LOGINSore itu, Arga dan Hendrickson baru saja selesai berdagang di pasar desa. Matahari mulai condong ke barat, dan bayangan pepohonan mulai memanjang di atas jalan tanah yang berdebu. Mereka berjalan beriringan menuju gerobak yang diparkir di pinggir pasar. Arga membawa beberapa kantong kecil berisi sisa barang dagangan—kain yang tidak laku, beberapa herbal, dan sejumlah koin yang ia peroleh dari hasil jualan hari itu. Hendrickson berjalan di depannya dengan langkah tenang, tidak tergesa. Begitu sampai di gerobak, ia naik ke tempat duduk kayu dan mengambil tali kekang kuda. Arga mengikutinya, duduk di samping pria tua itu. Kuda tua itu mulai berjalan dengan ritme yang stabil, seolah sudah hafal jalan pulang tanpa perlu diarahkan. Gerobak berderit pelan setiap kali roda melewati batu atau akar yang mencuat dari tanah. Arga mengeluarkan kantong koin dari sakunya dan menuangkannya ke atas kain yang terbentang di pangkuannya. Koin-koin kecil berkilau di bawah cahaya sore yang redup.
Pagi itu, Arga bangun dengan perasaan yang berbeda. Bukan karena ia lebih segar—ia tetap lelah seperti biasa. Bukan karena Hendrickson memberinya tugas baru—tugasnya masih sama: berlatih, berdagang, belajar. Tapi karena ada sesuatu di udara. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Seperti ada aroma asing yang terbawa angin dari arah timur. Hendrickson merasakannya juga. Arga bisa melihatnya dari cara pria tua itu berdiri di teras, menatap ke arah jalan masuk desa, dengan ekspresi yang tidak biasa—antara waspada dan penasaran. “Ada apa?” tanya Arga sambil menghampiri. Hendrickson tidak menjawab langsung. Matanya masih menatap ke kejauhan. Lalu ia berkata, “Seorang pengembara datang.” Arga mengikuti arah pandangnya. Di ujung jalan, terlihat sesosok bayangan berjalan perlahan menuju desa. Dari kejauhan, sulit untuk melihat detailnya. Tapi sesuatu dalam cara orang itu bergerak—ringan, terukur, seolah setiap langkah adalah bagian dari tarian yang sudah dilatih ribuan kali—membuat Arga langsung
Pagi itu, Arga bangun sebelum matahari sepenuhnya terbit. Bukan karena ia tidak bisa tidur—ia tidur cukup nyenyak malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. Tapi karena tubuhnya sudah mulai terbiasa dengan ritme baru. Bangun, mandi dengan air dingin dari sumur, sarapan sederhana, lalu berjalan ke arena latihan di belakang rumah. Hendrickson sudah menunggu di sana, seperti biasa. Pedang kayu di tangannya, bayangan pagi yang panjang di belakangnya. “Kau datang lebih awal,” katanya. “Aku tidak mau ketinggalan,” jawab Arga. Hendrickson tersenyum tipis. “Bagus.” Latihan hari itu berbeda dari sebelumnya. Hendrickson tidak hanya mengajarkan posisi dan gerakan—ia mulai mengajarkan ritme. Cara membaca lawan. Cara menangkap jeda di antara serangan. “Pedang bukan tentang kekuatan,” katanya sambil memutar pedang kayunya perlahan. “Tapi tentang waktu. Jika kau tahu kapan harus bergerak, kau tidak perlu bergerak cepat.” Arga mencoba menyerap kata-kata itu. Ia menyerang, di
Malam itu, Arga kembali ke rumah Hendrickson dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Bukan karena tubuhnya lelah—meskipun ia memang lelah. Bukan karena luka di rusuknya masih terasa—meskipun itu juga benar. Tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, tapi ia rasakan di setiap helaan napas yang ia keluarkan. Perjalanan dari Evernight ke rumah Hendrickson terasa lebih panjang dari biasanya. Roda gerobak berdecit pelan di atas jalan tanah yang berbatu, dan kuda tua itu berjalan dengan ritme yang lambat dan stabil. Arga duduk di atas gerobak, membiarkan tubuhnya bergoyang mengikuti gerakan roda, sementara matanya menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang-bintang. Namun pikirannya tidak pernah benar-benar di sana. Ia masih melihat wajah-wajah itu. Mata-mata kosong yang tidak lagi memohon pertolongan. Tubuh-tubuh kurus yang bahkan kesulitan untuk duduk, apalagi berdiri. Dan anak-anak—terlalu banyak anak-anak—yang seharusnya m
Malam turun perlahan di Evernight, seperti tirai gelap yang sengaja ditarik untuk menyembunyikan sesuatu. Langkah kaki Arga terasa lebih berat dari sebelumnya saat ia memasuki kembali lorong sempit tempat Ronny tinggal. Udara di sana tetap sama—lembap, dingin, dan dipenuhi aroma samar yang sulit dijelaskan. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Bukan pada tempatnya, melainkan pada dirinya sendiri. Botol kecil di tangannya terasa hangat, seolah menyimpan harapan yang terlalu rapuh untuk digenggam. Ronny berjalan lebih dulu, hampir berlari. Nafasnya tidak teratur, antara lelah dan cemas. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun dari caranya membuka pintu dengan tergesa, Arga tahu satu hal—anak itu takut terlambat. Pintu kayu itu terbuka dengan derit panjang. Ruangan kecil itu masih sama. Gelap, sempit, dan sunyi. Namun keheningan kali ini terasa lebih menekan. Amable masih terbaring di tempatnya. Tubuh kecilnya hampir tidak bergerak, hanya naik turun napas yang lemah menjadi
Langkah kaki mereka terdengar semakin cepat, tak lagi berusaha disamarkan. Tidak ada gunanya. Teriakan dari dalam bangunan itu mulai menggema keluar, memecah ketenangan wilayah utara yang sebelumnya hanya terasa sunyi dengan cara yang aneh—sunyi yang hidup, seolah sesuatu selalu mengawasi dari balik bayangan. Kini kesunyian itu runtuh, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih nyata. Perburuan. Arga dan lainnya kembali lari. “Lebih cepat,” suara Corday terdengar dari depan, tetap tenang, nyaris tanpa emosi. Nada itu justru terasa tidak wajar. Dalam situasi seperti ini, ketenangan seperti itu bukan menenangkan—melainkan membuat segalanya terasa lebih berbahaya. Arga menggertakkan giginya, memaksa tubuhnya terus bergerak meskipun napasnya mulai berat dan dadanya masih menyisakan rasa nyeri dari benturan sebelumnya. Tangannya menggenggam erat tangan Hua, memastikan anak itu tidak tertinggal satu langkah pun. Hua tidak berkata apa-apa. Namun genggamannya—kecil, dingin, dan
Hina menghela napas dan tersenyum tipis, meskipun ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Kau memang selalu seperti ini, Arga. Terlalu penasaran dan tidak bisa diam kalau ada sesuatu yang mengusik pikiranmu. Tapi... aku akan membantumu." Arga menatapnya dalam-dalam, merasakan kehangatan merayap di d
Arga duduk di sofa, memegang kompres dingin di dahinya, matanya tampak kosong. Hina duduk di dekatnya, cemas, memperhatikan Arga yang tampak lelah setelah kejadian aneh yang dialaminya semalam. Mereka belum sempat banyak bicara sejak malam itu. Suasana di apartemen mereka terasa hening, hanya suara
Di rumah kayu gelap itu, suasana makin pekat seiring cerita Hendrickson mengalir. Angin dari celah dinding membawa aroma tanah basah dan rumput liar, seakan dunia ingin ikut mendengarkan. Arga duduk diam, tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah mendingin. Saki memperhatikan setiap perubahan
Perjalanan menuju pasar Evernight dimulai sejak fajar belum sepenuhnya pecah. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara pepohonan ketika Arga mengendalikan kuda tua yang menarik gerobak kayu di belakangnya. Roda berdecit pelan setiap kali melewati batu atau akar yang mencuat dari tanah. Di d







