Terima Jasa Sewa Sebagai Istri

Terima Jasa Sewa Sebagai Istri

last updateLast Updated : 2026-03-05
By:  AlunaSweetUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
18Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Lumi Savira punya pekerjaan yang tidak bisa ia ceritakan ke sembarang orang: ia adalah istri sewaan profesional. Bisa dikontrak harian, mingguan, atau bulanan—tugasnya simpel tapi penting: menemani klien menghadapi keluarga bawel, acara sosial yang ribet, dan pertanyaan ‘kapan nikah’. Tarifnya? 5 juta per hari, mahal tapi jelas sebanding dengan kesabaran yang harus ia keluarkan. Semua berjalan rapi. Namun rutinitasnya yang absurd itu mulai terganggu ketika suatu tawaran datang—seorang klien misterius meminta kontrak enam bulan. Lebih lama, lebih mahal, dan lebih berisiko. Tanpa disadari, Lumi mulai menghadapi hal yang tidak ada dalam kontrak: perasaan. Karena menjadi istri sewaan itu mudah. Yang sulit adalah menjaga hati tetap utuh, saat semuanya terasa terlalu nyata.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Lumi.”

“Iya, Pak.”

“Pegang tangan saya.”

Lumi Savira menunduk menatap tangan pria paruh baya di sampingnya. Tangannya kering, sedikit dingin, dan—jujur saja—terasa seperti memegang panci yang lupa dimatikan kompor.

“Sekarang juga, Lumi,” bisik pria itu panik. “Nenek lagi nengok ke sini.”

“Baik, Pak. Tapi santai. Jangan kaku. Kita kelihatan kayak pasangan yang lagi negosiasi tanah,” balas Lumi sambil tersenyum tipis.

Pria itu—Pak Rudi, klien pertama dengan kontrak tiga hari—langsung menegakkan bahu. “Iya, iya. Maaf. Ini pertama kali saya sewa jasa begini.”

“Kelihatan,” sahut Lumi cepat. “Bapak tegangnya sampai menular.”

Pak Rudi menelan ludah. “Nenek saya galak.”

“Tenang. Saya sudah biasa,” kata Lumi enteng. “Nenek-nenek galak, tante kepo, sepupu toxic—semua pernah saya hadapi.”

Belum sempat Pak Rudi bernapas lega, seorang wanita tua berkebaya hijau, dengan tongkat di tangan, menyapu lantai.

“Rudi,” suara itu nyaring. “Kamu berdiri di situ sama siapa?”

Pak Rudi tersenyum terlalu lebar. “Ini… ini istri saya, Nenek.”

Lumi reflex mencondongkan badan dan tersenyum manis. “Selamat sore, Nenek.”

Nenek itu menyipitkan mata. “Istri?”

“Iya, Nenek,” jawab Lumi cepat. “Kami menikah sederhana. Saya nggak suka ribet.”

“Kenapa baru sekarang dikenalin?” tanya neneknya curiga.

Pak Rudi berkeringat. “Soalnya Lumi ini… pemalu, Nenek.”

Lumi nyaris tersedak. “Iya, saya pemalu. Apalagi kalau ketemu mertua.”

Nenek itu mendengus. “Kamu kerja apa, Nak?”

“Freelance, Nenek.”

“Freelance apaan?”

Lumi tersenyum lebih lebar. “Freelance… istri.”

Pak Rudi langsung terbatuk keras. “Maksudnya—freelance desain, Nenek! Istri saya desainer!”

“Oh.” Nenek itu menatap Lumi dari atas ke bawah. “Pantas bajunya rapi.”

Lumi menunduk sopan. “Terima kasih, Nenek. Saya usaha kelihatan layak.”

“Nah, Rudi,” kata neneknya tajam. “Kamu pegang tangan istrimu dong. Masa berdiri kayak orang asing?”

Pak Rudi buru-buru meraih tangan Lumi lagi. Kali ini terlalu erat.

“Santai, Pak,” bisik Lumi. “Ini bukan lomba tarik tambang.”

“Maaf, maaf. Saya grogi.”

Nenek itu mengangguk puas. “Nah gitu. Sudah kelihatan kayak suami.”

Lumi tersenyum sambil menahan tawa. Dalam hati ia menghitung waktu.

Dua jam lagi. Bertahan dua jam lagi. Setelah itu, pulang, ganti klien, ganti peran. Baginya, ini cuma pekerjaan.

Tiba-tiba, Rudi menatap Lumi dengan panik. “Eh… kalau nanti ibu saya datang, kita kan harus pura-pura sayang ya?”

Lumi menatapnya datar. “Iya, Pak. Tapi jangan lebay.”

Pak Rudi mengangguk serius, lalu menatap neneknya dengan panik kecil. “Eh, Nenek… jangan bilang ke Ibu ya kalau kami kayak gini…”

Nenek itu menatap balik, lalu mengedipkan mata. “Kalau aneh, terserah kamu. Tapi jangan salahin aku kalau jantungmu copot.”

Lumi menahan tawa. Apa nenek ini latihan ngomel seumur hidup sampai bisa bikin orang grogi?

Tiba-tiba nenek itu menendang kursi kosong di samping Rudi. “Ambilkan air untuk Lumi! Jangan cuma pegang tangan doang!”

Pak Rudi hampir pingsan. “Nenek, saya…!”

Lumi buru-buru maju, mengambil gelas sendiri. “Tenang, Pak. Saya sudah biasa di medan perang ini.”

Nenek itu menatap gelasnya, lalu menambahkan, “Dan kalau saya lihat kamu makan nggak sopan, Rudi, aku cabut undangan.”

Pak Rudi menelan ludah sambil menatap Lumi. “Saya serius nggak salah pilih istri kan?”

Lumi tersenyum tipis. Kalau istri ini dibayar lima juta per hari, boleh nggak minta bonus kalau selamat dari mertua?

Dan di situ, Lumi menyadari satu hal: jadi istri sewaan itu bukan cuma soal senyum dan pegangan tangan… tapi juga skill bertahan hidup tingkat dewa.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
18 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status