LOGINLumi Savira punya pekerjaan yang tidak bisa ia ceritakan ke sembarang orang: ia adalah istri sewaan profesional. Bisa dikontrak harian, mingguan, atau bulanan—tugasnya simpel tapi penting: menemani klien menghadapi keluarga bawel, acara sosial yang ribet, dan pertanyaan ‘kapan nikah’. Tarifnya? 5 juta per hari, mahal tapi jelas sebanding dengan kesabaran yang harus ia keluarkan. Semua berjalan rapi. Namun rutinitasnya yang absurd itu mulai terganggu ketika suatu tawaran datang—seorang klien misterius meminta kontrak enam bulan. Lebih lama, lebih mahal, dan lebih berisiko. Tanpa disadari, Lumi mulai menghadapi hal yang tidak ada dalam kontrak: perasaan. Karena menjadi istri sewaan itu mudah. Yang sulit adalah menjaga hati tetap utuh, saat semuanya terasa terlalu nyata.
View More“Lumi.”
“Iya, Pak.”
“Pegang tangan saya.”
Lumi Savira menunduk menatap tangan pria paruh baya di sampingnya. Tangannya kering, sedikit dingin, dan—jujur saja—terasa seperti memegang panci yang lupa dimatikan kompor.
“Sekarang juga, Lumi,” bisik pria itu panik. “Nenek lagi nengok ke sini.”
“Baik, Pak. Tapi santai. Jangan kaku. Kita kelihatan kayak pasangan yang lagi negosiasi tanah,” balas Lumi sambil tersenyum tipis.
Pria itu—Pak Rudi, klien pertama dengan kontrak tiga hari—langsung menegakkan bahu. “Iya, iya. Maaf. Ini pertama kali saya sewa jasa begini.”
“Kelihatan,” sahut Lumi cepat. “Bapak tegangnya sampai menular.”
Pak Rudi menelan ludah. “Nenek saya galak.”
“Tenang. Saya sudah biasa,” kata Lumi enteng. “Nenek-nenek galak, tante kepo, sepupu toxic—semua pernah saya hadapi.”
Belum sempat Pak Rudi bernapas lega, seorang wanita tua berkebaya hijau, dengan tongkat di tangan, menyapu lantai.
“Rudi,” suara itu nyaring. “Kamu berdiri di situ sama siapa?”
Pak Rudi tersenyum terlalu lebar. “Ini… ini istri saya, Nenek.”
Lumi reflex mencondongkan badan dan tersenyum manis. “Selamat sore, Nenek.”
Nenek itu menyipitkan mata. “Istri?”
“Iya, Nenek,” jawab Lumi cepat. “Kami menikah sederhana. Saya nggak suka ribet.”
“Kenapa baru sekarang dikenalin?” tanya neneknya curiga.
Pak Rudi berkeringat. “Soalnya Lumi ini… pemalu, Nenek.”
Lumi nyaris tersedak. “Iya, saya pemalu. Apalagi kalau ketemu mertua.”
Nenek itu mendengus. “Kamu kerja apa, Nak?”
“Freelance, Nenek.”
“Freelance apaan?”
Lumi tersenyum lebih lebar. “Freelance… istri.”
Pak Rudi langsung terbatuk keras. “Maksudnya—freelance desain, Nenek! Istri saya desainer!”
“Oh.” Nenek itu menatap Lumi dari atas ke bawah. “Pantas bajunya rapi.”
Lumi menunduk sopan. “Terima kasih, Nenek. Saya usaha kelihatan layak.”
“Nah, Rudi,” kata neneknya tajam. “Kamu pegang tangan istrimu dong. Masa berdiri kayak orang asing?”
Pak Rudi buru-buru meraih tangan Lumi lagi. Kali ini terlalu erat.
“Santai, Pak,” bisik Lumi. “Ini bukan lomba tarik tambang.”
“Maaf, maaf. Saya grogi.”
Nenek itu mengangguk puas. “Nah gitu. Sudah kelihatan kayak suami.”
Lumi tersenyum sambil menahan tawa. Dalam hati ia menghitung waktu.
Dua jam lagi. Bertahan dua jam lagi. Setelah itu, pulang, ganti klien, ganti peran. Baginya, ini cuma pekerjaan.Tiba-tiba, Rudi menatap Lumi dengan panik. “Eh… kalau nanti ibu saya datang, kita kan harus pura-pura sayang ya?”
Lumi menatapnya datar. “Iya, Pak. Tapi jangan lebay.”
Pak Rudi mengangguk serius, lalu menatap neneknya dengan panik kecil. “Eh, Nenek… jangan bilang ke Ibu ya kalau kami kayak gini…”
Nenek itu menatap balik, lalu mengedipkan mata. “Kalau aneh, terserah kamu. Tapi jangan salahin aku kalau jantungmu copot.”
Lumi menahan tawa. Apa nenek ini latihan ngomel seumur hidup sampai bisa bikin orang grogi?
Tiba-tiba nenek itu menendang kursi kosong di samping Rudi. “Ambilkan air untuk Lumi! Jangan cuma pegang tangan doang!”
Pak Rudi hampir pingsan. “Nenek, saya…!”
Lumi buru-buru maju, mengambil gelas sendiri. “Tenang, Pak. Saya sudah biasa di medan perang ini.”
Nenek itu menatap gelasnya, lalu menambahkan, “Dan kalau saya lihat kamu makan nggak sopan, Rudi, aku cabut undangan.”
Pak Rudi menelan ludah sambil menatap Lumi. “Saya serius nggak salah pilih istri kan?”
Lumi tersenyum tipis. Kalau istri ini dibayar lima juta per hari, boleh nggak minta bonus kalau selamat dari mertua?
Dan di situ, Lumi menyadari satu hal: jadi istri sewaan itu bukan cuma soal senyum dan pegangan tangan… tapi juga skill bertahan hidup tingkat dewa.
Acara selesai menjelang malam. Lampu-lampu taman rumah Ibu Indah masih menyala hangat ketika para tamu satu per satu pamit. Senyum sosial masih terpasang, ucapan terima kasih masih terdengar ringan, seolah tidak ada satu pun kalimat tajam yang sempat melintas sore tadi.Kira berdiri di samping Lumi saat berpamitan. Sikapnya tenang dan formal. Ibu Indah menepuk lengan Lumi lembut sebelum mereka turun ke halaman. “Kamu tadi bagus sekali,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar berdua. “Tidak semua orang bisa tetap tenang.”Lumi tersenyum sopan. “Saya belajar dari yang terbaik, Bu.”Kira hanya mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan. Di dalam mobil, pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mesin menyala. Sabuk pengaman terpasang. Jalanan malam relatif lengang.Lima menit pertama, hanya suara mesin dan AC. Lumi menatap keluar jendela, lampu-lampu kota memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur. Ia membuka suara lebih dulu, nadanya ringan—bahkan
Sore itu Lumi berdiri di ambang pintu kamar Kira, mengetuk pelan sebelum masuk. Kira sedang merapikan manset kemejanya di depan cermin, wajahnya setenang biasa—atau setidaknya terlihat begitu. Sejak nama Anggi disebut beberapa hari lalu, ia memang tidak berubah drastis, hanya saja kalimatnya lebih singkat, tatapannya lebih sulit ditebak, dan jeda di antara jawabannya terasa sedikit lebih panjang.Lumi menyilangkan tangan di dada, mencoba terdengar santai meski ada nada ragu di ujung suaranya. “Mas, Ibu Indah ngajak aku ikut arisan minggu ini. Katanya di rumah beliau saja. Tapi… kayaknya bukan arisan biasa deh. Lebih ke pertemuan istri-istri pengusaha dan lingkaran sosialnya.” Kini Lumi membiasakan hari-hari memanggil Kira 'Mas' agar tidak canggung.Kira berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri sebelum akhirnya berbalik. “Memang bukan arisan biasa.”“Jadi kamu tahu?”“Iya. Saya juga harus ikut.”Lumi mengerjap. “Kamu ikut juga?”“Biasanya suami datang di awal. Formalitas. Set
Air keran masih menetes pelan ketika langkah Kira menghilang dari dapur. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada suara berat. Hanya jejak keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin.Lumi berdiri beberapa detik tanpa bergerak, kain lap masih tergenggam di tangannya. Uap hangat dari wastafel perlahan memudar. Dapur yang tadi penuh dengan debat absurd tentang adonan berperasaan kini terasa seperti ruangan yang berbeda.Ia menghembuskan napas panjang.“Baik,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Reaksinya normal. Sangat normal. Orang ditanya satu nama lalu langsung menghilang, itu normal.”Ia kembali ke meja dan mulai melipat kain lap dengan gerakan lebih lambat dari sebelumnya. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi bercanda. Nama itu kembali terngiang.Anggi.Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya melompat pada siang tadi—saat dapur masih riuh oleh tawa.Flashback kecil itu muncul jelas.Nayla berdiri di depan oven dengan tangan bertolak pinggang sambil tertawa melihat kue yang mengempis di
Pintu depan terbuka seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Kira masuk sambil melepas jam tangannya, langkahnya stabil menuju ruang tengah—lalu berhenti. Rumahnya… sunyi.Padahal ada jejak kekacauan yang jelas bukan hasil satu orang. Dari ruang tamu terlihat sekilas kursi bergeser tidak pada tempatnya. Sebuah celemek tergeletak di sandaran sofa. Dan dari arah dapur, aroma manis gosong yang samar masih menggantung di udara.Ia berjalan masuk. Dan mendapati dapur dalam kondisi yang membuat alisnya terangkat satu garis tipis. Tepung seperti kabut tipis di atas meja. Lantai sedikit lengket. Wastafel penuh mangkuk dan spatula. Di tengah meja, sebuah kue dengan bentuk ambigu berdiri seperti simbol kegagalan yang percaya diri.Lumi berdiri di depan wastafel dengan tangan bersabun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya menunjukkan kelelahan dramatis. Ia menoleh saat mendengar langkah Kira. Tatapan mereka bertemu.Lumi tidak langsung menyapa. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.