begitu mendengar keluhan Evelyn, dia langsung mengangguk bersemangat.“Betul! Betul sekali! Dia memang menyebalkan! Melarang in
Evelyn masih ingin menerjang kembali, tapi tubuhnya tertahan.Lalu sebuah suara rendah, dalam dan tenang seperti alunan cello, terdengar di dekat telinganya.“Tenanglah. Jangan merendahkan dirimu sendiri. Jangan menyebut dirimu seperti anjing.”Evelyn tertegun.Aku tadi tidak sedang menghina diriku
Air mata Leo hampir saja tumpah seperti sungai saat dia keluar dari ruangan itu.Bayangkan saja, dia yang sudah bersusah payah berada di tengah, mencoba menenangkan kedua pihak, bahkan sampai merasa bersalah sepanjang waktu. Tapi pada akhirnya, Tuan malah menyuruhnya untuk “mengawasinya dengan baik
Di dalam ruangan, Evelyn menatap pria yang baru masuk itu.Pakaiannya… benar-benar mencolok.Warna-warnanya terang sekali sampai membuat sudut bibir Evelyn berkedut.Selera fashion orang ini benar-benar unik.Kalau bukan karena wajahnya cukup tampan, mungkin orang-orang sudah silau duluan melihat p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore